Rss

Archives for : parenting

Kesadaran Anak Sholat

shalat_kid

تعالوا لتروا كيف تغيرونهم بإذن الله تعالى

Anak-anak anda tidak mau sholat? atau mereka sampai membuat anda capek saat mengingatkan untuk sholat?
Mari kita lihat bagaimana kita bisa merubah ini semua ~ biidznillah

عن إحدى الأخوات :

تقول اقول لكم قصة وقعت معي انا

Seorang sahabat berkisah: “Aku akan menceritakan satu kisah yang terjadi padaku”

كانت بنتي

Mengajarkan Anak Menghafal Qur’an Sejak Dini

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?”
Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.”
(HR. Al-Hakim)

1. BAYI (0-2 TAHUN)

  • Bacakan Al Qur’an dari surat Al fatihah
  • Tiap hari 4 kali waktu (pagi, siang, sore, malam)
  • Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
  • Setelah hari ke-5 ganti surat An Naas dengan metode yang sama
  • Tiap 1 waktu surat yg lain-lain diulang 1×2

2. DIATAS 2 TAHUN

  • Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, mis dari 5 hari menjadi 7 hari
  • Sering dengarkan murattal

3. DIATAS 4 TAHUN

  • Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
  • Ajari muraja’ah sendiri
  • Ajari menghafal sendiri
  • Selalu dimotivasi supaya semagat selalu terjaga
  • Waktu menghafal 3-4x perhari

Allaahummaj’alna fii ahli Qur’an , Allaahumma baarik fi auladina wa dzurriiyatina bil Qur’an, Allaahummarzuqna istiqomah fi tilawatil wa hifzil Qur’an…wa adhilna fi jannati fi Qur’an…

Ya Allah, hiasilah kehidupan rumah tangga kami, pikiran kami, tingkah laku kami, jasad kami, serta kuburan kami kelak dengan Al-Qur’an Aamiin Allaahumma Aamiin…

Mengendalikan Marah Terhadap Anak

Berikut adalah kiat-kiat untuk mengendalikan marah terhadap anak oleh Ustadz bendri jaisyurrahman

 

  1. Hal yg mesti menjadi fokus orangtua adalah bagaimana melatih diri untuk bisa mengasuh anak tanpa marah
  2. Tak marah bukan berarti membiarkan perilaku negatif anak. Orangtua harus tegas untuk meluruskan anak jika menyimpang
  3. Rasulullah mengatakan “jangan marah” dan menjanjikan surga bagi yg bisa melakukannya tersebab perilaku marah tak pantas dibiasakan
  4. Marah yg diselimuti ekspresi menyeramkan serta kasar, alih-alih membuat anak berubah, justru malah trauma yg dirasakan anak. Anak pun terluka
  5. Anak pun belajar untuk meluapkan marah dari cara kita mengekspresikannya. Sehingga kemarahan itu adalah emosi negatif yang menular
  6. Marah juga mematikan daya berpikir anak. Sebab, menstimulasi batang otak anak. Alhasil anak berperilaku dengan batang otak tanpa berpikir
  7. Anak yg berperilaku dengan batang otak atau otak reptil, maka bertindak secara reflek saat tertekan : melawan atau kabur. Ini buah dari marah yang tak tepat
  8. Lantas bagaimana jika anak melakukan kesalahan? Apakah dibiarkan? Tentu tidak. Kita harus tegas, tapi tak perlu marah-marah
  9. Tegas bermakna mengikat anak kepada aturan. Maka perlu aturan yang jelas dan tersampaikan kepada anak. Agar kita tidak perlu marah
  10. Mulailah dengan ingatkan anak kepada aturan yg sudah dibuat secara tegas. Agar kita tak perlu marah yang jelas-jelas merugikan kita termasuk anak-anak
  11. Kalau boleh jujur, kadang ortu mencampuradukkan masalah di luar saat menangani anak yang berperilaku salah. Marah pun tak terbendung
  12. Padahal bisa jadi kesalahan anak tak seberapa, namun ‘sampah’ emosi yang kita bawa dari luar tertumpah di hadapan anak
  13. Maka sadari diri sebelum marah, apakah kita yang bermasalah ataukah anak yg jadi penyebabnya?
  14. Pengakuan jujur bahwa emosi kita sebenarnya sudah kotor sejak awal sebelum bertemu anak, menunjukkan sayang kita, tak ingin lukai anak
  15. Maka menghindarlah dari anak untuk sementara atau minta pasangan kita ambil alih penanganan kepada anak
  16. Redakan marah yang mau tertumpah dengan cara segera berwudhu, berpindah tempat dan menghirup udara yang segar
  17. Pandangi foto anak kita saat bayi dan katakan : ‘Tegakah dirimu menyakiti bayi ini yang kehadirannya kamu nantikan hingga berbulan-bulan?
  18. Jika sudah nyaman dan emosi positif tumbuh, segera datangi anak dan katakan perasaan kita. Contoh : ayah kecewa, bunda kesal, dan lain lain
  19. Sebutkan perilaku anak yang membuat kita kecewa dan kesal agar tak melabelling anak sebagai pelaku yg selalu salah. Anak merasa dihargai
  20. Ingatkan anak dengan lembut namun tegas akan aturan yg sudah dibuat. Tak perlu marah. Agar anak menyadari kesalahannya
  21. Boleh berikan konsekuensi atas perilaku anak yang salah agar anak berpikir. Konsekuensi terbaik adalah menunda kesenangannya
  22. Lihatlah bagaimana cara Allah memberikan konsekuensi kepada Nabi Adam atas pelanggaran yg dilakukannya utk tidak dekati pohon terlarang
  23. Allah ingatkan Adam akan aturannya. Dan saat Adam melanggar maka Allah berikan konsekuensi dengan diambil kesenangannya yakni surga
  24. Maka adam pun menyadari kesalahannya dgn ucapkan doa “rabbana zholamna anfusana”. Ini adalah pengakuan akan salah
  25. Kisah lengkap ada di Alquran (7:11-25). Hendaknya, begitulah cara kita mengelola marah kepada anak agar yang muncul adalah perbaikan jiwa
  26. Marah hanya memuaskan syahwat liar kita. Tak peduli dampaknya. Namun tegas, yang kita inginkan perbaikan perilaku anak. Amat beda
  27. Semoga kita bisa belajar kendalikan marah kita namun tetap tegas akan perilaku anak yg menyimpang. Mohon maaf jika kurang berkenan (bendri jaisyurrahman)

 

Balita Hafal Surat Thaha

Tunggu ya, Nak. Abi lagi belajar tahsin dulu.
#uhuk

Nasehat Lukman Al-Hakim pada Anaknya

luqman

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur’an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup.

“Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan badah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.”

“Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.”

“Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.”

“Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.”

“Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.”

“Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.”

“Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:

1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
5. Ingatlah Allah selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.

 

-dikutip dari fangrup fb Khazanah trans7-

 

-srf-

Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak - Sebuah Rangkuman

Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

By Irwan Rinaldi,
Konsultan Fathering Parenting

Penyelenggara:
Kompaq (Komunitas Pecinta Al-Qur’an)
@PencintaQuran

parenting_1

 

Kajian ini bertempat di Masjid Ar-Ruhama, JatiPadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan dimulai pukul setengah dua siang hingga menjelang ashar. Pembicara kali ini adalah Kang Irwan Rinaldi. Beliau adalah konsultan parenting ayah dan anak, beliau fokus pada pendampingan dan pengasuhan anak.

Pada sesi awal, beliau menerangkan tentang pentingnya Fathering—bidang parenting yang fokus pada keayahan dan mengapa materi tentang keayahan ini sangat penting diterapkan di kehidupan rumah tangga muslim sekarang ini. Bahkan, pada zaman ini, zaman dimana Ghazwul Fikri (perang pemikiran) merajalela di kehidupan masyarakat, ilmu tentang parenting dan utamanya Fathering menjadi sangat jauh dari kehidupan keluarga islami. Naudzubillah.

Sangat naif, kata beliau, ketika Indonesia dengan segala potensi besar sumber daya manusianya dan sangat pesat perkembangan jumlah penduduknya, ternyata sebagian besar keluarganya tidak mengerti bagaiman mengasuh anaknya. Diibaratkan, ketika seseorang menikah, lalu sang istri sedang hamil tua, sang suami tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan sang calon ibu juga tak tahu apa yang harus dilakukan. Keluarga muslim banyak yang tidak mengetahui pentingnya parenting karena hal ini sangat jarang dibahas di majelis-majelis taklim.

Sebagian besar keluarga tidak mengoptimalkan pengasuhan dan pengajaran pada anak ketika umur nol hingga tiga tahun. Padahal menurut teori, usia terbaik manusia itu di usia 0-15 tahun. Dan dari usia itu, yang lebih baik adalah pada usia 0-10 tahun, lebih baik dari itu adalah usia 0-5 tahun, hingga yang paling terbaik adalah pada saat usia 0-3 tahun. Apa sih yang sanggup dipelajari dari anak usia 0-3 tahun? Ternyata, anak usia 0-3 tahun dapat menghapal 1500 kata-kata baru secara cepat. 80% kecerdasan manusia terletak pada periode 0-3 tahun awal kehidupannya. Saraf-saraf otaknya sangat optimal pada tahun itu. Jaringan demi jaringan terus berkembang seiring dengan meluasnya informasi yang ia dapatkan. Itulah mengapa, muncul cendekiawan muda di jaman Nabi Muhammad SAW, yaitu Anas bin Malik, yang diumur 9 tahun sudah dapat menyelesaikan persoalan orang dewasa yang diberikan kepadanya. Anas bin Malik, itulah benchmark sesungguhnya jika kita berkaca terhadap perkembangan anak di umur 9 tahun. Lalu, mau jadi apa anak kita nanti ketika berumur 19 tahun? Menjadi pelajar biasa ataukah bisa menjadi Al Fatih, yang pada usia 19 tahun mampu memimpin pasukan dan merebut Konstantinopel?

Ilmu itu dari Al-Qur’an

Kang Irwan bercerita tentang pengalamannya dalam konferensi Parenting di Singapore. Ada sebuah tokoh parenting disana yang beliau kagumi karena buku parenting yang diterbitkannya sangat laris dan bagus sekali isinya. Namanya, Clayton, seorang yahudi. Kang Irwan bertanya kepadanya kurang lebih, “Mengapa kau bisa menulis buku yang bagus sekali?”, lalu Clayton menjawab, “Seharusnya Pak Irwan yang menulis buku itu, karena seluruh buku Fathering itu ditulis berdasarkan Al-Qur’an.” Miris sekali ketika harus seorang yahudi yang mengambil ibrah dari kitab suci yang dimiliki oleh kita—umat muslim. Bahkan dengan jelas, Allah telah menuliskan satu surah khusus untuk parenting keayahan dalam surah Luqman, yang menceritakan bagaimana Luqman mendidik anaknya untuk taat kepada Tuhannya. Jika saja orang tua mengerti hal ini, jika saja…

Indonesia Kekurangan Ayah

Negara Indonesia adalah negara yang kekurangan ayah secara psikologis. Kang Irwan menyebutnya dengan “Ayah ada – Ayah tiada”. Secara fisik dia ada, nampak, namun tidak ada dalam pengasuhan kepada anaknya. Berapa banyak ayah yang pulang kantor sangat lelah hingga tak mampu untuk sekedar tersenyum dan mendengar anaknya bercerita bagaimana ia membuat rumah-rumahan dari sedotan saat di sekolah? Kang Irwan berkata, jika sosok ayah di mata anak tidak ada, maka terlalu panjang tahap pendewasaan anak tersebut.

