Rss

Archives for : cerpen

Dua Lembar Kertas

Seorang remaja pemuda berjalan gontai keluar dari madrasahnya malam itu. Habis peluhnya mengering pada siang harinya karena sinar mentari begitu teriknya hingga tak mempersilakan keringatnya menetes, namun langsung menguap. Siang itu ia begitu sibuk bersama sahabatnya melakukan bakti sosial di luar madrasah. Saking lelahnya setelah beraktifitas, ia berteduh hingga tertidur di mushola madrasahnya sampai maghrib tiba.

Malam itu dilangkahkan kakinya hingga depan kios fotokopi depan madrasahnya.

“Beli apa, Dek?”

“HVS dua lembar, sama amplop dua.” Pemuda itu sambil merogoh kantung celananya mengeluarkan uang tiga ribu rupiah.

Berjalan kembali ia hingga sampai di rumah makan. Tidak begitu ramai rumah makan itu pada malam harinya. Ia lalu mengambil tempat pojok dengan meja yang cukup lebar. Pemuda itu kemudian memesan satu porsi soto ayam dengan satu teh manis panas. Mungkin baginya ini adalah pembalasan yang fair atas kelelahannya hari ini.

Sembari menunggu, ia mengeluarkan kertas dengan dua amplop yang ia gunakan sebagai alas untuknya menulis. Teringatnya semua hal yang terjadi hari ini. Tentang nasehat sahabatnya, tentang idealismenya yang sudah luntur, tentang visi misinya, dan tentang cinta.

envelop2

Pikirannya malam itu sudah penuh. Hatinya sedang tercabik. Tidak bisa ia ringankan beban itu barang sebentar. Sehingga ia memutuskan membeli obat. Ya, obat itu adalah dua lembar kertas kosong.

Seketika mulai ditorehkannya pulpen hitamnya di atas kertas putih itu,

 

Sahabat,

Sejak saat pembicaraan kita sepanjang perjalanan, aku tak bisa tersenyum. Tidakkah kau perhatikan betapa aku melewatkan beberapa pertanyaanmu. Bukan karena aku tidak mendengar, tapi karena aku sedang mencoba bernapas dari sesaknya dadaku yang terhimpit dari dosa yang aku lakukan. Aku tak mempedulikannya sebelumnya, hingga kau menceritakan bagaimana indahnya mahligai cintamu yang terukir diatas jalan-Nya dengan cara-Nya dan dengan ridho-Nya.

Takjub aku kawan mendengar bagaimana suci petak petak jalan yang kau lalui hingga kini. Semoga Allah senantiasa menjagamu hingga sampai pada hari bahagiamu sebentar lagi.

Kau bercerita bahwa jodoh itu akan mudah jalannya. Tidak berliku, tidak penuh drama, dan pintu-pintu jalan menuju pernikahan terbuka semua secara berturut-turut.Sebenarnya aku sudah mendengar hal seperti ini sebelumnya, dari pasangan-pasangan sebelummu. Bagaimana mereka menemukan calon yang salah terlebih dahulu, hingga Allah mempertemukan mereka dengan pasangan yang tertulis di lauhul mahfudz dengan cara yang ma’ruf. Tidak semua calon akan berakhir di pelaminan, bukan? ada beberapa diantara yang gugur itu adalah menjadi pembelajaran bagi kita untuk memperbaiki diri. Aku percaya itu, kawan. -Karena aku mengalaminya.

 

 

“Aku percaya karena kita dalam komunitas dakwah yang sama,
sehingga aku tak perlu repot-repot memastikan kau adalah pilihan yang baik.” Tukasmu,

 

Kawan, melihatmu yang bahkan tak mampu berada lama di dekatnya hanya untuk menjaga kesucian hubungan kalian dari fitnah sebelum halal, membuatku malu. Semalu malunya. Hina sehina hinanya. Jika ada pisau buah yang ditaruh di dapur rumah kecil tadi, sungguh ingin kutikam diriku dengan pisau itu.

 

 

“Mengapa tidak kau tunggu saja dia? Agar jalan bersama-sama” tanyaku. “Tidak, Akhi. Nanti aku khawatirkan akan timbul fitnah diantara kami.”

“Bahkan aku membawa abangku untuk mendatangi rumahnya, karena seyogyanya tidak baik seorang diri bersilaturahmi kesana.”

Terlalu jauh jika aku iri pada Ali dan Aisyah, dimana setan pun tak tahu mereka saling mencinta. Dimana doa-doa merekalah yang bertaut. Merajut harap dimana syariat adalah landasannya. Hingga mudah bagi Allah menyatukan mereka dalam suatu skenario indah pernikahan dengan mahar baju perang. Terlalu jauh. Aku sudah cukup terhinakan dengan mendengarkan kisahmu, kawan.

“Aku mengininkan istriku nanti menjaga pandangan, tidakkah aku harus memantaskan diriku untuk menjaga pandangan, Akhi?”

“Aku dengannya tidak saling berkirim pesan. Kusampaikan pesan itu pada penengah diantara kami. Antum tentu tidak mau kan jika nanti istri Antum nanti japri-japrian dengan pria selain Antum? Antum pasti cemburu. Pantaskan diri, Akhi.”

Sungguh kawan, jika kau tidak mengatakan kearah mana kita harus pulang dari perjalanan tadi di tiap lampu merah, kita pasti sudah tersasar. Karena aku bahkan sudah tak bisa berpikir, hanya dapat merepresentasikan kanan, kiri, dan lurus berdasar yang kau ucapkan dari jok belakang.

“Aku ingin memiliki keluarga yang sakinah mawadah warahmah, aku ingin anak-anakku hafidz qur’an. Aku ingin agar kami sekeluarga bisa tahajjud sepanjang malam setiap hari. Tapi apakah bisa jika diawali dengan cara yang bukan cara-Nya?”

Jika saja kau tidak menguatkanku akan betapa besar maghfirah-Nya, mungkin sudah habis aku larut dalam penyesalan ini, Akhi. Mungkin pisau buah itu sudah berkali-kali aku hujamkan di jantungku ini.

 

Kawan,

Mungkin hadirmu sekarang adalah alarm terkencang, yang dimana alarm-alarm sebelumnya hanya aku respon dengan menekan tombol “snooze” lalu kemudian kembali terlelap.

Jazakallah khairan katsir,

 

Pemuda itu mengelap air matanya yang sudah hampir keluar dari kelopak matanya. Ia harus tampak tegar. Tak lucu ia terlihat menangis di depan pemilik rumah makan, bukan?

Lalu ia masukkan kertas itu ke salah satu amplop yang ia beli tadi.

Akhirnya pelayan rumah makan itu membawakan soto ayam panas, ditambah dengan satu gelas besar teh panas. Sungguh, begitu menggoda bagi pemuda yang kelelahan hari itu.

Belum ia sempat makan, dilihatnya ada satu lagi kertas yang masih belum terisi. Karena sotonya masih terlalu panas pikirnya, maka dilanjutlah ia menorehkan penanya ke kertas yang kosong itu. Kali ini ia menulis tentang cinta. Teringatnya seseorang dalam benaknya yang kemudian bayangannya muncul begitu saja di kertas kosong itu. Tersenyumlah pemuda itu. Walau kecil, walau sebentar.

write

Dinda,

Sepertinya—maksudku, pastinya! Pastinya akulah yang patut dipersalahkan atas semua ini. Seharusnya semua ini hanya ada aku, dirimu, dan Dia, juga penengah di antara kita. Namun dasar kebodohanku, membuat ini menjadi peluang banyak fitnah tentang kita. Dimana diantaranya membersitkan keraguan cukup dalam di hati masing-masing. Kau tahu sifat burukku, dan begitupun diriku. Dengan ditambahnya omongan-omongan di belakang kita menjadikan niat kita tak selurus saat awal dulu kita berazzam. Kuakui dengan sebenar-benarnya bahwa aku terlalu banyak bicara. Padahal kau sudah berulang kali mengingatkan. Tapi dasar bebalku, membuatnya menjadi bahan gunjingan bagi sebagian orang.

Kau pasti ingat bagaimana teman-temanmu dan teman-temanku yang selalu merusuh saat kita bersama. Ternyata mereka memang orang yang baik. Yang mau dengan sangat baik memisahkan kita agar tidak ada fitnah diantara kita. Tapi aku—ah, sudahlah, kau tahu bagaimana aku.

“I share my dreams and all my strories. I don’t think I need my diaries.” – Me and My Boyfriend (Mocca)

 

Ketahuilah, aku memberitahukanmu semua agendaku, semua aktifitasku, semua kegundahan dan kesenenanganku. Yang sesungguhnya engkau belum halal bagiku untuk berbagi cerita ini. Tuhan kita bisa saja cemburu karena bukan Dia tempat kita mengadu. Maaf, maksudku, bukan “kita”, tapi “aku”. Karena akulah yang salah, kau hanya menjadi korban atas segala kebodohanku. Maafkan aku, Dinda.

Tentang kekhawatiranmu, lupakanlah. Aku bukan malaikat. Aku hanya manusia hina yang berjalan tertatih menjalani jalan yang diridhoi-Nya. Kau juga tahu, bagaimana dalam 3 detik, ada lompatan transformasi besar yang sangat mungkin terjadi. Aku dalam lompatan itu, dan aku sedang dalam proses melompat, yang dalam prakteknya aku dijaga oleh amanah dan sahabat-sahabat terbaikku yang senantiasa tersenyum bahkan saat menjewerku ketika aku berbuat keanehan.

Kaulah yang lebih baik, masih mau mengaji dan mengkaji. Mencari ilmu dan menerapkannya. Juga mengingatkan kepada sahabat yang lainnya. Itulah dakwah, Dinda.

Kita sama-sama tahu akan visi misi masing-masing. Dari sana kita akan berjuang, demi dakwah, demi agama, agar kita tidak hanya berkumpul di dunia, namun juga di surga. Kau orang baik, sedang aku proses menjadikan diriku menjadi baik.

Aku mungkin akan membuat kembali tembok yang dulu pernah kususun. Tembok yang beberapa waktu lalu kuhancurkan sendiri karena kupikir itu hanya cara konvensional. Namun sekarang, aku ingin membangunnya kembali demi hakikinya cinta ini. Kita akan masih bisa memberi kabar dari mereka yang menjembatani kita. Tanpa kita susah payah saling membaca hati satu dengan yang lain, padahal itu bisa saja salah, dan itu sudah terbukti salah. Sudahlah, tak usah berasumsi, karena diantaranya ada setan yang membisik kepada hati.

Lalu izinkan aku meminta maaf kembali untuk dosaku berikutnya, untuk selama ini, dimana aku memaksamu disaat belum lengkap kesiapanmu. Yang bahkan aku juga ternyata juga belum siap. iya, aku belum siap.

Aku masih ingat ketika kau bilang bahwa jodoh tidak akan tertukar. Ia akan mudah menemukannya. Pintu-pintu kemudahan akan terbuka semuanya.

 

Aku pun masih ingat kata-katamu tentang makna “mengikhlaskan”. Dimana kita hanya berikhtiar dan berdoa, demi seseorang yang namanya tertulis di lauhul mahfudz untuk kita. Selayaknya kita memang tidak layak memaksa Tuhan untuk mengabulkan sebuah nama untuk menjadi pendamping kita. Kita hanya harus berdoa, yang doa itu akan mengantarkan kita pada ridho-Nya, dan mempertemukan kita dengan sebuah nama dengan cara yang ma’ruf, dengan ikatan yang suci.

Selayaknya kita bersama-sama memperbaiki diri, Dinda. Masih banyak ayat yang belum kita hapal, masih banyak fiqih yang belum kita benar paham, masih ada syariat yang belum kita terapkan, dan masih ada potensi dakwah yang mungkin masih hanya hinggap dan mengendap di dada.

 

Afwan Dinda,

Besar harapanku semoga kita disatukan di kemudian hari.

Semoga kau baik-baik saja.

Pemuda itu menggertakkan gerahamnya semata-mata agar air matanya tak keluar. Dia cukup tangguh untuk itu. Lalu dimasukkannya kertas itu ke amplop kedua. Kedua amplopnya kemudian ia masukkan kembali ke tas lusuhnya itu.

Tiba-tiba ada seorang anak dengan alat musik dari tutup botol mencoba mencari peruntungannya di warung makan itu. Satu lagu tentang anak jalanan ia dendangkan, sembari ia berkeliling ke pelanggan sambil mengisyaratkan mereka memberikan uang sisa kepadanya.

Satu lagu telah usai, tibalah anak ini di depan meja pemuda yang telah menulis tadi.

“Om,” katanya sambil menyodorkan bungkus plastik permen.

“Sudah makan?” tanya pemuda itu. Anak pengamen itu menggeleng malu.

“Makanlah ini. Masih hangat,” kata pemuda itu tersenyum. Berdirilah ia dari tempat duduknya, dan berlalu, “aku sedang tidak nafsu makan.” Katanya sambil tersenyum dan menyeka matanya.

Dua surat dalam amplop itu tak akan pernah disampaikan,
Tak akan pernah dilantangkan untuk dibaca,

Ia hanya akan ada di serambi meja kamarnya,
Menunggu untuk kembali menamparnya ketika ia kembali berbelok arah

-srf-

Cafe Corner #shortstory #part3 #Hujan

Dari luar kedai kopi, hujan deras mengguyur petang itu. Terlihat dari dalam kedai, orang-orang berteduh di kanopi depan kedai. Beberapa ada yang berlari menerobos hujan bersama kawan-kawannya mengenakan kemeja putih dan dasi. Momen ini unik karena jalanan sepi akan kendaraan bermotor. Hanya ramai orang berteduh dan beberapa taksi yang berhenti dan pejalan kaki berebut untuk mendapatkan taksi itu.

Suasana tenang dan hangat dalam kedai itu, suara gemericik air tak begitu terdengar dari dalam sini. Pelayan di balik meja bar itu sedang mengelap gelas-gelas tak berkaki yang kemudian disusun rapi di tempat gelas-gelas di belakang, menunggu untuk dituang kopi.

Pintu kedai terbuka, seorang sosok wanita masuk sambil menutup payungnya. Lengan panjang dan bagian bawah rok nya yang panjang basah karena hujan di luar.

“Hai nona, apa kabarmu sore ini?” sapa pelayan itu dengan senyum lebarnya seperti biasa.

