Rss

Archives for : December2014

Menumbuhkan Cinta Suami Istri

Bagi pengantin baru, kadang ada rasa canggung dan ragu, apakah suami telah mencintainya. Dan jika ia pengantin pria, apakah istri telah mencintainya. Ini pula yang dialami oleh seorang laki-laki dari Bani Balja’ah. Ia baru saja menikah, tetapi ia khawatir istrinya tidak mencintainya. Lalu ia pun menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi yang tidak diragukan keilmuannya.

“Aku baru saja menikah dengan seorang gadis,” kata lelaki itu kepada Abdullah bin Mas’ud, “tetapi aku takut ia tidak mencintaiku”

Abdullah bin Mas’ud lantas memberinya solusi, “Rasa cinta itu berasal dari Allah dan rasa benci itu datangnya dari setan untuk menimbulkan kebencian terhadap apa yang telah dihalalkan Allah. Karena itu, jika engkau menemuinya, ajaklah ia shalat dua raka’at di belakangmu, lalu bacalah doa:

اللهم بارك لي في أهلي وبارك لهم في اللهم ارزقني منهم وارزقهم مني اللهم اجمع بيننا ما جمعت إلى خير وفرق بيننا إذا فرقت إلى خير

Ya Allah berkahilah aku pada keluargaku dan berkahilah mereka pada diriku. Ya Allah, karuniailah aku rezeki karena keluargaku dan karuniailah mereka rezeki karena diriku. Ya Allah, satukanlah kami selama itu demi kebaikan dan pisahkanlah kami selama itu demi kebaikan”

Dalam kesempatan yang berbeda, Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu juga menasehatkan hal senada. “Ajaklah istrimu shalat dua rakaat di belakangmu, kemudian peganglah ubun-ubunnya dan mohonlah kepada Allah kebaikannya dan berlindunglah kepada Allah dari keburukannya”

Doa yang dimaksudkan Abu Dzar adalah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa (HR. Abu Daud)

Demikianlah resep menumbuhkan cinta suami istri dari sahabat Nabi. Generasi terbaik itu sadar betul bahwa cinta adalah anugerah Allah. Cinta berasal dari Allah dan Allah-lah yang kuasa membuat hati seseorang mencintai istri atau suaminya. Maka jika suami istri ingin saling mencintai, mintalah kepada Allah. Rumus ini tidak hanya berlaku bagi pengantin baru, tetapi juga berlaku untuk pasangan suami istri yang telah menikah sekian tahun lamanya. Jika istri merasa suaminya kurang mencintainya, jika suami merasa istrinya kurang mencintai dirinya, maka berdoalah kepada Allah. Mintalah kepadaNya.

Di samping itu, tumbuhkanlah suasana spiritual di dalam rumah tangga. Beribadah bersama. Insya Allah doa lebih terijabah karenanya dan cinta pun bersemi dengan indahnya

 

sumber: keluargacinta

Komplikasi Pernikahan

Hijapedia-Its-Your-Community-63

Barangkali ini adalah tulisan untuk meluruskan adanya pendapat parsial tentang pernikahan. Ada banyak saudara-saudara kita yang melihat pernikahan dengan sebelah mata atau bahkan sambil memejamkannya, tanpa mau menyaksamai dengan menyeluruh.

Alhasil, parsialnya sudut pandang yang digunakan ini berakibat fatal. Dalam tahap kritis, sebab keparsialannya itu, cerai adalah akibat terburuk saat pernikahan baru berumur jagung. Mengenaskan, bukan?

Cara kerja pandangan ini ada pada perbedaan drastis antara ekspektasi dengan fakta. Ketika keduanya berbeda amat jauh, kemudian pelakunya tak bisa menyikapinya dengan bijak, biduk pernikahan itu pun bisa langsung hancur meski angin dan ombak yang menghampiri amat jauh dari kriteria tuk layak disebut badai.

Umumnya, keparsialan pandangan yang berujung pada salah paham ini terdapat pada tiga tempat. Sebelum, ketika dan setelah menikah. “Sebelum” bisa bermakna jauh-jauh hari atau mendekati, “ketika” adalah msa dimulainya akad nikah dan beberapa waktu setelahnya, sedangkan “setelah” merupakan masa ketika biduk rumah tangga telah berjalan melalui berbagai pelabuhan kehidupan.

SEBELUM PERNIKAHAN
Menikah itu indah. Ia adalah paduan antara taman, bunga, buah, pelangi, bahagia, sumringah, gembira dan sejenisnya. Menikah adalah tentang bulan madu, makan berdua, saling suap, selimut dalam sunyi, tidur tak lagi sendiri, perhatian tanpa batas dan madu-madu lainnya.

