Rss

Archives for : kajian

Kita Tahu Tapi Kita Tidak Mengamalkan

Ibnu Qayyim Rahimahullah pernah berkata:
(Diriwayatkan bahwa seorang budak wanita belia wafat karena wabah “tha’un”. Lalu ayahnya melihatnya dalam mimpi..!!
Maka ia berkata kepadanya: wahai putriku… ceritakan kepada kami tentang akhirat.
Maka ia menjawab: wahai ayahandaku… sungguh kami telah datang di atas perkara yang sangat berat, dan sungguh dulu kami telah mengetahui tapi kami tidak mengamalkannya. demi Allah..! sungguh satu “tasbih” dan satu “raka’at” dalam lembaran amalku jauh lebih aku cintai dari dunia dan isinya).

Saudaraku…
Renungkan perkataan budak belia di atas, bukankah ia telah mengucapkan perkataan yang sangat dahsyat “kami telah mengetahui tapi kami tidak mengamalkan”. Bukankah banyak diantara kita yang belum memahami maksudnya?..

Kita telah mengetahui bahwa jika kita mengucapkan “subhanallah wa bihamdihi” seratus kali, maka dosa-dosa kita akan diampuni walau ia seluas samudera…
(Lalu hari dan malampun berlalu namun kita tidak mengucapkannya)

Kita telah mengetahui bahwa dua raka’at shalat Dhuha, sama seperti 360 sedekah…
(Lalu hari berganti hari pergi menjauh, namun kitapun tak pernah menegakkannya)

Dan kita telah mengetahui bahwa barang siapa yang berpuasa sunnah sehari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari jilatan api Neraka 70 tahun perjalanan.
(Lalu tahun demi tahunpun berlalu namun kita lalai dari berpuasa sunnah di jalan Allah)

Dan kita telah mengetahui bahwa barang siapa yang menjenguk orang sakit, maka ia akan diikuti 70 ribu malaikat yang memohonkan ampun baginya kepada Allah.
(Lalu kitapun belum menjenguk satupun orang sakit minggu ini)

Dan kita telah mengetahui bahwa siapa yang shalat atas jenazah dan mengikuti ke makamnya sampai ia dikubur. Maka baginya dua “qirath” pahala seperti gunung Uhud.
(Lalu minggu demi minggupun berlalu, namun kita tak sekalipun mengantar saudara seiman ke kuburan)

Dan kita telah mengetahui bahwa barang siapa yang membangun masjid untuk Allah walau sebesar sarang burung, maka Allah akan membangun baginya rumah di Surga.
(Lalu kitapun belum berkontribusi untuk membangun sebuah masjid walau dengan sepuluh Dinar)

Dan kita telah mengetahui bahwa barang siapa yang membantu seorang janda dan anak-anaknya yang miskin, maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah, dan seperti orang yang berpuasa di siang hari dan tidak berbuka, serta seperti orang yang bangun seluruh malam dan tidak tidur.
(Lalu kitapun sampai sekarang belum berbuat untuk meringankan beban janda miskin dan anaknya)

Dan kita telah mengetahui bahwa barang siapa yang membaca satu huruf al-qur’an, maka baginya satu hasanah, dan satu hasanah mendapat sepuluh kebaikan sepertinya.
(Lalu kitapun lalai dan luput dari membaca al-qur’an setiap hari)

Kita telah mengetahui bahwa haji mabrur balasannya adalah surga, dan pahalanya adalah, ia kembali seperti dihari dimana ia dilahirkan “bersih dari dosa”.
(Lalu kitapun tak berusaha menyempurnakan ibadah haji, sementara kondisi dan situasi sangat dimudahkan untuk kita)

Dan kita telah mengetahui bahwa kemuliaan seorang mu’min adalah “qiyamullail” dan bahwasanya Rasulullah beserta sahabatnya tidak pernah meremehkan urusan qiyamullail sepanjang umur mereka, walau di tengah kesibukan mencari sesuap penghidupan, serta dalam berjihad menyebarkan dienul Islam.
(Sementara kita betapa besarnya kita meremehkan urusan qiyamullail)

Dan kita telah mengetahui bahwa qiyamat akan tiba dan tidak ada keraguan di dalamnya, dan Allah akan membangkitakan semua dari kuburnya.
(Lalu kitapun belum menyiapkan diri dan bekal untuk hari itu)

Kita telah banyak menguburkan mayit dan shalat atas mereka.
(Namun kitapun belum bersungguh-sungguh untuk menyambut hari seperti ini, seakan ada garansi bahwa kita tak termaksud)

Ketahuilah….
Wahai Saudara dan saudariku yang tercinta karena Allah.. bahwa setiap nafas yang kita hembuskan, semakin mendekatkan kita kepada ajal yang telah ditetapkan masanya.
(Lalu kitapun masi tenggelam dalam lalai dan senda gurau)

Telah tiba masanya… setiap detik yang kita lalui dapat merubah tujuan hidup kita, dan mempersiapkan bekal terbaik kita untuk hari hisab itu (pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya, dan setiap orang pada hari itu memiliki urusan yang menyibukkannya)

oleh: Abu Fatih
sumber: aql fbpage

Nilai-Nilai Dasar Dalam Pengelolaan Asuransi Syariah

Asuransi syariah merupakan salah satu intrumen transaksi, yang secara sistem operasional disesuaikan dengan syariah Islam. Sehingga akad, mekanisme pengelolaan dana, mekanisme operasional perusahaan, budaya perusahaan (shariah corporate culture), marketing, produk dsb harus sesuai dengan syariah. Namun yang perlu digaris bawahi juga adalah, bahwa asuransi syariah tidak semata-mata harus menjalankan sistem operasionalnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Namun lebih dari itu, ia juga harus mengimplementasikan suatu nilai yang menjadi “jantung” dari prinsip-prinsip syariah.

Berpegang pada nilai-nilai ini sangat penting. Karena nilai-nilai inilah sesungguhnya yang merupakan ruh dari sistem operasional yang dilakukan secara syariah.

Hilangnya nilai-nilai ini akan berdampak pada hilangnya “ruh” dari syariah. Sebagai contoh dalam aspek hubungan mudharabah, dimana terdapat dua pihak ; shahibul maal (pemilik modal), dan mudharib (pengusaha). Shahibul maal meminta kepada mudharib untuk mengelola dananya, namun dengan syarat bahwa nisbah bagi hasil yang akan dihasilkan dibagi dua 90% untuk shahibul maal dan 10% untuk mudharib.

Secara fiqh, akad mudharabah yang dilakukan oleh kedua belah pihak di atas adalah sah. Karena telah memenuhi semua rukun dan syarat akad mudharabah. Namun secara “nilai”, akad tersebut cacat karena tidak memberikan porsi keadilan bagi mudharib.

Mudharib hanya mendapatkan keuntungan 10% sementara shahibul maal 90%. Untuk itulah, dalam menjalankan usaha asuransi syariah, juga sangat diperlukan tegaknya nilai-nilai syariah, agar operasional asuransi syariah benar-benar mencerminkan ruh syariah yang sesungguhnya. Berikut adalah 10 nilai yang mendasar dalam pengelolaan asuransi syariah, yaitu :

1. Prinsip Tauhid

Tauhid merupakan prinsip dasar dalam asuransi syariah. Karena pada haekekatnya setiap muslim harus melandasi dirinya dengan tauhid dalam menjalankan segala aktivitas kehidupannya, tidak terkecuali dalam bermuamalah (baca ; berasuransi syariah). Artinya bahwa niatan dasar ketika berasuransi syariah haruslah berlandaskan pada prinsip tauhid, mengharapkan keridhaan Allah SWT. Sebagai contoh dilihat dari sisi perusahaan, asas yang digunakan dalam berasuransi syariah bukanlah semata-mata meraih keuntungan, atau menangkap peluang pasar yang sedang cenderung pada syariah. Namun lebih dari itu, niatan awalnya adalah untuk mengimplementasikan nilai-nilai syariah dalam dunia asuransi. Sedangkan dari sisi nasabah, berasuransi syariah adalah bertujuan untuk bertransaksi dalam bentuk tolong menolong yang berlandaskan asas syariah, dan bukan semata-mata mencari “perlindungan” apabila terjadi musibah. Dengan demikian, maka nilai tauhid terimplementasikan pada industri asuransi syariah. Allah SWT berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51 : 56)

2. Prinsip Keadilan

Prinsip kedua yang menjadi nilai-nilai dalam pengimplementasian asuransi syariah adalah prinsip keadilan. Artinya bahwa asuransi syariah harus benar-benar bersikap adil, khususnya dalam membuat pola hubungan antara nasabah dengan nasabah, maupun antara nasabah dengan perusahaan asuransi syariah, terkait dengan hak dan kewajiban masing-masing. Asuransi syariah tidak boleh mendzalimi nasabah dengan hal-hal yang akan menyulitkan atau merugikan nasabah.

