Rss

Archives for : coretanku

Menumbuhkan Cinta Suami Istri

Bagi pengantin baru, kadang ada rasa canggung dan ragu, apakah suami telah mencintainya. Dan jika ia pengantin pria, apakah istri telah mencintainya. Ini pula yang dialami oleh seorang laki-laki dari Bani Balja’ah. Ia baru saja menikah, tetapi ia khawatir istrinya tidak mencintainya. Lalu ia pun menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi yang tidak diragukan keilmuannya.

“Aku baru saja menikah dengan seorang gadis,” kata lelaki itu kepada Abdullah bin Mas’ud, “tetapi aku takut ia tidak mencintaiku”

Abdullah bin Mas’ud lantas memberinya solusi, “Rasa cinta itu berasal dari Allah dan rasa benci itu datangnya dari setan untuk menimbulkan kebencian terhadap apa yang telah dihalalkan Allah. Karena itu, jika engkau menemuinya, ajaklah ia shalat dua raka’at di belakangmu, lalu bacalah doa:

اللهم بارك لي في أهلي وبارك لهم في اللهم ارزقني منهم وارزقهم مني اللهم اجمع بيننا ما جمعت إلى خير وفرق بيننا إذا فرقت إلى خير

Ya Allah berkahilah aku pada keluargaku dan berkahilah mereka pada diriku. Ya Allah, karuniailah aku rezeki karena keluargaku dan karuniailah mereka rezeki karena diriku. Ya Allah, satukanlah kami selama itu demi kebaikan dan pisahkanlah kami selama itu demi kebaikan”

Dalam kesempatan yang berbeda, Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu juga menasehatkan hal senada. “Ajaklah istrimu shalat dua rakaat di belakangmu, kemudian peganglah ubun-ubunnya dan mohonlah kepada Allah kebaikannya dan berlindunglah kepada Allah dari keburukannya”

Doa yang dimaksudkan Abu Dzar adalah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa (HR. Abu Daud)

Demikianlah resep menumbuhkan cinta suami istri dari sahabat Nabi. Generasi terbaik itu sadar betul bahwa cinta adalah anugerah Allah. Cinta berasal dari Allah dan Allah-lah yang kuasa membuat hati seseorang mencintai istri atau suaminya. Maka jika suami istri ingin saling mencintai, mintalah kepada Allah. Rumus ini tidak hanya berlaku bagi pengantin baru, tetapi juga berlaku untuk pasangan suami istri yang telah menikah sekian tahun lamanya. Jika istri merasa suaminya kurang mencintainya, jika suami merasa istrinya kurang mencintai dirinya, maka berdoalah kepada Allah. Mintalah kepadaNya.

Di samping itu, tumbuhkanlah suasana spiritual di dalam rumah tangga. Beribadah bersama. Insya Allah doa lebih terijabah karenanya dan cinta pun bersemi dengan indahnya

 

sumber: keluargacinta

Komplikasi Pernikahan

Hijapedia-Its-Your-Community-63

Barangkali ini adalah tulisan untuk meluruskan adanya pendapat parsial tentang pernikahan. Ada banyak saudara-saudara kita yang melihat pernikahan dengan sebelah mata atau bahkan sambil memejamkannya, tanpa mau menyaksamai dengan menyeluruh.

Alhasil, parsialnya sudut pandang yang digunakan ini berakibat fatal. Dalam tahap kritis, sebab keparsialannya itu, cerai adalah akibat terburuk saat pernikahan baru berumur jagung. Mengenaskan, bukan?

Cara kerja pandangan ini ada pada perbedaan drastis antara ekspektasi dengan fakta. Ketika keduanya berbeda amat jauh, kemudian pelakunya tak bisa menyikapinya dengan bijak, biduk pernikahan itu pun bisa langsung hancur meski angin dan ombak yang menghampiri amat jauh dari kriteria tuk layak disebut badai.

Umumnya, keparsialan pandangan yang berujung pada salah paham ini terdapat pada tiga tempat. Sebelum, ketika dan setelah menikah. “Sebelum” bisa bermakna jauh-jauh hari atau mendekati, “ketika” adalah msa dimulainya akad nikah dan beberapa waktu setelahnya, sedangkan “setelah” merupakan masa ketika biduk rumah tangga telah berjalan melalui berbagai pelabuhan kehidupan.