Pandangan-pandangan sejenis ini, sama sekali tak salah sepenuhnya. Hanya saja, mereka tak sisakan ruang kecewa di dalamnya. Alhasil, semua pendapat, imajinasi dan pandangan tentang menikah hanya tentang satu kata: bahagia. Padahal faktanya tak selalu seperti itu.

Pernikahan amat picik jika hanya dimaknai dengan satu kata bernama bahagia.

KETIKA PERNIKAHAN
Hari ini, kedua insan serasa menjadi Raja dan Ratunya. Diperhatikan seluruh yang hadir, menjadi bahan perbincangan, senyum menghias bibir, tergambar dalam rona wajah dan gerak tubuh. Ditambah dengan hiasan yang enak dilihat, aroma yang nyaman di-indra dan suara pengiring yang membuat semua hadirin betah tuk tak beranjak. Sempurna.

Suasana bahagia sehari-semalaman itu pun bertahan hingg beberapa pekan. Apalagi dalam romantisme pengantin baru yang biasanya bertahan dalam hitungan bulan, meski ada yang tetap bisa menjaganya hingga usia pernikahannya berbilang puluhan tahun.

SETELAH PERNIKAHAN
Barangkali, bulan madu harus segera berlalu. Ketika kedua pasangan langsung dikaruniai anak, maka tak ada lagi waktu bermalas-malasan, apalagi sekadar tidur-tiduran. Ada anak yang harus dipenuhi kebutuhannya selain istri yang harus diberikan haknya. Seiring berjalannya masa, harus pula dipikirkan tentang rumah bagi kediaman dan kebutuhan pokok lainnya yang tak bisa ditawar.

Belum lagi percikan masalah lain yang mustahil untuk dibincang satu persatu. Tentang pasangan hidup yang ternyata egois dan pemarah, misalnya. Pasangan yang tak sebaik perkiraan sebelumnya, mertua dan keluarga pasangan yang awalnya memang asing dan butuh banyak penyesuaian, serta tetangga-tetangga baru dan banyak lagi persoalan lainnya.

Ketika pun, misalnya, dalam waktu yang lama kedua pasangan tetap belum dikaruniai buah hati, tentulah hal itu menjadi masalah lain. Komentar keluarga pasangan dan tetangga terkait kemandulan diri atau pasangan kita, tidak harmonis, dan lain sebagainya.

Tentu, persoalan tak berhenti sebab banyak hal yang memang harus diselesaikan. Apalagi keberadaan keturunan dalam rumah tangga adalah harapan kebaikan yang dengannya bisa memperbanyak keturunan seeorang.

Begitupun dengan persoalan-persoalan lainnya yang akan senantiasa ada dalam perjalanan pernikahan sepasang manusia. Barangkali, masalah-masalah itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa menikah dijanjikan pahala yang banyak. Sebab ujiannya juga tak ringan.

Maka yang terpenting, lihatlah pernikahan secara menyeluruh dan miliki ilmu sebelum bergegas menggenapkan ibadah muia itu. Bukan soal ujiannya, karena itu kepastian. Bahkan tak menikah pun, ada ujiannya sendiri. Ini lebih pada bagaimana menyikapi ujian pernikahan yang memang akan selalu ada dan bertambah.

Jadi, pernikahan bukan hanya tentang bahagia. Tapi juga tentang sedih yang menyayat hati dan dibutuhkan ilmu tuk menyikapinya.

 

sumber: keluargacinta

Media Sosial Merusak Rumah Tangga

path-app-smartphone

Media sosial -baik itu Facebook, Twitter, Path maupun lainnya- memiliki banyak manfaat sekaligus dapat membawa dampak negatif. Jika tidak disikapi dengan baik, penggunaan media sosial ternyata dapat merusak rumah tangga. Di Amerika Serikat, sebuah survei yang diadakan oleh American Academy of Matrimonial Lawyers bahwa perceraian akibat media sosial meningkat sebanyak 80 persen. Di Indonesia, angka perceraian dengan alasan terkait media sosial juga meningkat dari tahun ke tahun. Di Probolinggo, misalnya. Mulai tahun 2013 muncul kasus cerai karena Facebook. Facebook menjadi pemicu ketidakharmonisan keluarga.

Bagaimana media sosial dapat merusak rumah tangga? Berikut ini 10 cara diantaranya:

LEBIH LAMA BER-MEDIA SOSIAL DARIPADA BERSAMA KELUARGA

Dikutip dari Vemale, di Amerika Serikat ada perceraian karena sang istri suka berlama-lama meng-update media sosial hingga melalaikan anak dan suaminya.