Usia puncak anak adalah 15 tahun, pada usia ini seharusnya anak sudah mencapai tahap kematangan psikologisnya. Pada jaman Nabi, Usamah sudah mulai mendaftarkan dirinya untuk berjihad bersama Nabi. Namun sayangnya, berdasar penelitian, usia biologis anak Indonesia mendahului usia psikologisnya. “Badan sudah besar dan kuat, namun mental masih seperti anak kecil”, kata beliau. Penulis juga berkaca pada diri sendiri ketika disindir bahwa mahasiswa sekarang hingga lulus masih meminta uang kepada orang tuanya dengan tanpa malu sedikitpun. Bahkan secuil kuku pun tak sanggup menandingi kedewasaan Anas bin Malik di usia 9 tahun.

Kang Irwan mengisyaratkan bahwa anak-anak kita nanti harus matang psikologis di usia 15 tahun, bukan di usia 30 tahun, dimana ia masih belum benar-benar mandiri dan belum dapat mengambil keputusan dari persoalan yang bahkan ia sendiri hadapi.

Terlalu Banyak Stimulan Perempuan

Dikarenakan ayah hanya berkutat pada pencarian nafkah, maka Parent Leader pun diserahkan kepada sang istri. Bahkan di PAUD dan TK pun gurunya 96% adalah perempuan. Anak-anak juga membutuhkan sosok ayah yang ada secara fisik dan psikologis, yang mampu menceritakan bagaimana gagahnya Muhammad, bagaimana kuat dan tegasnya Umar, bagaimana militannya Al Fatih, dan tokoh islam lainnya. Karena ada karakter yang bahkan seorang ibu tidak bisa mencontohkannya kepada anak, dan itu adalah tugas ayah dalam mengasuh anaknya.

Tentang Masa Lalu

Kang Irwan kemudian bercerita tentang masa lalunya. Tepatnya 20 tahun lalu, dia “dijebloskan” mengajar di Universitas Indonesia. Saat itu, guru beliau, Ustadz Rahmat berkata, “Mengajar disini masa depannya gelap.” Kata beliau. “yang cerah itu adalah mengajar TK.” Beliau melanjutkan.

“Mengapa cerah?”

“Orang di luar islam menjauhkan kita dari parenting. Jika umat islam mengerti dan mengamalkan ilmu parenting ini, maka akan tumbuh generasi Al-Fatih. Al Fatih yang matang di usia 15 tahun dan mampu menaklukkan Konstantinopel.”

Penulis setuju dengan Kang Irwan ketika beliau berkata bahwa dalam pengasuhan anak di usia 0-3 tahun, tidak boleh ada televisi di rumah, yang ada hanyalah pengajaran tauhid kepada anak.
“Mengapa harus mengajar di TK?” tanya Kang Irwan kepada gurunya

“Saya tidak mau anak-anak ini kehilangan dakwah dari orang tuanya. Mereka harus tumbuh jadi anak yang khusus, yang tumbuh secara ideal seperti halnya Hasan dan Husain ketika bersama Rasulullah.”
Dan pada saat 20 tahun lalu itulah ia menjadi satu-satunya guru TK laki-laki pertama di TK yang ia naungi. Saat itu, ia benar-benar menyaksikan bagaimana seorang ayah benar-benar bisa mempercepat pendewasaan mental pada anak

Curhatan seorang guru TK

Ada seorang ibu guru TK yang bercerita kepada Kang Irwan tentang salah satu anak didiknya. Suatu saat seorang anak laki-laki bertanya padanya,
“Bu Guru, emang Umar itu perkasa ya, Bu?” tanya anaknya.
Bu Gurunya hanya diam, hingga dalam diam itu dia menangis. Dia takut menjawab pertanyaan anak tersebut. Takut pula layaknya ia tak dapat mencontohkan bagaimana gagahnya seorang laki-laki yang bahkan setan pun pergi ketika ia melintas.
“Kemana semua laki-laki? Padahal jihad terbesar adalah mengajar anak-anak di masa kanak-kanak.”
Anak-anak butuh guru dan pengasuh lak-laki, yang dengan itu dia mengerti benar bagaimana karakter laki-laki. Bagaimana laki-laki itu bertingkah laku, bagaimana cara pandangnya terhadap suatu keadaan, bagaimana laki-laki itu marah, mengapa laki-laki itu keras, dan sebagainya.

Negara-negara besar dilihat dari bagaimana hebatnya TK dan SD nya.

Di Finlandia, jika seorang istri melahirkan, maka dia diberikan jatah cuti selama dua tahun. Yak, anda tidak salah baca, dan saya tidak typo—DUA tahun! Pembiayaannya pada tahun pertama dibayarkan oleh pemerintah Finlandia dan pada tahun kedua dibayarkan oleh tempat dia bekerja. Pembaca dapat mencari sendiri bagaimana perkembangan pendidikan anak di Finlandia, bagaimana negara tersebut mampu menciptakan sumber daya manusia yang sangat baik.

Umat islam dalam pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, jika di kurs kan uang pada saat ini, gaji guru kanak-kanak pada masa itu sekitar 90 juta rupiah per bulannya. Mengapa begitu besar? Karena pada saat itu, mereka mengerti betul pentingnya masa kanak-kanak dalam pembentukan karakter dan penginputan informasi ke dalam pribadi anak. Ketika di perguruan tinggi, kemampuan untuk menyerap informasi tak lagi mudah seperti saat dia balita.

Ayah Pendongeng

Fathering mengajarkan seorang ayah agar selalu bercerita kepada anaknya. Cara penyampaian cerita nya pun tergantung dengan usia anak tersebut. Cara menyampaikan pesan kepada anak umur 5 tahun berbeda dengan anak umur 10 tahun, itulah mengapa perlu adanya pengasuhan yang tak terputus oleh ayah kepada anaknya.

Father Hunger

Indonesia didaulat sebagai Fatherless Country, negara tanpa keberadaan ayah secara psikologis. Hingga akibatnya anak-anak mengalami krisis Father Hunger, dimana ia sangat membutuhkan sosok ayah, namun tak dapat dimilikinya, yang kemudian berdampak hilangnya rasa berani dan rasa percaya diri dalam dirinya.

Pengasuhan dan Pendidikan

Pengasuhan dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda. Contohnya dalam konteks Al-Quran dan hubungannya kepada anak. Mengajarkan anak membaca Al-Qur’an, itu adalah pengajaran, sedangkan mengajari anak mencintai Al-Qur’an, itu adalah pengasuhan. Pengasuhan selayaknya tidak dilimpahkan ke orang lain selain orang tua itu sendiri. Pengasuhan merupakan pengajaran yang harus selaras antara ucapan dengan percontohan amalan tersebut. Pengasuhan adalah tentang amalan, bagaimana anak tersebut mencintai amal sholeh dan menggenggam prinsip tauhid yang dicontohkan oleh orang tuanya.

Di negara barat, training untuk baby sitter sangat ketat, karena mereka tahu bagaimana pentingnya tumbuh kembang anak dalam proses pendewasaannya.Baby sitter secara langsung bertanggung jawab atas pengasuhan yang ia lakukan dan dampaknya pada anak yang diasuhnya tersebut secara fisik dan psikologis.

Mari melihat dari agama lain. Di suatu gereja katolik, jika hari Minggu (ahad), semua laki-laki yang sudah berstatus sebagai ayah diperiksa terlebih dahulu sebelum memasuki gereja. Ditanyakan kepadanya apakah ia sudah mengajarkan alkitab kepada anaknya. Jika ternyata belum, ia wajib ikut ke kelas lain terlebih dahulu. Kurang lebih demikian.

Tentang Ayah

Kenapa anak lebih suka bermain game online dibandingkan belajar Al-Qur’an? Karena game online begitu dinamis, dimana ia dapat memainkan karakternya dan meng-customize nya menjadi sesuatu hal yang lebih baik dibandingkan milik teman-temannya. Ada rasa lapar dalam sebuah kedinamisan itu. Bahkan, penjaga warnet nya pun lebih komunikatif dibanding ayahnya. Sedangkan dalam pembelajaran Al-Qur’an yang dilakukan sekarang ini menjemukan dipandang dari kacamata anak-anak. Dan dibandingkan dengan penjaga warnet, ayah lebih cenderung diam dan tidak berkomentar banyak terhadap anak.

Disinilah terjadi krisis yang dinamakan “Father Hunger”, dimana anak merasa jenuh, kesepian, dan merasa tidak memiliki sosok ayah yang kuat yang dapat mereka teladani. Padahal, anak itu selalu meminta perhatian kepada orang tuanya. Hanya saja sebagian besar orang tua tidak mengerti cara menjadi orang tua yang baik. Ada sebuah keprihatinan di Indonesia, dimana orang tua mudah saja melahirkan seorang anak tanpa tahu bagaimana mereka akan mengasuhnya. Bahkan kata Kang Irwan, “Laptop yang saya beli ini saja ada manual booknya. Jika tidak ada, saya gak mau terima. Mengapa kita berani punya anak yang kita tidak tahu bagaimana cara mengasuhnya. Apa yang harus disampaikan ke anak? Apa saja yang harus diajarkan?”

Sepertinya sudah terlalu banyak anak jaman sekarang yang kegiatannya habis digunakan untuk les-les di luar sekolah semata-mata agar nilai raportnya bagus dan masuk sekolah favorit. Masihkah ada ayah yang mengajak anaknya membagi-bagikan makanan ke pemulung dan bercerita bagaimana anaknya harus bersyukur atas pemberian Allah SWT?

Anak membutuhkan tokoh ayah secara fisik dan psikologis, bahkan di masjid pun layaknya ada sosok ayah yang dapat membimbing anak-anak. Yang dapat bercerita tentang bagaimana hebatnya Nabi mereka, Muhammad SAW, hingga mereka beramai-ramai mencintainya. Rasulullah SAW pun dahulu menyambut Hasan dan Husain ketika mereka datang ke masjid, bahkan mengajak mereka bermain di masjid. Masih ingatkah cerita tentang Rasul yang sujud begitu lama hanya untuk mempersilakan Hasan dan Husain bermain kuda-kudaan di pungguh Rasulullah? Betapa mulianya islam yang mengajarkan ilmu Fathering kepada kita. Semoga kita dapat mengambil ibrahnya.

 

Menjadi Ayah

Menjadi ayah idaman tidak datang dengan sendirinya. Ia dibentuk dari suatu proses pendewasaan dan perbaikan karakter. Sebelum karakter Anda dicontoh oleh anak Anda nantinya, pastikan Anda sudah dikoreksi terlebih dahulu oleh pasangan Anda dan Anda sudah mulai memperbaiki karakter buruk itu. Menjadi ayah idola harus belajar terus menerus dalam memperbaiki kekurangan dan mengoptimalkan potensi anak di usia mudanya.