Ditinjau dari sisi asuransi sebagai sebuah perusahaan, potensi untuk melakukan ketidak adilan sangatlah besar. Seperti adanya unsur dana hangus (pada saving produk), dimana nasabah yang sudah ikut asuransi (misalnya asuransi pendidikan) dengan periode tertentu, namun karena suatu hal ia membatalkan kepesertaannya di tengah jalan. Pada asuransi syariah, dana saving nasabah yang telah dibayarkan melalui premi harus dikembalikan kepada nasabah bersangkutan, berikut hasil investasinya. Bahkan terkadang asuransi syariah merasa kebingungan ketika terdapat dana-dana saving nasabah yang telah mengundurkan diri atau terputus di tengah periode asuransi, lalu tidak mengambil dananya tersebut kendatipun telah dhubungi baik melalui surat maupun melalui media lainnya. Mau dikemanakan dana ini? Karena dana tersebut bukanlah milik asuransi syariah, namun milik nasabah. Namun telah bertahun-tahun diberitahu atau dihubungi, nasabah bersangkutan tidak juga mengambilnya. Hal ini tentu berbeda dengan asuransi pada umumnya. Allah SWT berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah/ 5 : 08)

3. Prinsip Tolong Menolong

Semangat tolong menolong merupakan aspek yang sangat penting dalam operasional asuransi syariah. Karena pada hekekatnya, konsep asuransi syariah didasarkan pada prinsip ini. Dimana sesama peserta bertabarru’ atau berderma untuk kepentingan nasabah lainnya yang tertimpa musibah. Nasabah tidaklah berderma kepada perusahaan asuransi syariah, peserta berderma hanya kepada sesama peserta saja. Perusahaan asuransi syariah bertindak sebagai pengelola saja. Konsekwensinya, perusahaan tidak berhak mengklaim atau mengambil dana tabarru’ nasabah. Perusahaan hanya mendapatkan dari ujrah (fee) atas pengelolaan dana tabarru’ tersebut, yang dibayarkan oleh nasabah bersamaan dengan pembayaran kontribusi (premi). Perusahaan asuransi syariah mengelola dana tabarru’ tersebut, untuk diinvestasikan (secara syariah) lalu kemudia dialokasikan pada nasabah lainnya yang tertimpa musibah. Dan dengan konsep seperti ini, berarti antara sesama nasabah telah mengimplementasikan saling tolong menolong, kendatipun antara mereka tidak saling bertatap muka. Allah SWT berfirman :

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan bertolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. (QS. Al-Maidah : 2)

4. Prinsip Kerjasama

Antara nasabah dengan perusahaan asuransi syariah terjalin kerjasama, tergantung dari akad apa yang digunakannya. Dengan akad mudharabah musytarakah (nanti akan dijelaskan tersendiri mengenai akad ini dalam pembahasan khusus akad), terjalin kerjasama dimana nasabah bertindak sebagai shahibul maal (pemilik modal) sedangkan perusahaan asuransi syariah sebagai mudharib (pengelola/ pengusaha). Apabila dari dana tersebut terdapat keuntungan, maka akan dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati, misalnya 40% untuk perusahaan asuransi syariah dan 60% untuk nasabah. Ketika kerjasama terjalin dengan baik, nasabah menunaikan hak dan kewajibannya, demikian juga perusahaan asuransi syariah menunaikan hak dan kewajibannya secara baik, maka akan terjalin pola hubungan kerjasama yang baik pula, yang insya Allah akan membawa keberkahan pada kedua belah pihak.

5. Prinsip Amanah

Amanah juga merupakan prinsip yang sangat penting. Karena pada hakekatnya kehidupan ini adalah amanah yang kelak harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. Perusahaan dituntut untuk amanah dalam mengelola dana premi. Demikian juga nasabah, perlu amanah dalam aspek resiko yang menimpanya. Jangan sampai nasabah tidak amanah dalam artian mengada-ada sesuatu sehingga yang seharusnya tidak klaim menjadi klaim yang tentunya akan berakibat pada ruginya para peserta yang lainnya. Perusahaan pun juga demikian, tidak boleh semena-mena dalam mengambil keuntungan, yang berdampak pada ruginya nasabah. Dan transaksi yang amanah, akan membawa pelakunya mendapatkan surga. Rasulullah SAW bersabda :

التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ اْلأَمِيْنُ مَعَ النَّبَيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاء (رواه الترمذي)‏

Seorang pebisnis yang jujur lagi amanah, (kelak akan dikumpulkan di akhirat) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’. (HR. Turmudzi)

6. Prinsip Saling Ridha (‘An Taradhin)

Dalam transaksi apapun, aspek an taradhin atau saling meridhai harus selalu menyertai. Nasabah ridha dananya dikelola oleh perusahaan asuransi syariah yang amanah dan profesional. Dan perusahaan asuransi syariah ridha terahdap amanah yang diembankan nasabah dalam mengelola kontribusi (premi) mereka. Demikian juga nasabah ridha dananya dialokasikan untuk nasbah-nasabah lainnya yang tertimpa musibah, untuk meringankan beban penderitaan mereka. Dengan prinsip inilah, asuransi syariah menjadikan saling tolong menolong memiliki arti yang luas dan mendalam, karena semuanya menolong dengan ikhlas dan ridha, bekerjasama dengan ikhlas dan ridha, serta bertransaksi dengan ikhlas dan ridha pula.

7. Prinsip Menghindari Riba

Riba merupakan bentuk transaksi yang harus dihindari sejauh-jauhnya khususnya dalam berasuransi. Karena riba merupakan sebatil-batilnya transaksi muamalah. Tingkatan dosa paling kecil dari riba adalah ibarat berzina dengan ibu kandungnya sendiri (baca dahsyatnya dosa-dosa riba, dalam blog ini). Kontribusi (premi) yang dibayarkan nasabah, harus diinvestasikan pada investasi yang sesuai dengan syariah dan sudah jelas kehalalannya. Demikian juga dengan sistem operasional asuransi syariah juga harus menerapakan konsep sharing of risk yang bertumpu pada akad tabarru’, sehingga menghilangkan unsur riba pada pemberian manfaat asuransi syariah (klaim) kepada nasabah.

8. Prinsip Menghindari Maisir.

Asuransi jika dikelola secara konvensional akan memunculkan unsur maisir (gambling). Karena seorang nasabah bisa jadi membayar premi hingga belasan kali namun tidak pernah klaim. Di sisi yang lain terdapat nasabah yang baru satu kali membayar premi lalu klaim. Hal ini terjadi, karena konsep dasar yang digunakan dalam asuransi konvensional adalah konsep transfer of risk. Dimana perusahaan asuransi konvensional ketika menerima premi, otomatis premi tersebut menjadi milik perusahaan, dan ketika membayar klaim pun adalah dari rekening perusahaan. Sehingga perusahaan bisa untung besara (makala premi banyak dan klaim sedikit), atau bisa rugi banyak (ketika premi sedikit dan klaimnya banyak).

9. Prinsip Menghindari Gharar

Gharar adalah ketidakjelasan. Dan berbicara mengenai resiko, adalah berbicara tentang ketidak jelasan. Karena resiko bisa terjadi bisa tidak. Dan dalam syariat Islam, kita tidak diperbolehkan bertransaksi yang menyangkut aspek ketidak jelasan. Dalam asuransi (konvensional), peserta tidak mengetahui apakah ia mendapatkan klaim atau tidak? Karena klaim sangat bergantung pada resiko yang menimpanya. Jika ada resiko, maka ia akan dapat klaim, namun jika tidak maka ia tidak mendapakan klaim. Hal seperti ini menjadi gharar adanya, karena akad atau konsep yang digunakan adalah transfer of risk. Sedangkan jika menggunakan aspek sharing of risk, ketidak jelasan tadi tidak menjadi gharar. Namun menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai, yang apabila terjadi sesama nasabah akan saling bantu membantu terhadap peserta lainnya yang tertimpa musibah, yang diambil dari dana tabarru’ yang dikelola oleh perusahaan asuransi syariah (bukan dari dana perusahaan).