SEBELUM PERNIKAHAN
Menikah itu indah. Ia adalah paduan antara taman, bunga, buah, pelangi, bahagia, sumringah, gembira dan sejenisnya. Menikah adalah tentang bulan madu, makan berdua, saling suap, selimut dalam sunyi, tidur tak lagi sendiri, perhatian tanpa batas dan madu-madu lainnya.

Pandangan-pandangan sejenis ini, sama sekali tak salah sepenuhnya. Hanya saja, mereka tak sisakan ruang kecewa di dalamnya. Alhasil, semua pendapat, imajinasi dan pandangan tentang menikah hanya tentang satu kata: bahagia. Padahal faktanya tak selalu seperti itu.

Pernikahan amat picik jika hanya dimaknai dengan satu kata bernama bahagia.

KETIKA PERNIKAHAN
Hari ini, kedua insan serasa menjadi Raja dan Ratunya. Diperhatikan seluruh yang hadir, menjadi bahan perbincangan, senyum menghias bibir, tergambar dalam rona wajah dan gerak tubuh. Ditambah dengan hiasan yang enak dilihat, aroma yang nyaman di-indra dan suara pengiring yang membuat semua hadirin betah tuk tak beranjak. Sempurna.

Suasana bahagia sehari-semalaman itu pun bertahan hingg beberapa pekan. Apalagi dalam romantisme pengantin baru yang biasanya bertahan dalam hitungan bulan, meski ada yang tetap bisa menjaganya hingga usia pernikahannya berbilang puluhan tahun.

SETELAH PERNIKAHAN
Barangkali, bulan madu harus segera berlalu. Ketika kedua pasangan langsung dikaruniai anak, maka tak ada lagi waktu bermalas-malasan, apalagi sekadar tidur-tiduran. Ada anak yang harus dipenuhi kebutuhannya selain istri yang harus diberikan haknya. Seiring berjalannya masa, harus pula dipikirkan tentang rumah bagi kediaman dan kebutuhan pokok lainnya yang tak bisa ditawar.

Belum lagi percikan masalah lain yang mustahil untuk dibincang satu persatu. Tentang pasangan hidup yang ternyata egois dan pemarah, misalnya. Pasangan yang tak sebaik perkiraan sebelumnya, mertua dan keluarga pasangan yang awalnya memang asing dan butuh banyak penyesuaian, serta tetangga-tetangga baru dan banyak lagi persoalan lainnya.

Ketika pun, misalnya, dalam waktu yang lama kedua pasangan tetap belum dikaruniai buah hati, tentulah hal itu menjadi masalah lain. Komentar keluarga pasangan dan tetangga terkait kemandulan diri atau pasangan kita, tidak harmonis, dan lain sebagainya.

Tentu, persoalan tak berhenti sebab banyak hal yang memang harus diselesaikan. Apalagi keberadaan keturunan dalam rumah tangga adalah harapan kebaikan yang dengannya bisa memperbanyak keturunan seeorang.

Begitupun dengan persoalan-persoalan lainnya yang akan senantiasa ada dalam perjalanan pernikahan sepasang manusia. Barangkali, masalah-masalah itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa menikah dijanjikan pahala yang banyak. Sebab ujiannya juga tak ringan.

Maka yang terpenting, lihatlah pernikahan secara menyeluruh dan miliki ilmu sebelum bergegas menggenapkan ibadah muia itu. Bukan soal ujiannya, karena itu kepastian. Bahkan tak menikah pun, ada ujiannya sendiri. Ini lebih pada bagaimana menyikapi ujian pernikahan yang memang akan selalu ada dan bertambah.

Jadi, pernikahan bukan hanya tentang bahagia. Tapi juga tentang sedih yang menyayat hati dan dibutuhkan ilmu tuk menyikapinya.

