Rss

Archives for : Poems

Meminta Cinta

falling_in_love-t2

Sejak kecil, kita menjadi sudah anak yang manja. Meminta semaunya. Meminta seenaknya. Pokoknya harus ada. Jika tidak, kita akan menangis sejadi-jadinya hingga apa yang kita minta benar-benar ada. Hinga kita menjadi dewasa muda yang tak ubahnya seperti anak-anak. Menginginkan sesuatu atas apa yang kita kehendaki. Terlebih tentang cinta.

Kita meminta cinta dengan sesempurna-sempurnanya cerita, seindah-indahnya sajak, dan sehalus-halusnya belaian. Kita seolah paling benar dengan menyatakan bahwa kita lebih bisa menikmati cinta daripada orang-orang tua itu. Cinta itu abadi. Cinta itu nyata. Cinta itu indah. Orang –orang tua itu hanya tidak bisa merasakan dan menikmatinya.

Lihat betapa sombongnya kita ini. Merasa sok tahu tentang cinta. Mungkin mereka yang terlalu takut, atau mungkin kita yang terlalu ceroboh. Tapi lagi-lagi, bagaimana mungkin aku ceroboh soal hati. Mereka sepertinya tidak tahu bagaimana sesaknya tidur sambil merindu. Bagaimana rasanya dibayangi di tiap mimpi-mimpi. Mungkin benar mereka tidak tahu. Atau mungkin mereka sudah lupa rasanya.

Namun akuilah bahwa mereka juga pernah melaluinya. Mereka sudah membuat bahtera dan sudah dihantamkan bahtera itu pada gelombang ujian takdir. Padahal pendahulu kita sudah memberikan peringatan untuk berhati-hati dalam membuka hati dan mempersilakan orang lain masuk. Bagi mereka, bukan untaian kata yang mampu mengeratkan bahtera, tapi kepercayaan. Bagi mereka kebersamaan setelah mereka berpisah di pusara masing-masing, itulah kebersamaan yang hakiki. Melangkah bersama-sama untuk masuk ke Jannah-Nya.

Indah bukan?

 

2 Oktober 14
-saungkertas-

Satu Bulan Sebelum Ini

Pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Semuanya menjadi berubah, menjadi hal yang biasa kembali. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Satu bulan sebelum ini aku masih melihat shaf-shaf panjang berjejer di masjid-masjid. Kumandang adzan disambut meriah oleh bapak-bapak hingga anak-anak kecil. Meskipun mereka masih main petasan saat adzan dilantunkan. Kami berbondong-bondong ke masjid saat waktu imsak sudah dilantangkan. Suasana begitu semarak pagi itu. Aku pun tidak ingin melewatkannya barang sesaat.

Satu bulan sebelum ini aku masih melihat kawan-kawan melafalkan ayat-ayat qur’an sebelum dan setelah sholat. Beberapa dari mereka juga menghapal ayat-ayat cinta dari Tuhan mereka itu. Tidak hanya yang lancar, bahkan yang terbata-bata pun berlomba-lomba untuk menyelesaikan dan meluruskan bacaannya. Mereka teringat akan ganjaran pahala bagi hamba-hamba Tuhan yang belajar.

Satu bulan sebelum ini aku sangat sulit meninggalkan masjid sebelum terbenam matahari. Itu saat-saat mustajab berdoa, apalagi bulan itu pahala serba dilipatgandakan. Terlebih lagi setelah matahari terbenam, seolah-olah sangat sayang jika melangkahkan kaki keluar dari masjid.

Satu bulan sebelum ini aku tidur bersama orang-orang yang tidur di masjid. Mengerjakan sholat di malam hari sambil bersama-sama terisak dalam suasana sadar bahwa manusia tidak luput dari dosa. Kami bersama-sama berdiri dan membaca kalam ilahi di malam hari. Meski terasa lelah, tapi hati ini rasanya sangat lapang. Aku ingin mengkristalkan waktu-waktu indah itu.