“baik.” Senyum nona itu sambil menaruh payungnya terbuka di bagian samping kedai yang kosong.

“Green Tea float?” pelayan itu menunggu nona itu menjawab.

“Nope, muffin dan lemon tea hangat.” Kata nona itu dengan wajah polos ditaruhnya tas nya di kursi tinggi di sebelahnya. Sementara ia duduk di kursi bar dan menaruh handphone dan dompetnya di atas meja bar.

“Great choice.” Kata pelayan itu tersenyum lebar kembali. Disiapkannya gelas tinggi berkaki dan diraciknya lemon tea hangat pesanan nona itu, dipercantik dengan irisan jeruk di tepian gelas. Muffin coklat terlihat lezat dan terasa aromanya begitu lembut dan menggoda untuk disantap. “Silakan, Nona.” Kata pelayan itu sambil menyuguhkan muffin hangat di cawan beserta dengan lemon tea hangat yang harum.

“Thanks.” Kata nona itu tersenyum manis melihat muffin dan lemon tea hangatnya. Dipegangnya gelas kaca lemon tea itu dengan kedua tangan mungilnya. Dipejamkan matanya, seolah menikmati kehangatan gelasnya. Diangkatnya gelasnya dan diminumnya sedikit lemon tea itu di ujung bibirnya. Dia mengernyitkan dahinya, terlalu asam mungkin.

“Terlalu banyak lemon nya, Nona?” tanya pelayan itu penasaran melihat air muka nona itu.

“Tidak, pas kok, Mas.” Kata Nona itu sambil menangkan tetes-tetes air di penghujung bibirnya. Kemudian diletakannya gelasnya kembali ke atas meja kayu itu.

“masih kedinginan, Nona?” tanya pelayan itu.

Nona itu tersenyum dan ditatapnya mata pelayan itu. “tidak.” Katanya singkat. Seperti ada banyak hal yang ingin nona itu katakan, tapi hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.

Tidak lama kemudian, dari speaker kedai itu mengalun suara instrumen musik, jazz. Khas suara saxophone dan denting pianonya nya begitu merdu dan lembut untuk di dengar.

“Fly Me to the Moon.” Sahut Nona itu.

Pelayan itu tersenyum memandang Nona itu berucap sambil kemudian menggigit kecil-kecil muffin coklatnya. “my favorite love song by the way.” kata Nona itu.

“Haha, kau memiliki selera musik yang bagus, Nona.” Kata pelayan itu.

Nona itu tersenyum lebar. Dilihatnya keluar jendela, hujan makin deras. Beberapa dari mereka mengenakan payung dan menerobos hujan. Ada beberapa pasang lelaki-wanita yang mengenakan payung dan berhenti di depan kedai menunggu hujan berkurang derasnya.

“Lemon tea hangat, muffin coklat, love song, dan hujan. Sepertinya komposisi yang sempurna.” Kata Nona itu sambil masih melihat ke arah jendela.

Pelayan itu hanya diam, melihat ke arah yang nona itu lihat.

“Ya kan?” dilihatnya pelayan itu oleh si Nona.

“Betul, Nona.” Kata pelayan itu tersenyum kembali.

“Hangatnya seperti mimpi indah dan selimut yang hangat. Yang apabila kau kemudian terjaga, kau menyadari ada yang hilang seusai kau membuka mata. Mimpi itu tidak nyata.”

“Tapi setidaknya selimutnya masih ada ketika kau terjaga, Nona.” Kata si pelayan.

“Iya, seperti aku saat ini. Beruntung bisa berteduh di tempat hangat ini.” Kata si Nona sambil memegang kembali lemon tea hangatnya.

“Secara tidak langsung, Nona mengisyaratkan ada yang hilang dari Nona.” Kata pelayan itu.

Nona itu menghirup aroma lemon tea itu, dan menyeruputnya sedikit-sedikit dengan ujung bibirnya. “Sekarang aku bertanya padamu, bolehkah?” tanya Nona itu menatap si pelayan. “Setiap kali aku kesini, selalu aku yang kau tanyai dengan pertanyaan anehmu, kali ini, bolehkah?” tanya si Nona.

“boleh, Nona. Silakan.” Kata pelayan itu mengangguk pelan.

“Pernahkah kau mengejar hati hingga kau menyerah pada akhirnya?” tanya si Nona.

Pelayan itu tersenyum. Dilihatnya kanan dan kirinya, kedai itu cukup sepi petang itu. Hanya ada sekitar 5 pelanggan di meja samping dan hanya ada si Nona itu di meja bar. Beberpa pelayan standby di dekat meja-meja yang terisi. “Pernah Nona.” Kata pelayan itu dengan suara pelan hampir berbisik.

“Bagaimana rasanya berhenti?” Kata Nona itu. Disanggahnya dagunya di atas kedua telapak tangannya sembari sikunya ditaruhnya di atas meja.

“melegakan, Nona.” Kata pelayan itu.

Nona itu penasaran, dilihatnya seksama pelayan itu.

“disaat kau mengetahui langkahmu sudah terlampau jauh. Sejauh langkahmu berjalan setapak-demi setapak, tapi tak jua ada titik akhir yang terlihat untuk kau pijak. Kadang seperti melihat ombak air di padang pasir, kau harus memastikan apa itu air atau tidak dengan kembali berjalan tanpa kau sadari kau menambah langkahmu menjadi lebih jauh.” Kata pelayan itu sambil menunduk melihat meja kayu di depannya. Dibungkukannya badannya hingga diletakkan lengan dan sikunya di atas meja untuk menahan tubuhnya mendekat ke arah si Nona.

“Tidak bisakah kau memaksanya? Atau mencobanya lebih keras? “ tanya si Nona menatap si pelayan.

“Aku termasuk orang yang mempercayai bahwa cinta itu seharusnya mudah dan tidak banyak drama.” Kata pelayan itu. “Hati bukan seperti pasak yang semakin kau pukul keras, semakin kuat ia menancap.”

“Tidakkah kau merasa kehilangan?” tanya Nona itu.

“Ada tulisan yang pernah kubaca tentang kehilangan itu. Layaknya kau ke dokter gigi karena geraham mu telah rusak dan membuat gusimu bengkak. Tidak ada cara lain selain mencabutnya. Kau tahu? Setelah dicabut, maka kau akan merasa ada yang hilang, hingga ujung lidahmu hampir setiap saat menyentuh gusi yang tak lagi ada geraham itu disana. Akan lama kau menyadari hingga suatu saat kau tidak lagi menyentuh-nyentuh gusi itu lagi dengan lidahmu.” Kata pelayan itu kemudian tersenyum, “Nah, sama halnya dengan pergi dari suatu hati yang kau tahu bahwa bertahan dengan hati itu akan membuatmu membusuk. Selayaknya kau cabut. Akan membutuhkan waktu hingga kau benar-benar merasa baik-baik saja tanpanya.”

Nona itu terdiam, hingga kemudian diteguknya lemon tea nya yang sudah agak dingin. “Hai pelayan, mengapa tak kau jadikan dirimu sebagai konsultan hati saja? Haha,,, kau punya kemampuan untuk itu kurasa.”

“Haha, jika aku tidak bekerja sebagai pelayan disini dan berdiri di belakang meja bar ini, lalu siapa yang menerima tumpahan cerita dari pelanggan-pelanggan sepertimu, Nona?” kata pelayan itu sambil menegakkan kembali badannya. “Tanpa cerita, kedai ini akan menjadi kedai biasa, Nona.”

“haha, kau tidak dibayar lebih untuk mendengarkan ocehan-ocehan, kan?” tanya si Nona.

Pelayan itu tersenyum, “Tahukah Nona, bahwa harga lemon tea disini tiga ribu rupiah lebih mahal dan harga muffin disini dua ribu lima ratus lebih mahal daripada coffee shop di pojok jalan ini?”

Nona itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Waktu mengantarnya hingga malam tiba dan hujan mulai mereda.

 

-srf-

 

*another cafe corner story:

Surat Untuk Ayahku

Di suatu pagi yang cerah, seorang ayah kebetulan memeriksa kamar putrinya… Dia mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan untuk ayah di atas kasurnya.. Perlahan dia mulai membuka surat itu… Isi Suratnya…

 

“Ayah tercinta, Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia lelaki yang baik Setelah bertemu dia, ayah juga pasti akan setuju meski dengan tatto2 dan piercing yang melekat di tubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya. Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aku pikir jaman sekarang 45 tahun tidaklah terlalu tua).

 

Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dia ayah dari anak di kandunganku saat ini. Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama. Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan extacy dan opium yang sangat luas. Dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana itu tidak begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami.

 

Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh. Aku tahu dia juga punya istri lain tapi aku percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.

 

Ayah.. jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku. Salam sayang untuk kalian semua. Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya”.

 

Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu…

 

“Ayah… tidak ada satupun dari yang aku tulis di atas itu benar, aku hanya ingin menunjukkan ada ribuan hal yg lebih mengerikan dari pada nilai raportku yg buruk. Kalau ayah sudah menandatangani raportku di atas meja, panggil aku ya… Aku tidak kemana2 saat ini aku ada di tetangga sebelah…..”

 

dikutip dari: group whatever it called

Jika aku Menjadi Salman

images (2)Jumat siang ini ada cerita tentang generasi muda jaman terdahulu, tentang Salman Al Farisi. Bagaimana dia dalam usia mencari kebenaran dengan segala cara.

Saya tertarik untuk melihat kisah lain dari Salman Al Farisi, maka saya browse kisahnya, dan saya dapatkan kisah cintanya. Hehe,,, J

Kali ini ada petikan suatu kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda. Ceritanya unik.

Suatu kali Salman Al Faris beranjak dewasaSalman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilihan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di Madinah. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi
Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka Salman bercerita dengan sahabat Madinahnya, Abu Darda.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengar sahabatnya berniat untuk meng-khitbah wanita Anshar pilihan hatinya itu. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah wanita yang akan di khitbah oleh Salman.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni. ”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua,
shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan penuh debaran di hatinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu
yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Lalu apa yang dikatakan Salman atas hal ini?

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

See?
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah,
dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Jika aku menjadi Salman, akankah aku bisa seikhlas itu?

Jika aku menjadi Salman, bahkan akankah aku masih bisa tersenyum?

by: @syarifID

 

Sumber cerita: kisah.web.id

Itu Punyaku

Sore itu, anak kecil itu masih duduk di tepian pagar tanah lapang yang biasa ia tempati. Terduduk dia disana dengan memeluk lututnya sambil menangis sesenggukan. Teman-temannya sudah meninggalkannya sejak maghrib tadi.

Sebelum hari itu, setiap harinya ia sepulang sekolah ia memiliki kegemaran khusus. Bermain bola dengan teman-teman sebayanya di kampung. Bel sekolah berbunyi, mungkin dia yang pertama kali berlari keluar sekolah, mengayuh sepeda tua milik ayahnya hingga sampai di rumah. Baju seragam biru putihnya dan celana pendeknya kadang begitu lusuh ketika pulang. Penuh dengan peluh keringat karena harus mengayuh sepeda yang ukurannya besar dibanding dengan ukuran badannnya yang kecil. Tapi lihat semangatnya, tawa lebarnya ketika mengetahui sore ini dia bisa bermain bola dengan teman-temannya. Tidak ada yang bisa meletihkan dia.

Tibalah ia di rumah. Disandarkan sepeda tua ayahnya itu di ruang kecil dekat dapur. Nafasnya masih terengah-engah. Badannya sudah penuh dengan keringat. “Nak, gantilah baju dulu. Makan. Lalu bantu ibu nyapu halaman.” Kata ibunya dari dapur dengan suara rendah.

“Habis itu boleh main bola ya, Bu?” bujuk anak itu.

“Iya. Jangan sampai maghrib ya.” Kata ibunya.

Seketika itu dia melemparkan tas ranselnya ke kasur. Langsung makan ia di meja makan bundar sederhana. Nasinya dingin, lauknya hanya tempe goreng dan sambal kecap. Ada daun singkong disebelahnya, namun tidak ia ambil untuk makan. Lahapnya dia makan dengan ujung-ujung jarinya. Setelah makan, masih ada bekas kecap di mulutnya. Lalu dibawanya piring kotornya ke dapur dan mencucinya, mengeringkannya dengan lap, dan menaruhnya kembali ke rak.

Dia masih ingat pesan ibunya untuk menyapu halaman. Disapunya halaman secepat yang ia bisa, sebersih yang ia bisa. Jika tidak bersih, ibunya tak akan memperbolehkannya keluar rumah.

“Bu’, aku main dulu ya!”

“Jangan sampai maghrib, Nak!” kata ibunya.

Di halaman tidak jauh dari rumahnya, sudah berkumpul teman-temannya yang sedang bermain bola. Dia begitu bersemangat untuk bermain bola bersama teman-temannya. Dilepasnya sandalnya dan segera terjun ke lapangan rumput bersama kambing-kambing yang numpang makan di pinggir lapangan.

Matahari seperti hari-hari sebelumnya, terik. Tak padam semangat anak-anak ini untuk tetap bermain. Bahkan bukan hanya saat matahari terik, saat hujan deras pun kadang mereka masih bermain bola. Mereka menyerah ketika lapangan sudah tergenang air.

Begitulah kehidupan anak itu setiap harinya. Bermain bola dengan teman-temannya. Kadang, jika memang tidak ada yang bermain bola pada hari itu, dia sempatkan untuk datang ke lapangan. Entah untuk bermain dengan kambing-kambing disana. Berlarian sambil menggiring bola di lapangan sendirian. Atau apapun yang bisa dia lakukan di lapangan itu. Sering juga ketika malam tiba, dia keluar rumah setelah makan malam. Pergi ke lapangan itu hanya untuk melihat bulan dan bintang yang berpendar disana. Kadang pula ketika dia disuruh membuat karangan oleh guru bahasa nya, dia melakukannya di lapangan saat malam. Dibawanya lampu petromaks yang terang untuk membantunya menulis karangannya. Suasana itu yang ia senangi. Dimana tanah lapang, pendar cahaya bulan dan bintang, suara jangkrik kecil, empuknya rerumputan, dan angin sepoi malam.