 

sumber: keluargacinta

Media Sosial Merusak Rumah Tangga

path-app-smartphone

Media sosial -baik itu Facebook, Twitter, Path maupun lainnya- memiliki banyak manfaat sekaligus dapat membawa dampak negatif. Jika tidak disikapi dengan baik, penggunaan media sosial ternyata dapat merusak rumah tangga. Di Amerika Serikat, sebuah survei yang diadakan oleh American Academy of Matrimonial Lawyers bahwa perceraian akibat media sosial meningkat sebanyak 80 persen. Di Indonesia, angka perceraian dengan alasan terkait media sosial juga meningkat dari tahun ke tahun. Di Probolinggo, misalnya. Mulai tahun 2013 muncul kasus cerai karena Facebook. Facebook menjadi pemicu ketidakharmonisan keluarga.

Bagaimana media sosial dapat merusak rumah tangga? Berikut ini 10 cara diantaranya:

LEBIH LAMA BER-MEDIA SOSIAL DARIPADA BERSAMA KELUARGA

Dikutip dari Vemale, di Amerika Serikat ada perceraian karena sang istri suka berlama-lama meng-update media sosial hingga melalaikan anak dan suaminya.

Apakah hal ini juga bisa terjadi di negeri Muslim seperti Indonesia? Sangat mungkin. Sebab ternyata memang ada suami atau istri yang asyik menghabiskan banyak waktu di media sosial, namun terasa terbebani ketika membersamai anak-anak dan pasangan hidupnya. Tentu hal seperti ini dapat merusak rumah tangganya sendiri. Anak-anak menjadi jauh darinya, pasangan hidupnya juga merasa tak lagi dicintai. Padahal, keluarga adalah orang-orang terdekat yang selalu hadir di kala ia membutuhkan. Lihatlah ketika suatu hari ia jatuh sakit. Apakah teman-teman online-nya itu akan hadir membantu dan merawatnya? Tidak. Pada akhirnya yang bersedia 24 jam merawatnya hanyalah pasangan hidup dan anak-anaknya.

MENJADI SARANA SELINGKUH

Ketika media sosial dijadikan sarana selingkuh, maka tunggulah saat-saat kehancuran keluarga. Seorang suami yang berkonsultasi tentang masalahnya di Alkhoirot merasa menyesal telah mengajari istrinya menggunakan Facebook. Sebab dari media sosial itu, istri tersebut tersambung komunikasi dengan mantan pacarnya sewaktu SMA dulu. Dari sana keduanya saling kirim pesan, dan cinta lama bersemi kembali.

Sang suami yang membuka pesan-pesan cinta itu marah. Ia meminta istrinya untuk menghentikan. Tapi sang istri justru berani pergi bersama mantan pacarnya itu. Rumah tangga mereka pun mulai berantakan.

MEMBANGUN KEMESRAAN DI MEDIA SOSIAL

Rumah tangga juga bisa berantakan gara-gara media sosial ketika seorang suami atau istri menggunakan media sosial untuk bermesraan atau mendekati orang lain. Bahkan, meskipun niatnya sekedar berteman.

Seorang istri berinisial S menceritakan bahwa dirinya sebenarnya tidak suka mengomentari status Facebook orang lain. Ia hanya menggunakan Facebook dengan maksud menjalin silaturahim. Namun, suaminya tidak suka dengan hal itu. Suaminya tidak suka dirinya berkomunikasi melalui media sosial terbesar itu, terutama kepada lawan jenisnya. S merasa dirinya tidak bersalah. Keduanya pun bertengkar dan sang suami mengucapkan kata-kata berkonotasi cerai. Khawatir bahwa kalimat itu benar-benar berhukum cerai, S pun mengkonsultasikan hal ini ke konsultasisyariah.com

MENGUMBAR MASALAH RUMAH TANGGA

Rumah tangga juga bisa berantakan ketika suami atau istri mengumbar masalah rumah tangga di media sosial. Agaknya hal ini mudah kita temukan contohnya, baik di Facebook maupun di Twitter. Misalnya seseorang yang membagikan link sebuah berita sambil memberikan catatan, “Enak ya kalau punya suami kayak gini. Suamiku bla bla bla”

Kadang hal seperti itu dipandang sepele. Padahal, tidak ada orang yang suka aibnya dibuka di depan publik. Apalagi oleh istri atau suaminya sendiri. Suami atau istri yang marah karena merasa dilecehkan –dan siapapun bisa membaca media sosial- umumnya akan meluapkan kemarahan itu dengan memarahinya. Terjadilah pertengkaran. Yang lebih parah, jika kemudian berakhir dengan perceraian seperti yang dialami oleh pasutri di Probolinggo pada tahun 2013.