10. Prinsip Menghindari Risywah

Dalam menjalankan bisnisnya, baik pihak asuransi syariah maupun pihak nasabah harus menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari aspek risywah (sogok menyogok atau suap menyuap). Karena apapun dalihnya, risywah pasti akan menguntungkan satu pihak, dan pasti akan ada pihak lain yang dirugikan. Nasabah umpamanya tidak boleh menyogok oknum asuransi supaya bisa mendapatkan manfaaat (klaim). Atau sebaliknya perusahaan tidak perlu menyogok supaya mendapatkan premi (kontribusi) asuransi. Namun semua harus dilakukan secara baik, transparan, adil dan dilandasi dengan ukhuwah islamiyah.

Inilah sepuluh prinsip dasar dalam mekanisme pengelolaan asuransi syariah. Dan alangkah indahnya sepuluh prinsip ini, apabila diimplementasikan secara baik dalam asuransi syariah. Dan setelah membaca sepuluh prinsip ini, tidakkah anda tertarik untuk berasuransi secara syariah…?

Wallahu A’lam bis shawab

By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Kajian Lelaki Idaman Dalam Al-Qur’an

mfatihkarim

 

Jazakumullah khair kepada para pembaca resume kajian APWA. Alhamdulillah jumlah hits nya cukup tinggi. Semoga ini menjadi jalan kita untuk mengkaji dan berdakwah. InsyaaAllah.

Untuk Artikel kajian pra nikah sebelumnya, selain bisa dilihat di blog ini, juga bisa disimak di http://apwanikah.com.

 

Skenario Allah jauuh lebih indah!

Ust Muhammad Fatih Karim di awal kajian bercerita tentang suatu cerita nyata di Kajian Malam Ahad Ar-Rahman Pre Wedding Academy sabtu lalu, 13 September 2014.

Beliau bercerita tentang seseorang pemuda yang sedang bersiap-siap untuk melangsungkan pernikahannya. Saat itu segalanya sudah disiap-siapkan. Gedung sudah dibayar setengahnya, undangan sudah mulai disebarkan, tinggal catering dan beberapa hal kecil yang belum dibayarkan. Ternyata menjelang acara pernikahan yang sudah dekat—batal.

Ternyata hal itu disebabkan satu malam saat sang Ikhwan berkunjung ke rumah sang akhwat. Di saat itulah sang akhwat mengakui sesuatu hal.

“Malam ini mau ngobrolin apa lagi buat persiapan?” tanya sang ikhwan. Sementara ayah akhwat tersebut berada di ruang tamu, dan ibundanya berada di dekat ruang makan.

“Malam ini mau cerita aja.” Kata sang akhwat tersebut berkaca-kaca matanya.

“Oh, silakan cerita saja.” Sang Ikhwan mempersilakan sang Akhwat memulai bercerita. Namun sang akhwat sepertinya sedang menahan tangis.

Ternyata akhwat tersebut mulai bercerita bahwa ayahnya itu muslim, sedangkan ibunya non muslim. Menurut sang Ikhwan, gak problem seharusnya. Karena laki-laki muslim dnegan wanita non muslim itu boleh dalam banyak hadist. Namun apa masalahnya? Masalahnya adalah ayah dan ibunya menikah di tempat peribadatan ibunya yang non muslim tersebut. Nah.

Untung disampaikan. Coba jika tidak?

Masalah terjadi ketika ayah akhwat tersebut bersikeras menjadi wali nanti ketika si anak menikah. Dan ketika di cek di fiqih manapun oleh sang ikhwan, ternyata hal tersebut menjadikan tidak sah pernikahannya nanti. Karena pernikahan ayahnya tidak sah (menikah tidak menggunakan cara islam dan dianggap pernikahannya tidak sah secara islam), maka ayahnya tidak boleh menjadi wali. Jika dipaksakan menjadi wali, maka pernikahan si ikhwan dan akhwat tersebut menjadi tidak sah. Jadi terpaksa harus menggunakan wali hakim agar pernikahan tetap sah. Namun sang ayah si akhwat tidak terima. Sang ayah mendengar pembicaraan sang akhwat dan ikhwan tersebut dan memanggil ke ruang tengah.

Sang anak kemudian bercerita kepada ayahnya dengan menangis tersedu-sedu.

“Pak, mohon maaf. Saya tidak tahu ceritanya seperti ini. jika tahu pernikahan bapak seperti ini sebelumnya, mungkin saya tidak sejauh ini.” jelas sang ikhwan.

“Lho, emang kenapa?” sang ayah masih kebingungan. “Dia kan anak saya.”

“Problemnya apa?” sang ayah masih mencari apa yang salah.

“Problemnya, ketika bapak nikah itu, akadnya akad islam, maka sah nikahnya. Karena laki-laki muslim dengan wanita non muslim, sah pernikahannya.”

“Maksud kamu apa? Jadi kamu gak terima?” sang bapak sudah naik pitam.

“Bukan tidak terima, Pak. namun sudah begini kondisinya. Saya kalau begitu … mundur saja.” Kata sang Ikhwan dengan halus. Sangat halus.

Sang akhwat menangis lebih tersedu lagi. Bapaknya membanting tangannya ke meja keras-keras.

“Mulai sekarang, kalau kamu gak terima, keluar!” teriak sang Bapak. Anaknya masuk kamar.

Sedangkan sang ikhwan tenang saja. Beliau sudah percaya bahwa ini semua sudah ada yang ngatur. Entah mengapa jadi begini ceritanya.

“Baik, Pak. Namun saya ada dua pilihan. Yang pertama, tetap nikah namun ada wali hakim, atau tidak sama sekali.” Kata Sang Ikhwan.

“Saya memilih tidak sama sekali.” Kata sang ayah dengan tegas. “Saya orang tuanya. Saya merasa sakit jika bukan saya yang menjadi walinya.”

Namun sayangnya ini bukan masalah sakit menyakiti. Ini masalah hukum fiqih yang wajib dijalani. Jika dipaksakan, maka tidak sah, maka hasil anak nanti juga tidak sah. Hinga seterusnya. Hingga seterusnya.

Sebelum hal ini, sebetulnya ibu sang Ikhwan tidak setuju dengan keputusan sang anak untuk menikahi putri dari keluarga yang beda agama. Waktu itu sang ikhwan merasa angkuh dan merasa bahwa mudah untuk membawa keluarga dari pihak perempuan ke dalam islam. Namun tidak semudah itu. Hati manusia adalah Allah yang memiliki.

Allah mengijabah doa, tidak selalu yang diminta—namun bisa jadi yang lebih baik.

Setelah kejadian itu, dua minggu kemudian—sang ikhwan diperkenalkan dengan salah satu akhwat yang menarik hatinya. Sang ikhwan ini suatu waktu lalu menelpon sang akhwat.

Tanpa berpanjang kalam, sang ikhwan bertanya kepada sang akhwat, “Ukhti, sudah ada yang mengkhitbah belum?”

“Kok tiba-tiba gini tanyanya?” tanya sang akhwat kaget mendengar sang ikhwan frontal tanpa basa-basi. Sang akhwat kemudian menjawab, “Belum.”

“Mau nggak antum jadi istri saya?” tanya sang ikhwan tanpa berbasa basi.

Hingga hening cukup lama, sang ikhwan kembali meminta agar diberikan jawaban 1×24 jam kedepan.

Besoknya. Sebelum wakt 24 jam itu habis, sang akhwat menelpon sang ikhwan kembali dan menyatakan kesediaannya. Kemudian sang akhwat mengundang ikhwan tersebut untuk ke rumahnya dan menemui ayahnya. Allahu akbar!

Sang ikhwan hadir di rumahnya dan menemui hal yang jauh berbeda dengan proses yang sebelumnya ia temui.

Di ruang tamu sudah hadir ayahnya, ibunya, dan sang akhwat itu sendiri. Setelah berbasa-basi, sang ikhwan mengakhiri dengan statement yang dia ucapkan,

“Kedatangan saya kesini untuk melamar anak bapak untuk menjadi istri saya.”

Mendengar hal itu, bapaknya diam cukup lama, hingga akhirnya bapaknya berkata, “Sebentar.”

Beliau langsung bergetas ke dapur dengan segera. Sang ikhwan langsung ngerasa jantungan melihat tingkah bapak sang akhwat yang langsung ke dapur. Di benaknya tersirat bencana apa lagi yang akan dia temui.