Pengasuhan yang harus diberikan ayah kepada anaknya ada 3 poinmenurt Kang Irwan:

  • Pengarahan
  • Pembiasaan
  • Keteladanan

Pada umur 0-10 tahun, anak sangat butuh banyak pengajaran dari orang tua. Pada tahun-tahun awal ini, anak sering berbuat kesalahan. Disinilah seorang ayah berperan dengan memberi contoh yang benar dari kesalahan yang dilakukan si kecil. Pengkoreksian yang rutin akan membuat sang anak mengerti betul bagaimana seharusnya bersikap. Karena pentingnya proses ini, maka selayaknya tidak boleh ada pendelegasian.

Pada umur 10-15 tahun, ayah selayaknya lebih banyak berdialog dengan anaknya. Pada tahap ini, anak sudah memiliki pemikiran sendiri dan bagaimana baik dan buruknya perilaku. Anak sangat membutuhkan bimbingan di fase ini. Fungsi ayah ada menjadi kontrol dan selalu memonitor sifat, sikap, dan perilaku anak.

Tentang Bosnia

Suatu kala di Bosnia, Kang Irwan ditugaskan sebagai relawan disana. Tidak sebagai prajurit, namun sebagai children traumatic volunteer—dimana ia menyelamatkan anak-anak korban perang dan mengasuhnya di camp pengungsian.

Suatu hari ada anak perempuan kecil, usianya sama dengan anak kelas 6SD kata beliau, ia berjalan bersama adik laki-lakinya yang masih kecil ke arah camp. Di waktu itu cuaca begitu dingin, dan mereka berdua berjalan dari jarak yang sangat jauh.

Kang Irwan kemudian menyambut mereka dengan mempersiapkan coklat. Karena anak kecil pasti suka dengan coklat, dan pasti mereka sudah kelelahan berjalan jauh di cuaca sedingin saat itu. Ketika memasuki Camp,disodorkannya coklat kepada anak perempuan tersebut—diterimanya coklat itu. Hingga akhirnya sang gadis kecil ini berkata, “Terimakasih atas coklatnya. Namun kami berdua datang jauh-jauh kemari, untuk mencari Al-Qur’an” Kang Irwan lalu melongok ke seisi camp, dan beliau baru sadar bahwa di camp tersebut tidak ada Al-Qur’an.

Allahu Akbar, bagaimana kesadaran anak gadis kecil itu di usianya yang sangat belia, ia mampu memegang teguh agamanya—menuju camp perlindungan tidak semata-mata untuk berlindung, namun untuk mencari mushaf Al-Qur’an.

Lebih Lanjut

Ada banyak tips yang sebenarnya bisa dijadikan referensi untuk mengurus anak, penulis sudah posting di SINI. silakan disimak untuk lebih detilnya.

Dan untuk kajian kali ini, Kang Irwan memberikan link dimana kita dapat mengunduh materi-materi parenting Fathering yang beliau posting di blog berikut:

www.ayahuntuksemua.wordpress.com

 

Semoga rangkuman kali ini bermanfaat bagi ayah dan calon ayah yang mempersiapkan anak-anaknya menjadi kader dakwah dan mujahid muda.

Aamiin.

-srf-

@saungkertas

Seminar Parenting “Surat Cinta untuk Calon Anakku” - sebuah rangkuman

Seminar Parenting
Surat Cinta Untuk Calon Anakku.

By: M Reza Adianto & Nini Herlina

mjwj_2

 

Seminar ini diadakan oleh organisasi Man Jadda Wajada (MJWJ) Jakarta, 9 Februari lalu. Meski tentang parenting, mungkin sekitar 90% pesertanya masih bujang, termasuk saya. Alhamdulillah seminar ini gratis! Many thanks for the committee, special for my great friend, Miskam –ketua MJWJ Jakarta dan partner saya di Aliansi Pemuda Muslim Indonesia (APII).

 

Materi pertama diisi oleh M Reza Adianto dan Istrinya, Nini Herlina dimana keduanya adalah trainer sukses mulia yang dikembangkan oleh Motivator Sukses Mulia Kakek Jamil Azzaini.

Pada sesi parenting ini, Mas Reza menjelaskan, yang sebenarnya lebih sulit adalah ketika sudah menikah dan mempunyai amanah berupa anak. Calon pasangan harus siap dgn kompleksitas keluarga.Banyak masalah yang tercipta ketika berkeluarga.
Dalam kompleksitas itu, setiap keluarga memiliki cara tersendiri untuk mendidik anak, termasuk metode apa yang mereka gunakan. Diamana metode itu nantinya akan menentukan bagaimana perkembangan anak kedepannya.

Adapun beberapa metode parenting yang ada di dunia menurut Mas Reza, berikut list dan penjelasannya:

  1. Otoriter
    Sistem otoriter adalah apa yang dibilang oleh orang tua harus dilaksanakan. Segala keinginan orangtua senantiasa dipaksakan kepada anak,sehingga anak tidak mendapat kesempatan lain selain harus menurut kepada kehendak orang tua.
    Sistem ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihannya adalah sang orang tua selayaknya lebih mengetahui mana yang lebih baik untuk anaknya dan mana yang bukan. Kekurangannya, anak menjadi tidak cukup kreatif dan ben
  2. Liberal:
    Dalam sistem liberal, orang tua membebaskan anaknya untuk berpendapat, melakukan apapun yang mereka mau, dan tentu saja membiarkan mereka menerima konsekuensi dari apa yang telah mereka ambil. Orang tua memberi kepercayaan penuh pada anak.
    Sayangnya, dengan sistem ini anak-anak dapat saja mendapatkan nilai-nilai negatif dari lingkungan sekitar mereka, tanpa adanya kontrol dari orang tua. Karena menurut sistem ini, orang tua tidak berhak untuk melarang anak, bahkan dalam pergaulan keseharian mereka.
  3. Demokrasi
    Dalam sistem demokrasi, anak tetap mendapat kesempatan untuk berpendapat. Hanya saja bedanya disini ada sistem musyawarah yang dikedepankan. Pendapat orang tua dan anak dipadukan dalam suatu bentuk musyawarah. Jika tidak terpenuhi mufakat, maka dapat ditentukan dengan pengambilan suara terbanyak.
    Sayangnya, apabila orang tua yang mengisyaratkan kebaikan harus beradu argumen dengan tiga atau empat anaknya yang menginkan kebebeasan sebebas-bebasnya, suara orang tua juga tidak akan berpengaruh banyak dengan sistem ini. Karena tetap, demokrasi tidak mengijinkan perintah orang tua adalah suatu perintah yang dapat dipenuhi sepenuhnya, meski bisa dibicarakan.
  4. Islami
    Dalam sistem parenting islami, seluruhnya mengacu kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Sistem ini memiliki nilai kebaikan yang tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Sistem dimana Allah adalah pusat dari segala pengambilan keputusan. Meski dengan musyawarah pun, harus ditujukan untuk menggapai ridho-Nya. Tidak boleh ada hasil musyawarah yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah. Anak-anak pun diperintahkan secara jelas untuk menghormati orang tua bagaimanapun mereka.

 

mjwj_1

*ini pas saya lagi tanya ke narasumber #NarsisModeOn

Ada beberapa tips dari Mas Reza dan Teh Nini pada hari itu kepada peserta agar tepat sistem parenting yang dilakukan di tiap keluarga. Berikut tips nya:

 

REACTIVATE YOUR KID

Ada mindset yang harus dirubah, yaitu anak adalah sebenarnya titipan dari Allah, bukan milik kita. Anak yang notabene adalah titipan dari Allah itu adalah tanggung jawab kita untuk kita didik dan kita kader untuk menjadi generasi muslim yang tangguh yang dapat melanjutkan visi dakwah kita.
Ada juga mindset yang harus dirubah dari orang tua yang bekerja. Anda pasti sering mendengar ini,”Saya bekerja demi keluarga saya di rumah.” Pernah kan? Sayangnya yang sebetulnya “demi” nya adalah bukan demi keluarga, melainkan demi kemauan perusahaan, dan demi tuntutan karir di perusahaan tersebut.

Ada sebuah cerita tentang ayah dan anaknya.Suatu kali seorang anak yang masih kelas satu SD bertanya pada ayahnya pada saat sarapan di pagi hari sebelum ayahnya beranjak bekerja.
“Ayah, ayah,,,”
“Iya adek, kenapa?” tanya ayahnya sambil mengoleskan roti dengan selai kacang di meja makan. Tidak dilihatnya anaknya yang bertanya padanya saat itu.
“Ayah gajinya berapa sih ayah?” tanya si adek ini sambil terus melihat si ayahnya yang sedang makan.
“Kenapa adek tanya gaji ayah?” Ayahnya tersenyum dan memandang sang anak yang sepertinya antusias sekali bertanya.
“Kalo satu jam ayah digajinya berapa?” kata sang anak masih fokus dengan pertanyaannya.
“Kenapa adek? Mau minta dibeli’in mainan lagi sama ayah?”
anaknya menggeleng berulang-ulang, “Adek mau tanya aja.”
“Emm, berapa ya,,,,” kata ayahnya sambil tersenyum dan berpikir. “Lima puluh ribu, adek satu jamnya,” kata ayahnya sambil tersenyum dan mengelus kepala anaknya itu. Kemudian melanjutkan makannya.
“Ayah, ayah. Adek Boleh pinjem uang dua puluh ribu, Yah?”tanya anaknya kepada ayahnya yang mulai makan.
“Adeek, mau buat apa? Gak boleh jajan di luar loh ya.”
anak tersebut kembali menggeleng lagi berulang-ulang.
“Lalu mau buat beli apa?” tanya ayahnya
Sang anak lalu turun dari kursi makannya dengan terburu-buru lalu berlari ke kamarnya. Sang ayah melihat kebingungan anaknya tiba-tiba berlari ke kamarnya.
Sang anak kemudian keluar dari kamar dengan membawa celengan ayamnya dan segenggam uang di tangan lainnya. Terlihat kesulitan dia membawa celengannya. Kecil-kecil langkahnya menuju samping kaki ayahnya.
sekarang sang anak sudah tepat di samping kaki ayahnya. Sang anak lalu mendongak ke arah ayahnya, “Yah, aku kemarin dikasih uang sama nenek dua puluh ribu,” kata sang anak yang lalu uang itu diletakkan ke telapak tangan ayahnya. “Celengannya adek gak tau berapa isinya tapi…”
“Terus kenapa adek masih mau pinjem uang ayah?” tanya ayahnya.
“Ini celengannya adek buat ayah juga.” Kata sang anak membopong celengan ayamnya ke paha ayahnya.
“Itu kayaknya masih kurang, Yah. Jadi adek mau pinjem lagi dari ayah.” Kata si anak.
“Ini mau dibuat apa, Adek?”
“Adek boleh beli waktu ayah? Satu jaaam aja. Boleh ya?”
Ayahnya masih menatap anaknya dengan seksama.
“Ayah sibuk kerja terus. Jadi adek mau beli waktunya ayah boleh? Satu jaaaam aja. Adek kangen mau maen sama ayah.” Kata anak ini polos.
Ditaruhnya celengan ayam yang diberikan anaknya padanya di meja, dan dipeluknya erat-erat anaknya itu, “Maafkan ayah, Nak”

Mas Reza berpesan kepada kita bahwa jika benar kerja orang tua adalah untuk keluarga, mengapa sering tak ada waktu bagi mereka? Mari luruskan niat hanya karena Allah, karena anak –anak memiliki kebutuhan kasih sayang dari orang tuanya dan adalah tanggung jawab orang tua dalam membesarkan anak, mengasihinya, dan mengkadernya menjadi generasi muslim yang kuat, agamis, dan mampu berkompetensi di bidang professional.