Kadang ia juga menghabiskan waktu minggunya dengan mencabut rumput liar yang sudah tinggi di lapangan itu. Sempat juga ia menanam cabai, tomat, jeruk purut, dan jambu biji disana. Beberapa dari tanaman itu sudah tinggi dan mulai bisa dipetik. Kadang ibu ibu yang melewatinya memetik jeruk purut dan daun jambu biji disana. Tidak hanya itu, ketika musim kering tiba, dia menggendong jurigen air dari sumur rumahnya dan menyirami tanaman-tanaman itu hingga tetap bertahan di musim kering.

 

Hingga tibalah hari itu. Hari itu dia mengayuh sepedanya dari sekolah seperti biasanya, kencang. Tak sabar dia bermain bola di lapangan itu. Hari ini dia akan mengenakan jersey yang ayahnya belikan untuknya kemarin. Liverpool.

Setelah dia membantu ibunya menyapu halaman, dia mengganti bajunya dengan jersey liverpoolnya. Berkaca ia di cermin lemarinya sambil tersenyum lebar. Diambilnya bola sepak dari atas lemari dan bergegaslah ia ke lapangan.

Ada keramaian yang tidak biasa disana. Di lapangan itu. Ada orang-orang dengan seragam coklat dengan helm proyek dan beberapa orang-orang desa lainnya. Beberapa orang disana sedang memagari lapangan itu dengan kayu dan seng yang tinggi.

Anak itu mendekat ke arah lapangan itu. Lalu ada pria desa yang menghampirinya. “Dek, sana sana! Mainnya jangan disini.” Sambil dengan muka lelah dan mengusir anak itu.

“pak, saya biasa main disini.” Kata anak itu dengan polosnya.

“Ini lapangannya mau dibangun pabrik sama yang punya tanah. Udah, kamu main di lapangan lain sana.”

“Pak, disini cuma ini lapangan yang biasa kami buat main bola.”

“HEH! Sana!” kata bapak itu mengusir anak itu.

Anak itu pun melangkah mundur dan mulai memperhatikan sekitarnya. Pria pria desa mulai memagari lapangan itu. Pria pria berseragam coklat memberi arahan kepada beberapa pria desa untuk mulai bekerja. Di samping-sampingnya ada tiga truk dengan angkutan kayu, seng, dan batu besar. Tidak didapatinya satu pun temannya disana. Dilihatnya lebih jauh ke arah dalam lapangan. Tidak ada kambing yang biasa merumput disana lagi.

Anak itu kemudian berjalan gontai. Dilihatnya ada pohon petai yang tinggi dekat situ, dia pun duduk di bawahnya untuk berteduh. Ditundukannya kepalanya sambil menangis. Dimana dia harus bermain bola lagi? dimana dia bisa membuat karangan lagi? dimana disa bisa melihat bintang dan bulan sambil tidur di empuknya rumput lapangan lagi?

Tak sadar dia menangis cukup lama hingga ia tertidur di bawah pohon itu.

Masuk dalam mimpinya tentang kenangan lapangan itu. Tentang kambing kambingnya, tentang bola dan teman temannya, tentang inspirasi yang ia dapat disana, tentang suara jangkrik yang merdu, dan juga angin sepoi malamnya.

Terbangun ia hingga menyadari sudah maghrib. Waktunya ia pulang.

Namun tidak langsung pulang ia, melainkan datang kembali ke lapangan. Dilihatnya sebagian tepi lapangannya telah terpagari. Tiga truk tadi masih ada disana. Namun sudah sepi baik kuli dan mandornya. Diputarinya lapangan itu, seakan masih tak percaya bahwa beberapa waktu lagi lapangan itu akan menjadi pabrik.

Akhirnya dia duduk di tepian lapangan. Dipeluknya kakinya dan didekapnya lebih erat. Jerseynya masih bagus, hanya sedikit kotor karena terkena tanah saat ia tertidur di bawah pohon tadi.

Langit sudah mulai gelap. Dia masih memandangi lapangan itu dengan pandangan tidak senang. HIngga tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundaknya ringan. “Nak, ayo pulang. Sudah maghrib.” Kata ibunya. Anak itu hanya diam saja. Air matanya mulai menggenang dan akhirnya meleleh di pipinya yang lusuh.

“Hmm, ayo pulang. Ada ikan asin kesukaanmu untuk makan malam.” Kata ibunya. Anak itu masih tidak bergerak.

Ibunya lalu duduk di sebelahnya dan memeluk lutut persis seperti apa yang dilakukan anaknya.

“Nak, kamu tahu apa yang begitu menyakitkan?” kata ibunya sambil memandang lapangan yang dipandang anaknya itu. “Yaitu dimana kau mulai bermain dengannya, melakukan apapun dengannya, hingga kau merasa memilikinya.” Kata ibunya. “Hingga tiba waktunya, kamu harus merelakannya karena kamu bukan pemiliknya, dan kamu tidak bisa memilikinya.” Kata ibunya.

“Tapi aku juga punya tanaman disitu. Ibu juga biasanya mengambil jeruk purut dan cabe disana.” Kata anak itu.

“Kau sudah berbuat banyak, Nak. Ibu tahu. Tapi kamu juga harus tahu, kamu bukan pemiliknya.”

“Aku mau beli lapangan itu, Bu!” kata anak itu sambil terisak. “Ingat, aku menabung uang jajanku ke ibu dari kelas 3 SD! Aku mau beli lapangan itu.” Kata anak itu sambil menunjuk lapangan itu dengan ujung jari kanannya yang menggetar.

Diusap-usap kepala anaknya itu dengan lembut oleh ibunya. Tersenyum ibunya mendengar kata kata anaknya itu. “Nak, andaikata kau jual rumah kita dan seisinya, pun juga belum bisa membelinya.” Kata ibunya sambil mendekap anaknya lebih erat.

-@syarifid-

Yang Maha Membolak-balikkan hati

Ya Rabb, Yang Maha Membolak-balikkan hati.
tertundukku disini, mencoba mengais kembali apa yang seharusnya aku perbaiki
terlihat terlambat melihat semua ini untuk kemudian dirangkai kembali

Ya Rabb, sudah panjang urai waktu aku habiskan untuk menggali diriku
menjadi diriku yang sekarang yang terdampak dari apa yang terjadi di masa lalu
masih diriku memperbaikinya hingga cukup elok dan pantas bagi yang menerimaku nantinya

Ya Rabb, aku masih mencintainya,

Aku tidak berdoa agar engkau menjadikannya permata untukku,
tidak juga berdoa agar ia menerimaku
Aku berdoa agar ia mendapat apa yang lebih pantas untuknya, dan apa yang pantas untukku

Ya Rabb, aku masih mencintainya,

Jika memang pertemuan ini adalah jalan untukku melanjutkan bahtera bersamanya,
maka mudahkanlah jalannya,

Robbi Yassir wa laa tu’assir

tentang sifat sikap dan wataknya,
aku akan menerimanya,
jika dia menerimaku,

jika bukan, maka tutuplah hatiku,
tundukkanlah pandanganku,
lalu bukakanlah pandanganku ke mana yang terbaik untukku.

Cafe Corner #ShortStory #Part3 #Espresso

Café itu sore ini cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di meja bundar pojok sambil minum kopi dan berbincang ringan. Ada juga pasangan yang sedang duduk minum teh di meja dekat dinding, namun sayangnya mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Ironi.

Senin sore itu, sang Nona kembali datang ke café kecil itu. Didudukannya tubuhnya yang mungil itu di kursi tinggi di meja bar yang memanjang. Tidak ada orang yang duduk di meja panjang itu.

“Hei…” sapa pelayan dengan sangat ramah dan senyum yang merekah. Kemeja putih nya terlihat rapi. Wajahnya terlihat masih sangat bersemangat.

“Hey!” sapa Nona itu dengan senyum dan sambil memandang pelayan. Nona berwajah datar ini sering datang ke café ini. Kadang sendiri, kadang dengan teman-temannya. Kali ini dia sendiri. Sepertinya dia sedang tidak ingin beramai-ramai.

“Mmmm, small or medium size?” tanya pelayan itu.

“Kau tidak bertanya dahulu aku mau minum apa?” tanya Nona sambil tersenyum.

“selama Nona kesini, Cuma satu minuman yang Nona pesan.”

“Tapi bukan berarti aku ingin minum itu hari ini.” Kata Nona itu sambil tersenyum.

“Mmmkay, Nona ingin minum apa sore ini?”

“Coklat panas dan muffin coklat satu.” Kata Nona itu dengan tersenyum.

“hmmm, okay then.” Pelayan itu tersenyum sambil kemudian berlalu dan membuatkan si Nona coklat panas.

Tidak lama kemudian, dihidangkan di depan Nona tersebut coklat panas dan satu muffin coklat di cawan keramik putih. “Silakan, Nona.”
“Thanks.” Kata Nona itu tersenyum kembali.

Nona itu diam beberapa saat, hanya melongok ke cangkir coklat panasnya yang masih mengeluarkan uap dan sesekali meniupnya tipis tipis.

“Ada cerita, Nona?” tanya pelayannya.

“Hmm, nggak ada.” Kata Nona itu sambil tersenyum ke pelayan.

“hmm, baiklah. Emmm, ngomong-ngomong coklat panas itu katanya sih bisa membuat tenang dan membuat emosi lebih stabil.” Kata pelayan itu asal bicara.

“Hahaha, terserah.” Kata Nona itu lalu meminum satu sendok the dari coklat panas tersebut. “hmm, but it’s the good one. Hehe…” kata Nona itu.

Pelayan itu hanya tersenyum ramah dan kembali terlihat sibuk merapikan cangkir-cangkir di rak dekat meja bar tersebut. Beberapa pelayan lain menyeka cangkir dan gelas-gelas tinggi sebelum dimasukkan ke rak. Begitu sepi café sore ini, sehingga hanya satu dua orang pelayan saja yang datang ke meja-meja pelanggan.

Ada suara langkah yang menyeret dari arah pintu masuk café. Tampak seorang lelaki dengan setelan blazer yang rapi berjalan gontai. Kemeja dalamnya masih tampak rapi meski dua kancing atasnya sudah terbuka. Wajahnya tampak lusuh dan poni rambutnya disingkapkan hingga hampir menutupi matanya.

langkahnya pelan dan menyeret hingga dia duduk di kursi tinggi di dua kursi sebelah kiri sang Nona. Ditempelkannya siku dan lengannya di meja bar. Telapak tangannya memegangi wajah dan menopang kepalanya. Seperti terasa berat hari ini untuknya.

Si Nona dan pelayan melihatnya dengan pandangan penasaran.

“Emm, mau pesan apa, Tuan?” tanya pelayan pada lelaki itu.

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Disibakkannya rambutnya yang menutupi wajahnya itu dengan telapak tangannya dan dilihatnya pelayan itu.

Pelayan itu melihat lelaki itu, mata lelaki itu merah, seperti orang yang sangat lelah dari bekerja keras.

“Emm, martini.“tanya lelaki itu.

“Maaf tuan, kami tidak menjual minuman tersebut disini.”

“Eh?” lelaki itu menyipitkan matanya dan mulai melongok ke sekitarnya.

“Iya, Tuan. Ini coffee shop sederhana yang menjual minuman non alkohol.”

Lelaki itu hanya diam dan menundukkan wajahnya lagi dan menopangnya dengan tangannya. Seperti begitu berat kepalanya itu.

“Emm, mungkin Anda ingin mencoba espresso, Tuan?” tanya pelayan itu.

“Emm, salah masuk café sepertinya. Sigh…” kata lelaki itu kemudian membuka pandangannya lagi ke arah pelayan.

“Dua ruko dari sini mungkin yang sebenarnya yang Tuan tuju, bukan disini.” Kata pelayan itu sambil tersenyum.

“Iya, disini sepi, tidak ada dentuman musik yang bisa membuat pusing kepalaku hilang.” Kata lelaki itu.

“Memang dengan musik keras seperti itu bisa membuat pusingmu hilang?” tanya tiba-tiba dari si Nona disampingnya. Nona itu tidak melihat ke arah lelaki itu, hanya melihat ke arah cangkir coklat panasnya dan meniupnya sesekali.

Dilihatnya oleh lelaki itu si Nona yang berbicara tadi. “Ya.” Kata lelaki itu singkat, “mungkin.” Kata lelaki itu menambahkan.

“Hahaha, tapi taukah Tuan bahwa pelayan disini pun bisa membuat pusing kepala hilang?” kata pelayan itu sambil bercanda.

“Oh ya?”

“Ya, caranya mudah. Tinggal ceritakan apa yang Tuan ingin ceritakan. Kami sajikan espresso dan semangkuk kue kering sembari Tuan bercerita.”

“Anda psikolog atau apa?” tanya lelaki itu sambil mendongakkan kepalanya.

“saya hanya pelayan yang hanya membantu, Tuan.” Kata pelayan itu.

“sigh….” Lelaki itu menunduk. Agak lama dia menunduk hingga Nona di sebelahnya mengiranya dia telah terlelap.

Sang Nona meminum sedikit coklat panasnya sedikit demi sedikit dengan sendok tehnya.

“cerita aja, Mas. Kali aja Mas pelayannnya bisa bantu.” Kata Nona itu sambil tidak mengubah pandangannya dari cangkir coklat panasnya.

Lelaki itu kemudian melongok ke arah Nona itu dan mengernyitkan alis, kemudian memandang ke arah pelayan itu dengan pandangan aneh. Kemudian ditundukkannya pandangannya lagi hingga cukup lama.

Di luar mulai hujan, matahari pun mulai tak terlihat, seketika ruangan terasa lebih dingin dan sunyi hingga suara cangkir yang bertumbukan halus dengan meja kayu terdengar jelas.

Lelaki itu memasukkan tangannya ke dalam blazernya, dirogohnya sakunya dan dikeluarkannya satu genggaman. Di taruhnya satu benda dalam genggamannya itu di meja kayu. Suaranya berdenting kecil. Yang berdenting itu adalah cincin emas dengan permata.

Sang Nona melebarkan matanya melihat cincin yang tergeletak di meja bar itu. Sang pelayan hanya diam dan menunggu suara dari lelaki itu untuk memulai bicara.

“seharusnya ini sudah berada di jari manisnya sekarang.” Kata lelaki itu.

“….damn, this sh*t just go serious, Man.” Gumam si Nona sambil berpandangan dengan pelayan itu sambil melebarkan matanya.

“aku tidak mau cerita terlalu panjang. Aku bahkan malas untuk mulai mengingatnya.” Kata lelaki itu tersenyum dengan senyum pahit.