Sang ikhwan berpikir bahawa bapak sang akhwat ke dapur mau ambil golok. Sang ikhwan agak cemas juga. Ternyata … sang bapak keluar dengan membawa kalender.

“Mau tanggal berapa?” Bapak akhwat tersebut sambil memegang kalender.

Sang Ikhwan juga shock juga sebelumnya. Tapi akhirnya dia menjawab, “Saya pengennya syawal.”

“Kenapa?” tanya bapaknya penasaran.

“Karena Rasul menyunahakan kita menikah di bulan syawal. Aisyah menikah di bulan syawal, dan Aisyah menikahkan wanita muslimah lain juga di bulan syawal.”

“Tanggal berapa?”

“Tanggal 13.”

“Kenapa?” bapak sang akhwat bertanya kembali.

“ya pengen aja tanggal segitu.”

“Kayaknya kelamaan deh.” Kata sang calon mertua.

“tanggal 11 aja, keburu kakak-kakak yang lain balik kampung.”

MasyaAllah.

 

Sang ikhwan lalu bilang kepada calon mertuanya, “Namun saya hanya punya uang pegangan 20 juta.”

Sang bapak menimpali, “Sudahlah. 10 juta ambil lagi buat kamu. 10 juta lagi biar bapak yang subsidi.”

Keluarga sang akhwat menyanggupi. MasyaaAllah.

Namun sayangnya, uang 20 juta tadi sebenarnya tidak ada. Uang 20 juta tadi hanyalah jaminan arisan dari yang diberikan oleh sepupunya kepada sang ikhwan. Dengan dalih, sang ikhwan dapat sewaktu –waktu mengambil uang ketika akan menikah.

Disinilah ujian kembali terjadi. Ketika mendekati pernikahan, sang ikhwan tidak dapat mengambil uangnya dari janji sepupunya tersebut. Padahal waktu tinggal sedikit lagi.

Suatu ketika sang ikhwan mengisi ceramah. Salah satu jamaahnya adalah petinggi dari suatu perusahaan telekomunikasi di Malaysia. Beliau seusai ceramah mendatangi sang ikhwan dan bertanya kabar. Karena beliau melihat sang ikhwan ini ceramah tidak seperti biasanya. Sang ikhwan pun menjelaskan sebab perkaranya tentang masalah finansial yang ia alami.

Jamaah tadi menyuruh sang ikhwan untuk datang ke kantornya esok hari. Ketika sampai di kantor, ia disodorkan cek dan disuruh untuk menulis angka berapapun yang ia inginkan. Subhanallah.

Singkat cerita sang ikhwan menuliskan angka delapan ribu ringgit sahaja.

“Pak, lalu akadnya ini apa?” sang ikhwan bertanya. Apakah ini pinjaman atau bagaimana.

“Ini hibah dari saya untuk pernikahan antum.” Kata beliau. Allahu akbar.

Akhirnya pernikahan terlaksana dengan izin Allah dan sang akhwat menjadi istri sang ikhwan hingga hari ini cerita ini dituliskan. Sang ikhwan itu sendiri tidak lain adalah Ustadz Fatih Karim sendiri.

Tentang Ikhwan

Laki-laki itu adalah qowwam. Qowwam adalah leader. Yang bisa memimpin. Berarti ia harus mempunyai pemahaman tentang islam. Lalu bagaimana ia mejadi imam. Karena ia bertanggung jawab terhadap ibunya, istrinya, adik perempuannya, dan anak perempuannya. Karena itulah laki-laki disebut sebagai tulang pungung.

“Ada dosa yang tidak bisa dihapus oleh sholat, shaum, haji tidak bisa menghapusnya.”

“lantas apa yang dapat menghapusnya Ya Rasulullah?”

“Bekerja. Mencari nafkah yang halal.”

Hadist ini untuk para laki-laki.

 

Adapun kriteria laki-laki ideal ada tiga, yaitu.

  1. Quwwatul Jasadiyah
  2. Quwwatul Fikriyah
  3. Quwwatul Ruhiyah

 

Quwwatul Jasadiyah

Ikhwan itu harus kuat. Karena mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Bahkan di masa Umar bin Khatab, Umar menepuk perut orang yang gendut dan berkata, “Malas.” Menandakan bahwa seorang ikhwan tidak pantas berperut buncit dan bermalas-malasan.

Adapun beberapa tips yang Ustadz sampaikan kepada para ikhwan:

  • Rutinkan shalat tahajjud.
  • Rutinkan olah raga
  • Tidak tidur setelah shubuh

Quwwatul Fikriyah

Seorang lelaki wajib untuk memiliki pengetahuan lebih tentang agama. Tidak hanya ibadah-ibadah wajib dan doa saja. Tetapi juga pakar tsaqofah islamiyah. Perlu baginya membaca kitab-kitab seperti kitab Ibnu Katsir untuk membangun aqliyah islamiyah—cara berpikir islam dan pemikirannya terbina.

Harus ngaji! Tentang ilmu-ilmu islam, tentang fiqih, tahsin, dan sebagainya. Makanya sahabat dahulu begitu cerdas. Pernah dikisahkan ketika Umar berangkat meninggalkan Rasulullah, lantas Ali bin Abi Thalib datang dan Rasulullah menyampaikan kepada Ali tentang Surah At-Taubah dan meminta Ali untuk menyampaikan kepada sahabat lainnya. Bayangkan. Betapa cerdas Ali hingga apa yang disampaikan oleh Rasul langsung terinstal di kepalanya dan langsung dapat disampaikan kepada yang lain.

Itulah mengapa ulama terdahulu sangat sangat menjaga otaknya dari hal-hal yang bisa merusaknya. Itulah mengapa para hafidz quran hafalannya sangat lancar. Otaknya pun sangat jernih dan perilakunya sangat dijaga supaya hafalannya tidak lepas. Bahkan Imam Syafi’i dalam usia 7 tahun sudah mampu menghapal 30 juz. Pada saat diuji oleh gurunya tentang kitabnya jilid satu, tetiba hilang semua hapalan Imam Syafi’i saat itu dikarenakan ia tidak sengaja melihat betis wanita tersingkap. Itulah mengapa para hafidz sangat menjaga bagaimana ia menjaga pandangannya. Hafalan Quran lebih mudah lepas daripada unta dari ikatannya.

Quwwatul Ruhiyah

Cara melatih ruhiyah adalah dengan mengamalkan amalan-amalan sunnah secara rutin. Rutinkanlah puasa sunnah, sholat rawatib, tahajud, berdzikir, dan lain sebagainya. Ibnu Mas’ud bahkan diriwayatkan ketika beliau sholat, hingga burung pipit itu hinggap saking lama dan tenangnya beliau sholat.

Dengan seringnya mengamalkan sunnah, maka akan melembutkan hati kita. Hati kita akan menjadi sangat peka. Melihat orang yang memerlukan bantuan, kita tergerak untuk membantu. Melihat kemungkaran, hati kita tergerak untuk merubahnya.

Lelaki jika ruhiyahnya bagus, maka akan lebih lembut kepada istrinya. Tengoklah Rasulullah, yang bahkan sangat lembut kepada Aisyah bahkan ketika Aisyah sedang marah dan membanting piring karena cemburu.

Coba lihat fenomena sekarang, dimana banyak kekerasan rumah tangga terjadi karena suaminya tidak mengerti islam dalam dirinya. Tidak ada rasa kasih sayang dalam dirinya disebabkan karena ruhiyahnya. Itulah mengapa membina hubungan dengan Allah sangat penting. Jika hubungan dengan Allah sudah baik, maka hubungan dengan manusia pun, termasuk dengan istri pun akan semakin baik. Allah akan ridho pada kita.

 

Sehingga menjadi lelaki idaman, adalah dengan mengimplementasikan ketiga poin diatas. InsyaaAllah itu akan membuat kita menjadi insan yang terbaik.

Wallahu a’lam bisshowab

Intermezo Tentang Khitbah

Ustadz Fatih Karim menjelaskan tentang khitbah pada kami di akhir-akhir kajiannya.

Sebenarnya ta’aruf dulu atau khitbah dulu?

“Yang saya pahami, khitbah dulu baru boleh ta’aruf. Kenapa? Karena kamu boleh mengenal dia lebih dalam ketika dia calon istrimu.”

Khitbah sendiri ada dua pendapat.

  1. Boleh khitbah kepada putrinya saja. Ayah/wali nya cukup mengetahui saja.
  2. Khitbah itu kepada ayahnya/walinya saja. Putrinya cukup mengetahui saja.