Mas Reza dala kemudian menyuruh kami untuk mengeluarkan secarik kertas dan pena. Beliau mengisyaratkan kami untuk mengisi 5 harapan kami kepada anak kami, ketika kami memiliki anak nanti. Bagi kalian yang membaca artikel ini pun dapat mulai menuliskan 5 harapan kalian kepada anak-anak kalian nanti. Ingin seperti apa anak-anak kalian nantinya?

Hayo, ditulis dulu, ato at least dipikirkanlah 5 harapan terhadap anak kalian nanti. Jika sudah, bolehlah melanjutkan membaca kembali.

 

REFIND YOUR POTENTIAL POWER

Mas Reza berkata kepada kami, para peserta bahwa perlu ada Parent Leader di suatu keluarga. Parent Leader adalah yang mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan keluarga kepada anak. Parent Leader tidak harus selalu suami. Bisa saja istri. Tentukan saja siapa Parent Leadernya dari siapa diantara suami/istri yang lebih banyak waktu luangnya untuk keluarga. Seorang ibu dalam masa sekarang ini, berpotensi lebih besar untuk menjadi Parent Leader. Parent Leader harus mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada anak sesuai Grand Design yang disepakati bersama. Apa itu Grand Design? Nanti, akan dibahas setelah poin ini.

Anak memiliki perbedaan dalam melihat suatu hal. Anak memiliki kecenderungan dalam otaknya dalam memandang suatu objek atau persoalan. Anak memiliki salah satu dari kelima kecenderungan bagian otak yang dipakai:

  • Analisis (neurokortek kiri)
  • Memori (limbrik kiri)
  • Kreatif (neuro kanan)
  • Emosi (limbik.kanan)
  • Naluri (intuitif - midbrain)

Saya tidak akan menjabarkan lebih lanjut tentang hal ini. Jika pembaca berminat, silakan di-search saja di Google tentang “STIFin Parenting”. :)

 

RECHANGE YOUR HABIT

Ada hal penting yang perlu dibangun antara orang tua dan anak, yaitu komunikasi hati. Ajarkan dengan kebaikan sesuai dengan tuntunan islami.

Tahukah Anda, bahwa anak lebih mudah mencontoh kita daripada kita menyuruh mereka melakukannya? Seorang ayah yang perokok menyuruh anaknya tidak merokok adalah hal yang konyol, begitupun keluarga yang gersang akan ayat Al-Qur’an di rumah mengisyaratkan anaknya untuk rajin baca Al-Qur’an setiap hari.

Maka orang tua selayaknya menganti kebiasaan mereka sesuai dengan apa yang mereka suruh kepada anak-anaknya. Orang tua selayaknya mulai membiasakan melakukan amalan pembersih jiwa, yakni puasa, dzikir, tahajjud, dan tilawah.

 

GRAND DESIGN

Grand Design adalah strategi orang tua dalam membesarkan anak. Mengapa butuh strategi? Karena ini bukan hanya masalah membesarkan anak, karena anak akan besar dengan sendirinya. Namun lebih kepada pengkaderan anak itu sendiri. Ada strategi yang perlu dibuat dan disepakati bersama oleh suami-istri. Lalu, tugas Parent Leader lah untuk memastikan bahwa anak telah dididik sesuai dengan Grand Design.

Apa saja yang perlu ada di Grand Design?

  1. Edukasi
    Menentukan lembaga pendidikan pada anak. Apakah anak akan masuk ke SD atau Madrasah, atau mungkin pesantren, dan sebagainya. Menyesuaikan dengan tujuan akhir pengkaderan anak.
    Dalam prosesnya, Mas Reza tetap menghimbau agar orang tua tetap mendampingi anak dalam belajar dan memantau bagaimana perkembangannya meski sudah ada lembaga yang orang tua pilih untuk mengajarkan kepada anak-anak.
  2. Agama
    Menentukan bagaimana nilai-nilai agama dimasukkan ke pribadi seorang anak. Erat kaitannya dengan Edukasi, namun jika orang tua membagi antara edukasi dan agama, ada baiknya ada lembaga pendidikan agama yang mempu memberikan nilai tambah spiritual kepada anaknya.
    Fungsi orang tua adalah memastikan anak-anak selalu istiqomah dalam mengerjakan kebaikan, mengingatkan mereka jika mereka lalai, mensupport mereka dalam melakukan ibadah, dan tetap mencontohkan kepada mereka bagaimana akhlaq yang baik.
  3. Enterpreneur
    Mengapa ini perlu? Karena enterpreneur tidak hanya berfokus kepada bagaimana memulai dan mengembangkan usaha. Enterpreneur menurut Mas Reza juga penting untuk mengajarkan anak tentang kemandirian.
    Contohnya, memberikan upay berupa hadiah atau tambahan uang jajan jika anak mencuci alat makannya setelah makan.

Ada baiknya jika selama proses pendidikan anak berlangsung, ada saling komunikasi antara suami dan istri. Dari Grand Design yang telah dibuat, jangan sampai ada perilaku atau metode dari satu atau keduanya yang saling mematahkan. Jika berselisih paham, musyawarahkan dan cari solusi bagaimana jalan keluarnya. Apakah perlu ada perubahan program dari Grand Design yang telah dibuat atau tidak.

Lalu bagaimana jika ada pembantu (Mas Reza menyebutnya sebagai asisten keluarga) yang juga mengurus anak? Mas Reza menjelaskan bahwa selayaknya asisten yang dipilih adalah yang baik agamanya. Lebih lanjut seorang asisten juga selayaknya dibekali ilmu agama. Fungsinya tidak lain adalah untuk memastikan perilakunya tetap mengarah kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam prosesnya, apa yang diberikan asisten ini kepada anak harus diselaraskan antara program pendidikan anak kepada asisten keluarga agar apa yang mereka lakukan sesuai dengan tuntunan.

Mas Reza membagi proses komunikasi orang tua kepada anak menjadi 3 fase:

  • Fase pertama (anak umur 0-7 tahun)
    Komunikasi orang tua kepada anak adalah pengajaran nilai-nilai kebaikan dan agama. Bagaimana mereka bangga akan agama, cinta terhadap Rabb nya, dan cinta terhadap rasulnya. Pada postingan saya yang terdahulu, saya menyebutkan dalam suatu kajian bahwa usia 0-7 tahun adalah masa-masa “Golden Age”, dimana anak dapat dengan mudah menerima apapun yang diajarkan kepadanya.
  • Fase kedua (anak umur 7-14 tahun)
    Komunikasi yang dikedepankan adalah pendisiplinan kepada anak. Pada usia 7 tahun ke atas, anak sudah mengerti mana yang baik dan yang buruk. Tugas orang tua adalah mendisiplinkan anak ketika anak tidak sesuai dengan tuntunan agama. Contohnya adalah mendisiplinkan anak untuk sholat 5 waktu berjamaah di masjid.
  • Fase ketiga (diatas 14 tahun)
    Pada fase ini, anak sudah mempunyai pandangan sendiri akan dirinya. Sudah mampu untuk berjalan sendiri sesuai apa yang dikehendakinya. Mas Reza menyampaikan bahwa orang tua selayaknya mulai menjadikan dirinya sahabat bagi anak-anaknya. Komunikasi yang dibangun adalah komunikasi hati ke hati.

Demikian yang disampaikan oleh Mas Reza kepada kami. Semoga memberikan wawasan baru dalam mendidik anak. Dan bagi yang masih berstatus sebagai bujanghidin, selayakya memulai perencanaan terhadap pendidikan anak.

***

Hei, masih ingat dengan secarik kertas dan pena untuk menuliskan bagaimana harapanmu kepada anak-anakmu kelak?

Sekarang cobalah direnungkan, apakah harapan-harapan tersebut sudah tercipta dalam diri kita sendiri?

Jika kita menginingkan anak kita Hafidz, apakah kita setidaknya berusaha untuk menghafalkan Al-Qur’an? Jika kita menginginkan anak yang berbakti kepada orang tuanya, sejauh apa kita sudah berbakti kepada orang tua kita? Jika kita menginginkan anak yang berjuang di jalan dakwah, sudah sejauh apa kontribusi dakwah kita?

Lalu, berkaca tentang hubungan orang tua kepada anak, jika kita menginginkan hubungan yang baik kepada anak nantinya, sudahkah kita memperbaiki hubungan kita dengan orang tua kita?

 

Demikian, semoga menginspirasi,

Wallahu a’lam bisshowab,

 

-srf-

@saungkertas

Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Kenapa sih masukin parenting? ente aja belom nikah? Hehe, bukan gitu, Sob. Soalnya ane nih percaya kalo’ mau bentuk generasi sukses nantinya kudu dimulai dari orang tuanya. setuju teu? Nah, kalau mau generasi penerus kita ntar punya akhlak yang bagus, agama yang lurus, menurut, dan perilaku baik lainnya, maka kitalah yang harus jadi contohnya. Mendidik anak juga memberikan feedback baik kepada kita untuk terus memperbaiki diri. Hehe,,,bukankah memperbaiki diri juga memperbaiki jodoh ceunah? :p

Well, pagi ini saya blogwalking dan menemukan artikel-artikel bagus perihal parenting. Salah satu diantaranya bahkan berhasil mendidik anak-anaknya menjadi hafidz hafidzah pada usia dini.

By the way, ini adalah post pertama saya tentang parenting, dan karena saya anggap ini adalah cabang ilmu yang penting, dengan ini saya tambahkan ke salah satu sub categories dibawah “coretanku”.

Kali ini saya mengutip dari resume buku “Ayah Edy”. Salah satu buku parenting tentang kesalahan orang tua terhadap mendidik anaknya saat kecil yang ternyata berdampak sangat besar seiring dengan perkembangan anak. Apa saja kesalah orang tua dalam mendidik anak dalam buku ini? Berikut resumenya:

ayah_edy

1. Raja yang Tak Pernah Salah

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah.

Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.

Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis? Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit): ” Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”

2. Berbohong Kecil

Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, Mengapa? KArena mereka percaya sepenuhnya pada orang tuanya. Namun, ketika anak beranjak besar, ia sudah tidak menuruti perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudah tidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?

Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau yang ekstrem kita mengatakan, “Papa/Mama hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaar saja ya, Sayang.” Tapi ternyata, kita pulang malam. Contah lain yang sering kita lakukan ketika kita sedang menyuapi makan anak kita, “Kalo maemnya susah, nanti Papa?Mama tidak ajak jalan-jalan loh.” Padahal secara logika antara jalan-jalan dan cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.

Dari beberapa contah di atas, jika kita berbohong ringan atau sering kita istilahkan “bohong kecil”, dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapat membedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. akibat lebih lanjut, anak menganggap semua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong, anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian:

“Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut.”

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Sebaliknya bila pergi ke tempat selain kantor, anak pasti diajak orang tuanya. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.

3. Banyak Mengancam

“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh dan nggak ada yang mau menolong!”

“Jangan ganggu adik,nanti MAma/Papa marah!”

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Mama/Papa marah!”

Seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; dia tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata,namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan

Apa yang sebaiknya kita lakukan? .

Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan. Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Papa/Mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Papa/Mama akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau teriaka-teriakan. Atau kita bisa juga menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu,Papa/Mama akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain. Mainan akan Papa/Mama keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Tepati pernyataan kita dengan tindakan.

4. Bicara Tidak Tepat Sasaran

Pernahkah kita menghardik anak dengan kalimat seperti, “Papa/Mama tidak suka bila kamu begini/begitu!” atau “Papa/Mama tidak mau kamu berbuat seperti itu lagi!” Namun kita lupa menjelaskan secara rinci dan dengan baik, hal2 atau tindakan apa saja yang kita inginkan. Anak tidak pernah tahu apa yang diinginkan atai dibutuhkan oleh orang tuanya dalam hal berperilaku. Akibatnya anak terus mencoba sesuatu yang baru. Dari sekian banyak percobaan yang dilakukannya, ternyata selalu dikatakan salah oleh orang tuanya. Hal ini mengakibatkan mereka berbalik untuk dengan sengaja melakukan hal2 yang tidak disukai orang tuanya. Tujuannya untuk mrmbuat orang tuanya kesal sebagia bentuk kekesalan yang juga ia alami (tindakannya selalu salah di hadapan orang tua).

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Sampaikanlah hal2 atau tindakan2 yang kita inginkan atau butuhkan pada saat kita menegur mereka terhadap perilaku atau hal yang tidak kita sukai.Komunikasikan secara intensif hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan. Dan pada waktunya, ketika mereka sudah megalami dan melakukan segala hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan , ucapkanlah terimakasih dengan tulus dan penuh kasih sayang atas segala usahanya untuk berubah.

5. Menekankan pada Hal-hal yang salah

Kebiasaan ini hampir sama dengan kebiasaan di atas. Banyak orang tua yang sering mengeluhkan tentang anak2nya tidak akur, suka bertengkar. Pada saat anak kita bertengkar, perhatian kita tertuju pada mereka, kita mencoba melerai atau bahkan memarahi. Tapi apakah kita sebagai orang tua memperhatikan mereka pada saat mereka bermain dengan akur? Kita seringkali menganggapnya tidak perlu menyapa mereka karena mereka sedang akur. Pemikiran tersebut keliru, karena hak itu akan memicu mereka untuk bertengkar agar bisa menarik perhatian orang tuanya,

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Berilah pujian setiap kali mereka bermain sengan asyik dan rukun, setiap kali mereka berbagi di antara mereka dengan kalimat sederhana dan mudah dipahami, misal: ”Nah, gitu donk kalau main. Yang rukun.” Peluklah mereka sebagai ungkapan senang dan sayang.

6. Merendahkan Diri Sendiri

Apa yang anda lakukan kalau melihat anak anda bermain Playstation lebih dari belajar? Mungkin yang sering kita ucapkan pada mereka, “Woy… mati in tuh PS nya, ntar dimarahin loh sama papa kalo pulang kerja!” Atau kita ungkapkan dengan pernyataan lain, namun tetap dengan figur yang mungkin ditakuti oleh anak pada saat itu. Contoh pernyataan ancaman diatas adalah ketika yang ditakuti adalah figur Papa.

Perhatikanlah kalimat ancaman tersebut. Kita tidak sadar bahwa kita telah mengajarkan pada anak bahwa yang mampu untuk menghentikan mereka maen ps adalah bapaknya, artinya figure yang hanya ditakuti adalah sang bapak. Maka jangan heran kalau jika anak tidak mengindahkan perkataan kita karena kita tidak mampu menghentikan mereka maen ps.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Siapkanlah aturan main sebelum kita bicara; setelah siap, dekati anak, tatap matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin ia berhenti main sekarang atau berikan pilihan, misal “Sayang, Papa/Mama ingin kamu mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” bila jawabannya “lima menit lagi Pa/Ma”. Kita jawab kembali, “Baik, kita sepakat setelah lima menit kamu mandi ya. Tapi jika tidak berhenti setelah lima menit, dengan terpaksa papa/mama akan simpan PS nya di lemari sampai lusa”. Nah, persis setelah lima menit, dekati si anak, tatap matanya dan katakan sudah lima menit, tanpa tawar menawar atau kompromi lagi. Jika sang anak tidak nurut, segera laksanakan konsekuensinya.

7. Papa dan Mama Tidak Kompak

Mendidik abak bukan hanya tanggung jawab para ibu atau bapak saja, tapi keduanya. Orang tua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak2nya. Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi dirinya. Misal, seorang Ibu melarang anaknya menonton TV dan memintanya untuk mengerjakan PR, namun pada saat yang bersamaan, si bapak membela si anak dengan dalih tidak mengapa nonton TV terus agar anak tidak stress. Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan bapaknya baik, akibatnya setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal2 yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus mendukungnya. Contoh, ketika si Ibu mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap si Kakak, dan si Ayah mengatakan ,”Kakak juga sih yang mulai duluan buat gara2…”. Idealnya, si Ayah mendukung pernyataan, “Betul kata Mama, Dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati….”

8. Campur Tangan Kakek, Nenek, Tante, atau Pihak Lain

Pada saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak dan sepaham satu sama lain dalam mendidik anak-anak kita, tiba-tiba ada pihak ke-3 yang muncul dan cenderung membela si anak. Pihak ke-3 yang dimaksud seperti kakek, nenek, om, tante, atau pihak lain di luar keluarga inti.

Seperti pada kebiasaan ke-7 (Papa dan Mama tidak Kompak), dampak ke anak tetap negatif bila dalam satu rumah terdapat pihak di luar keluarga inti yang ikut mendidik pada saat keluarga inti mendidik; Anak akan cenderung berlindung di balik orang yang membelanya. Anak juga cenderung melawan orang tuanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak. Berikan pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik oleh para pihak ke-3.

9. Menakuti Anak

Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh para orang tua pada saat anak menangis dan berusaha untuk menenangkannya. Kita juga terbiasa mengancam anak untuk mengalihkan perhatiannya, “Awas ada Pak Satpam, ga boleh beli mainan itu!” Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau menangis, namun secara tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut atau benci pada institusi atau pihak yang kita sebutkan.

Sebaiknya, berkatalah jujur dan berikan pengertian pada anak seperti kita memberi pengertian kepada orang dewasa karena sesungguhnya anak2 juga mampu berpikir dewasa. Jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian dan tataplah matanya, “Kamu boleh menangis, tapi Papa/Mama tetap tidak akan membelikan permen.” Biarkan anak kita yang memaksa tadi menangis hingga diam dengan sendirinya.

10. Ucapan dan Tindakan Tidak Sesuai

Berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidk anak. Konsisten merupakan keseuaian antara yang dinyatakan dan tidakan. Anak memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji, dan ia sanga menghormati orang-orang yang menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji untuk memberi sanksi. So, jangan pernah mengumbar janji ada anak dengan tujuan untuk merayunya, agar ia mengikuti permintaan kita seperti segera mandi, selalu belajar, tidak menonton televisi. Pikirlah terlebih dahulu sebelum berjanji apakah kita benar-benar bisa memenuhi janji tersebut. Jika ada janji yang tidak bisa terpenuhi segeralah minta maaf, berikan alasan yang jujur dan minta dia untuk menentukan apa yang kita bisa lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu.

11. Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak

Acapkali kita tidak konsisten dengan pernyataan yang pernah kita nyatakan. Bila hal ini terjadi, tanpa kita sadari kita telah mengajari anak untuk melawan kita. Contoh klasik dan sering terjadi adalah pada saat kita bersama anak di tempat umum, anak merengek meminta sesuatu dan rengekennya menjadi teriakan dan ada gerak perlawanan. Anak terus mencari akal agar keinginnanya dikabulkan, bahkan seringkali membuat kita sebagai orang tua malu. Pada saat inilah kita seringkali luluh karena tidak sabar lagi dengan rengekan anak kita. Akhirnya kita mengiyakan keinginan si Anak. “Ya sudah;kamu ambil satu permennya. Satu saja ya!”

Pernyataan tersebut adalah sebagai hadiah bagi perilaku buruk si Anak. Anak akan mempelajarinya dna menerapkannya pada kesempatan lain bahkan mungkin dengan cara yang lebih heboh lagi.

Menghadapi kondisi seperti ini, tetaplah konsisten; tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua yang kikir atau tega. Orang beefikir demikian belum membaca buku tentang ini dan mengalami masalah yang sama dengan kita. Ingatlah selalu bahwa kita sedang mendidik anak, Sekali kite konsisten anak tak akan pernah mencobanya lagi. Tetaplah KONSISTEN dan pantang menyerah! Apapun alasannya, jangang pernah memberi hadiah pada perilaku buruk si anak.

12. Merasa Bersalah Karena Tidak Bisa Memberikan yang Terbaik

Kehidupan metropolitan telah memaksa sebagian besar orang tua banyak menghabiskan waktu di kantor dan di jalan raya daripada bersama anak. Terbatasnya waktu inilah yang menyebabkan banyak orang tua merasa bersalah atas situasi ini. Akibat dari perasaan bersalah ini, kita, para orang tua menyetujui perilaku buruk anaknya dengan ungkapan yang sering dilontarkan, “Biarlah dia seperti ini mungkin akrena saya juga yang jarang bertemu dengannya…”

Semakin kita merasa bersalah terhadap keadaan, semakin banyak kita menyemai perilaku buruk anak kita. Semakin kita memaklumi perilaku buruk yang diperbuat anak, akan semakin sering ia melakukannya. Sebagian besar perilaku anak bermasalah yang pernah saya (penulis) hadapi banyak bersumber dari cara berpikir orang tuanya yang seperti ini.

Apa yang sebaiknya kita lakukan? .

Apa pun yang bisa kita berikan secara benar pada anak kita adalah hal yang terbaik. Kita tidak bisa membandingkan kondisi sosial ekonomi dan waktu kita dengan orang lain. Tiap keluarga memiliki masalah yang unik, tidak sama. Ada orang yang punya kelebihan pada sapek finansial tapi miskin waktu bertemu dengan anak, dan sebaliknya. Jangan pernah memaklumi hal yang tidak baik. Lakukanlah pendekatan kualitas jika kita hanya punya sedikit waktu; gunakan waktu yang minim itu untuk bisa berbagi rasa sepenuhnya antara sisa2 tenaga kita, memang tidak mudah. Tapi lakukanlah demi mereka dan keluarga kita, anak akan terbiasa.

