«

»

Mar 19

Cafe Corner #ShortStory #Part3 #Espresso

Café itu sore ini cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di meja bundar pojok sambil minum kopi dan berbincang ringan. Ada juga pasangan yang sedang duduk minum teh di meja dekat dinding, namun sayangnya mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Ironi.

Senin sore itu, sang Nona kembali datang ke café kecil itu. Didudukannya tubuhnya yang mungil itu di kursi tinggi di meja bar yang memanjang. Tidak ada orang yang duduk di meja panjang itu.

“Hei…” sapa pelayan dengan sangat ramah dan senyum yang merekah. Kemeja putih nya terlihat rapi. Wajahnya terlihat masih sangat bersemangat.

“Hey!” sapa Nona itu dengan senyum dan sambil memandang pelayan. Nona berwajah datar ini sering datang ke café ini. Kadang sendiri, kadang dengan teman-temannya. Kali ini dia sendiri. Sepertinya dia sedang tidak ingin beramai-ramai.

“Mmmm, small or medium size?” tanya pelayan itu.

“Kau tidak bertanya dahulu aku mau minum apa?” tanya Nona sambil tersenyum.

“selama Nona kesini, Cuma satu minuman yang Nona pesan.”

“Tapi bukan berarti aku ingin minum itu hari ini.” Kata Nona itu sambil tersenyum.

“Mmmkay, Nona ingin minum apa sore ini?”

“Coklat panas dan muffin coklat satu.” Kata Nona itu dengan tersenyum.

“hmmm, okay then.” Pelayan itu tersenyum sambil kemudian berlalu dan membuatkan si Nona coklat panas.

Tidak lama kemudian, dihidangkan di depan Nona tersebut coklat panas dan satu muffin coklat di cawan keramik putih. “Silakan, Nona.”
“Thanks.” Kata Nona itu tersenyum kembali.

Nona itu diam beberapa saat, hanya melongok ke cangkir coklat panasnya yang masih mengeluarkan uap dan sesekali meniupnya tipis tipis.

“Ada cerita, Nona?” tanya pelayannya.

“Hmm, nggak ada.” Kata Nona itu sambil tersenyum ke pelayan.

“hmm, baiklah. Emmm, ngomong-ngomong coklat panas itu katanya sih bisa membuat tenang dan membuat emosi lebih stabil.” Kata pelayan itu asal bicara.

“Hahaha, terserah.” Kata Nona itu lalu meminum satu sendok the dari coklat panas tersebut. “hmm, but it’s the good one. Hehe…” kata Nona itu.

Pelayan itu hanya tersenyum ramah dan kembali terlihat sibuk merapikan cangkir-cangkir di rak dekat meja bar tersebut. Beberapa pelayan lain menyeka cangkir dan gelas-gelas tinggi sebelum dimasukkan ke rak. Begitu sepi café sore ini, sehingga hanya satu dua orang pelayan saja yang datang ke meja-meja pelanggan.

Ada suara langkah yang menyeret dari arah pintu masuk café. Tampak seorang lelaki dengan setelan blazer yang rapi berjalan gontai. Kemeja dalamnya masih tampak rapi meski dua kancing atasnya sudah terbuka. Wajahnya tampak lusuh dan poni rambutnya disingkapkan hingga hampir menutupi matanya.

langkahnya pelan dan menyeret hingga dia duduk di kursi tinggi di dua kursi sebelah kiri sang Nona. Ditempelkannya siku dan lengannya di meja bar. Telapak tangannya memegangi wajah dan menopang kepalanya. Seperti terasa berat hari ini untuknya.

Si Nona dan pelayan melihatnya dengan pandangan penasaran.

“Emm, mau pesan apa, Tuan?” tanya pelayan pada lelaki itu.

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Disibakkannya rambutnya yang menutupi wajahnya itu dengan telapak tangannya dan dilihatnya pelayan itu.

Pelayan itu melihat lelaki itu, mata lelaki itu merah, seperti orang yang sangat lelah dari bekerja keras.

“Emm, martini.“tanya lelaki itu.

“Maaf tuan, kami tidak menjual minuman tersebut disini.”

“Eh?” lelaki itu menyipitkan matanya dan mulai melongok ke sekitarnya.

“Iya, Tuan. Ini coffee shop sederhana yang menjual minuman non alkohol.”

Lelaki itu hanya diam dan menundukkan wajahnya lagi dan menopangnya dengan tangannya. Seperti begitu berat kepalanya itu.

“Emm, mungkin Anda ingin mencoba espresso, Tuan?” tanya pelayan itu.

“Emm, salah masuk café sepertinya. Sigh…” kata lelaki itu kemudian membuka pandangannya lagi ke arah pelayan.