Mana pendapat yang terkuat? Dua-dua nya kuat. Sedang Ustadz FatihKarim mengambil pendapat pertama. Khitbah itu kepada putrinya. Walinya cukup mengetahui saja.

Karena itu khitbah, bukan menikah. Jika menikah, memang harus ke wali nya.

 

Ketika sudah melamar, sudah ada tanggal pernikahan maka diperbolehkan hal-hal sebagai berikut:

  • Ketika sudah menjadi calon suami dan istri, diperbolehkan untuk saling mengingatkan perihal kebaikan. Seperti mengingatkan sholat dhuha, sholat istikharah, shaum sunnah, dan sebagainya.
  • Diperbolehkan menggunakan sapaan yang disukai.
  • Memberi hadiah.
  • SMS an dan teleponan sepanjang tidak berlebihan dan mengingatkan kebaikan.

Yang tidak boleh adalah berkhalwat. Karena #NoKhalwatBeforeAkad

 

Intermezo Menyegerakan Menikah

Jatuh cinta itu tidak dosa. Itu adalah fitrah. Namun yang dosa adalah memenuhi fitrah dengan menginjak hukum fitrah itu sendiri. Pacaran itu bukan fitrah, yang fitrah adalah menikahlah.

“Jika jatuh cinta, maka menikahlah”

Rasul bersabda,

“Jika masuk masa-masa kamu siap menikah. Maka segeralah menikah.”

“Tergesa-gesa itu perbuatan setan. Kecuali tiga! Yang pertama adalah membayar hutang. Yang kedua menguburkan jenazah. Yang ketiga menikah.”

 

 

 

 

“Separuh Agamaku Bersamamu” - sebuah rangkuman


apwa_1

Ini nih kajian pranikah yang bikin mbak-mbak yang dateng pada melting. Dipaparkan oleh Ust Bendri yang kocak abis.

Jazakumullah buat panita KPNI #7-worth it! Here we go…

***

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beibadah kepadaKu.”
(QS. adz-Dzariyat: 56)

Nikah maupun tidak menikah semuanya memiliki nilai ibadah. Jika nikah adalah separuh agama, maka separuh yang lainnya adalah beramal.

Rasulullah SAW mengatakan hal ini terkait bahwa ini adalah sebuah petunjuk yang diriwayatkan oleh Imam Al Ghozali, bahwa

sesungguhnya jika ia telah menyempurnahkan separuh agamanya, maka bertakwalah kepada setengahnya yang lain.

Sehingga setiap dari kita yang berniat sungguh-sungguh menikah untuk meredam syahwat untuk mendapat ridho-Nya, maka sesunggunya adalah kita telah meraih ketaatan separuh agama, sisanya adalah beramal. Kita baru sempurna jika kita sudah meredam syahwat dan beramal sholeh.

Ketakwaan itu ada dua:

  1. Meredam syahwat
  2. Beramal yang banyak

Jadi kalau orang sudah meredam syahwatnya, maka ia sudah meredam syahwatnya, maka sisanya adalah perbanyak amal sholeh.

Menurut Imam Al Ghozali, pangkal dari syahwat itu adalah seksual. Maka orang yang sudah menikah secara halal, maka dia sudah teredam syahwatnya. Sehingga dia tidak memiliki alasan untuk menyalurkannya kepada yang haram.

Jadi tidak cukup setelah nikah semuanya berhenti. Masih ada PR untuk tetap produktif—untuk menjadikan pernikahanini menjadi sinergi dan melahirkan generasi yang hebat dan luar biasa.

Tugas dasar pernikahan adalah meredam syahwat. Karena demikian, sebagian ulama menghukuminya dengan tidak mutlak. Contohnya Ibnu Taimiyah—ulama bujang yang meredam syahwatnya dengan kesibukan dalam berilmu.

“Selama ia dapat meredam syahwatnya dan beramal, mkaa sudah sempurna agamanya. Ulama dulu juga ada yang bujang. Dan mereka gak ngenes.” –kata Ustadz Bendri sambil melihat ke bujang-bujang seisi aula-

Apakah setelah menikah beneran meredam syahwat?

Nyatanya banyak juga yang sudah menikah namun masih tepe-tepe ke mantannya. Masih melakukan upaya-upaya rendah seperti itu dan tidak menundukkan pandangan ke lawan jenis yang bukan suami/istrinya. Dengan demikian berarti ia sudah merusak tatanan pernikahan. Sejatinya ia tidak melakukan hal2 lain yang memberiarkan syahwatnya liar.

Dengan demikain, harus ada dalam suatu pernikahan, adanya Proyek Peradaban. Proyek yang dibentuk oleh suami dan istri untuk memperbaiki peradaban dengan pemikiran bersama dan terukir dalam sejarah, sehingga ada prestasi yang diiwariskan kepada anak cucunya.

“Banyak yang sudah nikah malah tidak Sholat Subuh Jamaah di masjid,
dan malah menarik dirinya dari tugas dakwah”

 

Berdasar penuturan Ustadz Bendri, tujuan pernikahan adalah untuk 2 hal:

  • Meredam syahwat
  • Produktif dalam kebaikan bersama

Mawaddah

Pasangan yang kita dapatkan selayaknya yang dapat meredam syahwat kita. Prinsip mawadah ditunjukan dengan kedekatan fisik.

“Prinsip mawadah itu pengen nempel terus” kata Ustadz

Rasul pernah berkata kepada seorang Muhajirin yang akan menikahi wanita Anshor,

“Lihatlah dulu wanita tersebut. Agar ada ketertarikan padamu.”

Ini yang mendasari Jamilah—Habibah menggugat cerai suaminya. Pasalnya, Jamilah ingin menyerahkan cintanya pada suaminya, namun tetap saja tidak ada gairah yang menjadikannya cinta pada suaminya tersebut. Pada suatu riwayat, saking tidak tertariknya dengan suaminya, jika Jamilah melihat suaminya, ingin sekali ia meludah.

Jamilah mengakui bahwa ia menggugat cerai bukan karena kekurangan ibadah suaminya, tapi adalah karena Jamilah tidak dapat memberikan cintanya pada suaminya. Maka Rasul memakluminya dan berkata bahwa itu adalah hal yang wajar. Namun, tetap—sikap yang terbaik adalah sabar terhadap pendampingnya.

Jika wanita melakukan empat amal berikut:

  1. Menunaikan shalat wajib
  2. Puasa di bulan ramadhan
  3. Menjaga kesuciannya
  4. Taat kepada suaminya

“Maka masuklah ke surga dari pintu manapun yang kamu suka”

Jamilah sadar akan kapasitasnya. Dia sholehah, dia menunaikan sholat, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kesucian. Namun dia mengkhawatirkan jika dia tetap bersama suaminya, dia tidak dapat taat kepadanya karena tidak tertarik.

 

Aku mencintaimu walaupun

Ada level yang lebih tinggi bagi orang yang sudah memahami. Mereka bukan hanya menikah untuk meredam syahwatnya. Namun jauh yang lebih mulia dair itu adalah untuk berkomitmen terhadap janjinya pada Allah.

Ketika orang akan menikah, maka dikatakan kepada mempelainya,

”Aku memilihmu karena.”

Namun ketika sudah berkeluarga, maka dikatakan kepada istrinya,

“Aku mencintaimu walaupun.”

 

Komitmen itu dilatih. Maka dari itu bagi mereka yang mencari pasangan yang sempurna—bersiaplah jomblo selamanya.

Lelaki Sejati

Ibnu Mubarok bercerita tentang seorang lelaki di jamannya yang prinsipnya luar biasa. Dia menikahi seorang wanita dari perantara gurunya—yang ia sendiri belum melihatnya.

Ketika malam pertama dan membuka pintu kamarnya, ternyata fisik istrinya mengecewakan hatinya. Tapi ia berprinsip “Aku mencintaimu walaupun”. Setelah itu dia terus memperlakukan istrinya secara ma’ruf selama 25 tahun, dia tidak menikah lagi, tidak selingkuh, bahkan tidak mencari yang lain. Istrinya sakit setelah 25 tahun setelah itu.

Sang istri yang sedang sakit itu berpikir bahwa umurnya tak akan lagi panjang, namun ada pertanyaan yang mengganjal hatinya. “Suamiku, ada hal yang ingin aku tanyakan pada saat awal menikah denganmu.” Kata sang istri. “Aku tahu kamu pada saat malam pertama itu kamu sepertinya tidak bergairah denganku, yang justru aku heran adalah kenapa sampai sekarang kamu tidak menceraikan aku dan tidak menikah dengan wanita lain?