13. Mudah menyerah dan pasrah

Setiap manusia memiliki watak yang berbeda-beda, ada yang lembut dan ada yang keras. Dominan plegmatis adalah ciri atak yang dimiliki oleh sebagian orang tua yang kurang tegas, mudah menyerah, selalu takut salah dan cenderung mengalah, pasrah. Konflik ini biasanya terjadi bila seorang yang plegmatis mempunyai anak yang berwatak keras. Dalam kondisi kita sebagai orang tua yang tidak tegas dan mudah menyerah, si anak justru keras dan lebih tegas. Akibatnya dalam banyak hal, si anak jauh lebih dominan dan mengatur orang tuanya. Akibat lebih lanjut, orang tua sulit mengendalikan perilaku anaknya dan cenderung pasrah. Saya [penulis] sering mendengar ucapan dari para orang tua yang Dominan Plegmatis, “Duh… anak saya itu memang keras betul… saya sudah nggak sanggup lagi mengaturnya.” Atau “Biar sajalah apa maunya, saya sudah nggak sanggup lagi mendidiknya.”.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Belajarlah dan berusahalah dengan keras untuk menjadi lebih tegas dalam mengambil keputusan, tingkatkan watak keteguhan hati dan pantang menyerah. Jika perlu ambil orang orang yang kita anggap tegas untuk jadi penasihat harian kita.

14. Marah Yang Berlebihan

Kita seringkali menyamakan antara mendidik dengan memarahi. Perlu untuk selalu diingat, memarahi adalah salah satu cara mendidik yang paling buruk. Pada saat memarahi anak, kita tidak sedang mendidik mereka, melainkan melampiaskan tumpukan kekesalan kita karena kita tidak bisa mengatasi masalah dengan baik. Marah juga seringkali hanya berupa upaya untuk melemparkan kesalahan pada pihak lain [dan biasanya yang lebih lemah, kalo ama yang lebih kuat ya takut].

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jangan pernah bicara pada saat marah! Jadi tahanlah dengan cara yang nyaman untuk kita lakukan seperti masuk kamar mandi atau pergi menghindar sehingga amarah mereda. Yang perlu dilakukan adalah bicara “tegas” bukan bicara “keras”. Bicara yang tegas adalah dengan nada yang datar, dengan serius dan menatap wajah serta matanya dalam dalam. Bicara tegas adalah bicara pada saat pikiran kita rasional, sedangkan bicara keras adalah pada saat pikiran kita dikuasai emosi.

Satu contoh lagi yang kurang baik, pada saat marah biasanya kita emosi dan mengucapkan/melakukan hal hal yang kelak kita sesali, setelah ini terjadi, biasanya kita akan menyesal dan berusaha memperbaikinya dengan memberikan dispensasi atau membolehkan hal hal yang sebelumnya kita larang. Bila hal ini berlangsung berulang kali, maka anak kita akan selalu berusaha memancing amarah kita, yang ujung ujungnya si anak menikmati hasilnya. Anak yang sering dimarahi cenderung tidak jadi lebih baik kok.

15. Gengsi untuk menyapa

Kita pasti pernah mengalami bahwa kita terlanjur marah besar pada anak, biasanya amarah terbawa lebih dari sehari, akibat dari rasa kesal yang masih tersisa dan rasa gengsi, kita enggan menyapa anak kita. Masing masing pihak menunggu untuk memulai kembali hubungan yang normal.

Apa yang harus kita lakukan agar komunikasi mencair kembali? Siapa yang seharusnya memulai? Kita sebagai orangtua lah yang seharusnya memulai saat anak mulai menunjukkan tanda tanda perdamaian dan mengikuti keinginan kita. Dengan cara ini kita dapat menunjukkan pada anak bahwa kita tidak suka pada sikap sang anak, bukan pada pribadinya.

16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya

Ini biasanya terjadi pada kebanyakan orang tua konservatif. Misalnya melihat anak laki laki yang suka usil, nakal banget dan suka ngacak, orang tuanya cenderung mengatakan, “Yah… anak cowo emang harus bandel” atau saat melihat kakak adik lagi jambak jambakan, mamanya bilang “maklumlah… namanya juga anak anak”. Atau bahkan ketika si anak memukul teman atau mbaknya, orang tua masih juga sempat berkelit dengan mengatakan “ya begitu deh, maklumlah namanya juga anak anak. Nggak sengaja…”

Bila kita selalu memaklumi tindakan keliru yang dilakukan anak anak, otomatis si anak berpikir perilakunya sudah benar, dan akan jadi sangat buruk kalau terbawa sampai ke dewasa.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Kita tidak perlu memaklumi hal yang tidak perlu dimaklumi kok, kita harus mendidik setiap anak tanpa kecuali sesuai dengan sifat dasarnya. Setiap anak bisa dididik dengan tegas[ingat: bukan keras] sejak usia 2 tahun. Semakin dini usianya, semakin mudah untuk dikelola dan diajak kerja sama. Anak kita akan mau bekerja sama selama kita selalu mengajaknya dialog dari hati ke hati, tegas, dan konsisten. Ingat, tidak perlu menunggu hingga usianya beranjak dewasa, karena semakin bertambah usia, semakin tinggi tingkat kesulitan untuk mengubah perilaku buruknya.

17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya

Seberapa sering kita sebagai orang tua mengungkapkan pernyataan seperti “Awas ya, kalau kamu mau diajak sama mama/papa, tidak boleh nakal!” atau, “awas ya, kalau nanti diajak sama mama/papa, jangan bikin malu mama”, bisa juga terungkap, “kalo mau jalan jalan ke taman bermain, jangan macam macam ya”.

Nah, tanpa disadari kita seringkali menggunakan istilah istilah yang sulit dimengerti ataupun bermakna ganda. Istilah ini akan membingungkan anak kita. dalam benak mereka bertanya apa yang dimaksud dengan nakal, tingkah laku apa yang termasuk dalam kategori nakal, begitu pula dengan istilah “jangan macam macam”, perilaku apa yang termasuk kategori “macam macam”. Selain bingung, mereka juga akan menebak nebak arti dari istilah istilah tersebut.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bicaralah dengan jelas dan spesifik, misalnya “Sayang, kalau kamu mau ikut mama/papa, tidak boleh minta mainan, permen, dan tidak boleh berteriak teriak di kasir seperti kemarin ya”. Hal ini penting agar anak mengetahui batasan batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta jangan lupa menyepakati apa konsekuensinya bila kesepakatan ini dilanggar.

18. Mengharap perubahan instan

Kita terbiasa hidup dalam budaya yang serba instant, seperti mie instant, susu instant, teh instant. Sehingga kita anak berbuat salah, kita sering ingin sebuah perubahan yang instant pula, misal ketika biasa terlambat bangun, nggak beresin tempat tidur, sulit dimandikan, kita ingin agar anak kita berubah total dalan jangka waktu sehari.

Apabila kita sering memaksakan perubahan pada anak kita dalam waku singkat tanpa tahapan yang wajar, kemungkinan besar anak sulit memenuhinya. Dan ketika ia gagal dalam memenuhi keinginan kita, ia akan frustasi dan tidak yakin bisa melakukanannya lagi. Akibatnya ia memilih untuk melakukan perlawanan seperti banyak bikin alasan, acuh tak acuh, atau marah marah pada adiknya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jika kita mengharapkan perubahan kebiasaaan pada anak, berikanlah waktu untuk tahapan tahapan perubahan yang rasional untuk bisa dicapainya. Hindari target perubahan yang tidak mungkin bisa dicapainya. Bila mungkin, ajaklah ia untuk melakukan perubahan dari hal yang paling mudah. Biarkanlah ia memilih hal yang paling mudah menurutnya untuk diubah. Keberhasilannya untuk melakukan perubahan tersebut memotivasi anak untuk melakukan perubahan lainnya yang lebih sulit. Puji dan jika perlu rayakan keberhasilan yang dicapainya, sekecil dan sesederhana apapun perubahan itu. Hal ini untuk menunjukkan betapa seriusnya perhatian kita terhadap usaha yang telah dilakukannya. Pusatkan perhatian dan pujian kita pada usahanya, bukan pada hasilnya.

19. Pendengar yang buruk

Sebagian besar orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak anaknya. Benarkah? Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua lebih suka menyela, langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal usul kejadiannya.

Sebagai contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya pulangnya siang, dia datang di sore hari. Kita tidak mendapat keterangan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita kesal menunggu dan sekaligus khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak bicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya ia amalah tidak mau bicara dan marah pada kita.

Bila kita tidak berusaha mendengarkan mereka, maka mereka pun akan bersikap seperti itu pada kita dan akan belajar mengabaikan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka mulai saat ini jadilah pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapannya. Ajukan pertanyaan pertanyaan untuk menunjukkan ketertarikan kita akan persoalan yang dihadapinya.

20. Selalu menuruti permintaan anak.

Apakah anak kita adalah anak semata wayang? Atau anak laki laki yang ditunggu tunggu dari beberapa anak perempuan kakak-kakaknya? Atau mungkin anak yang sudah bertahun tahun ditunggu tunggu? Fenomena ini seringkali menjadikan orang tua teramat sayang pada anaknya sehingga ia menerapkan pola asuh open bar, atau mo apa aja boleh atau dituruti.

Seperti Radja Ketjil, semakin hari tuntutannya semakin aneh dan kuat, jika ini sudah menjadi kebiasaan akan sulit sekali membendungnya. Anak yang dididik dengan cara ini akan menjadi anak yang super egois, tidak kenal toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Betapapun sayangnya kita pada anak, jangan lah pernah memberlakukan pola asuh seperti ini. Rasa sayang tidak harus di tunjukkan dengan menuruti segala kemauannya. Jika kita benar sayang, maka kita harus mengajarinya tentang nilai baik dan buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang nggak. Jika tidak, rasa sayang kita akan membuat membuatnya jadi anak yang egois dan ‘semau gue’. Inilah yang dalam bahasa awam sering disebut anak manja.

21. Terlalu Banyak Larangan

Ini adalah kebalikan dari kebiasaan di atas. Bila Kita termasuk orang tua yang berkombinasi Melankolis dan Koleris, kita mesti berhati2 karena biasanya kombinasi ini menghasilkan jenis orang tua yang “Perfectionist”. Orang tua jenis ini cenderung ingin menjadikan anak kita seperti apa yang kita inginkan secara SEMPURNA, kita cenderung membentuk anak kita sesuai dengan keinginan kita; anak kita harus begini tidak boleh begitu; dilarang melakukan ini dan itu.