“Dua ruko dari sini mungkin yang sebenarnya yang Tuan tuju, bukan disini.” Kata pelayan itu sambil tersenyum.

“Iya, disini sepi, tidak ada dentuman musik yang bisa membuat pusing kepalaku hilang.” Kata lelaki itu.

“Memang dengan musik keras seperti itu bisa membuat pusingmu hilang?” tanya tiba-tiba dari si Nona disampingnya. Nona itu tidak melihat ke arah lelaki itu, hanya melihat ke arah cangkir coklat panasnya dan meniupnya sesekali.

Dilihatnya oleh lelaki itu si Nona yang berbicara tadi. “Ya.” Kata lelaki itu singkat, “mungkin.” Kata lelaki itu menambahkan.

“Hahaha, tapi taukah Tuan bahwa pelayan disini pun bisa membuat pusing kepala hilang?” kata pelayan itu sambil bercanda.

“Oh ya?”

“Ya, caranya mudah. Tinggal ceritakan apa yang Tuan ingin ceritakan. Kami sajikan espresso dan semangkuk kue kering sembari Tuan bercerita.”

“Anda psikolog atau apa?” tanya lelaki itu sambil mendongakkan kepalanya.

“saya hanya pelayan yang hanya membantu, Tuan.” Kata pelayan itu.

“sigh….” Lelaki itu menunduk. Agak lama dia menunduk hingga Nona di sebelahnya mengiranya dia telah terlelap.

Sang Nona meminum sedikit coklat panasnya sedikit demi sedikit dengan sendok tehnya.

“cerita aja, Mas. Kali aja Mas pelayannnya bisa bantu.” Kata Nona itu sambil tidak mengubah pandangannya dari cangkir coklat panasnya.

Lelaki itu kemudian melongok ke arah Nona itu dan mengernyitkan alis, kemudian memandang ke arah pelayan itu dengan pandangan aneh. Kemudian ditundukkannya pandangannya lagi hingga cukup lama.

Di luar mulai hujan, matahari pun mulai tak terlihat, seketika ruangan terasa lebih dingin dan sunyi hingga suara cangkir yang bertumbukan halus dengan meja kayu terdengar jelas.

Lelaki itu memasukkan tangannya ke dalam blazernya, dirogohnya sakunya dan dikeluarkannya satu genggaman. Di taruhnya satu benda dalam genggamannya itu di meja kayu. Suaranya berdenting kecil. Yang berdenting itu adalah cincin emas dengan permata.

Sang Nona melebarkan matanya melihat cincin yang tergeletak di meja bar itu. Sang pelayan hanya diam dan menunggu suara dari lelaki itu untuk memulai bicara.

“seharusnya ini sudah berada di jari manisnya sekarang.” Kata lelaki itu.

“….damn, this sh*t just go serious, Man.” Gumam si Nona sambil berpandangan dengan pelayan itu sambil melebarkan matanya.

“aku tidak mau cerita terlalu panjang. Aku bahkan malas untuk mulai mengingatnya.” Kata lelaki itu tersenyum dengan senyum pahit.

Sang pelayan menyajikan espresso dengan gelas kecil dan satu mangkuk kue kering.

“Now let me hear your story.”

Lelaki itu menghela napas panjang.

“she dumped me.” Kata lelaki itu menunduk. Lelaki itu menyelesaikan satu kalimatnya, diminumnya dengan seruputan kecil dari espresso tanpa gula itu. Diletakkannya cangkirnya lagi dan dia mulai lagi berbicara.

“Ada kenalan ibunya yang melamarnya sebulan lalu. Dia menerimanya.”

“Heh? Seriously? Dia tidak memberi kabar bahwa ada yang melamarnya?” tanya si Nona tidak sabar. Alisnya mengernyit dan memandang ke arah lelaki yang tertunduk itu.

“Sssst…” si pelayan mengatupkan jarinya dan memberi isyarat kepada si Nona untuk tidak bersuara.

“sigh,… jika dia memberi kabar, mungkin aku tidak sekusut ini saat ini, Nona.” Kata lelaki itu, sambil kembali meminum sedikit espressonya.

“aku tak bisa hidup tanpanya,…” lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan penuh kekusutan. “masih terngiang suara tawanya,tangisnya,…. bahkan kulitku masih merasakan bagaimana lucunya dia mencubit.”

“mendengar suaranya dari telepon. Itu saja cukup membuatku tetap terjaga dengan deadline tugas yang menumpuk.” Lelaki itu mengambil satu keping kue kering dan menggigitnya kecil-kecil.

“sayangnya gadismu itu tidak merasakan hal yang sama kuatnya denganmu.” Kata si Nona sambil mengaduk coklat panasnya yang mulai mendingin.