Sang pelayan menyajikan espresso dengan gelas kecil dan satu mangkuk kue kering.

“Now let me hear your story.”

Lelaki itu menghela napas panjang.

“she dumped me.” Kata lelaki itu menunduk. Lelaki itu menyelesaikan satu kalimatnya, diminumnya dengan seruputan kecil dari espresso tanpa gula itu. Diletakkannya cangkirnya lagi dan dia mulai lagi berbicara.

“Ada kenalan ibunya yang melamarnya sebulan lalu. Dia menerimanya.”

“Heh? Seriously? Dia tidak memberi kabar bahwa ada yang melamarnya?” tanya si Nona tidak sabar. Alisnya mengernyit dan memandang ke arah lelaki yang tertunduk itu.

“Sssst…” si pelayan mengatupkan jarinya dan memberi isyarat kepada si Nona untuk tidak bersuara.

“sigh,… jika dia memberi kabar, mungkin aku tidak sekusut ini saat ini, Nona.” Kata lelaki itu, sambil kembali meminum sedikit espressonya.

“aku tak bisa hidup tanpanya,…” lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan penuh kekusutan. “masih terngiang suara tawanya,tangisnya,…. bahkan kulitku masih merasakan bagaimana lucunya dia mencubit.”

“mendengar suaranya dari telepon. Itu saja cukup membuatku tetap terjaga dengan deadline tugas yang menumpuk.” Lelaki itu mengambil satu keping kue kering dan menggigitnya kecil-kecil.

“sayangnya gadismu itu tidak merasakan hal yang sama kuatnya denganmu.” Kata si Nona sambil mengaduk coklat panasnya yang mulai mendingin.

“rasanya ingin loncat dari gedung.” Kata lelaki itu memandang nanar meja kayu di depannya.

Si pelayan dan si Nona hanya terdiam. Mereka saling berpandangan dan terlihat kebingungan dari wajah mereka.

Lelaki itu kemudian memandang kosong ke arah cincin di meja kayu bar itu. Di dalam kepalanya, ada sajak melingkar yang merajut bait.

 

ada serpihan-serpihan kenangan yang manisnya aku abadikan diantara pahit yang kuabaikan.

Diantaranya meliuk dalam ingatan yang menjadi alasan ada semangat hidup di tiap hembusan napas

Hingga akhirnya ranting pengharapan itu patah tiba-tiba, sebagaimana gurun merubah panas menjadi beku.

ada sisi labirinmu yang tak bisa aku gapai, seolah aku hanya berputar di tepian koridornya dan akhirnya aku terpojok dan dipaksa keluar”

“atau ingin mati overdosis obat penenang.”

“Jangan bodoh!” kata Nona disampingnya. Dilihatnya lelaki itu dengan tatapan tajam.

“terus kenapa? Aku melakukan semua ini demi dia. Semuanya.” Lelaki itu kemudian menunduk.

I stabbed my heart with her name, and now she pulled it out. I just want to die….literally.” kata lelaki itu dalam hatinya.

“Emm, Tuan,,,tenangkan diri tuan.” Kata pelayan itu coba menenangkan sambil memberikan segelas air putih di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu merogoh saku dalam blazernya, dikeluarkannya satu tabung kapsul plastik kecil dan ditaruhnya di atas meja kayu bar itu. Ditaruhnya di sebelah cincin yang ia taruh di meja itu. Di dalam tabung kecil itu terdapat beberapa butir tablet putih.

“Anda mau minum obat, Tuan? Sebaiknya jangan sambil minum espresso, Tuan, karena…..” belum selesai pelayan itu menanyakan ke lelaki itu.

“Ini obat penenang yang akan membunuhku nanti.” Kata lelaki itu. “karena mati jatuh dari gedung sepertinya menyakitkan.” Lelaki itu menoleh ke arah si Nona sambil tersenyum. Senyum yang dingin danberat.

“Kau bergurau kan?” si Nona melihatnya tajam dan melirik ke tabung plastik berisi tablet putih itu.

“sebenarnya aku tak pernah seserius ini.” Kata lelaki itu sambil menggenggam kembali tabung plastik obat itu dan memutar-mutarnya di ujung tangannya. “Besok pagi mungkin sudah ada berita orang meninggal over dosis.” Kata lelaki itu kemudiang membuka tutup dari tabung plastik obat itu.

“Tuan, dengar Tuan.” Pelayan itu memperingatkan dengan berbisik agar tidak membuat keributan di café itu.“Saya tidak bisa mempersilahkan Anda untuk mengkonsumsi obat disini, apalagi jika obat ini digunakan untuk hal-hal yang tidak wajar. Kami dari pihak café akan….”

“Tenang-tenang.” Kata lelaki itu melihat kepada si pelayan, “Jangan panik.” Katanya menambahkan. “aku juga tak mau mati disini.” Kata lelaki itu sambil kembali menutup tutup tabung obatnya itu.

“saya juga bisa menyita obat ini saat ini juga dikarenakan Anda membawa obat ini ke café kami dan akan Anda gunakan untuk hal yang tidak wajar.” Kata pelayan itu. Kali ini pelayan itu mulai sedikit panik. Matanya melihat kanan kiri seolah mewaspadai pelayan-pelayan lain mendengar percakapan mereka.

“sudahlah, jangan membuat ini semakin rumit. Sekarang biarkan aku bayar untuk espresso dan kue keringnya, lalu aku pergi.” Kata lelaki itu merogoh dompet di celananya, “lalu kalian tidak akan melihat aku lagi.” Katanya sambil sedikit tersenyum.

Ditaruhnya satu lembaran seratus ribu ke meja kayu itu. Sekaligus diambil kembali tabung plastik kecil itu kembali ke saku dalam blazernya.

“Hei, Mas.” Panggil si Nona.

“Apa?” kata lelaki itu melongok ke si Nona di sebelahnya.

“untuk apa kau lakukan ini? …. Maksudku hal bodoh ini.” Tanya si Nona.

Laki-laki itu tersenyum ringan dan kemudian berkata, “Setelah dia tahu aku mati nanti, hidupnya tak akan sama lagi. Dia akan diliputi perasaan bersalah setiap harinya. Tak akan ada kebagian setelahnya. Tidak pula dapat disembuhkan oleh calon suaminya itu.” Katanya sambil tersenyum sinis. “Hahaha, aku ingin dia tau bahwa dia tidak dapat hidup tanpaku dan hanya aku yang mencintai dia lebih dari siapapun.”

“That’s why she dumped you.” Kata Nona itu memandang lelaki di sampingnya dan menaikkan alisnya.

Lelaki itu lalu memandang Nona itu tajam. Tiba-tiba hilang dari wajahnya senyum sinisnya tadi. Kini Nona dan Tuan saling berpandangan tajam.

“Kenapa kau bisa bilang begitu?” tanya lelaki itu.

“karena kau bodoh.”kata Nona itu.

“Kau menukar kehidupan demi orang yang bahkan orang yang kau rencanakan keburukannya.” Si Nona masih tidak mengalihkan pandangannya ke lelaki itu.

Lelaki itu terdiam, dia masih memandang tajam ke Nona disampingnya. “terserah! Setelah aku mati nanti, hidupnya tak akan sama lagi.” Katanya sambil kembali tersenyum sinis.

“Anggapan Anda salah, Tuan.” Kata pelayan itu sambil mengangkat cangkir espresso setengah kosong dari meja lelaki itu.

Lelaki itu lalu menoleh ke arah pelayan itu. Matanya mendongak melihat wajah pelayan itu perlahan.

“Hidupnya tidak akan berubah, Tuan. Lukanya akan sembuh lebih cepat.” Kata pelayan itu sambil mengangkat mangkok kue dari depan lelaki itu dan menaruhnya di meja belakang di balik meja bar.

“dan tidak berapa lama setelah itu, Tuan akan dilupakan, selamanya.” Kata pelayan itu sambil memandang kepada lelaki itu.

“Lagipula sudah ada lelaki lain yang akan menggantikanmu dan menghapus airmatanya.” Kata Nona di sebelahnya sambil meminum tegukan terakhir dari coklat panasnya. Kemudian dilihat oleh Nona itu mata lelaki di sebelahnya sambil kemudian berkata,

“cerita indahmu selama ini akan digantikan oleh cerita indah mereka.” Kata Nona itu.

Mata Tuan dan Nona itu bertemu. Tatapan mata Tuan yang sinis berubah menjadi lebih tenang. Seperti tatapan orang yang menyadari suatu hal. Nona itupun tersenyum kepada Tuan di sebelahnya. Senyumnya dengan lengkung dan lesung pipi yang indah dan lucu seperti biasa. Sang Tuan kemudian ikut tersenyum, meski terlihat berat senyumnya itu.

“Mati mu sia-sia.” Kata Nona itu sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat betapa bodohnya si Tuan ini.

Tidak berapa lama, lelaki itu memalingkan tatapannya dan mulai berdiri dari duduknya.

“Bersikaplah bijak, Tuan” Kata pelayan itu .

Lelaki itu menghadap pelayan itu dan tersenyum, kemudian mengalihkan pandangan kepada Nona yang masih duduk di sampingnya. “Lalu apa yang aku lakukan jika aku masih hidup hingga esok hari?” tanyanya kepada si Nona.

Nona itu mengulurkan tangannya menggapai cincin yang masih tergeletak di meja kayu itu. Ditunjukkan cincin itu kepada lelaki itu.

“Bukankah sudah jelas? Jika kau masih hidup hingga esok hari, mulai temukan gadis yang akan memakai ini di jari manisnya.” Lalu diserahkan cincin itu kepada lelaki itu.

“Gadis yang akan memakainya nanti, yang akan memberikan hidupnya untukmu, yang tidak berkhianat” Kata Nona itu sambil tersenyum. Ditaruhnya cincin itu oleh si Nona ke telapak tangan lelaki itu. Kemudian digenggamnya cincin itu, dan dimasukkan ke saku celananya.

Lelaki itu tersenyum dibalik kekusutannya, kemudian mulai melangkah keluar café. Dia berlalu begitu saja. Langkahnya terlihat lebih ringan, meski masih terlihat bagaimana berat dia berjalan sambil membawa badannya itu. Lelaki itu keluar dari café dan berjalan hingga menghilang dari pandangan si Nona dan pelayan itu.

“Hei, Pelayan. Apa mungkin besok pagi dia masih hidup?” tanya si Nona sambil masih melihat ke arah jendela.

“Lebih dari itu, paling lama sebulan lagi dia akan kesini lagi. Bercerita tentang hidupnya yang baru, sambil minum espresso.” Kata Pelayan itu sambil juga melihat ke arah jendela.

Nona itu merubah pandangannya ke arah pelayan itu dan berkata, “jika aku kesini lagi nanti, buatkan aku espresso. Tanpa gula.” Kata si Nona.

 

-syarif-

@syarifid

 

Cafe Corner #ShortStory #Part2 #Mother’sDay

Cafe hari ini cukup sepi, hanya ada 5 orang yang berada di meja-meja tengah. Sementara di ruang panggung, kali ini sedang disiapkan layar untuk nonton bareng. Biasanya untuk hari kamis sore dari pukul 4 sore hingga 6 sore, akan ditayangkan film-film lawas untuk ditonton di Cafe tersebut. Barulah setelah pukul 6 sore, akan ada perform dari musisi cafe tersebut.

“Hey.” Kata seorang gadis yang baru masuk cafe mendatangi meja bar sambil duduk di kursi bar tersebut sambil menaruh tasnya di atas meja.

“Oh, hey, Nona! Tumben datang sekarang?” tanya pelayan sambil dengan alis sediit mengernyit penuh tanya.

“Emang kenapa? Aku lagi pengen dateng aja, gak boleh?”

“ya gak papa. Cuman ya gak biasanya aja. Hari ini senin, dan kita semua tahu bahwa senin itu bukan rabu. Dan sekarang baru jam 4, jam pulang kantor masih 1 jam lagi.” Kata pelayan itu sambil mengelap meja.

“Haha, entahlah, aku lagi bosan di kantor, jadi kabur sebelum jam pulang.”

“Owh, I see then.”

Kata pelayan itu sambil mengangguk.

“Oh iya, Mas. Green tea float nya satu ya.” Kata Nona itu.

Tidak lama kemudian pelayan itu meletakkan satu gelas sedang green tea float di depan nona itu.

“Ada yang mau Mbak ceritakan? Nggak biasanya pulang jam segini dan dateng ke cafe hari ini.”

“Haha…gak tau deh, Mas.” Kata Nona itu kemudian menunduk.

“Haha, selow aja sih, Mbak. Kalo’ nggak mau cerita juga gak papa. Cuman saya disini udah biasa jadi tempat curhat orang-orang yang datang kesini, bahkan sering yang mengaku dosa ke saya. Hehehe….” kata pelayan itu sambil tersenyum lebar.

“Emm, aku lagi berantem sama Mama aku di kampung.” Kata nona itu sambil masih menundukkan wajahnya.

“Nah, kenapa?”

“Lha abisnya, si Mama selalu nelpon pas aku lagi di kantor, pas lagi sibuk, atau pas lagi lembur, atau bahkan lagi meeting dengan client di luar. Sekalinya aku telpon balik, biasanya mama gak ada di rumah, alasannya pengajian. Akhirnya yang disalahkan juga aku. Dibilang terlalu sibuk lah, harus cari pekerjaan deket rumah sana lah, atau apa lah.”

“cari kerjaan deket rumah di kampung sana kan gak masalah to, Mbak?” tanya pelayan itu. “Gaji disana gak segede disini, Mas. Lagian nggak ada perusahaan yang cocok dengan bidang saya disana. Yang ada cuman kebun sama sawah.” Kata Mbak itu sambil meminum green tea floatnya dengan sedotan.

“Mbak kapan terakhir pulang kampung?” tanya pelayan itu.

“Emm, mungkin sekitar 6 atau 7 bulan lalu sih, Mas.” Kata nona itu sambil meminum green tea floatnya.

Tidak lama, film mulai diputar. Suara nya terdengar jelas seisi cafe tersebut. Film untuk hari ini adalah “UP”, film animasi dari Pixar yang mengkisahkan tentang petualangan anak pramuka dan kakek yang ingin merealisasikan mimpinya. Film ini mengajarkan banyak tentang persahabatan dan cinta.