Pada saatnya anak tidak tahan lagi dengan cara kita. Ia pun akan melakukan perlawanan, baik dengan cara menyakiti diri (jika anak kita tipe sensitive) atau dengan perlawanan tersembunyi (jika anak kita tipe keras) atau dengan perang terbuka (jika anak kita tipe ekspresif keras). Oleh karena itu, kurangilah sifat perfeksionis kita, Berilah izin kepada anak untuk melakukan banyak hal yang baik dan positif. Berlatihlah untuk selalu berdialog agar kita bisa melihat dan memahami sudut pandang orang lain. Bangunlah situasi saling mempercayai antara anak dan kita. Kurangilah jumlah larangan yang berlebihan dengan meminta pertimbangan pada pasangan kita. Gunakan kesepakatan2 untuk memberikan batas yang lebih baik. Misal, kamu boleh keluar tapi jam 9 malam harus sudah tiba di rumah. Jika kemungkinan pulang terlambat, segera beri tahu Papa/Mama.

22. Terlalu Cepat Menyimpulkan

Ini adalah gejala lanjutan jika kita sebagai orang tua yang mempunyai kebiasaan menjadi pendengar yang buruk. Kita cenderung memotong pembicaraan pada saat anak kita sedang memberi penjelasan, dan segera menentukan kesimpulan akhir yang biasanya cenderung memojokkan anak kita. Padahal kesimpulan kita belum tentu benar, dan bahan seandainya benar, cara seperti ini akan menyakitkan hati anak kita.

Seperti contoh anak yang pulang terlambat. Pada saat anak kita pulag terlambat dan hendak menjelaskan penyebabnya, kita memotong pembicaraannya dengan ungkapan, “Sudah! Nggak pake banyak alesan.” Atau “Ah, Papa/Mama tahu, kamu pasti maen ke tempat itu lagi kan?!”.

Jika kita melakukan kebiasaan ini terus menerus, anak akan berpikir kita adalah orang tua ST 001 [alias Sok Tau Nomor Satu], yang tidak mau memahami keadaan dan menyebalkan. Lalu mereka tidak mau bercerita atau berbicara lagi, dan akibat selanjutnya sang anak akan benar benar melakukan hal hal yang kita tuduhkan padanya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat kita lagi, dan pada tahapan terburuk, dia akan pergi pada saat kita sedang berbicara padanya. Pernahkah anda mengalami hal ini?

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jangan pernah memotong pembicaraan dan mengambil kesimpulan terlalu dini. Tak seorang pun yang suka bila pembicaraannya dipotong, apalagi ceritanya disimpulkan oleh orang lain.

Dengarkan, dengarkan, dan dengarkan sambil memberikan tanggapan positif dan antusias. Ada saatnya kita akan diminta bicara, tentunya setelah anak kita selesai dengan ceritanya. Bila anak sudah membuka pertanyaan, “menurut Papa/Mama bagaimana?” artinya ia sudah siap untuk mendengarkan penuturan atau komentar kita.

23. Mengungkit kesalahan masa lalu

Kebiasan menjadi pendengar yang buruk dan terlalu cepat menyimpulkan akan dilanjutkan dengan penutup yang tidak kalah menyakitkan hati anak kita, yakni dengan mengungkit ungkit catatan kesalahan yang pernah dibuat anak kita. Contohnya, “Tuh kan Papa/Mama bilang apa? Kamu tidak pernah mau dengerin sih, sekarang kejadian kan. Makanya dengerin kalau orang tua ngomong. Dasar kamu emang anak bodo sih.”

Kita berharap dengan mengungkit kejadian masa lalu, anak akan belajar dari masalah. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan sakit hati dan berusaha mengulangi kesalahannya sebagai tindakan balasan dari sakit hatinya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jika kita tidak ingin anak berperilaku buruk lagi, jangan lah diungkit ungkit masa lalunya. Cukup dengan tatapan mata, jika perlu rangkullah ia. Ikutlah berempati sampai dia mengakui kesalahan dan kekeliruannya. Ucapkan pernyataan seperti “manusia itu tempatnya salah dan lupa, semoga ini menjadi pelajaran berharga buat kamu”, atau “Papa/mama bangga kamu bisa menemukan hikmah positif dari kejadian ini”. Jika ini yang kita lakukan, maka selanjutnya dia akan lebih mendengar nasehat kita. Coba dan buktikanlah!.

24. Suka Membandingkan

Hal yang paling menyebalkan adalah saat kita dibandingkan dengan orang lain. Bila kita sedang berada di suatu acara dan bertemu dengan orang yang berpakaian hampir sama atau berwarna sama, kita merasa tidak nyaman untuk berdekatan. Apalagi jiak disbanding bandingkan [FTR, saya tidak merasa seperti ini lho!]

Secara psikologis, kita sangat tdiak suka bila keberadaan kita baik secara fisik atau sifat sifat kita dibandingkan dengan orang lain. Coba ingat ingatlah pengalaman kita saat ada orang yang membandingkan kita, bagaimana perasaan kita saat itu?

Tetapi anehnya, kebanyakan orang tua entah kenapa justru sering melakukan hal ini pada anaknya. Misal membandingkan anak yang malas dengan yang rajin. Anak yang rapi dengan yang gedabrus. Anak yang cekatan dengan anak yang lamban. Terutama juga anak yang mendapat nilai tinggi di sekolah dengan anak yang nilainya rendah. Ungkapan yang sering terdengar biasanya seperti, “Coba kamu mau rajin belajar kayak adik mu, maka pasti nilai kamu tidak seperti ini!”.

Jika kita tetap melakukan kebiasaan ini, maka ada beberapa akibat yang langsung kita rasakan; anak kita makin tidak menukai kita. anak yang dibandingkan akan iri dan dengki dengan si pembanding. Anak pembanding akan merasa arogan dan tinggi hati.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Tiap manusia terlahir dengan karakter dan sifat yang unik. Maka jangan sekali kali membandingkan satu dengan yang lainnya. Catatlah perubahan perilaku masing masing anak. Jika ingin membandingkan, bandingkanlah dengan perilaku mereka di masa lalu, ataupun dengan nilai nilai ideal yang ingin mereka capai. Misalnya, “Eh, biasanya anak papa/mama suka merapikan tempat tidur, kenapa hari ini nggak ya?”

25. Paling benar dan paling tahu segalanya

Egosentris adalah masa alamiah yang terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Usia tersebut adalah masa ketika anak merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya. Tapi entah mengapa ternyata sifat ini terbawa dan masih banyak dimiliki oleh para orang tua. Contoh ungkapan orang tua, “ah kamu ini anak bau kencur, tau apa kamu soal hidup.” Atau, “kamu tau nggak, kalo papa/mama ini sudah banyak makan asam garam kehidupan, jadi nggak pake kamu nasehatin papa/mama!”.

Jika kita memiliki kebiasaan semacam ini, maka kita membuat proses komunikasi dengan anak mengalami jalan buntu. Meskipun maksud kita adalah untuk menunjukkan superioritas kita di depan anak, tapi yang ditangkap anak adalah semacam kesombongan yang luar biasa, dan tentu saja tak seorang pun mau mendengarkan nasehat orang yang sombong.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Seringkali usia dijadikan acuan tentang banyaknya pengetahuan juga banyaknya pengalaman. Pada zaman dulu hal ini bisa jadi benar, namun untuk saat ini, kondisi itu tidak berlaku lagi. Siapa yang lebih banyak mendapatkan informasi dan mengikuti kegiatan kegiatan, maka dialah yang lebih banyak tahu dan berpengalaman.

Jadi janganlah merasa menjadi orang yang paling tahu, paling hebat, paling alim. Dengarkanlah setiap masukan yang datang dari anak kita.

26. Saling melempar tanggung jawab

Mendidik anak terutama menjadi tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu. Bila kedua belah pihak merasa kurang bertanggung jawab, maka proses pendidikan anak akan terasa timpang dan jauh dari berhasil. Celakanya lagi, bila orang tua sudah mulai merasakan dampak perlawanan dari anak anaknya, yang sering terjadi malah saling menyalahkan satu sama lain.

Pernyataan yang kerap muncul adalah, “kamu emang nggak becus ngedidik anak”, dan kemudian dibalas “enak aja lo ngomong begitu, nah kamu sendiri, selama ini kemana aja?!”. Jika cara ini yang dipertahankan di keluarga, akankah menyelesaikan masalah? Tunggu saja hasilnya, pasti orang tua lah yang akan menuai hasilnya, sang anak akan merasa perilaku buruknya adalah bukan karena kesalahannya, tapi karena ketidak becusan salah satu dari orang tuanya. Jelas anak kita akan merasa terbela dan semakin berperilaku buruk.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Hentikan saling menyalahkan. Ambillah tanggung jawab kita selaku orang tua secara berimbang.keberhasilan pendidikan ada di tangan orang tua. Pendidikan adalah kerja sama tim, da bukan individu. Jangan pakai alasan tidak ada waktu, semua orang sama sama memiliki waktu 24 jam sehari, jadi aturlah waktu kita dengan berbagai macam cara dan kompaklah selalu dengan pasangan kita.

Selalu lakukan introspeksi diri sebelum introspeksi orang lain.

27. Kakak harus selalu mengalah

Di negeri ini terdapat kebiasaan bahwa anak yang lebih tua harus selalu mengalah pada saudaranya yang lebih muda. Tampaknya hal itu sudah menjadi budaya. Tapi sebenarnya, adakah dasar logikanya dan dimana prinsip keadilannya?

Ada satu contoh nyata seperti berikut:

Ada seorang kakak beradik, kakak bernama Dita dan adik bernama Rafiq. Neneknya selaku pengasuh utama selalu memarahi Dita ketika Rafiq menangis. Tanpa mengetahui duduk persoalan serta siapa yang salah dan benar, si Nenek selalu membela si adik dan melimpahkan kesalahan pada kakaknya. “Kamu ini gimana sih? Sudah besar kok tidak mau mengalah ama adiknya.” Begitulah ucapan yang keluar dari mulut si Nenek. Terkadang dibumbui dengan cubitan pada kakaknya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Dita menjadi anak yang tidak memiliki rasa percaya diri. Ia pun mulai membenci adiknya. Lama kelamaan Dita mulai banyak melawan atas ketidak adilan ini, dan yang terjadi kemudian adalah kedua bersaudara ini makin sering bertengkar. Sementara Rafiq yang selalu dibela bela menjadi makin egois dan makin berani menyakiti kakaknya, selalu merasa benar dan memberontak. Sang nenek perlahan lahan menobatkan Radja Ketjil yang lalim di tengah keluarga ini.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Anak harus diajari untuk memahami nilai benar dan salah atas perbuatannya terlepas dari apakah dia lebih muda atau lebih tua. Nilai benar dan salah tidak mengenal konteks usia. Benar selalu benar dan salah selalu salah berapapun usia pelakunya.

Berlakulah adil. Ketahuilah informasi secara lengkap sebelum mengambil keputusan. Jelaskan nilai benar dan salah pada masing masing anak, buat aturan main yang jelas yang mudah dipahami oleh anak anak anda.

28. Menghukum secara fisik

Dalam kondisi emosi, kita cenderung sensitif oleh perilaku anak, dimulai dengan suara keras, dan kemudian meningkat menjadi tindakan fisik yang menyakiti anak.