ASYIK DENGAN MEDIA SOSIAL DARIPADA KOMUNIKASI DENGAN SUAMI/ISTRI

Dengan maraknya Smartphone, media sosial juga semakin mudah diakses. Parahnya, sebagian orang ‘kecanduan’ media sosial sehingga mengabaikan komunikasi dengan pasangan hidupnya.

Kadang kala terjadi, seorang suami bertemu dengan istrinya. Dalam satu rumah, satu ruangan, berhadap-hadapan. Tetapi sang suami tidak mempedulikan istrinya yang sedang berbicara karena ia asyik dengan gadgetnya. Ini bisa membuat istri tersinggung dan merasa tidak dihargai. Merasa tidak lagi dicintai. Ini berbahaya. Kalaupun ia tidak melawan, sesungguhnya hatinya terlukai dan cintanya tergerus karena sikap ini. Meskipun tidak sampai cerai, jika dibiasakan, hal ini dapat merenggangkan hubungan keduanya dan mengganggu keharmonisan keluarga.

sumber: keluargacinta

Tentang Bersyukur - Ibu dan Karpet Kotor

ibu-dan-anak-balita-pegang-quran

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki.
Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik.
Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian,
Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu :

“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya.

“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?” Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah,
mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”. Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung
menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas
membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”. Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman
dengan visualisasi tsb.

“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya “Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif
dapat dilihat secara positif”.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami
Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang
dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku, bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami
dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena ituartinya saya cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari,karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah,karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya,karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
10. Untuk dst…

 

sumber: FamilyGuideIndonesia

Meminta Cinta

falling_in_love-t2

Sejak kecil, kita menjadi sudah anak yang manja. Meminta semaunya. Meminta seenaknya. Pokoknya harus ada. Jika tidak, kita akan menangis sejadi-jadinya hingga apa yang kita minta benar-benar ada. Hinga kita menjadi dewasa muda yang tak ubahnya seperti anak-anak. Menginginkan sesuatu atas apa yang kita kehendaki. Terlebih tentang cinta.

Kita meminta cinta dengan sesempurna-sempurnanya cerita, seindah-indahnya sajak, dan sehalus-halusnya belaian. Kita seolah paling benar dengan menyatakan bahwa kita lebih bisa menikmati cinta daripada orang-orang tua itu. Cinta itu abadi. Cinta itu nyata. Cinta itu indah. Orang –orang tua itu hanya tidak bisa merasakan dan menikmatinya.

Lihat betapa sombongnya kita ini. Merasa sok tahu tentang cinta. Mungkin mereka yang terlalu takut, atau mungkin kita yang terlalu ceroboh. Tapi lagi-lagi, bagaimana mungkin aku ceroboh soal hati. Mereka sepertinya tidak tahu bagaimana sesaknya tidur sambil merindu. Bagaimana rasanya dibayangi di tiap mimpi-mimpi. Mungkin benar mereka tidak tahu. Atau mungkin mereka sudah lupa rasanya.

Namun akuilah bahwa mereka juga pernah melaluinya. Mereka sudah membuat bahtera dan sudah dihantamkan bahtera itu pada gelombang ujian takdir. Padahal pendahulu kita sudah memberikan peringatan untuk berhati-hati dalam membuka hati dan mempersilakan orang lain masuk. Bagi mereka, bukan untaian kata yang mampu mengeratkan bahtera, tapi kepercayaan. Bagi mereka kebersamaan setelah mereka berpisah di pusara masing-masing, itulah kebersamaan yang hakiki. Melangkah bersama-sama untuk masuk ke Jannah-Nya.

Indah bukan?

 

2 Oktober 14
-saungkertas-

Bila Hati Rindu Menikah

Pemuda itu menangis tersedu-sedu di samping mihrab mesjid. Mushaf ia dekap erat-kuat di dadanya. Sesekali ia mengusap air mata yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah. Begitu tak berdaya menghadapi seorang wanita. Ia telah tergila-gila pada wanita itu. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita malam. Suara wanita itu laksana nyanyian bidadari yang merasuk ke pori-pori jiwanya. Ia menangisi dirinya yang tak lagi bisa merasakan nikmatnya berzikir. Menangisi hatinya yang tak lagi bisa khusyuk dalam shalat. Menangisi pikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu. Oh, sungguh hebat deritanya.