“rasanya ingin loncat dari gedung.” Kata lelaki itu memandang nanar meja kayu di depannya.

Si pelayan dan si Nona hanya terdiam. Mereka saling berpandangan dan terlihat kebingungan dari wajah mereka.

Lelaki itu kemudian memandang kosong ke arah cincin di meja kayu bar itu. Di dalam kepalanya, ada sajak melingkar yang merajut bait.

 

ada serpihan-serpihan kenangan yang manisnya aku abadikan diantara pahit yang kuabaikan.

Diantaranya meliuk dalam ingatan yang menjadi alasan ada semangat hidup di tiap hembusan napas

Hingga akhirnya ranting pengharapan itu patah tiba-tiba, sebagaimana gurun merubah panas menjadi beku.

ada sisi labirinmu yang tak bisa aku gapai, seolah aku hanya berputar di tepian koridornya dan akhirnya aku terpojok dan dipaksa keluar”

“atau ingin mati overdosis obat penenang.”

“Jangan bodoh!” kata Nona disampingnya. Dilihatnya lelaki itu dengan tatapan tajam.

“terus kenapa? Aku melakukan semua ini demi dia. Semuanya.” Lelaki itu kemudian menunduk.

I stabbed my heart with her name, and now she pulled it out. I just want to die….literally.” kata lelaki itu dalam hatinya.

“Emm, Tuan,,,tenangkan diri tuan.” Kata pelayan itu coba menenangkan sambil memberikan segelas air putih di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu merogoh saku dalam blazernya, dikeluarkannya satu tabung kapsul plastik kecil dan ditaruhnya di atas meja kayu bar itu. Ditaruhnya di sebelah cincin yang ia taruh di meja itu. Di dalam tabung kecil itu terdapat beberapa butir tablet putih.

“Anda mau minum obat, Tuan? Sebaiknya jangan sambil minum espresso, Tuan, karena…..” belum selesai pelayan itu menanyakan ke lelaki itu.

“Ini obat penenang yang akan membunuhku nanti.” Kata lelaki itu. “karena mati jatuh dari gedung sepertinya menyakitkan.” Lelaki itu menoleh ke arah si Nona sambil tersenyum. Senyum yang dingin danberat.

“Kau bergurau kan?” si Nona melihatnya tajam dan melirik ke tabung plastik berisi tablet putih itu.

“sebenarnya aku tak pernah seserius ini.” Kata lelaki itu sambil menggenggam kembali tabung plastik obat itu dan memutar-mutarnya di ujung tangannya. “Besok pagi mungkin sudah ada berita orang meninggal over dosis.” Kata lelaki itu kemudiang membuka tutup dari tabung plastik obat itu.

“Tuan, dengar Tuan.” Pelayan itu memperingatkan dengan berbisik agar tidak membuat keributan di café itu.“Saya tidak bisa mempersilahkan Anda untuk mengkonsumsi obat disini, apalagi jika obat ini digunakan untuk hal-hal yang tidak wajar. Kami dari pihak café akan….”

“Tenang-tenang.” Kata lelaki itu melihat kepada si pelayan, “Jangan panik.” Katanya menambahkan. “aku juga tak mau mati disini.” Kata lelaki itu sambil kembali menutup tutup tabung obatnya itu.

“saya juga bisa menyita obat ini saat ini juga dikarenakan Anda membawa obat ini ke café kami dan akan Anda gunakan untuk hal yang tidak wajar.” Kata pelayan itu. Kali ini pelayan itu mulai sedikit panik. Matanya melihat kanan kiri seolah mewaspadai pelayan-pelayan lain mendengar percakapan mereka.

“sudahlah, jangan membuat ini semakin rumit. Sekarang biarkan aku bayar untuk espresso dan kue keringnya, lalu aku pergi.” Kata lelaki itu merogoh dompet di celananya, “lalu kalian tidak akan melihat aku lagi.” Katanya sambil sedikit tersenyum.

Ditaruhnya satu lembaran seratus ribu ke meja kayu itu. Sekaligus diambil kembali tabung plastik kecil itu kembali ke saku dalam blazernya.

“Hei, Mas.” Panggil si Nona.

“Apa?” kata lelaki itu melongok ke si Nona di sebelahnya.

“untuk apa kau lakukan ini? …. Maksudku hal bodoh ini.” Tanya si Nona.

Laki-laki itu tersenyum ringan dan kemudian berkata, “Setelah dia tahu aku mati nanti, hidupnya tak akan sama lagi. Dia akan diliputi perasaan bersalah setiap harinya. Tak akan ada kebagian setelahnya. Tidak pula dapat disembuhkan oleh calon suaminya itu.” Katanya sambil tersenyum sinis. “Hahaha, aku ingin dia tau bahwa dia tidak dapat hidup tanpaku dan hanya aku yang mencintai dia lebih dari siapapun.”