Jika kita terbiasa dengan keadaan ini, kita telah mendidiknya menjadi anak yang kejam dan trengginas, suka menyakiti orang lain dan membangkang secara destruktif. Perhatikan jika mereka bergaul dengan teman sebayanya. Percaya atau tidak, anak akan meniru tindakan kita yang suka memukul. Anak yang suka memukul temannya pada umumnya adalah anak yang sering dipukuli di rumahnya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jangan pernah sekalipun menggunakan hukuman fisik kepada anak, mencubit, memukul, atau menampar bahkan ada juga yang pakai alat seperti cambuk, sabuk, rotan, atau sabetan.

Gunakanlah kata kata dan dialog, dan jika cara dialog tidak berhasil maka cobalah evaluasi diri kita. Temukanlah jenis kebiasaan yang keliru yang selama ini telah kita lakukan dan menyebabkan anak kita berperilaku seperti ini.

29. Menunda atau membatalkan hukuman

Kita semua tahu bahaya yang luar biasa dari merokok, mulai dari kanker, impotensi, sampai gangguan kehamilan dan janin. Tapi mengapa masih banyak yang tidak peduli dan tetap membandel untuk terus menjadi ahli hisap? Jelas karena akibat dari rokok itu terjadi kemudian dan bukan seketika itu juga.

Begitu juga dengan anak kita. Jika anda menjanjikan sebuah konsekuensi hukuman atau sanksi bila anak berperilaku buruk, jangan menunggu waktu yang terlalu lama, menunda, atau bahkan membatalkan karena alasan lupa atau kasihan.

Bila telah terjadi kesepakatan antara kita dan anak seperti tidak boleh minta minta dibelikan permen atau mainan dan ternyata anak mencoba coba untuk merengek, kita ingatkan kembali pada kepadanya tentang kesepakatan yang kita buat bersama. Anak biasanya akan berhenti merengek. Namun sayangnya kietika anak berhenti merengek , kita menganggap masalah susah selesai dan akhirnya kita menunda atau bahkan membatalkan hukuman entah karena lupa atau kasihan. Apa akibatnya? Anak akan mempunya anggapan bahwa kita hanya omong doang, maka mereka akan mempunya tendensi untuk melanggar kesepakatan karena hukuman tidak dilaksanakan.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jila kita sudah mempunyai kesepakatan dan anak melanggarnya, maka sanksi harus dilaksanakan, jika kita kasihan, kita bisa mengurangi sanksinya, dan usahakan hukumanya jangan bersifat fisik, tapi seperti pengurangan bobot kesukaan mereka seperti jam bermain, menonton tv, ataupun bermain video game.

30. Terpancing Emosi

Jika ada keinginannya yang tidak terpenhi anak sering kali rewel atau merengak, menagis, berguling dsb, dengan tujuan memancing emosi kita yang apda kahirnya kita marah atau malah mengalah. Jika kita terpancing oleh emosi anak, anak akan merasa menang, dan merasa bisa megendalikan orang tuanya. Anak akan terus berusaha mengulanginya pada kesempatan lain dengan pancingan emosi yang lebih besar la gi.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, dan tidak menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya bahwa tangisannya tidak akan mengubah keputusan kita. Bila anak tidak menangis tapi tetap berulah, kita katakan saja bahwa kita akan mempertimbangkan keputusan kita dengan catatan si anak tidak berulah lagi. Setelah pernyataan itu kita keluarkan, lakukan aksi diam. Cukup tatap dengan mata pada anak kita yang berulah, hingga ia berhenti berulah, Bila proses ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit tabahlah untuk melakukannya. Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan kita; dan jangan pula ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang berulah tadi… SEKALI KITA BERHASIL MEMBUAT ANAK KITA MENGALAH, MAKA SELANJUTNYA DIA TIDAK AKAN MENGULANGI UNTUK YANG KEDUA KALINYA.

31. Menghukum Anak Saat Kita Marah

Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata2 maupun hukuman akan cenderung menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak lebih baik. Kejadin tersebut akan membekas meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa mendendam pada orang tuanya karena sering mendapatkan perlakuan di luar batas.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

  • Bila kita sedang sangat marah segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk bisa menurunkan amarah kita dengan segera.
  • Saat marah kita cenderung memberikan hukuman yang seberat2ya pada anak kita, dan hanya akan menimbulkan perlawanan baru yang lebih kuat dari anak kita, sementara tujuan pemberian sanksi adalah untuk menyadarkan anak supaya ia memahami perilaku buruknya. Setelah emosi reda, barulah kita memberikan hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuat. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik bukan menyakiti. Pilihlah bentuk sanksi atau hukuman yang mengurangi aktivitas yang disukainya, seperti mengurangi waktu main game, atau bermain sepeda.

32. Mengejek

Orang tua yang biasa menggoda anaknya, seringkali secara tidak sadar telah membuat anak menjadi kesal. Dan ketika anak memohon kepada kita untuk tidak menggodanya, kita malah semakin senang telah berhasil membuatnya kesal atau malu. Hal ini akan membangun ketidaksukaan anak pada kita dan yang sering terjadi anak tidak menghargai kita lagi. Mengapa? Karena ia menganggap kita juga seperti teman2nya yang suka menggodanya,

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Jika ingin bercanda dengan anak kita, pilihlan materi bercanda yang tidak membuatnya malu atau yang merendahkan dirinya. Akan jauh lebih baik jika seolah-olah kitalah yang jadi badut untuk ditertawakan. Anak kita tetap aka n menghormati kita sesudah acara canda selesai. Jagalah batas2 dan hindari bercanda yang bisa membuat anak kesal apalagi malu. Bagimana caranya? Lihat ekspresi anak kita. Apakah kesal dan meminta kita segera menghentikannya? Bila ya, segeralah hentikan dan jika perlu meminta maaflah ayas kejadian yang baru terjadi. Katakan bahwa kita tidak bermaksud merendahkannya dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

33. Menyindir

Terkadang karena saking marahnya orang tua sering mengungkapkannya dengan kata2 singkat yang pedas dengan maksud menyindir, seperti, “Tumben hari gini sudah pulang”, atau “Sering2 aja pulang malem!” atau”Memang kamu pikir Mama/Papa in satpam yang jaga pintu tiap malam?”.

Kebiasaan ini tidak akan membuat anak kita menyadari akan perilaku buruknya tapi malah sebaliknya akan mebuat ia semakin menjadi-jadi dan menjaga jarak dengan kita. Kita telah menyakiti hatinya dan membuatnya tidak ingin berkomunikasi dengan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Katakanlah secara langsung apa yang kita inginkan dengan kalimat yang tidak menyinggung perasaan, memojokkan bahkan menyakiti hatinya. Katakan saja, “Sayang, Papa/Mama khawatir akan keselamatan kamu lho kalo kamu pulang terlalu malam”. Dan sejenisnya.

34. Memberi julukan yang buruk

Kebiasaan memberikan julukan yang buruk pada anak bisa mengakibatkan rasa rendah diri, tidak percaya diri/mimder, kebencian juga perlawanan. Adakalanya anak ingin membuktikan kehebatan julukan atau gelar tersebut pada orang tuanya.

Solusinya

Mengganti julukan buruk dengan yang baik, seperti, anak baik, anak hebat, anak bijaksana. Jika tidak bisa menemukannya cukup dengan panggil dengan nama kesukaannya saja.

35. Mengumpan Anak yang Rewel

Pada saat anak marah, merengek atau menangis, meminta sesuatu de ngan memaksa, kita biasanya mengalihkan perhatiannya kepada hal atau barang lain. Hal ini dimaksudkan supaya anak tidak merengek lagi. Namun yang terjadi malah sebaliknya, rengekan anak semakin menjadi-jadi. Contohnya, anak menangis karena ia minta dibelikan mainan, Kemusian kita berusaha membuatnya diam dengan berusaha mengalihkan perhatiannya seperi, ” Tuh lihat tuh ada kakak pake baju warna apa tuh…”atau” Lihat ini lihat, gambar apa ya lucu banget?”

Ingatlah selalu, pada saat anak kita sedang fokus pada apa yang diinginkannya, ia akan memancing emosi kita dan emosinya sendiri akan menjadi sensitif. Anak kita pada umumnya adalah anak yang cerdas. ia tidak ingin diakihkan ke hal lain jika masalah ini belum ada kata sepakat penyelesaiannya. Semakin kita berusaha mengalihkan ke hal lain, semakin marah lah anak kita.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Selesaikan apa yang diinginkan oleh anak kita dengan membicarakannya dan membuat kesepakatan di tempat, jika kita belum sempat membuat kesepakatan di rumah. Katakan secara langsung apa yang kita inginkan terhadap permintaan anak tesebut, seperti “Papa/Mama belum bisa membelikan mainan itu saat ini. Jika kamu mau harus menabung lebih dahulu. Nanti Papa/Mama ajari cara menabung. Bila kamu terus merengak kita tidak jadi jalan-jalan dan langsung pulang.” Jika kalimat ini yang kita katakan dan anak kita tetap merengek, segeralah kita pulang meski urusan belanja belum selesai, Untuk urusan belanja kita masih bisa menundanya. Tapi jangan sekali-kali menunda dalam mendidik anak.

36. Televisi sebagai agen Pendidikan Anak

Perilaku anak terbentuk karena 4 hal:

berdasar kepada siapa yang lebih dulu mengajarkan kepadanya: kita atau TV?

oleh siapa yang dia percaya: apakah anak percaya pada kata2 kita atau ketepatan wakyu program2 TV?

oleh siapa yang meyampaikannya lebih menyenangkan: apakah kita menasehatinya dengan cara menyenangkan atau program2 TV yang lebih menyenangkan?

oleh siapa yang sering menemaninya: kita atau TV?

Apa yang seharusnya kita lakukan?

  • Bangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi 4 hal tersebut yang menjadi faktor pembentuk perilaku anak kita.
  • Menggantinya dengan kegiatan di rumah atau di luar rumah yang padat bagi anak2nya.
  • Gantilah program TV dengan film2 pengetahuan yang lebih mendidik dan menantang mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan edukatif.

37. Mengajari Anak untuk Membalas

Sebagian anak ada yang memiliki kecenderungan suka memukul dan sebagian lagi menjadi objek penderita dengan lebih banyak menerima pukulan dari rekan sebayanya. Sebagian orang tua biasanya tidak sabar melihat anak kita disakiti dan memprovokasi anak kita unutuk membalasnya. Hal ini secara tidak langsung mengajari anak balas dendam. Sebab pada saat itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang kita ajarkan saat itu akan membekas. Jangan kaget bila anak kita sering membalas atau membalikkan apa yang kita sampaikan kepadanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?:

  • mengajarkan anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti.
  • Menyampaikan pada orang tua yang bersangkutan bahwa anak kita sering mendapat perlakuan buruk dari anaknya.
  • ajaklah orang tua anak yang suka memukul untuk mengikuti program parenting baik di radio atau media lainnya.

 

sumber rangkuman: http://tjokroaminoto360.wordpress.com/

 

-srf-