Dijawab oleh suaminya,

“Ketahuilah istriku. Saat aku menikah, aku mengucap janji dengan Tuhanku. Maka dari itu aku menepati janji kepada Tuhanku dan Tuhanku menyuruh aku untuk memuliakan dirimu sebagai istriku. Karena itulah, ketika aku berkhianat pada Tuhanku, kamu boleh katakan aku telah berkhianat terhadap syahadatku. Maka selama syahadatku masih kuat, percayalah aku akan komitmen terhadap dirimu.”

Yak, lalu terdengar keriuhan dari sisi akhwat. :3

Dear Akhwat,

Pilihlah lelaki yang sejak mudanya komitmen terhadap syahadatnya, maka ia akan komitmen terhadap akadnya setelah ia menikah.

 

Maka bagi wanita rumusnya adalah separuh agamaku bersamamu. Menjadikan dirinya menjadi bintang dan menjadi bidadari untuk suaminya. Itulah kenapa pernikahan Rasul menjadikan istri-istrinya bintang. Aisyah contohnya, yang menjadi produktif dan menjadi penghapal hadist. Zainab, dikenal sebagai istri yang ahli sodaqoh hingga mendapatkan julukan ummul masaakin. Hafsah, istri Rasul yang ahli ibadah, ahli shiyam, ahli qiyaam, hingga setelah menikah dengan Rasul, ia tak pernah meninggalkan sholat malam. Maimunah, dikenal sebagai penulis wahyu. Istri-istri Rasul lainya pun juga menjadi bintang—menjadi produktif dalam keunggulan amalannya.

 

Dear Akhwat, maka serahkan dirimu pada seseorang yang mindset nikahnya adalah:

“Aku akan membawamu bukan hanya sekedar bulan madu di dunia, karena kita kelak akan bulan madu sepuas-puasnya di syurga. Maka siapkan segala bekal untuk kita ke syurga, Sayangku”.

Jadi buat ikhwan, janganlah engkau menyatakan lamaran, “Maukah kau menjadi istriku”, namun katakanlah kepada calon istrimu, “Maukah telapak kakimu menjadi surga untuk anak-anakku nanti?” #eaaa

Berantem Dulu, Nikah Kemudian

Ada sebuah cerita tentang teman Ustadz. Suaminya saat itu mahasiswa, sedangkan sang akhwatnya sudah alumni, lebih senior dari si ikhwannya. Akhwat ini menjadi pimpinan akhwat di Lembaga Dakwah Kampus, d an ikhwannya menjadi pimpinan ikhwan. Tiap rapat, si akhwat ini pasti berbeda pendapat dengan si ikhwan ini—selalu diawali dan diakhiri dengan keributan. Pokoknya, ada aja yang bikin merka ribut. Bahkan ketika berada di lapangan selalu tidak kompak. Akhirnya didamaikanlah oleh Ustadz mereka. “Dakwah kita tidak akan berjalan jika seperti ini.” tukas Ustadznya. Si Akhwatnya merasa bahwa dia senior dan berkata bahwa dia lebih berpengalaman.

Si Ikhwannya tidak melawan, hanya berkata, “Gini deh, Ukhti. Maaf nih. Saya lihat dari beberapa lama kita ribut. Saya khawatir kalo begini terus—gak ada ikhwan yang mau sama Ukhti. Kasihan. Gini deh, gimana kalo kita nikah aja.”

Si akhwatnya langsung naik pitam, “Apa maksud kamu!”

“Lha maksud saya sederhana. Dengan pernikahan ini yang pertama kita gak ribut lagi dan kita bisa berdakwah dan bisa mencapai surga. Selesai.”

Si Ikhwan itu pun menantang akhwat seniornya itu. Si akhwat itu menerima tantangan si ikhwan dengan amarah.

“Setelah menikah—kita akan membuat sesuatu yang lebih hebat. Kamu tidak lagi membuat keributan. Ketika kamu nikah sama saya, dan saya jadi imam kamu. Dan setelah ini kita akan membuat proyek dakwah bareng. Karena tujuan kita adalah surga.”

Ketika ditanya oleh Ustadz Bendri tentang pernikahan keduanya setelah memiliki anak, “Mbak masih ribut gak sampe sekarang?”

Kata si akhwat yang kini sudah menjadi ibu 3 anak dan istri dari si ikhwan, “Oh masih! Justru itu yang membuat kita masih bertahan. Karena kita harus paham bahwa sejarah kami bertemu adalah dengan keributan. Maka pernikahan ini akan bertahan selama kita ribut.” #pfft

Ustradz Bendri berpikir bahwa pernikahan yang diceritakan tadi agak menyimpang—secara proses. Tapi beliau mengerti benar bahwa sang akhwat ini adalah aktivis. Tidak ada yang ia cari di dunia ini kecuali Ridho Allah SWT. Maka ia mengetahui betul kalimat “Separuh Agamaku Bersamamu” ia tidak meletakkan pernikahan itu menjadi suatu hal yang membius dia dan membuat dia terganjal masuk surga karena cinta yang lebih besar dari cinta kepada Tuhan dan Rasulnya.

Cerai karena Allah

Abdurrachman bin Abu Bakar menikah dengan Atika binti Zaid bin Amar bin Nufail—seorang Janda. Setiap yang menikah dengan Atika, selalu syahid. Abu Bakar berpikir bahwa Atika ini adalah muslimah yang hebat, ia ingin agar anaknya juga syahid seperti suami-suaminya terdahulu.

Setelah mereka menikah, mereka begitu mesra—tapi itulah yang membuat mereka terbius. Kemesraan mereka itu terlihat oleh publik dan membuat orang-orang yang melihatnya menjadi iri. Hingga Abu Bakar merasa ada yang mengganjal ketika anaknya sudah mulai terlambat sholat subuh di takbir pertama. Esok harinya terlambat satu rokaat sholat subuh. Besoknya begitu lagi, dan akhirya Abu Bakar berpikir bahwa alih-alih menjadi mujahid, anaknya malah menjadi orang yang lemah. Abu Bakar takut pernikahannya anaknya itu mawadah—mesra, tapi tidak berkah.

Dalam konteks perceraian Abdurrahman dengan Atika, menjadikan perceraian itu adalah perceraian terindah dalam sejarah. Setelah perceraian itu, masing-masing dari mereka merenung selama setahun. Hingga Abu Bakar berpikir bahwa mereka sudah bertaubat dan akhirnya menikahkan mereka kembali. Sebulan setelah itu, Abdurrahman syahid.

 

Jodoh Dunia Akhirat

Ada tiga jodoh yang telah ditetapkan:

  1. Jodoh dunia tapi tidak di akhirat.
    Di dunia bersama, tapi di akhirat tidak. Seperti Asiyah dengan Firaun—Asiyah beriman sedangkan Firaun tidak. Juga dengan pasangan yang sama-sama kafir. Mereka tidak akan disatukan di akhirat.
  2. Tidak jodoh di dunia, tapi jodoh di akhirat.
    Ini terjadi ketika sesama mukmin menikah, salah satu dari merka keburu meninggal. Maka mereka akan disatukan di surga.
  3. Jodoh di dunia dan di akhirat.
    Pernikahan sesama mukmin yang diridhoi Allah dan cintanya kepada suami/istrinya tidak melebihi cinta kepada Allah.

 

“Nikahilah lelaki yang baik agamanya. Kalau ia dapati istrinya cantik, ia akan memuliakannya. Jika ia tidak mendapat istri yang tidak sesuai dengan seleranya, dia tetap menjaga kehormatannya. Tidak mempermalukannya, dan tidak menyakitinya.”
- Hasan Al Basri-

 

Jangan terjebak dengan cinta yang membuat kita tidak produktif dengan amal. Cinta yang membuat kita lupa kepada Allah tidak akan membawa kita kepada surga. Sebagaimana cerita tentang Umar bin Abdul Aziz dengan Fathimah. Suatu saat dia naksir dengan seorang wanita cantik dan lajang. Saat itu beliau ingin untuk berpoligami, sedangkan sang istri benci dengan poligami, sehingga istrinya tidak mengizinkan. Umar meskipun dia punya hak untuk menikah lagi, dia menghormati keputusan istrinya. Dia tidak selingkuh dan tetap berkomitmen. Tapi karena terbayang oleh gadis tersebut, hingga ia jatuh sakit. Akhirya istrinnya merasa bersalah dan akhirnya dalam hati mengizinkan suaminya berpoligami. Fathimah kemudian mendatangi si wanita tersebut dan meminangnya untuk menjadi madunya. Gadis tadi bersedia jadi madu.