“That’s why she dumped you.” Kata Nona itu memandang lelaki di sampingnya dan menaikkan alisnya.

Lelaki itu lalu memandang Nona itu tajam. Tiba-tiba hilang dari wajahnya senyum sinisnya tadi. Kini Nona dan Tuan saling berpandangan tajam.

“Kenapa kau bisa bilang begitu?” tanya lelaki itu.

“karena kau bodoh.”kata Nona itu.

“Kau menukar kehidupan demi orang yang bahkan orang yang kau rencanakan keburukannya.” Si Nona masih tidak mengalihkan pandangannya ke lelaki itu.

Lelaki itu terdiam, dia masih memandang tajam ke Nona disampingnya. “terserah! Setelah aku mati nanti, hidupnya tak akan sama lagi.” Katanya sambil kembali tersenyum sinis.

“Anggapan Anda salah, Tuan.” Kata pelayan itu sambil mengangkat cangkir espresso setengah kosong dari meja lelaki itu.

Lelaki itu lalu menoleh ke arah pelayan itu. Matanya mendongak melihat wajah pelayan itu perlahan.

“Hidupnya tidak akan berubah, Tuan. Lukanya akan sembuh lebih cepat.” Kata pelayan itu sambil mengangkat mangkok kue dari depan lelaki itu dan menaruhnya di meja belakang di balik meja bar.

“dan tidak berapa lama setelah itu, Tuan akan dilupakan, selamanya.” Kata pelayan itu sambil memandang kepada lelaki itu.

“Lagipula sudah ada lelaki lain yang akan menggantikanmu dan menghapus airmatanya.” Kata Nona di sebelahnya sambil meminum tegukan terakhir dari coklat panasnya. Kemudian dilihat oleh Nona itu mata lelaki di sebelahnya sambil kemudian berkata,

“cerita indahmu selama ini akan digantikan oleh cerita indah mereka.” Kata Nona itu.

Mata Tuan dan Nona itu bertemu. Tatapan mata Tuan yang sinis berubah menjadi lebih tenang. Seperti tatapan orang yang menyadari suatu hal. Nona itupun tersenyum kepada Tuan di sebelahnya. Senyumnya dengan lengkung dan lesung pipi yang indah dan lucu seperti biasa. Sang Tuan kemudian ikut tersenyum, meski terlihat berat senyumnya itu.

“Mati mu sia-sia.” Kata Nona itu sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat betapa bodohnya si Tuan ini.

Tidak berapa lama, lelaki itu memalingkan tatapannya dan mulai berdiri dari duduknya.

“Bersikaplah bijak, Tuan” Kata pelayan itu .

Lelaki itu menghadap pelayan itu dan tersenyum, kemudian mengalihkan pandangan kepada Nona yang masih duduk di sampingnya. “Lalu apa yang aku lakukan jika aku masih hidup hingga esok hari?” tanyanya kepada si Nona.

Nona itu mengulurkan tangannya menggapai cincin yang masih tergeletak di meja kayu itu. Ditunjukkan cincin itu kepada lelaki itu.

“Bukankah sudah jelas? Jika kau masih hidup hingga esok hari, mulai temukan gadis yang akan memakai ini di jari manisnya.” Lalu diserahkan cincin itu kepada lelaki itu.

“Gadis yang akan memakainya nanti, yang akan memberikan hidupnya untukmu, yang tidak berkhianat” Kata Nona itu sambil tersenyum. Ditaruhnya cincin itu oleh si Nona ke telapak tangan lelaki itu. Kemudian digenggamnya cincin itu, dan dimasukkan ke saku celananya.

Lelaki itu tersenyum dibalik kekusutannya, kemudian mulai melangkah keluar café. Dia berlalu begitu saja. Langkahnya terlihat lebih ringan, meski masih terlihat bagaimana berat dia berjalan sambil membawa badannya itu. Lelaki itu keluar dari café dan berjalan hingga menghilang dari pandangan si Nona dan pelayan itu.

“Hei, Pelayan. Apa mungkin besok pagi dia masih hidup?” tanya si Nona sambil masih melihat ke arah jendela.

“Lebih dari itu, paling lama sebulan lagi dia akan kesini lagi. Bercerita tentang hidupnya yang baru, sambil minum espresso.” Kata Pelayan itu sambil juga melihat ke arah jendela.

Nona itu merubah pandangannya ke arah pelayan itu dan berkata, “jika aku kesini lagi nanti, buatkan aku espresso. Tanpa gula.” Kata si Nona.

 

-syarif-

@syarifid

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>