Dulu ia begitu kokoh dan teguh. Orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita, popularitas keshalehannnya semakin dikenal dan menjadi buah bibir. Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya dan rapuh. Wanita itu betul-betul telah membuatnya terpikat. Seorang wanita yang dalam pandangannya begitu anggun dan sempurna. Cantik, manis, cerdas, hafal al-Qur`an, sopan dan lembut dan lain-lainya. Seorang wanita yang menurutnya layak dijadikan pasangan hidup menuju sorga. Seorang wanita yang semua kriteria calon istri dambaan ia temukan pada dirinya.

Hampir tiap malam ia menangis. Jika dulu, ia menangis di kegelapan malam karena dimabuk rindu pada Sang Pencipta, kini ia menangis karena dimabuk rindu pada makhluk-Nya. Apakah Allah tengah menguji dirinya. Apakah Allah tengah menguji kejujuran cintanya. Ataukah memang sudah waktunya ia menikah. Ia teringat dengan pesan-pesan Ustadznya sebelum berangkat ke Mesir dulu, pesan-pesan yang masih terekam kuat dalam memorinya.

“Anak muda, ketahuilah dalam perjalanmu menuntut ilmu nanti, kamu akan diuji dengan banyak hal, dengan kesusahan hidup, kesulitan biaya, lingkungan, kawan-kawan, dan lainnya. Teguhkan selalu niat di hatimu dan mintalah pertolongan pada Allah setiap waktu. Dan ingatlah, ujian terberat yang akan kamu hadapi nanti adalah wanita, maka berhati-hatilah menghadapi wanita. Jangan pernah mengikuti ajakan nafsu yang menyesatkan.”

“Anak muda, berpacaran yang saat ini banyak digandrungi anak-anak muda adalah sikap laki-laki bermental kerupuk dan pecundang dan tipe wanita yang tak punya harga diri, menjalin hubungan secara syar`i dan menikahi dengan cara-cara yang baik, itulah akhlak seorang laki-laki yang didamba dan sikap seorang wanita calon penghuni surga. Bila godaan itu terasa berat bagimu, berpuasa tak sanggup mengobatimu, maka menikahlah, insya Allah itu lebih berkah dan mengantarkan pada kebaikan.”

“Anak muda, jika kamu mengira berpacaran itu adalah jalan menuju pernikahan, maka engkau telah tertipu oleh nafsumu. Engkau telah termakan bujuk rayu setan durjana. Apakah engkau mau memetik buah dari pohon sebelum waktunya? Apakah engkau mau membeli barang yang telah usang dan pernah dipakai orang?”

“Anak muda, janganlah engkau mengira, pacaran yang Ustadz maksud bertemu dan jalan berdua-duan semata, tapi jagalah matamu, pendengaranmu, hatimu dan pikiranmu. Janganlah menjadi pemuda yang lemah. Ingatlah, engkau adalah pemimpin, jangan biarkan hawa nafsu yang memimpinmu.”

“Jika suatu saat nanti, dorongan untuk menikah begitu kuat dan menyesak di dadamu, engkau merasa telah siap, namun orang tua belum merestui dan ada jalan lain yang menghambat. Ustadz sarankan, bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah. Sembari terus mencoba dan berdoa tiada henti pada Allah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan ketahuilah, orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang berlipat, dan orang-orang sabar akan memetik mutiara iman yang begitu banyak dalam kesabarannya itu. Dan yakinlah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada banyak kemudahan.”

“Anak muda, janganlah engkau tergoda oleh nafsumu, janganlah engkau tertipu dengan bisikan musuhmu, setan durjana. Mungkin Allah tengah mengujimu, dan menyiapkan untukmu hadiah yang indah. Maka selalulah berbaik sangka pada Allah.” Nasehat-nasehat berharga itu begitu mampu menjadi penawar bagi hatinya yang gelisah. Tapi, itu hanya bertahan sebentar, ledakan perasaannya pada wanita itu ternyata lebih dahsyat dan meluap-luap. Pesan-pesan itu hanya bertahan sesaat, lalu ketika desakan perasaan itu kembali merasuki jiwa, ia menjadi begitu rapuh dan lemah.