“Wow, aku baru tahu disini juga ada acara nonton bareng pake’ layar tancep gini. Hehe…” kata Nona itu tersenyum melihat ke arah layar.

“Emm, Mbak…saya mau kasih tau sesuatu.” Kata pelayan itu.

“Apa?”

“Coba lihat di meja ketiga dari kanan. Yup, deket jendela.” Kata pelayan itu sambil mengisyaratkan ke arah meja tersebut.

“Oh yang itu.” Kata Nona itu sambil menunjuk dengan telunjuknya.

“Ssshhhh! Jangan tunjuk-tunjuk!” kata pelayan itu.

“Eh, emang kenapa?” tanya Nona itu.

“Coba lihat mereka.” Kata pelayan itu.

Yang duduk di meja itu adalah seorang ibu-ibu dengan umur sekitar 45-an, dan anak laki-lakinya yang umur sekitar 17-18an. Di meja mereka, ada semangkuk pasta dan segelas susu segar. Sesekali ibu itu menyuapkan pasta ke anaknya itu, setelah itu mengelap sisa makanan yang ada di mulut anaknya itu. Setiap kali makanan itu ditelan oleh si anak, sang ibu tersenyum dan membelai kepala sang anak dan dari gerakan bibir ibu tersebut, ibu tersebut sambil berkata, “pinteer, lagi ya?” lalu kemudian sang anak mengangguk dan kemudian ibu itu menyuapkan lagi satu sendok pasta lagi dan setelah itu mengelap sisa makanan di mulut anaknya itu dan kemudian membelai kepala anaknya itu lagi dan berkata “pinteer, lagi ya?” dan itu dilakukan berulang-ulang.

“Emmm, I don’t get…..”

“anak ibu itu keterbelakangan mental.”

“Eh?” sang Nona terperanjat kaget, dilongoknya sang pelayan itu. Sang pelayan itu masih memandang lurus ke arah ibu dan anak itu. “Mereka tidak tentu kesini, yang saya tau, Ibu itu membawa anaknya kesini jika anaknya rewel tidak mau makan. Jadi biasanya, dia membawa anaknya kesini saat sore gini. Kebetulan kalo’ sore disini ada sesi pemutaran film seperti ini. Ibu itu membawa anakna kesini biar anaknya tidak rewel dan ibunya dapat menyuapinya.”

Nona itu mulai melihat dengan lebih dalam. Sang ibu masih menyuapkan, mengelap sisa makanan di mulut anaknya itu, dan membelai kepala anaknya, dan tetap dengan senyuman. Anak itu terlihat sehat, agak gemuk, dan kulitnya bersih terawat, dan meski dengan keterbelakangan, wajahnya terlihat berbinar dengan penuh kesenangan. Pandangannya terus tertuju pada layar dimana film diputar.

Pasta di mangkuk itu mungkin tinggal 3 suapan lagi. Namun anak itu sudah menggeleng ketika ditawarkan untuk disuapi. Ditampiknya sendok ibunya itu hingga sendoknya jatuh ke lantai. Ibunya berdiri dari duduknya, mengambil sendok, mengelap ceceran pasta di lantai dengan tissue yang ada. Seorang pelayan lain membantunya untuk membersihkan ceceran pasta di lantai dan memberikannya satu sendok yang baru. Ibu itu kemudian duduk kembali dan mengelus kepala anaknya itu lagi. anak itu masih menatap layar di panggung dan sesekali tertawa dan bertepuk tangan layaknya anak umur 5 tahun.

“Mbak, aku yakin ibu Mbak juga melakukan hal yang sama pas Mbak kecil dulu ya.” Kata pelayan di bar itu.

Nona itu tetap diam, masih dilihatnya ibu dan anak itu.

Pelayan itu pun berucap kembali, “Nggak ada ibu di dunia ini menghendaki anaknya keterbelakangan mental, nggak ada. Tapi lihat, apa ibu itu mengeluh? Bahkan dia rela membawa anaknya kesini sekedar untuk membujuknya makan. Meski ya….dia melakukan itu seumur hidupnya dia.”

Nona itu mengedipkan matanya, hingga air mata kecil menetes cepat melintasi pipinya dan terjun bebas jatuh ke pangkuannya. Diusapnya air matanya dengan sikunya.

Disodorkan satu lembar tissue dari pelayan untuk si Nona. “makasih.” Kata nona itu mengambil tissue dan menyeka air matanya.

“Hehe, kalau sudah melihat ibu dan anak itu disini, saya biasanya sih langsung telpon rumah, Mbak. Gak tau deh kalo’ Mbak.” Kata pelayan itu kepada si Nona.

“Haha, emm, jadi merasa anak durhaka gini akunya.” Kata si nona.

“hehe, yasudah, sana telpon ibunya Mbak.” Kata pelayan itu sambil tersenyum.

Nona itu mengambil telepon genggamnya dari dalam tas dan pergi ke toilet. “saya nitip tas ya, mas.” Kata Nona itu.

“Siap!” kata pelayan itu sambil tersenyum.

Hingga tiba di toilet, suara dari luar sudah tidak terdengar lagi. Di depan cermin besar dan wastafel, si nona menekan tombol telepon genggamnya, tertera di layar ponselnya ‘Mama’ dan ditekannya tombol panggil.

Tidak lama kemudian, dia berbicara, “Halo, Ma, ini Alyn….”

Beberapa lama dia bercakap dengan ibunya, meminta maaf atas perlakuannya, bertanya kabar tentang ayahnya, tentang kebun dan sawahnya disana, tentang cuaca dan segala yang berhubungan dengan keluarganya. Hingga penghujung percakapan, si Nona itu berucap kepada ibunya, “Ma, Alyn mau pulang kampung sabtu ini. Alyn kangen sama mama. Tunggu Alyn ya di rumah.”

 

-syarif-

Cafe Corner #shortstory #part1

laki - laki itu pun mulai menggesek senar biolanya. kali ini instrumen “Endless Love”.

nona itu masih berada di meja bar menyimak alunan musik dari biola laki-laki di panggung cafe itu.

sesekali nona itu terpaku dan menelusuri wajah dan gerakan lengan laki-laki pemain biola itu.

hingga akhirnya laki-laki itu melenmpar pandangannya ke nona itu.

seketika nona itu melongok ke arah gelas greeen tea floatnya dan langsung meminumnya seteguk.

lagu itupun selesai.

“terimakasih.” kata pemain biola itu dan meletakkan biolanya ke kursi dan segera kru panggung membereskan dan mengatur sound system disana untuk performance berikutnya.

laki-laki itu datang dan mendekati si nona. nona itu hanya duduk terdiam dan memainkan ponselnya sambil meminum green tea floatnya melalui sedotan.

“Hei.” sapa laki-laki itu.

nona itu menoleh terpatah-patah, “Oh, hei…” nona itu tersenyunm.

“sendirian, Lyn? yang lain mana?” tanya laki-laki itu.

“Emm, masih di kantor kayaknya, katanya tadi mau nyusul, tapi sampe’ sekarang gak ada.”

“Oh, gitu. Emm, yawdah d, aku ke belakang stage dulu ya.” kata laki-laki pemain biola tadi sambil lalu.

“okay.” kata nona itu.

setelah laki-laki itu menghilang dari pandangan, sang nona mulai berkemas.

“Udah pulang aja, Mbak?” kata pelayan yang sedari tadi mengamatinya.

“Eh? emm, iya, mas…saya ada meeting stengah jam lagi dikantor.”

“Mbak nya suka ya sama mas yang tadi?”

“Maksudnya?” nona tersebut meletakkan kembali ponselnya ke meja dan memandang sang pelayan.

“ini udah bulan ketiga mbak datang kesini tiap malam rabu. datang sekitar 20 menit sebelum mas tadi main. memesan green tea float cup kecil. Dan meski nggak bareng temen-temen, Mbak tetep dateng kesini. iya kan?”

“Haha, nggak lah…”

“kenapa nggak bilang aja ke mas nya, Mbak?

“Maksudnya?”

“Ya kalo’ mbak suka ya setidaknya nanya kabar dia kek, atau mempersilakan mas nya duduk di samping mbak sambil nyeruput green tea kek atau sekedar muji performnya yang tadi.”

“Apasih!?”

“apa aja boleee.” kata pelayan tersebut sambil terkekeh kecil.

lalu ada diam lama hingga sang nona angkat bicara.

“keliatan banget ya?”

“Emmm, kalo’ dari sisi saya yang ngeliatin, keliatan banget. tapi kalo’ dari sisi mas nya tadi, nggak.”

“Oh ya?”

“he’em….mas nya kan gak tau kalo’ mbak emang sengaja dateng buat liat dia.”

“apasih!”

“udah sih, jujur aja…susah amat.”

nona tersebut menunduk malu.

“lha terus aku bisa apa, Mas?”

“ya tadi, paling gak persilakan duduk di sebelah mbak, tawarin mau minum apa, atau tanyain kabar gimana kerjaan dia, ato puji dia kalo’ performnya bagus. rempong amat!”

“Ogah!”

kemudian hening.

“mau sampe’ kapan, Mbak?”

“Eh?”

“iya, mo sampe’ kapan kaya gini? mbak nya mendem perasaan terus, mas nya gak bakal tau, dan ini udah bulan ketiga. bulan depan diambil orang tuh.” kata si pelayan.

“sumpah, bawel amat kamu!”

“haha…”

hening sebentar hingga sang pelayan kembali bertanya.

“Mbak, kenapa sih suka sama orang kaya mas nya tadi? mukanya aja sengak, sok cool, ganteng sih, tapi kaya kurang humoris gitu.”

“saya itu biasa aja mas sama yang tadi.”

“udah, jawab aja…”

“emm, gini, cewek itu, suka sama yang tipe-tipe kaya’ gitu mas.”

“tipe kaya gimana?”

“ya cool, punya talent, senyumnya mahal, tapi care. hihi…” kata nona tersebut.

“kalo’ saya gini juga punya talent lho mbak jadi stand up comedian, mbak nya ndak tertarik sama saya?”

“Dih! beda kasta mas….haha…”

“azzzz.”

“becanda, Mas. hehe…”

“yeee….padahal dipikir-pikir si mas nya itu gak berbuat apa-apa buat mbak, sedangkan saya kan tiap rabu malem mbuatin green tea float buat mbak, ngajakin mbak ngobrol, bantuin ngelap in minuman temen-temen mbak yang tumpah-tumpah.”

“yee, itu kan tugas nya situ.”

“hahaha, kalo’ dianalogikan di kehidupan nyata, posisi kaya saya ini dimata mbak kaya gak penting pasti ya?”

“Maksudnya?”

“orang yang udah berbuat banyak, juga gak bakal ngaruh ke mbak, soalnya mbak lagi terpaku sama mas yang cool yang tadi.”

“Mas! udah deh! Mas tuh gak tau saya, jadi gak usah sok tau!”

“Mbak, setidaknya saya tau kalo’ mbak itu suka green tea float, suka benda-benda warna pink karena tas, phone case, sama laptopnya warna pink, terus kerja sebagai staf planning management di perusahaan seberang cafe ini. emm, itu nguping sih. Daaan, saya gak yakin kalo’ mas yang main biola tadi tuh tau sebanyak saya. tsaaah.” kata pelayan itu tersenyum lebar.

“Dih! kepo banget sih jadi orang!”

“yeee biarin. tapi setidaknya saya berhasil.”

“berhasil apa’an?”

“ya berhasil bikin mbak stay disini 30 menit. hahaha….katanya meeting.”

“ini karena kamu ngajak ngobrol terus.”

“ndak juga, karena mbak juga sebenernya tertarik sama obrolan ini.”

“Apasih!”

“Mbak, lain kali kalau mbak mau tips dari saya biar hubungan kalian gak gini-gini terus, bilang ya…ntar saya bantuin.”

“Mas! bawel amat sih….lempar sendal nih.”

“hahaaha, yaudah deh klo’ gak mau dibantuin, saya ngelayanin yang lain dulu, thanks for coming, Mbak. see you next week.” kata pelayan itu sambil lalu dan melempar senyum lebar.

Welcome Home, Honey…

September 2012

Seorang gadis masih berada di atas rooftop SMA tempat dia biasa berada malam itu. Di depannya seorang anak muda yang masih memandanginya dengan pandangan sendu.

“Jika aku diberi pilihan untuk mengganti apa yang hilang dari tubuhku. Jika bisa…aku tidak meminta ini kembali…aku lebih memintamu untuk menemaniku.” kata anak laki-laki itu kepada gadis itu.

Gadis itu masih menunduk, hingga ia memalingkan wajahnya dan mendongakkan wajahnya ke atas, ke bintang-bintang dan bulan yang masih ada disana malam itu. “aku akan menemanimu.” Kata gadis itu.

“Tidak, kau tidak akan menemaniku.” Kata anak laki-laki itu.

 

April 2007

Gadis itu bernama Sarah, kelas XI IPA 2 di salah satu SMA di Jogja. Hari ini dia mengenakan baju bebas untuk ke sekolah. Selain karena hari ini adalah hari minggu, juga hari ini adalah hari Bazaar di sekolah dalam rangka ulang tahun sekolahnya.

“Wow, cantik sekali anak ayah hari ini. Itu baju baru ya?” Kata ayah Sarah ketika melihat Sarah turun dari tangga dan menuju ruang makan.

“Ini baju lama, pa…cuman akunya aja yang gak pernah kemana-mana, jadi gak pernah dipake’” kata Sarah sambil duduk dan langsung menyantap telur mata sapi dan steak sapi lada hitam di piringnya dengan garpu dan pisau.

“Nanti kamu selesai acara dijemput ayah aja ya, Nduk.” Kata ibunya dari dapur sambil melepas celemeknya dan ikut melingkar di meja makan.

“Emmm, nggak deh, Ma. Belum tahu juga selesainya jam berapa. Mungkin mending Sarah naik taksi aja.” Kata Sarah sambil memakan potongan-potongan kecil steaknya.

“Ada acara apa toh di sekolah? Kok gak biasanya kamu ngeyel minta ijin mau keluar kaya kemaren.” tanya ayahnya.

“Ada bazaar di sekolah. Mau kumpul sama teman-teman juga.” kata Sarah sambil melirik ayahnya sambil tersenyum.