Namun sekarang, keadaannya berbeda.

Bulan ini aku tidak lagi melihat shaf-shaf berjejer panjang. Hanya orang-orang tua saja yang hadir sambil berjalan pelan menuju masjid. Anak-anak kecil yang dulu ramai sekarang sudah tidak ada. Bunyi petasan pun tidak terdengar lagi.

Bulan ini aku sudah jarang melihat orang-orang yang memegang surat cinta Tuhannya di sela-sela waktunya. Hanya satu dua orang saja yang duduk dan membaca.

Bulan ini aku tidak lagi berdiam di masjid sebelum adzan maghrib berkumandang dan setelahnya. Masjid sudah dikunci setelah isya dilaksanakan. Sehingga acara tidur di masjid pun ditiadakan. Masjid kembali jadi tempat dimana kita sholat lima waktu saja. Itupun jamaahnya tidak seberapa.

Bulan ini sepertinya begitu mudah untuk berbuat melampaui batas. Ibarat binatang buas yang dibelenggu, bulan ini binatang itu dilepaskan. Sayangnya, tidak menjadi jinak—malah menjadi semakin buas. Hal-hal yang dilarang menjadi lumrah kembali untuk dilakukan. Hati yang lapang ini tiba-tiba menjadi sempit dan menghimpit. Pikiran kembali menjadi tak karuan dan kepercayaan diri menjadi anggapan untuk melompati kehendak Ilahi. Diri yang fitri kembali dicelupkan dalam kubangan dosa-dosa yang dilakukan dengan begitu bangga.

Aku rindu satu bulan sebelum ini, aku rindu ramadhanku.

 

-saungkertas-

Cari aku di langit, di sepertiga malammu

[soundcloud]https://soundcloud.com/suaracerita/ada-di-langit[/soundcloud]

Suara : @dokterfina
Cerita : kurniawangunadi (@kurniawangunadi)
Backsound : Yiruma - Love me

ADA DI LANGIT

Aku tinggal dibumi. Tapi, carilah aku di langit. Sebab aku tertahan diantara bintang-bintang. Kau jemput aku dengan doa-doa setelah shalatmu. Kau tengadahkan tanganmu atau bersujud, berdoalah untuk memintaku. Aku tertahan dan garis batas yang membentang diantara kita selebar langit dan bumi.

Aku tinggal di bumi, tapi carilah aku dilangit. Di sepertiga malammu saat Tuhan turun ke langit bumi. Mintalah aku yang berada di genggaman tangan-Nya. Percuma mencariku di bumi, sebab kunci itu ada d langit. Kunci yang akan menghapus garis batas diantara kita. Mengubah garis yang tadinya neraka, menjadi surga.

Aku berada di tempat yang tidak bisa kau temui di bumi. Tapi kau bisa menemuiku di langit, meski bukan wujud kita yang bertemu. Melainkan doa-doa kita yang menggetarkan singgasana-Nya. Temukan aku di langit, didalam doa-doa panjangmu. Didalam harapanmu.

Meski kita tidak saling tahu nama, tidak saling tahu rupa. Jemputlah aku dilangit. Sebab aku tahu, kau mengenalku bukan karena nama dan rupa. Doa kita telah bertemu sebelum fisik kita.

Mudah bagi-Nya membuat kita kemudian bertemu. Tidak hanya bertemu namun juga disatukan. Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya telah kita panjatkan.

Pertemuan kita yang pertama berada di langit, kan? Sekarang kau tahu, mengapa aku memintamu mencariku di langit?

Mau Bersamaku?