Sampai pada akhirnya ia menelpon Ustadznya di Indonesia. Ia menceritakan kegelisahan hatinya, keresahan jiwa, dan gejolak rasa yang selalu menyesak di dadanya. Ustadznya berpesan kembali, “Anak muda, Ustadz bisa memahami keadaanmu, barangkali sudah waktunya bagimu untuk menggenapkan setengah agamamu. Ustadz sarankan lakukanlah shalat istikharah, jika engkau menemukan ada tanda-tanda ke arah sana, maka lakukanlah shalat hajat sebanyak-banyaknya, insya Allah, mudah-mudahan dengan cara demikian Allah membuka jalan untukmu. Mintalah pada Allah dengan air mata penuh harap, menangislah sejadi-jadinya di hadapan Allah. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”

Satu tahun kemudian, sesudah kesabaran yang panjang, setelah menyelesaikan hafalan al-Qur`annya, ia pun menggenapkan setengah agamanya di penghujung bulan Juli 2010. Ia sangat bahagia. Kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ia telah menikah dengan wanita dambaannya, seorang wanita surga yang Allah hadirkan ke bumi untuknya. Allah telah memilihkan untuknya seorang pendamping hidup yang mecintai Allah dan dirinya dengan sepenuh jiwa dan raga. Tak sia-sia selama ini ia menjaga dirinya dari tergelincir pada perbuatan yang haram. Ia sampaikan kerinduannya terhadap wanita itu pada Allah setiap malam, ia titipkan penjagaan untuk wanita itu pada Allah setiap saat. Ia hantarkan doa-doa penuh ketulusan untuk kebaikan dan keselamatan wanita itu selama ini. Dan kini, Allah mengizinkannya untuk memetik buah kesabarannya selama ini. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang berserah diri pada-Nya.

sumber: mencintaisederhana.com

Keutamaan Sedekah

Sedekah memiliki keutamaan banyak sekali. Beberapa ayat al-Quran, Hadis dan pendapat ulama akan kutipan berikut ini:

  1. Amal Menuju bahagia di akhirat
    Allah Swt, berfirman:
    “Apa yang di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.an-Nahl:96)
  2. Penghapus dosa
    Allah Swt. Berfirman:
    “Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS.al-Ankabut:7) 

    Rasulullah bersaabda:
    “Bersedekahlah kalian meskipun hanya sebiji kurma, sebab sedekah mampu memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan dan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Ahmad)

  3. Disediakan surga
    Rasulullah bersabda:
    “Barang siapa yang membangun masjid dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan membangun baginya sebuah rumah di surga.” (HR Ibnu Majah)
    Alah Swt. Berfirman:
    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran:133-134)
  4. Penolak bala’
    Rasulullah bersabda:
    “Bersegeralah untuk bersedekah sebab yang namanya bala’ tidak akan pernah mendahului sedekah.”
    Dalam hadis lain Rasulullah bersabda:
    Mulai pagi harimu dengan sedekah, barang siapa yang memulai pagi harinya dengan sedekah, ia tidak akan terkena sasaran bala’.”
    Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan bahwa sedekah itu mampu menolak berbagai bencana meskipun pelakunya orang kafir. Ibrahim al-Nakha’I juga berkata, “Sedekah mampu menangkal berbagai macam bencana walaupun pelakunya orang yang zalim.”
  5. Menghindarkan kematian buruk
    Rasulullah saw bersabda, “Sedekah dapat menolak kematian yang buruk.”
    Imam Ja’far Shadiq berkata, pada suatu hari orang yahudi lewat dekat Rasulullah SAW., lalu ia mengucapkan, “Assamu’alaika (kematian atasmu).” Rasulullah Saw menjawab, “Alaika (atasmu).” Lalu para sahabat berkata, “ia mengucapkan salam atasmu dengan ucapan kematian.” Nabi saw bersabda, “Demikian juga jawabanku.”Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yahudi ini tengkuknya akan digigit oleh binatang yang hitam (ular dan kalajengking) dan mematikannya. Kemudian orang yahudi itu pergi mencari kayu bakar, lalu ia membawa kayu bakar yang banyak.”