Fathimah berencana membawa gadis ini sebagai kejutan bagi suaminya. Ketika dibuka pintu kamarnya, Umar terkejut, hingga istrinya berkata, “Suamiku, dengna ini aku izinkan kamu menikah lagi.”

Sang gadis pun mendekat dan bertanya pada Umar, “Benarkah Anda ingin menikahi saya?”

Namun apa yang dikatakan Umar sungguh diluar dugaan, “Aku pernah mencintaimu, tapi aku tidak mau menikahimu.” Sang gadis pun terkaget.

“Jika aku mencitaimu saja membuatku sakit, bagaimana jika aku menikahmu? Mungkin aku bisa mati.” Kata Umar.

Akhir cerita, karena Umar tidak mau silaturahmi dengan gadis tersebut putus, gadis itu kemudian dinikahkan dengan keponakan Umar bin Abdul Aziz.

***

 

Masih panjang penuturan Ustadz Bendri, beserta tanya jawab peserta (baca: curhat) yang sangat menginspirasi. Namun terlalu panjang artikel ini jika dijelaskan.

 

wallahu a’lam bisshowab.

-srf-

Jangan Pilih Aku

Berikut adalah resume dari penulis tentang Tausiyah Ustadz Herry Nurdi di XL Tempo Hari.

cek5

Lamarlah Ikhwanmu, Ukhti

“Kalau kamu tau ada ikhwan sholeh. Bila perlu langsung lamar dia. Jangan hanya menunggu. Khadijah ra pun melamar Muhammad SAW—dan ia menjadi wanita yang terdepan dalam perjuangan islam. Yang menginfakkan hartanya untuk dakwah islam.”

*loh, bukannya ini disampaikan pas materi terakhir ya?
**iya, sengaja, biar semangat baca kebawahnya. :p

Tentang Presiden

Presiden berawal dari kata Presedence, yang artinya adalah “awal”—yang rendah hati. Dengan demikian, seharusnya presiden sadalah sosok yang rendah hati. Namun sekarang ini tidak ada lagi pemimpin yang rendah hati untuk menjadi sosok presiden sebenarnya.

“Kalau kamu taat pada Allah, maka Allah membuat seluruh makhluk taat kepadamu. Jika kamu tidak taat kepada Allah, maka Allah dapat membuat seluruh makhluk tidak taat kepadamu.”

 

The leader 3.0:

  • 1.0 (provit oriented)
  • 2.0 (posisi)
  • 3. 0 (spiritualism)

Bil Gates mengamaalkan the leaer 3.0.

“Saya tidak akan mewariskan seluruh warisan saya ke anak dan istri saya.”- Bill Gates

Disatu sisi dia mengambil profit yang sangat tinggi di microsoft, tapi disisi lain Bill Gates tidak menyerahkan kekayaan yang ia dapat untuk keluarganya.

“Wallahi, Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

Bersyukur

Sesungguhnnya orang-orang yang beriman itu teramat sangat cintanya kepada Allah. Maka yang lainnnya rendah. Yang lain tidak pernah merisaukan hatinya dan tidak pernah membuat hatinya berkelut.

“Saya ingin jadi presiden. Alhamdulillah dikabulkan menjadi presiden teachers working group. Diijabah saat saya berdoa di multazam.

Belum pernah ada doa saya yang tidak dikabulkan oleh Allah. Hidup kita akan selalu meningkat. Tidak akan ada periode hidup Antum turun. Hidup akan selalu meningkat. Bahkan ketika turun, itupun karena antum tidak bersyukur.” - Herry Nurdi-

Alkisah, ada seseorang Imam yang kaya raya, katakanlah beliau bernama Imam Imron. Satu lagi imam yang miskin yang Ustadz Herry lupa akan namanya.

Diceritakan bahwa Imam yang miskin tersebut mempunyai istri. Pada suatu waktu, istrinya ingin mandi di sauna (*di mekah saat itu adalah masa Usmani yang gemar bersauna). Istri beliau ini ingin ke sauna dan tidak punya uang saat itu—Istri ulama besar bahkan tidak punya uang untuk sekedar ke sauna. Akhirnya istri sang imam ini menabung hanya untuk mandi di sauna. Ketika sudah cukup, berangkatlah ia ke tempat sauna. Sesampainya disana, ternyata sauna sudah full book semua. Yang mem-book adalah istri Imam Imron.

Akhirnya si istri marah, mengapa suaminya tidak sekaya Imam Imron.

“Aku ini bukan miskin. Tapi aku tidak mau kaya.”

Lalu untuk membuktikan ini, dia mengajak istrinya ke sumur zam-zam. Dan dia memasukkan timba ke dalam sumur tersebut. Diangkatlah timba itu, dan timba tersebut penuh dengan satu ember penuh emas.

“cukupkah?”
“wallahi, aku mencintaimu jika kau tambah satu ember lagi.”
“cukupkah?” kata Imam tersebut sambil menunjukkan ember yang kedua.
“wallahi, aku mencintaimu jika kau tambah satu ember lagi.”

Hingga tiga timba, “kau pilih ember-ember emas ini atau pilih aku?”

Hingga akhirnya istrinya sadar lalu berdoa,

“aku ridho hidup seperti ini bersamamu, doakan aku agar istiqomah dan qonaah. Suamiku, doakan aku agar kesederhanaanku disini untuk menebus kemewahanku di surga nanti.”

Takut

Alkisah seseorang yang sudah melakukan banyak sekali perbuatan dosa.
Di sisa umurnya, akhirnya dia berwasiat kepada seseorang yang dekat dengannya,

“Bakar tubuhku dan simpan abuku. Ketika sudah musim angin, maka taburkan abuku. Aku takut akan disiksa Allah.”

Hadist qudsi disambung Rasul SAW.

“Karena takutmu kepadaku, maka aku berikan rahmat-Ku untukmu. Masuklah engkau ke surga-Ku.

Ia bermaksiat pada level yang paling tinggi, hingga ia takut mati mendapatkan azab. Hingga takutnya itu membuat dosa-dosanya diampuni. Lalu, ketakutan kita kepada Allah setinggi apa?

Iman kita sudah sepmpurna ketika tiga tungku ini membakarnya

  1. Mahabbah fillaah –cinta kepada Allah
  2. Takut kepada Allah
  3. Berharap kepada Allah

“Sebesar apa ketakutan antum kepada Allah? Sebesar apa harapan antum kepada Allah?”

Godaan

Alkisah, seorang laki-laki masuk ke kamar dan dijebak oleh perempuan. Mirip dengan kisah nabi Yusuf AS.ketika sampai di kamar, beliau digoda untuk berzina. Dia tidak menemukan tempat sembunyi hinga akhirnya beliau masuk ke kamar mandi dan meraup semua tinja ke seluruh tubuhnya. Hingga ia diusir oleh perempuan itu karena jijik dengan laki-laki itu.

Setelah keluar dari rumah, ia dilempari oleh anak kecil dengan batu karena jijik dengan laki-laki itu. Akhir cerita karena hal tersebut ia meninggal. Ketika ia meninggal, kotoran yang ada di tubuhnya sebagai perisai keimanan itulah yang membuat tubuhnya wangi.

Membangun Keluarga Yuk!

Tingkat perceraian di KUA tahun ini meningkat 600%. Kebanyakan karena gugat cerai. Intinya istri yang menggugat cerai, dan suami terpaksa menceraikan. 90% karena suami dan istri merasa tidak bahagia karena materi. Alasan bercerainya adalah yang artifisial—kosmetik semua.

Apa sebetulnya niat membangun keluarga ini? Banyak yang ingin ini itu tapi tidak kunjung memantaskan diri.

Umar RA pernah memerintahkan anaknya, Ibnu Umar bercerai. Karena istrinya terlalu cantik. Karena hal ini, maka Umar ini merasa anaknya ini terlalu mencintai istrinya ketimbang Allah dan Nabi-Nya. Namun setelah beberapa lama kemudian karena diyakinkan oleh anaknya bahwa ia akan mencintai Allah dan Rasulnya juga berjihad di jalan-Nya lebih dari mencintai istrinya, ibnu Umar dirujukkan kembali dengan istrinya.