[soundcloud]http://soundcloud.com/suaracerita/bersamaku[/soundcloud]

muslim_manga_madimar_16

 

Suara : @dokterfina
Cerita : @kurniawangunadi
Backsound : Utada Hikaru - First Love

BERSAMAKU

Bersamaku kamu tidak perlu repot-repot berdandan berjam-jam. Toh make up mu akan kalah oleh hujan. Kita akan hujan-hujanan. Toh nanti make-up mu akan hilang di basuh wudhu. Sederhana saja kan lebih enak.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut berbuat aneh. Tidak perlu repot mengatur diri agar terlihat anggun. Aku tidak sedang berjalan bersama model di catwalk kan. Sederhana saja kan lebih nyaman.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut untuk kentut atau ijin ke belakang berlama-lama. Namanya juga manusia. Kalau ditahan nanti masuk rumah sakit. Sederhana saja, keterbukaan kan lebih menenangkan.

Bersamaku, kamu tidak perlu repot makan bergaya eropa. Kita akan makan di manapun. Selama halal, bersih, dan sehat. Kita bisa sambil bercanda sesekali dalam jeda. Sederhana saja kan lebih asyik.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut kalau tidak bisa masak. Tidak perlu takut tidak bisa mengurusku. Kan tugasku yang mengurusmu. Menjamin kehidupanmu sebagaimana yang telah aku janjikan kepada orang tuamu. Memastikanmu baik-baik saja. Kamu cukup bersamaku dan menjadikan kebersamaan kita sebagai pahala. Sederhana saja bukan, tidak saling menuntut berlebihan.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut untuk menjadi dirimu sendiri. Kamu boleh marah, kamu boleh menangis, kamu boleh bahagia. Selama kamu tidak berlarut-larut berdiam diri. Kan aku bukan cenayang. Sederhana saja kan, saling bicara lebih menentramkan,

Bersamaku, kamu tidak perlu takut kehilangan teman. Teman-teman baikmu ajaklah kemari, kenalkan padaku. Aku akan menjadi teman baik mereka juga. Agar kita bisa bermain bersama-sama dengan mereka di waktu luang.

Bersamaku, semua hal yang kamu takutkan tidak perlu kamu takutkan lagi. Sederhana kan. Aku hanya ingin menghilangkan ketakutanmu ketika sendiri.

Mau bersamaku?

Bandung | 1 Januari 2014

Hingga Saat itu Tiba

menjaga_hati

Kadang Kita Lupa

muslim_manga_madimar_11

 

Ketika seseorang hadir dalam hidup kita,
Bukan berarti dia akan selalu bersama kita
Kadang kita lupa,
Boleh jadi tujuan terbesarnya adalah agar kita belajar
Dari hal menyakitkan dan menyenangkan
Saat dia telah pergi kemudian

Ketika sebuah masalah melingkupi kita
Bukan berarti kita bisa mengatasinya segera,
Seperti minum obat langsung cespleng
Kadang kita lupa,
Boleh jadi tujuan terbesarnya adalah agar kita bersabar
Menjadi lebih kuat dan kokoh
Untuk menghadapi masalah lebih besar lagi

Banyak sesuatu yang terlihat
Tapi sejatinya bukan demikian kelihatannya
Seringkali sesuatu yang kita pahami
Namun sesungguhnya tidak begitu hakikatnya

Misalnya,
Jatuh cinta itu kadang memang mudah
Tapi menjaganya abadi adalah sejatinya
Cinta pertama itu memang indah
Namun cinta terakhir selama-lamanya adalah hakikatnya

Semoga kita tidak melupakan yang satu ini.

 

darwis tere liye

Habibie Quotation


ainun-habibie

“Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal. Saya tidak tahu apakah hidup kita di Jerman akan sulit atau tidak, apakah Ainun tetap bisa menjadi dokter atau tidak. Tapi yang jelas, saya akan menjadi suami yang terbaik untuk Ainun.”

-Habibie-

Dear Professor,

Last time, I didn’t know what made you and Ainun believe the power of love will makes everything all right.
You and her had no fear to get married although at that time, you were just a student with limitation allowance.
But now, I already know that both of you create a great achievement along your beautiful story.
Furthermore, a legend.