    Rasulullah Saw belum meninggalkan tempat itu. Lalu orang yahudi itu lewat lagi (belum mati). Maka, Rasulullah Saw bersabda kepadanya, “letakkan kayu bakarmu.”

    Ternyata, di dalam kayu bakar itu ada binatang hitam seperti yang dinyatakan oleh beliau. Rasulullah saw lalu bersabda, “Wahai yahudi, amal apa yang kamu lakukan?”

    Ia menjawab, “Aku tidak punya pekerjaan kecuali mencari kayu bakar seperti yang aku bawa ini dan aku membawa dua potong roti, lalu aku makan yang satu potong dan satu potong yang lain aku sedekahkan kepada orang miskin.”

    Maka, Rasulullah Saw bersabda, “sedekah dapat menyelamatkan manusia dari kematian yang buruk.”

  6. Bertambahnya rezeki
    Rasulullah Saw bersabda:
    “Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian.”
  7. Bertambah rasa keimanan
    Imam Ja’far Shadiq berkata:
    “Tidaklah sempurna keimanan seorang hamba sehingga ia melakukan empat hal: Berakhlak baik, bersikap dermawan, menahan karunia dari ucapan, dan mengeluarkan karunia dari hartanya.”
  8. Penjagaan Allah sepanjang hari
    Imam Ja’far Shadiq berkata:
    “Awali pagi harimu dengan sedekah dan gemarlah bersedekah. Tidak ada seorang mukmin pun yang bersedekah karena mengharapkan apa yang ada di sisi Allah untuk menolak keburukan yang akan turun dari langit ke bumi pada hari itu, kecuali Allah menjaganya dari keburukan apa yang akan turun dari langit ke bumi pada hari itu.”
  9. Mengubah takdir
    Rasulullah Saw berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib:
    “wahai Ali, sedekah itu dapat menolak takdir mubram (yang telah ditetapkan). Wahai Ali, silaturrahmi dapat menambah umur. Wahai Ali, tidak ada kebaikan dalam ucapan kecuali disertai perbuatan, dan tidak ada sedekah kecuali dengan niat (karena Allah).”
  10. Mensucikan jiwa
    Allah berfirman:
    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Taubah:103)QS. Al baqarah 261:
    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Masihkah kita ragu???
Masihkah kita pelit???

QS. Al baqarah 268:
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

sumber: yusufmansur.net

[video] - Pesan Kepada Manusia

Ada video menarik dari acara yang saya tanggapi dengan skeptis selama ini. Acara yang menebar ketakutan bukan pada Allah. Acara yang bermain-main dengan alam ghaib dan menjadikannya hiburan.

Tapi khusus untuk edisi ini, ada pelajaran yang bisa diambil bagi kita yang memeluk agama islam. Seperti tertampar rasanya bagi kita yang masuk islam dari keturunan.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

kapan kowe kepethuk karo kanjeng Nabi?
kapan kamu bertemu dengan Baginda Nabi?

wong kowe rung tau pethuk kok dadakno kowe bersaksi.
Padahal belum pernah ketemu kok langsung kamu bersaksi.

saksi kuwi kudu iso nyekseni.
saksi itu harus bisa menyaksikan

coba piye yen bahasa indonesia?
coba gimana kalau bahasa indonesianya?

“aku bersaksi.”

“lha kapan kowe ketemu?”
“lha kapan kamu bertemu?”

Berikut video lengkapnya:

Menentramkan Hati

Pernah pasti kita dalam kehidupan keseharian dan rutinitas sehari-hari mengalami hal-hal yang menghimpit. Pekerjaan tiada habisnya. Yang sudah dikerjakan tidak selesai dengan baik. Masalah bermunculan. Pikiran berkecamuk tidak karuan. Hubungan dengan orang lain menjadi tidak baik. Waktu terasa sempit. Kebutuhan yang makin banyak. Rizki yang tidak mencukupi. Dan keinginan-keinginan yang belum juga terwujud.

Kedamaian hidup menjadi hilang. Rasa untuk beribadah menjadi berkurang. Pun terkadang malah keresahan itu dialihkan dengan rekreasi pikiran yang ternyata tidak juga menenangkan hati. Kesenangan yang didapatkan tidak menjadi suatu kelegaan di hati dan tidak menjadi penenang di kehidupan, dan juga tidak memudahkan masalah yang terjadi di keseharian.