Apakah hal ini juga bisa terjadi di negeri Muslim seperti Indonesia? Sangat mungkin. Sebab ternyata memang ada suami atau istri yang asyik menghabiskan banyak waktu di media sosial, namun terasa terbebani ketika membersamai anak-anak dan pasangan hidupnya. Tentu hal seperti ini dapat merusak rumah tangganya sendiri. Anak-anak menjadi jauh darinya, pasangan hidupnya juga merasa tak lagi dicintai. Padahal, keluarga adalah orang-orang terdekat yang selalu hadir di kala ia membutuhkan. Lihatlah ketika suatu hari ia jatuh sakit. Apakah teman-teman online-nya itu akan hadir membantu dan merawatnya? Tidak. Pada akhirnya yang bersedia 24 jam merawatnya hanyalah pasangan hidup dan anak-anaknya.

MENJADI SARANA SELINGKUH

Ketika media sosial dijadikan sarana selingkuh, maka tunggulah saat-saat kehancuran keluarga. Seorang suami yang berkonsultasi tentang masalahnya di Alkhoirot merasa menyesal telah mengajari istrinya menggunakan Facebook. Sebab dari media sosial itu, istri tersebut tersambung komunikasi dengan mantan pacarnya sewaktu SMA dulu. Dari sana keduanya saling kirim pesan, dan cinta lama bersemi kembali.

Sang suami yang membuka pesan-pesan cinta itu marah. Ia meminta istrinya untuk menghentikan. Tapi sang istri justru berani pergi bersama mantan pacarnya itu. Rumah tangga mereka pun mulai berantakan.

MEMBANGUN KEMESRAAN DI MEDIA SOSIAL

Rumah tangga juga bisa berantakan gara-gara media sosial ketika seorang suami atau istri menggunakan media sosial untuk bermesraan atau mendekati orang lain. Bahkan, meskipun niatnya sekedar berteman.

Seorang istri berinisial S menceritakan bahwa dirinya sebenarnya tidak suka mengomentari status Facebook orang lain. Ia hanya menggunakan Facebook dengan maksud menjalin silaturahim. Namun, suaminya tidak suka dengan hal itu. Suaminya tidak suka dirinya berkomunikasi melalui media sosial terbesar itu, terutama kepada lawan jenisnya. S merasa dirinya tidak bersalah. Keduanya pun bertengkar dan sang suami mengucapkan kata-kata berkonotasi cerai. Khawatir bahwa kalimat itu benar-benar berhukum cerai, S pun mengkonsultasikan hal ini ke konsultasisyariah.com

MENGUMBAR MASALAH RUMAH TANGGA

Rumah tangga juga bisa berantakan ketika suami atau istri mengumbar masalah rumah tangga di media sosial. Agaknya hal ini mudah kita temukan contohnya, baik di Facebook maupun di Twitter. Misalnya seseorang yang membagikan link sebuah berita sambil memberikan catatan, “Enak ya kalau punya suami kayak gini. Suamiku bla bla bla”

Kadang hal seperti itu dipandang sepele. Padahal, tidak ada orang yang suka aibnya dibuka di depan publik. Apalagi oleh istri atau suaminya sendiri. Suami atau istri yang marah karena merasa dilecehkan –dan siapapun bisa membaca media sosial- umumnya akan meluapkan kemarahan itu dengan memarahinya. Terjadilah pertengkaran. Yang lebih parah, jika kemudian berakhir dengan perceraian seperti yang dialami oleh pasutri di Probolinggo pada tahun 2013.

ASYIK DENGAN MEDIA SOSIAL DARIPADA KOMUNIKASI DENGAN SUAMI/ISTRI

Dengan maraknya Smartphone, media sosial juga semakin mudah diakses. Parahnya, sebagian orang ‘kecanduan’ media sosial sehingga mengabaikan komunikasi dengan pasangan hidupnya.

Kadang kala terjadi, seorang suami bertemu dengan istrinya. Dalam satu rumah, satu ruangan, berhadap-hadapan. Tetapi sang suami tidak mempedulikan istrinya yang sedang berbicara karena ia asyik dengan gadgetnya. Ini bisa membuat istri tersinggung dan merasa tidak dihargai. Merasa tidak lagi dicintai. Ini berbahaya. Kalaupun ia tidak melawan, sesungguhnya hatinya terlukai dan cintanya tergerus karena sikap ini. Meskipun tidak sampai cerai, jika dibiasakan, hal ini dapat merenggangkan hubungan keduanya dan mengganggu keharmonisan keluarga.

sumber: keluargacinta

Tentang Bersyukur - Ibu dan Karpet Kotor

ibu-dan-anak-balita-pegang-quran

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki.
Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik.
Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian,
Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu :

“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya.

“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?” Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah,
mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”. Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung
menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas
membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”. Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman
dengan visualisasi tsb.

“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya “Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif
dapat dilihat secara positif”.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami
Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang
dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku, bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami
dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena ituartinya saya cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari,karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah,karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya,karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
10. Untuk dst…

 

sumber: FamilyGuideIndonesia