“Inget ya, daripada kamu kumpul sama temen-temen gak jelas, mending kamu belajar yang tekun biar bisa lulus dan masuk PT negeri.” Belum selesai ibunya bicara.

“Pa, Ma…please allow me… I’m not a little girl anymore.” kata Sarah menimpali sambil tetap menyantap makanannya dengan santai, “and someday, you will let me go.” Kata Sarah sambil nyengir kepada bundanya. Bundanya semakin cemas.

 

Di sekolah, pukul 08.00

Bazaar kali ini tiap-tiap perwakilan kelas diberi satu petak untuk berjualan di lapangan futsal dan lapangan basket. Begitu ramai suasana bazaar, tiap-tiap kelas membawa pernak-pernik untuk mempercantik stand jualan mereka. Ada yang mengambil tema “Sapi Onyoe” dimana segala jualan mereka adalah olahan susu, yaitu yogurt, susu segar, dan mayonaise. Ada juga stand yang mengambil tema “Sushi Teuing” dimana mereka menjual aneka Sushi yang di pack secara lucu di sterofoam kecil. Bahkan ada satu stand yang bergaya minimalis, sangat sederhana, tapi cukup ramai, stand itu dibuat oleh anak-anak kelas XII-IPA-1, standnya hanya bertuliskan, “Sedia soal-soal ujian nasional beserta jawaban”. Mungkin hanya stand itu yang merusak mood siswa kelas XII yang datang, tapi disisi lain mereka akan datang dan membeli soal di stand tersebut. Tidak ada keceriaan di wajah mereka yang datang. Lebih parah lagi, ada yang mengerjakan soal di stand tersebut, dan yang terparah adalah ketika ada seorang senior jenius yang memprotes kepada kasir bahwa pembahasan di ujian matematika di fotokopian soal UNAS tahun lalu salah dengan memberikan bukti kertas jawaban yang dia bikin dan dia kerjakan di stand itu juga. Stand ini sudah gila, yang beli pun juga sudah gila.

“Kampret nih yang bikin stand.” Kata seorang senior yang raut mukanya langsung berubah ketika melihat stand tersebut ketika masuk area lapangan. Akhirnya dia memasuki stand tersebut dan dia membuka buka fotokopian soal ujian nasional tahun lalu. Akhir cerita dia membeli soal fotokopian tersebut….3 ekspemplar. Keluar dari stand itu, dia melongok di stand sebelahnya yang berjudul, “Prediksi Soal SNMPTN dan UM UGM – by XII-IPA2.” Dia menghela napas, dan berkata satu kata bermakna, “kampret.” Dan akhirnya dia masuk stand tersebut dan membeli 5 eksemplar soal.

Sarah menuju stand kelasnya, XI-IPA-2. Kelasnya mengusung tema. “To cool”, dibacanya Tukul. Standnya sungguh lucu, dibuat seperti rumah igloo yang di dalamnya ada AC sehingga ada nuansa dingin. Mereka berjualan segala macam es krim. Ada banana split, es-krim goreng, ada es krim batangan, ada es krim vanila berbalut coklat yang bisa diberi toping dan almond secara custom.

“Hei sarah! Tumben kamu dateng!” kata Ira, teman sarah yang ada di dalam igloo. “Hei, ada yang bisa dibantu?” kata Sarah.

“Oh, nggak usah. Ni udah selesai semua kok. Hehe…kamu udah dateng aja kami udah seneng.” kata Ira sambil merapikan meja dan menu.

“Haha, baru kali ini aku diijinin keluar. Beneran nih gak mau dibantu? Yawdah, aku keliling dulu ya, Ra.” Kata Sarah sambil lalu.

Ketika Sarah berbalik, di depannya sudah ada sosok pria yang tinggi, putih, mata jernih, dengan rambut gelombang, plus lesung pipit saat dia tersenyum. Definisi ini lebih sering disebut dengan “ganteng”. Namanya Rizwan, anak kelas XI-IPA-1. Dia mengenakan kaos berwarna merah maroon bertuliskan, “Say with Cake!” dimana kelasnya menjual berbagai jenis Cake seperti red velvet, cheese cake, blackforest, dan lain sebagainya.

Rizwan adalah teman sekolah Sarah dari SMP. Saat SMP mereka satu kelas dari kelas 1-3 SMP, namun baru akhir-akhir ini mereka begitu akrab.

Sarah kaget melihat Rizwan tiba-tiba muncul. “Kamu tuh bisa gak munculnya gak tiba-tiba?” kata Sarah sambil memukul-mukul manja si Rizwan. “Haha, aku tadi udah dari sini sejak kamu masuk stand.” Kata Rizwan dengan suaranya yang sedikit ngebas sambil menahan pukulan dari Sarah.

“Haha, awas kamu ya! Emm, kamu jaga stand by the way?” tanya Sarah sambil tangannya sendekap.

“No, I just wearing this shirt because my class captain said we have to wear it.” Kata Rizwan.

“So..?”

“apakah Anda keberatan untuk mencicipi makanan-makanan di stand-stand, Nona?”

“ih, apa’an sih.” Kata Sarah sambil nyengir. Rizwan dan Sarah mengajak teman-teman lain untuk ikut serta ngicip-ngicip makanan di stand-stand. Fungsinya mengajak yang lain tidak lain tidak bukan adalah biar irit, satu orang beli satu tipe makanan dan di share buat icip bareng-bareng.

Akhirnya mereka berjalan diantara ramai siswa yang hadir untuk meramaikan stand dan atau sekedar mencicipi hidangan di stand-stand.

Di ujung tempat stand di lapangan basket, disediakan stage untuk band, dancer, tarian daerah, atau persembahan dari kelas-kelas. Tepat pukul 9, acara yang ditunggu-tunggu oleh semua siswa adalah pembukaan bazaar oleh kepala sekolah. Kepala Sekolah membuka acara dengan memberi sambutan di stage tersebut. Siswa-siswi begitu antusias, hingga menit ke 15, kepala sekolah belum menunjukkan niat untuk mengakhiri pidatonya. Masuk menit ke 30, tiba-tiba beberapa stand menyalakan musik sebagai background stand mereka, hingga akhirnya suara sambutan kepala sekolah tidak terdengar. Selain itu, dibelakang stage, seorang penanggung jawab perlengkapan sengaja mematikan microphone kepala sekolah. “Yak, itulah tadi sambutan dari kepala sekolah!” kata MC dan disambut sorak sorai oleh siswa dan pesta kembang api.

 

Rizwan, Sarah dan 5 orang lainnya telah membeli segala macam makanan minuman dari stand-stand yang ada. Mereka membawa itu semua untuk dimakan di bangku lingkar di sebelah kelas X di lantai tiga. Meja di antara bangku lingkar itu telah terisi oleh beragam makanan dari hasil pembelian di stand-stand. Ada red velvet cake, bakso, nasi goreng, tempura goreng, banana split, sosis goreng raksasa, burger cheese daging kerbau, yogurt, dan satu eksemplar ujian nasional. Kampret.

Akhirnya satu persatu dari mereka saling mengicip. Sarah mengicip red velvet dari kelas si Rizwan, Andi (teman Sarah) mengicip bakso dan nasi goreng, Miko sedang asyik dengan banana splitnya, Laras sedang kesulitan memakan burger daging kerbau, Lisa dan Aris sedang suap-suapan tempura, sedang Rizwan sedang mengerjakan soal ujian nasional. Antiklimaks.

Terdengar keras suara musik dari band-band penampilan kelas dan suara teriakan histeris cewek-cewek. Beberapa saat kemudian, musiknya berubah, ternyata ada penampilan dancer dari kelas X-5. Segera terdengar keras teriakan cowok-cowok senior. Miris.

Akhirnya mereka ngobrol kesana kemari, ngobrol tentang guru-guru mereka yang ‘lucu’ dan tentang peliharaan mereka yang gak kalah lucu dengan guru mereka.

“Eh, Rizwan mana?” tanya Laras sambil membetulkan behelnya karena daging kerbau masuk sela-sela behelnya.

“Eh? Iya ding, mana tuh bocah?” tanya Aris. Sarah melongok kanan-kiri.

 

“Yak, ada penampilan request dari seseorang dari kelas XI-IPA-1!” Kata MC di stage.

“Terimakasih, emm, lagu ini saya persembahkan untuk someone special.” Suara ngebas itu sepertinya tidak asing.

Seketika pupil mata Sarah membesar, dan dia berdiri dari bangkunya, lalu melongok ke stage dari lantai 3 tempat ia berpijak. Teman-temannya pun ikut melongok ke stage.

Ternyata benar, yang diatas stage itu adalah Rizwan. Dia kabur saat teman-temannya sedang autis dengan makanan masing-masing.

Teman-temannya serempak menggeleng-gelengkan kepalanya. Rizwan memang sering berbuat konyol seperti ini.

MC dari stage berkata, “Ciee, siapa itu someone spesialnya Rizwan?”

“Emm, someone nya adalah dari XI – IPA-2.” Kata Rizwan.

“Cieee…”sorak sorai penonton.

“namanya Miko, dia temen se kos saya.” Kata Rizwan.

Tiba-tiba ada hening yang panjang. Sebelum akhirnya terdengar tawa dari penonton.

“Bocah geblek.” Kata Sarah sambil nyengir dan geleng-geleng. Lesung pipitnya begitu manis diantara pipinya yang makin merona.

“Kampret tuh bocah.” Kata Miko sambil geleng-geleng.

“Haha, just kidding guys. Ini buat lagu buat kalian semua yang hadir.” Kata Rizwan mulai memetik gitarnya.

Dan terlantun dari petikan gitar Rizwan dari stage. “Cruising when the sun goes down. Across the sea. Searching for, something inside of me. I would find all the lost pieces. Hardly feel, deep and real, I was blind and now I see… hey hey hey you’re the one… hey hey hey you’re the one …hey hey hey… I can’t live without you”

Dan semua keramaian menjadi teduh nyaman, dan sebagian bernyanyi lirih, “Take me to your place, where our hearts belong together. I will follow you. You’re the reason that I breath.” Lama-lama semakin banyak yang ikut bernyanyi.

Sarah, dari lantai 3, bibirnya entah sadar atau tidak, ikut bernyanyi meski hanya berbisik. “I’ll come running to you. Fill me with your love forever. I’ll promise you one thing. That I would never let you go. Cause you are my everything….” bisik Sarah pelan dengan background suara Rizwan.

 

“Hey, kamu tadi nyanyi tuh buat siapa?” tanya Sarah sambil berjalan berdua di koridor bersama Rizwan. Suara riuh di lapngan sudah hilang. Sekarang sudah pukul 2 siang. Waktu bazaar telah selesai.

“Buat someone spesial.” Kata Rizwan.

“Ya iya, Nyong…tapi buat siapa? Your crush, ha? You never told me you have a crush…haha…” kata Sarah sambil ketawa.

“haha, kenapa harus kasih tau kamu?” kata Rizwan sambil lalu.

“dasar. Haha…aku bisa mulai cerita tentang masa laluku ke kamu akhir-akhir ini. Kenapa kamu gak mulai terbuka ke aku?”

“Should I?” tanya Rizwan,

“Ya, I don’t know. But, you can tell me if you need a place to share.” Kata Sarah.

“I have no stories to tell….don’t worry.” Kata Rizwan. “Come, let me drive you home.”kata Rizwan.

“Oh ya? Gak usah deh, aku pake’ taksi aja.” Kata Sarah.

“aku pengen tahu rumah kamu.” Kata Rizwan.

“Jangan, nanti orang rumah mikirnya macem-macem.” Kata Sarah.

 

Tibalah di lahan parkir motor, Rizwan mengendarai CBR-150 warna putih. Badannya yang tinggi dengan CBR terlihat keren. “nih” kata Rizwan menyerahkan helm ke Sarah. “emm, ini kali pertama aku dibonceng motor.” Kata Sarah. “What?” kata Rizwan. “Yup, bawa motornya pelan-pelan aja ya…”

 

Sampainya di depan rumah Sarah, Sarah turun dari motor dengan pelan-pelan. Jantungnya masih berdetak kencang karena ini kali pertama dia naik motor.

 

“Pa, Ma, aku pulang…” kata Sarah sambil masuk ke rumah dan menaruh tasnya di ruang tamu depan.

“Oh, udah pulang, sayang…? naik taksi kah?” tanya ibunya.

“Ndak ma, dibonceng temen naik motor.” Kata Sarah.

“APA? MOTOR?” pekik ayah Sarah. “Motor itu bahaya, sarah!” kata Ayah Sarah.

“Gak apa-apa, Pa… pake’ helm kok.” Kata Sarah menenangkan ayahnya.

“dianter sama siapa kamu pulang?” tanya ayahnya yang tiba-tiba raut mukanya berubah menjadi serius.

“Sama temen. Itu di luar, bentar ya, Pa…” kata Sarah sambil keluar rumah dan menemui Rizwan yang masih ada depan bersama motornya.

“Eh, Riz…makasih ya…” kata Sarah sambil tersenyum.

Ayah Sarah lalu keluar dan berdiri di belakang Sarah. “Siapa ini, Sar?” tanya ayahnya dengan tatapan dingin kepada Rizwan.

“Oh, Pa, ini kenalin…Rizwan…teman aku. Dia yang nganter aku pulang.” Kata Sarah kepada ayahnya.

“Rizwan Om.” Kata Rizwan sambil menjulurkan tangan ke ayah Sarah. Cukup lama tangan itu tidak dibalas jabatan. Hingga, “Pa…” Sarah mengisyaratkan kepada ayahnya agar menjabat tangan Rizwan. Akhirnya mereka berjabat tangan juga.

“Nduk, kamu masuk gih… Papa mau kenalan dulu sama Rizwan.” Kata Ayah Sarah.

“Emm, oke, kalian baik-baik ya. Hehe…” kata Sarah sambil masuk ke rumah.

Setelah Sarah masuk ke rumah, Ayah Sarah mulai melemparkan pandangan ke Rizwan.

“Kamu yang namanya Rizwan?” tanya Ayah sarah

“Iya Om, saya Rizwan.” Kata Rizwan sambil tersenyum.

“Emm, gimana ya ngomongnya… Emm, kamu sudah tahu belum kalau Sarah tidak boleh naik motor?” kata Ayah Sarah.

“Oh ya? Saya nggak tau tuh, Om. Memang kenapa, om?” tanya Rizwan.