Hal tersebut terjadi karena kita kurang berdzikir kepada Allah. Dzikir tidak hanya sekedar dengan lisan, namun juga dengan pikiran-mengingatNya di segala situasi.

Siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga ia tidak mengingat Allah (tidak berdzikir) maka Allah SWT akan menanamkan 4 penyakit:
1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya
2. Kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya
3. Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi
4. Khayalan yang tidak berujung”
(HR Muslim)

 

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram
(QS. Ar-Ra’du:28)

 

Aku menurut dugaan Hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersama hamba apabila ia mengingat Aku. Jika ia mengingat Aku pada dirinya, Niscaya Aku mengingatnya pula pada Diri-Ku.

Satu Bulan Sebelum Ini

Pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Semuanya menjadi berubah, menjadi hal yang biasa kembali. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Satu bulan sebelum ini aku masih melihat shaf-shaf panjang berjejer di masjid-masjid. Kumandang adzan disambut meriah oleh bapak-bapak hingga anak-anak kecil. Meskipun mereka masih main petasan saat adzan dilantunkan. Kami berbondong-bondong ke masjid saat waktu imsak sudah dilantangkan. Suasana begitu semarak pagi itu. Aku pun tidak ingin melewatkannya barang sesaat.

Satu bulan sebelum ini aku masih melihat kawan-kawan melafalkan ayat-ayat qur’an sebelum dan setelah sholat. Beberapa dari mereka juga menghapal ayat-ayat cinta dari Tuhan mereka itu. Tidak hanya yang lancar, bahkan yang terbata-bata pun berlomba-lomba untuk menyelesaikan dan meluruskan bacaannya. Mereka teringat akan ganjaran pahala bagi hamba-hamba Tuhan yang belajar.

Satu bulan sebelum ini aku sangat sulit meninggalkan masjid sebelum terbenam matahari. Itu saat-saat mustajab berdoa, apalagi bulan itu pahala serba dilipatgandakan. Terlebih lagi setelah matahari terbenam, seolah-olah sangat sayang jika melangkahkan kaki keluar dari masjid.

Satu bulan sebelum ini aku tidur bersama orang-orang yang tidur di masjid. Mengerjakan sholat di malam hari sambil bersama-sama terisak dalam suasana sadar bahwa manusia tidak luput dari dosa. Kami bersama-sama berdiri dan membaca kalam ilahi di malam hari. Meski terasa lelah, tapi hati ini rasanya sangat lapang. Aku ingin mengkristalkan waktu-waktu indah itu.

Namun sekarang, keadaannya berbeda.

Bulan ini aku tidak lagi melihat shaf-shaf berjejer panjang. Hanya orang-orang tua saja yang hadir sambil berjalan pelan menuju masjid. Anak-anak kecil yang dulu ramai sekarang sudah tidak ada. Bunyi petasan pun tidak terdengar lagi.

Bulan ini aku sudah jarang melihat orang-orang yang memegang surat cinta Tuhannya di sela-sela waktunya. Hanya satu dua orang saja yang duduk dan membaca.

Bulan ini aku tidak lagi berdiam di masjid sebelum adzan maghrib berkumandang dan setelahnya. Masjid sudah dikunci setelah isya dilaksanakan. Sehingga acara tidur di masjid pun ditiadakan. Masjid kembali jadi tempat dimana kita sholat lima waktu saja. Itupun jamaahnya tidak seberapa.

Bulan ini sepertinya begitu mudah untuk berbuat melampaui batas. Ibarat binatang buas yang dibelenggu, bulan ini binatang itu dilepaskan. Sayangnya, tidak menjadi jinak—malah menjadi semakin buas. Hal-hal yang dilarang menjadi lumrah kembali untuk dilakukan. Hati yang lapang ini tiba-tiba menjadi sempit dan menghimpit. Pikiran kembali menjadi tak karuan dan kepercayaan diri menjadi anggapan untuk melompati kehendak Ilahi. Diri yang fitri kembali dicelupkan dalam kubangan dosa-dosa yang dilakukan dengan begitu bangga.

Aku rindu satu bulan sebelum ini, aku rindu ramadhanku.

 

-saungkertas-