Thanks professor,

Kembali Berjalan

Hei kawan,
bukalah matamu,
matahari sudah hampir diatas kepala,

Mulailah kembali berjalan di titik dimana kau akan mulai terbang
sudah terhambat dirimu disini dari waktu yang telah engkau tentukan
Apa sudah terlalu nyaman pohon rindang dimana kau bersandar kini?
dimana di bawahnya hanya kau isi dengan gelak tawa dan senda gurau belaka

Tentang dia,
baiknya kau simpan saja perasaanmu dalam toples kaca,
yang itu akan diuji oleh waktu dan jarak seperti yang sebelumnya telah engkau temui,

Berdirilah, mulailah berjalan,
ada terik mentari yang akan menyengatmu sebelum sampai kau di bawah pohon yang lebih rindang nanti
bersabarlah, ada rahmat Tuhan yang akan selalu ada selama kau pegang tauhid itu dalam dada

Hei kawan,
bergegaslah,
semoga kau sampai disana sebelum senja tiba

backpacker

-srf-

Tanyaku, dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

wahai Zainuddin,
terlepaskah iman oleh engkau?
Wahai pencari ilmu Allah, apakah tak ada lagi tauhid di dadamu?
sampai engkau nyaris hilang akal dalam palung dendam kebinasaan cinta tak berbalas.
engkau berselimut namun seakan lupa bahwa Allah adalah sungguh cinta sejatimu.

Wahai Hayati,
Rangkayo minang nan elok rupa juga tuturnya,
jangan kau ucap janji suci di depan makhluk yang dapat kau taklukan hatinya tapi tak dapat kau kuasai takdirnya,
Sedang engkau tak dapat menolak pernikahan yang hanya sedangkal perkawinan harta dan kecantikan

Zainuddin,
mengapa kau simpan kemalangan dan rindu dendam di ruang kerjamu,
sedang dalam kemalangan itu kau tulis hikayat dirimu dalam cerita masyhur
hampir hampir seperti tak mampu kau menulis tanpa kau ratapi lukisan gadis bangsawan Batipuh itu

Wahai Datuk,
cinta bukan hanya khayal dongeng dalam kitab,
tak elok Datuk mengataskan suku diatas agama,
dan haram Datuk menikahkan kemenakan Datuk atas pria pendusta dan penjudi,
dimana hari-harinya adalah khianat dari janji suci yang ia lantunkan

Tak ada cinta terakui sebelum akad dan tak ada janji bersama sebelum itu yang patut disucikan,
sementara dalam penantian itu hanyalah rindu dalam diam,
menitipkan doa dalam semilir angin dan desir pasir,
hingga saatnya waktu bertemu dengan azam beradu dengan takdir,
apakah menjadi awal bersama atau layu harapan membaur bersama rintik hujan

 

-srf-

Aku Berhenti

terlalu banyak drama selama ini
dimana diri masih bergelantungan dengan awan dan angan
sementara yang lain telah mewujudkan

merajut untaian kata yang tajam di tepian jantung
membuatnya tersayat perlahan setiap kali berdetak
kemudian meneteskan cerita seluas lautan dalam tiap - tiap rintik hujan
terasa menyakitkan melihatnya ketika terhempas ke tanah

merindunya seperti merindu momen kabut sebelum mentari terbit
dinginnya ingin membuatmu tetap berselimut
tetap terdekap hangat dimana buliran air membasahi pelipismu
tentram dalam dirimu dalam nyenyak tidurmu

sampai diri harus siuman dari mimpi ini
layaknya menarik garis dari persamaan variabel yang saling berkebalikan
yang tidak akan bertemu meski seberapa dekat limitnya
seberapa banyak nilai dan kombinasi yang diusahakan
tak akan kau dapati titik temu dari kedua ujungnya

menghibur diri dengan menyalahkan keadaan bukan hal yang arif
menyalahkan diri karena tak cukup mampu juga terlalu naif
tapi tawakkal ini menjadi peran terakhir yang harusnya berada di awal
sehingga ikhlas lah jawabannya ketika semua daya upaya terasa begitu masuk akal

 

-srf-