“Saya gak mengizinkan Sarah naik motor. Dengan siapapun, bahkan saudara sekalipun.” Kata Ayah sarah dengan serius.

“Maaf Om saya…”

“Loh, jangan minta maaf dulu. Dengar saya dulu. Sarah itu anak saya satu-satunya. Jika terjadi apa-apa saat kalian naik motor gimana? Mau kamu tanggung jawab?”

“Emm, iya, Om, maaf…”

“Dasar anak muda. Lagipula motormu ini tidak dirancang baik untuk dipakai boncengan.” Kata ayah Sarah sambil melongok ke motor Rizwan.

“Sekali lagi saya mohon maaf, om…” kata Rizwan dengan menunduk.

“Emm, saya harap ini terakhir kalinya Sarah dibonceng pake’ motor. Oh ya, satu lagi, kamu juga yang belakangan ini menelpon Sarah malam-malam?” tanya ayah Sarah.

“Kadang sih, Om. Kenapa Om?”

“Dengar Nak, berhentilah bertingkah yang keterlaluan. Waktu tidur Sarah tidak pernah sampai larut seperti akhir-akhir ini. Dan dia tidak pernah memohon dengan sangat untuk keluar rumah diluar jam sekolah seperti ini. Saya curiga kamu ….”

“Oh, tidak Om…saya tidak bermaksud untuk berbuat macam-macam kepada Sarah, Om. Maaf kalau saya bertindak menurut Om berlebihan”

“yasudah, jangan diulangi lagi ya, nak! Sudah, pulang sana…” kata ayah Sarah.

 

Pukul 22.00

Hey, thanks for today btw. – from Sarah

Okay, Emm, I’m sorry for the stupid thing that I’ve done. –from Rizwan

Eh, kenapa tiba2 minta maaf? –from Sarah

Emm, ayahmu bilang kalau kau dilarang naik motor. Terlebih lagi, kau jadi tidur lebih malam setelah aku telepon. Why you didn’t tell me? –from Rizwan

Tell you what?” –from Sarah

Yaa, tentang semuanya. Tentang dirimu yang tak pernah tidur larut, dirimu yang tidak boleh naik motor. Lalu apalagi yang aku tidak tahu? – from Rizwan

Seharusnya aku tidak meninggalkan kalian berdua di depan tadi. Itukah alasan kau tak menelponku malam ini? –from Sarah

Honestly, yes. –from Rizwan

You know what? –from Sarah

What? – from Rizwan

Di dalam kamar, Sarah berada di atas ranjangnya. Satu menit, dua menit, tiga menit, sms itu belum terbalaskan. Dia mulai mengetik, lalu menghapusnya kembali dan berulang hinggabeberapa kali.

“Ah, Damn! Riz…aku hanya cukup bahagia ketika aku menukarkan waktu tidurku untuk mendengar suaramu. Aku cukup bahagia untuk menegosiasi papa untuk keluar diluar jam sekolah untuk hanya bertemu denganmu. Did you notice?” Gumam Sarah.

Emm, nevermind. Aku akan bilang ke papa agar beliau tidak terlalu khawatir. –from Sarah

Are you sure? –from Rizwan

Yeah, i’m not little girl any longer –from Sarah

 

Mulai saat itu, Rizwan mencoba menggali lebih banyak tentang Sarah. Sarah pun juga bercerita tentang banyak hal kepada Rizwan. Tentang dia sebagai anak tunggal, tentang bagaimana ayah dan ibunya menjaganya dengan amat sangat. Dengan rencana pendidikan yang sudah di ‘set’ oleh orang tuanya. Hingga tentang konflik ketika teman-temannya diusir secara halus dari rumah Sarah ketika mereka sedang menjenguk Sarah yang sedang sakit. Akhir cerita, Rizwan mulai mengetahui Sarah adalah putri dalam benteng kerajaan yang dibangun oleh orang tuanya.

 

JUNI 2008

Hari ini adalah hari pelulusan SMA. Sekolah –sekolah di Jogja sudah ramai dipenuhi anak-anak kelas XII yang merayakan kelulusan. Diantara mereka ada yang sangat bersemangat ke sekolah pagi ini dengan membawa pilox, spidol warna warni, dan lipstik. Semuanya bersemangat, hingga akhirnya surat nilai UAN dibagikan. Akhirnya siswa-siswi terbagi menjadi tiga kelompok. Yang sangat bahagia karena lulus dan piloxnya langsung digunakan untuk mencoret-coret baju seragam, kelompok yang tiba-tiba nangis gara-gara gak lulus, dan kelompok yang histeris karena lulus tapi gak bawa pilox, spidol, bahkan lipstik untuk coret-coret.

Sarah pun disana, berbeda dengan yang lain, dia sekarang berada di ruang guru. Menerima penghargaan karena menjadi 10 besar nilai UNAS tertinggi se propinsi.

 

“Congrats mbaknya.” Kata Rizwan ketika Sarah keluar dari ruang guru. Di tangan kanan Sarah memegang sertifikat.

“Eh, haha… it’s just … well, lagi ngapain?” kata Sarah agak salah tingkah.

“Aku? lagi menunggumu keluar.” Kata Rizwan tersenyum.

“seriously… nunggu aku keluar ato main coret-coretan dan kebetulan lewat sini pas aku keluar?” tanya Sarah.

Benar saja, baju seragam Rizwan abu-abu putih sudah dipenuhi tanda tangan menggunakan spidol dan lipstik. Di pipi Rizwan pun ada bekas bibir lipstick di kanan dan kiri pipinya, juga di leher.

“Haha…” Rizwan hanya tersenyum.

“Eh, itu siapa aja yang nyiumin kamu?” tanya Sarah sambil mengernyit dan menahan tawa.

“Oh, yang pipi kiri si Andi, pipi kanan Si Miko. Yang leher si Laras…”

“HEH!? LARAS! WHAT THE…”

“Hehe, gotcha….! just kidding, ini si Bejo yang nyium. Ni jigong nya masih kerasa di leher” Kata Rizwan.

“dasar bocah!” kata Sarah sambil geleng-geleng.

“Emm, may I?” tanya Rizwan sambil membuka tutup spidol.

“what? Sign my uniform? No… my dad will kill me.”

“oh ya? Here, I give you sign.” Kata Rizwan memaksa.

“If you write your name in my uniform. I will be killed. Twice!” kata Sarah sambil tersenyum dan memperlihatkan giginya yang rapi dan lesung pipinya yang cantik.

 

Akhirnya mereka kembali menyusuri koridor-koridor kelas. Menunjuk tempat-tempat seru dimana mereka menghabiskan waktu SMA bersama dengan kekonyolan-kekonyolan mereka. Melewati kantin, melewati kebun sekolah, melewati UKS dimana disana banyak anak-anak terbaring ketika guru mengadakan kuis dadakan, dan tempat-tempat lain yang penuh kenangan.

“Mau kemana kau setelah ini?” tanya Rizwan sambil jalan.

“Pulang lah..” kata Sarah.

“I mean, kamu mau lanjut kuliah dimana?” tanya Rizwan.

“Oh, rencanaku ke ITB.”

“rencanamu atau rencana orang tuamu?” goda Rizwan.

“Haha…itu hasil negoisasi. aku ngincer arsitektur disana.” Kata sarah. “How bout you?”

“Me? Well, I’m not really sure… aku mungkin balik ke kotaku, surabaya.. ke ITS atau Unair. Liat ntar deh.” Kata Rizwan.

Sarah menghela napas panjang, dia terduduk dan tersandar di dinding depan kelas X.

Rizwan duduk di samping sarah. Hening beberapa lama hingga satu diantara mereka bersuara.

“aku tahu hari ini akan datang, Riz.”

“Eh?”

“hari dimana kita dan temen-temen bakal pisah.”

“Haha, nanti kita masih bisa berkirim pesan.” Kata Rizwan.

“Ya, tentu…suatu waktu kita akan reuni. Kita bincangkan lagi semuanya.kamu dengan ceritamu, dan aku dengan ceritaku” kata Sarah.

Rizwan hanya tersenyum. “Hei, kau jangan lupakan aku ya saat kau di ITB nanti.” Kata Rizwan.

“Aku tak bisa tahan bahkan sehari tanpa leluconmu. Aku pikir aku akan menderita tiap harinya disana bila tidak bertemu denganmu.” Tukas Sarah.

“Haha…mungkin kamu disana akan menemukan sosok yang jauh lebih menyenangkan daripada aku, yang bawa mobil, bukan motor sepertiku.” Kata Rizwan.

Kemudian hening panjang, hingga akhirnya Sarah berkata, “Riz…”

“Ya?”

“apa selama ini kamu suka sama aku?”

Rizwan kaget ditanya demikian, dipalingkan sedikit wajahnya dengan mendongak ke langit-langit. “entahlah…” kata Rizwan.

Sarah menunduk dan melipat lututnya. Di dekap lututnya itu dengan kedua lengannya dan ditaruhnya dagunya di atas lututnya.

“sepertinya iya.” Kata Rizwan. Sarah pun tersenyum.

“Lalu…kau sebut apa hubungan kita ini?” Rizwan balik bertanya.

“Emm…sahabat… how?” tanya Sarah sambil melirik Rizwan.

“Emm, sahabat? Emm, not bad…” kata Rizwan sambil tersenyum.

“Ya, thanks for being me in everything, Riz…” kata Sarah dengan suara lembut.

 

Akhir kisah, Sarah diterima di Arsitektur ITB, sedang Rizwan diterimadi teknik Informatika ITS. Mereka saling berkirim pesan setidaknya pada saat weekend. Ketika reuni tiba, mereka sempatkan untuk bertemu dan bertukar cerita. Kadang Sarah mengirimkan oleh-oleh dari Bandung kepada Rizwan melalui paket POS. Mulai dari miniatur angklung, makanan khas pasundan, T-Shirt, bahkan boneka.

Rizwan tidak demikian, dia memilih untuk menyanyikan lagu –lagu romantis yang dia rekam dan dia upload ke youtube dan dia berikan linknya untuk Sarah. Kadang lagu, kadang puisi, kadang hanya bunyi rintik hujan dan ombak. Karena mereka sepakat bahwa bunyi hujan dan ombak adalah bunyi termerdu di dunia yang dicipta Tuhan.

 

22 AGUSTUS 2012

Besok kita akan bertemu. – by Sarah

Sebentar lagi aku sampai di Jogja. –by Rizwan

Hati-hati di jalan – by Sarah

Aku akan telpon ketika sampai di Jogja. –by Rizwan

Besok adalah hari reuni di SMA Sarah. Sarah sudah jauh-jauh hari berada di Jogja bersama keluarganya ketika bulan puasa tiba. Sedang Rizwan menempuh perjalanan yang panjang karena mengendarai motornya dari surabaya menuju Jogja. Dia singgah di beberapa tempat sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Sore ini seharusnya dia sudah datang di Jogja dan sudah masuk kosan. Dia menginap di kosan adik kelasnya di Jogja untuk satu dua hari kedepan.

 

Sementara itu, di rumah Sarah sore itu. Sarah dan keluarganya sedang berkumpul di ruang tengah dengan beberapa saudara jauhnya. Suasana hangat kekeluargaan itu sangat terasa ketika lebaran seperti ini tiba.

Sarah sesekali melihat ponselnya, dia takut melewatkan telpon dari Rizwan.

Ibunya yang penasaran, bertanya, “kamu kok gelisah gitu, Nak? Ada apa?” kata ibundanya.

“Oh, gak papa, Ma…” kata sarah…

 

Drrrt…

Ponsel Sarah bergetar. Namun nomor tersebut bukan nomor Rizwan, nomor itu pun tidak ada dalam contact list. Sarah pun mengangkat telponnya.

“Ya, halo?”

“Mbak, maaf, kenal dengan yang namanya Rizwan Hendriyanto?” kata lelaki dengan suara berat dari telepon.

“Iya, Pak… ada apa, Pak?” tanya Sarah.

“Dia kecelakaan di daerah Kaliurang.”

“INNALILLAHI!” Pekik Sarah sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tangan kananya.

Kerabat-kerabatnya pun seketika diam dan bingung apa yang terjadi.

“Sekarang dia di RS Dr.Sardjito. Maaf Ya, Mbak…saya menghubungi Mbak karena dari ponselnya last call nya nomer nya Mbak.” Kata lelaki dalam telpon itu.

“baik, Pak…terimakasih.” kata Sarah sambil terisak menangis.

Seketika Sarah terduduk di ruangan tersebut, dia memandang ibunya dan ayahnya yang mencoba menenangkannya, “Rizwan kecelakaan, Pa, Ma…”

Ibunya merangkul anaknya itu dan mengelus punggung anaknya itu.

 

Sementara itu, di rumah sakit, Rizwan sudah masuk ruangan ICU. Lukanya cukup parah pada lengan kirinya. Tangan kirinya sudah remuk dan berlumuran darah, sedang bahunya dan punggunya luka-luka.

 

Keesokan harinya, Rizwan membuka matanya. Terasa berat olehnya matanya terbuka. Seorang dokter mendekatinya. “Jangan bergerak dulu.”

“Dok…” kata Rizwan dengan suara serak kecil dan terkesan memaksa.

“Ya?” kata dokter mendekatinya dan duduk di sebelah kasurnya.

“Badanku sakit semua…..dan aku tidak bisa merasakan jari tanganku.” Kata Rizwan.

 

“Riz!” seorang gadis memasuki ruangan tersebut dengan perlahan. Matanya sungguh sembab, bekas air mata mengalir masih tampak jelas di pipi mungilnya. Perlahan dia maju dan mendekati kasur Rizwan.

Di belakang Sarah, ada ayah dan ibu sarah yang menunggu di depan pintu ruangan tersebut. Aroma obat dan aroma sesuatu yang sedikit sangit membuat ruangan itu tidak nyaman untuk disinggahi lama-lama.

“Sarah? Om? Tante?” Rizwan menyipitkan matanya, mencoba menelaah sosok-sosok di depannya.

“Riz…” Sarah hanya bisa berkata satu suku kata tersebut. Didekatinya Haris selangkah demi selangkah hingga berada di samping tempat tidur.

“Sarah…ngapain…disini?” kata Rizwan dengan suara lemahnya.

Sarah hanya diam dan menutup mulut dan hidungnya.

“Seharusnya kamu gak kesini naik motor. Motor itu bahaya!” kata Sarah sambil sesenggukan.

“Sudahlah, gak usah nangis lagi ya…” kata Rizwan sambil membuka selimut yang menutupinya. Diangkatnya tangan kanan Rizwan dan menyibakkan rambut sarah yang ada di sampingnya.

“Aku … khawatir… kamu kenapa-kenapa, dan sekarang kejadian.” Sarah masih sesenggukan.

“Sudahlah, gak usah khawatir.”

“GAK KHAWATIR GIMANA! DON’T YOU KNOW THAT I WAS ALMOST DYING WHEN I GOT A CALL THAT YOU’D GOT AN ACCIDENT!” Sarah berkata keras memecah keheningan ruangan itu. Dokter yang ada di pojok ruangan itu mulai mendekat. Namun ayah sarah memberi isyarat seperti ‘its’ fine’ kepada dokter.

Rizwan hanya tersenyum, “Sebegitu berartikah aku untukmu?”

“Sangat…sangat berarti…”kata Sarah. “Aku gak mau kehilangan kamu. Lihat kamu begini….jika bisa…biar aku yang berbaring disini dengan luka yang kau alami.”

Hening panjang hingga Rizwan membuka mulutnya untuk bicara.
“Aku bukan sosok yang sempurna, Sarah.” Rizwan menutupkan kembali selimut tipisnya ke dadanya.

“aku tidak peduli tidak sesempurna apa dirimu. All the things that we’ve done, itu sudah menjadi kesempurnaan bagiku.” Kata Sarah.

“Meski harus seperti ini?” Rizwan membuka selimutnya dengan keras. Disibakkanya selimut itu hingga terlempar ke lantai.

Rizwan memaksakan diri untuk duduk. Alat infus di tubuhnya terguncang karena gerakannay yang keras dan tiba-tiba. Rizwan kemudian menunduk.

“Meski harus seperti ini, Sar?” kata Rizwan sambil menunduk. Sarah menutupkan kedua tangannya ke hidung dan mulutnya. Terlihat olehnya tangan kiri RIzwan terbebat oleh perban besar hingga ke lengannya. Tak tampak olehnya telapak tangan kiri Rizwan.

“Tangan kiriku diamputasi.” Kata Rizwan sambil tertunduk.

Hening panjang ketika Sarah dan keluarganya melihat kondisi Rizwan.

Ibu sarah menahan tangis dari balik bahu ayah sarah. Ayah Sarah memandang nanar Rizwan dengan pandangan iba.

Sarah masih menutupkan hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya. Masih sesenggukan dan air matanya masih mengalir di jemari-jemarinya dan menetes di sprei kasur.

“Dok…” kata Rizwan melongok ke arah dokter, mengisyaratkan agar Sarah dibawa keluar.

Dokter mendekati Sarah. Di genggamnya lengan sarah dan dituntunnya keluar dari ruangan. Ayah Sarah kemudian bercakap-cakap dengan dokter dengan suara lirih yang hanya mereka berdua yang mendengar.

Kemudian Ayah Sarah masuk ke ruangan, sedangkan dokter, ibu Sarah dan Sarah berada di luar ruangan. Mereka masih menenangkan Sarah.

Ayah Sarah menutup pintu ruangan dan berjalan perlahan ke arah Rizwan.

“Saya gak tahu harus bilang apa, selain semoga cepat sembuh, dan tabah atas segala yang menimpamu kemarin.” Kata Ayah Sarah yang berada di ujung kasur Rizwan.

“Makasih Om.” Kata Rizwan.

“Saya mau bertanya satu hal. Boleh?” tanya Ayah Sarah.

“silakan Om.” Kata Rizwan sambil masih menunduk.

“Surabaya ke Jogja bukan perjalanan dekat. Lagipula kamu kuliah di Surabaya, keluargamu juga di Surabaya. Kamu ngapain kesini? Cuman untuk reuni?” tanya Ayah Sarah.

“Kalau saya bilang, hanya untuk ketemu Sarah. Om percaya?”

Ayah Sarah menghela nafas panjang. Ada hening panjang, sehingga detak jarum jam di ruangan itu terdengar jelas.

“Dengar, Nak… beberapa tahun lalu, Saya masih ingat kamu mengantar Sarah ke rumah pakai motor. Yang sekarang motor itu sudah tak berbentuk.” Ayah sarah berucap pelan-pelan.

“Sekarang, kalau kamu jadi saya…apa kamu izinkan anak kamu satu-satunya keluar dengan orang tersebut? Yang bahkan menjaga dirinya saja tidak bisa?” kata ayah sarah dengan nada pelan dan berusaha sebisa mungkin tidak membentak.

“maaf, Om… saya hanya … sangat menyayangi Sarah.” Kata Rizwan. Matanya sudah berkaca-kaca memandang Ayah Sarah.

“menyayangi? Hfft… kau bahkan tidak menyayangi dirimu sendiri dengan apa yang telah terjadi.” Kata Ayah Sarah.

“Nak, sudahlah. Saya tidak melarang kamu untuk berteman. Tapi tidak hingga sejauh ini.” Kata Ayah Sarah.

Ada hening panjang, hingga ada suara ketukan dari pintu ruangan tersebut. Ayah Sarah melongok ke belakang, kemudian kembali menengok ke arah Rizwan.

“Nak, ongkos rumah sakit sudah saya bayar. Ingat kata-kata saya tadi, dan semoga cepat sembuh. Saya juga sudah menghubungi orang tua kamu. Mereka sedang dalam perjalanan kemari.” Itu kata-kata terakhir ayah Sarah. Dia berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut.

Dari balik pintu, tampak ayah dan ibu Rizwan yang seketika itu juga masuk ke ruangan. Pecah sudah tangis ayah dan ibunya. Dirangkulnya itu anaknya dengan sekuat-kuatnya.

Dari koridor rumah sakit, Sarah, ibu dan ayahnya berjalan pulang. Tangis dari ruangan tadi masih terdengar bergaung di koridor rumah sakit. Sarah masih menangsi dan bersandar di pundak ibunya yang juga menuntun anaknya untuk pulang.

 

Ku ingat, semenjak SMP kau diantar dan dijemput oleh ayahmu atau pamanmu.

Mereka menungguimu bahkan tiga puluh menit sebelum jam pelajaran berakhir.

Ketika istirahat tiba, kau memilih ke perpustakaan.

Sementara aku bermain basket, futsal, dan sesekali bolos kelas untuk main ke studio musik.

Kadang aku bertanya, selain buku-buku dan anak-anak kutubuku siapa lagi temanmu?

Kau begitu ramah kepada semuanya, bahkan kau hampir mengerjakan segala pekerjaan kerja kelompok.

Hingga mulai kapan aku mulai melihatmu menjadi sosok yang menarik.

Itu mengapa aku menjadi sering ke perpustakaan, menanyakan soal matematika, atau bahkan memaksamu untuk sekelompok denganku.

Hingga suatu saat aku mengajakmu ke studio,

Kumainkan untukmu lagu-lagu yang jarang terdengar olehmu.

Sekarang, senar kupetik tak lagi bernada,

Tak ada chord yang bisa kumainkan bahkan untuk lagu sederhana

September 2012

Seorang gadis masih berada di atas rooftop SMA tempat dia biasa berada malam itu. Di depannya seorang anak muda yang masih memandanginya dengan pandangan sendu.

“Jika aku diberi pilihan untuk mengganti apa yang hilang dari tubuhku. Jika bisa…aku tidak meminta ini kembali…aku lebih memintamu untuk menemaniku.” kata anak laki-laki itu kepada gadis itu.

Gadis itu masih menunduk, hingga ia memalingkan wajahnya dan mendongakkan wajahnya ke atas, ke bintang-bintang dan bulan yang masih ada disana malam itu. “aku akan menemanimu.” Kata gadis itu.

“Tidak, kau tidak akan menemaniku.” Kata anak laki-laki itu.

“mengapa tidak?” tanya Sarah.

Rizwan hanya terdiam, dilangkahkan satu kaki olehnya mendekat ke arah Sarah. Kedua tangannya masih dimasukkan ke saku celana.

“Jangan bilang karena tangan …” Sarah berkata sedikit pelan.

“bukan hanya karena ini,” Rizwan memotong. “tapi juga karena orang tuamu. Orang tuamu tak akan membiarkan aku masuk dalam kehidupanmu lagi.” Kata Rizwan sambil tersenyum.

“Kita dulu tak pernah menyerah akan hal ini. Kita selalu menemukan celah dimana kita bisa bersama.” Kata Sarah dengan tersenyum.

“haha…” Rizwan tertawa kecil sebelum dia juga terdiam. “Lalu…mau kau sebut apa hubungan ini?” tanya Rizwan.

“entahlah, terlalu naif jika aku bilang ini adalah sahabat.” Kata Sarah.

“kenapa gitu?” tanya Rizwan.

“Karena sepertinya sahabat tak pernah membuatku semenderita ketika dia tak mengirim pesan walau satu hari.”

“haha…that’s funny.” Kata Rizwan tersenyum.

Mereka terdiam sejenak. Malam ini bulan sabit menyaksikan mereka. Udara sepertinya mulai mendingin di atas rooftop sekolah ini.

“Bagaimana kau sampai disini? Aku tahu orang tuamu tidak mengizinkanmu keluar malam.” Kata Rizwan.

“aku lari dari rumah setelah makan malam tadi.”

“what?”

“Haha…just kidding. Aku izin mau ke Carrefour dan akan kembali paling lambat jam setengah sepuluh.”

“kamu bohong sama orang tuamu? Pernahkah aku mengajarkanmu berbohong?” tanya Rizwan.

“jika aku bilang mau bertemu denganmu? Aku pasti tidak disini, Riz. SUdahlah, jangan membuat moment ini rusak dengan pertengkaran.”

“iya, tapi…ah, sudahlah. MUngkin memang selama ini aku telah mengubahmu menjadi anak yang nakal.” Kata Rizwan sambil menggelengkan kepalanya.

“Hey…jika aku benar-benar kabur dari rumah, untukmu, apakah kau akan menjagaku, Riz?” tanya Sarah.

“Tidak, aku akan mengembalikan dirimu kembali ke rumah orang tuamu.”

“Why?”

“tak sepantasnya kamu keluar dari benteng kerajaan yang mereka buat untuk melindungimu. Apalagi di luar benteng tersebut ada makhluk liar sepertiku.” Kata Rizwan.

“Romeo and Juliet mampu keluar dari benteng mereka masing-masing.”

“As you know, mereka mati konyol.”

“apa salahnya dengan mati karena cinta?”

“Kau tahu, menurutku Romeo dan Juliet adalah cerita terbodoh dalam sejarah”

“how could it be?”

“mereka salah jika mereka akan bertemu di dunia setelah ini dengan cara bunuh diri. Cinta sejati, adalah cinta dimana kau menjalaninya hingga kau keriput tua dan masih cinta hingga satu diantara kalian tutup usia.” Jelas Rizwan.

Sarah terdiam, pandangannya tertunduk.

“ENtahlah, malam ini aku berkhayal kau akan membawaku.”

“sudahlah, aku yang sekarang bahkan tidak bisa bermain gitar untukmu, tidak bisa membalas YM mu dengan cepat, bahkan…”

“cukup! Jika kau tidak bisa bermain gitar karena kau tidak bisa menekan senarnya, biarkan tangan kiriku yang memainkan chordnya, kau petiklah gitarnya. Jika kau tak bisa membalas YM ku karena kesulitanmu untuk mengetik, telpon lah aku. Setidaknya…biarkan aku menjadi pengganti tangan kirimu.” Sarah mulai berbinar, matanya berkaca-kaca hingga satu dua tetes air matanya mengalir melalui pipinya.

“Sarah…dengarkan aku. Kita bukan hidup di buku dongeng yang kita bisa rekayasakan. Romeo Juliet juga mati. Mereka tidak bahagia dalam kubur mereka. Mereka menuhankan cinta diatas cinta Tuhan mereka.”
“Why!?…. Kamu malam ini terasa begitu asing.” Kata Sarah dengan suara lirih

“entahlah…semenjak kejadian itu, aku sadar sudah banyak kebodohan yang kulakukan. Membuatmu menjadi anak nakal juga merupakan salah satunya. Tuhan memperingatkanku dengan sangat keras kali ini.” Kata Rizwan.

Rizwan mendekat ke arah Sarah. Tidak disentuhnya Sarah meski rambut Sarah sudah menutupi wajahnya yang sudah bersimbah air mata.

“pulanglah…seberapa jauh lagi kita melangkah, tidak akan ada hasilnya.”

“Riz…please don’t leave me.” Sarah terduduk lemah.

“Sarah…be strong, big Girl! Kau sudah mau S2 fast-track…cita-cita mu sudah di depan mata. Lanjutkan hidupmu.”

“AKu membutuhkanmu, Riz..”

“kau lebih membutuhkan oksigen daripada aku. Lagipula orang tua mana yang menginginkan putrinya mendapatkan lelaki cacat?” kata RIzwan. “Pulanglah, Sar…ini hampir jam 9 malam. Butuh waktu 15 menit untuk kembali ke rumahmu. AKu pergi dulu. Semakin lama disini, semakin kau akan telat ke rumah.”

Rizwan berbalik arah meninggalkan Sarah yang terduduk dan sesenggukan. Malam itu semakin dingin dan begitu tenang. Percikan air dari atas langit pertanda hujan akan turun sebentar lagi.

 

Aku…dan bentengku

Dan aku tidak lagi menganggap dunia ini adil

PUkul 21.20 malam itu, Sarah turun dari taksi. Hujan sudah turun dengan cukup deras. Sarah menangis dan berjalan pelan dari taksi dengan pakaian yang kini basah kuyup. Pandangannya kosong. Dia melangkah dengan perlahan. Angin malam itu menambah dingin. Satu-satunya yang hangat adalah air mata Sarah. Kini rambut panjangnya sudah basah dengan air hujan.

Diketuknya pintu rumahnya dengan satu dua ketukan kecil. Seketika ibunya membuka pintu. Orang tuanya sudah menunggunya di ruang depan. Sarah mendongak ke arah ayah dan ibunya. Terlihat oleh ayah dan ibunya mata Sarah yang sembab dan bekas air mata yang masih belum kering di pipinya. Sarah merangkul kedua orang tuanya.

“Welcome Home, Honey….” Kata bundanya….