 

Tentang Fahmi Idris

Alkisah, Fahmi Idris ketika SMP, dia itu membaca “mutiara hidup” karya Buya Hamka. Pada saat itu Fahmi Idris baru SMP kelas 1. Tebalnya 900 halaman. Dan dia diperingatkan oleh perpus di Raden Saleh. Diperingatkan untuk mengembalikan hingga 3x namun perpanjang lagi. Karena ada satu bab tentang tasawuf modern yang belum dia pahami.

Dia dibelikan sepeda oleh ayahnya. Dan dengan sepeda itu dia berusaha solat subuh di masjid Al-Azhar. Karena setiap sholat subuh, Buya Hamka yang mengimami dan memberikan ceramah.

Dia datangi Buya Hamka ketika turun tangga, hiangga dia bertanya kepada Buya Hamka tentang Tasawuf Modern. Buya pun merangkul Fahmi Idris hingga turun tangga. Dan itu berkesan seumur hidupnya Fahmi Idris. Sejak itu, setiap subuh, ia sholat dr Raden Saleh ke Al-Azhar dengan bersepeda.

Buya Hamka menerangkan semua itu dengan luar biasa dan tidak meninggalkan sesuatu yang luas.

 

Sholat Maghrib

Selanjutnya Ustadz Herry menjelaskan pengalamannya sholat mahrib di kebayoran baru. Ada bapak sholat disamping saya. Beliau tidak mau kakinya ditempelkan dengan jamaah yang lain. Sedang sebelahnya berusaha sekenanya untuk menempelkan kakinya—Karena berpatokan dengan hadist, “Meluruskan dan merapatkan saf adalah syarat sahnya sholat.”

Bapak yang di sebelah kanan saya ini saya tempelkan kakinya dengan saya, bapak yang sebelah kiri saya ini tidak.

Jika hanya dengan hadist saja, tanpa adab dan akhlaq, Antum akan berantem dengan banyak orang. Antum akan jadi orang yang kaku.

Jika orang berilmu datang ke Rasul maka akan dijelaskan dengan sejelas-jelasnya. Jika orang belum berilmu, maka dikatakan kepadanya “islam itu mudah.”

Semangat antum belajar masih tinggi kah? Tinggikan! Penuhi. Semua orang yuang berilmu akan ditinggikan derajatnya. Apapun ilmuyang dipelajari. Tuntutan antum tinggi, tapi semangat belajar rendah.

 

Jika dihitung, berapa jam liat handphone. Dan berapa kali liat Al-Qur’an, kira-kira berapa komparasinya?

Jeruk itu ketika mula berbuah warnanya hijau, hingga orange—tandanya matang dan siap dipetik. Semua dunia ini Allah ciptakan dengan seluruh tanda-tanda. Mempelajari fiqih itu sekali seumur hidup. misalnya, hukum tentang Babi dan khamr adalah haram—hal itu dipelajari sekali untuk seumur hidup. Namun belajar mengenal Allah, itu belajar seumur hidup.

Air laut itu asin. Tapi tidak ada terlihat garam di laut. Lalu mengapa tidak terlihat? Karena larut. Kenapa larut? Karena volume air sangat besar dibanding garam (NaCl). Namun jika air tersebut tenang seperti tambak. Maka lambat laun akan mengering menjadi tumpukan garam. Lalu mengapa laut tidak? Kenapa? Karena laut terus bergelombang—bergerak. Bergerak karena angin. Dari atas ada angin, dari bawah ada arus air. Terus berputar. Apa yang menggerakkan angin? Ada musimnya. Sunnatullah. Inilah yang kadang-kadang kita tidak pandai membaca tanda-tanda dari Allah.

Benua yang melintang dengan yang membujur mana yang lebih luas? Yang lebih luas melintang. Kenapa? Karena ada sinar matahari yang mengitarinya. Allah memberikan daerah yang melintang ini untuk menjadi pemasok makanan di seluruh dunia. Mengapa kita tidak mengkajinya?

Tapi teknologi muncul di negara yang membujur. Mereka membuat alat-alat untuk survival. Karena mereka mencoba mengatasi susahnya hidup.

Andai saja kita mewarisi pemahaman seperti Rasulullah SAW dan dilahirkan di tempat yang susah. Yang meski tinggal dalam kawasan gurun pasir, tetap beliau bersabda, “Ajari anakmu berenang!”

Padahal di Madinah tidak ada laut untuk berenang. Kenapa demikian? Karena beliau tau akan kemana islam ini berkembang. Melintas negara dan benua.

“Rasul 13 tahun di mekkkah, tidak pernah beliau libur dan cuti bersama—selalu spartan. Ketika ke Madinah, 10 tahun, Rasul tidak pernah libur di madinah. Rasul sudah memerintahkan jihad ketika disana. Sudah 63 perang, dalam riwayat lain 68 selama itu. Yang intinya beliau 3 bulan sekali berperang. Itu hanya berperang, bagaimana dengan berdakwah, datang ke majelis, menulis surat, dan sebagainya.”
_Herry Nurdi_

 

Memilih

Kaitannya dengan memilih, antum memilih hidup seperti apa?

Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang taqwanya paling tinggi. Dia pasti lebih suka melakukan sesuatu daripada mencari alasan.

4S:

  • State fastnest (istiqomah)
    Rasul belum pernah kedapatan mendapatkan beliau tertinggal qiyamul lail. Dan jika tertinggal, beliau bayar dengan sholat dhuna yang panjang
  • Simplicity
    hidup sederhana saja. Tidak banya yang dibawa.
  • Sacrifice
    ringan berkorba
  • Self denied
    penolakan dari dalam hati dariapa-apa yang tidak kita perlukan .

Tentang Diki

Herry Nurdi bercerita tentang muridnya, bernama Diki. Diceritakan bahwa Diki ini dulunya suka bermaksiat, sangat besar maksiatnya hingga sauatu saat dia bertaubat.

Suatu saat dia ingin bikin halaqoh di paramadina. Kebetulan Ustadz Herry Nurdi diminta untuk mengisi dan menyemangati. Setiap fakultas didatangi dan diajak olehnya. Halaqoh pertama 35 orang, halaqoh kedua jadi 20, halaqoh ketiga tinggal 3, halaqoh keempat hanya 1—hanya dia. Yang namanya Diki ini, semangat dan halaqoh sendiri dan dipindahkan ke halaqoh yang lebih besar.

Innalillahi Wainna Ilaihi raji’iun, Diki meninggal dunia pagi ini dalam keadaan seetelah sholat subuh dan tilawah. Masih sangat muda. Dan Allah insyaAllah pasti mengangkat derajat kita. Allah akan mencabut kita dengan kebiasaan-kebiasaan kita. Semoga dalam khusnul khotimah.

 

Abu Dzar Al Ghifari

Abu Dzar Al Ghifari RA ketika pertama kali memeluk islam, dia bertanya kepada Rasul, “Apakah islam ini agama yang benar? Jika aku mati, apakah aku mati syahid.”

Setelah mendengar dari Rasul bahwa Islam adalah agama yang benar dan jika Ia mati dalam menegakkan kebenaran, dia mati dalam keadaan Syahid. Dia mengungumkan kepada khalayak, “saksiskanlah bahwa aku telah berislam” singkat cerita setelah deklarasinya itu, dia dikeroyok dan pingsan, hingga tiga kali siuman. Subhanallah.

Apakah keistiqomahan ini apakah usdah mengikuti sahabat Rasul ataukah belum?

 

Masjumi

Masyumi adalah partai aliansi dari 20 partai islam, saat berkuasanya Masjumi, M. natsir menjadi perdana menteri.

“Sekrang ini bukan saatnya menuai, ini saatnya memperbaiki tanah. 350 tahun tanah ini dirusak oleh belanda. 5 tahun, dipaksa menyembah matarahri. Maka ini saaatnya memperbaiki dan menghalau hama, bukan menuai hasil” – M.Natsir-

Apakah sekarang begitu?. Selalulah merasa kita pada musim tanam, jangan beprikir kita sedang dalam musim menuai. Pilihlah partai, dimana partai itu memiliki manfaat untuk Umat, yang tujuannya ketika dipilih adalah untuk menanam, bukan menuai.

ada tulisan bagus berkaitan dengan Partai Masjumi dan keteladanan M.Natsir, sila disimak: http://aliansipemuda.org/keteladanan-partai-masjumi/

Bersiap Diri

Katakanlah: Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan.Engkau berikan kekuasaan kepada barang siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari barang siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau muliakan barangsiapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa.
Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam, dan ”Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira

Ali -Imran 26-27

Yang dikehendaki Allah belum tentu orang beriman. Kadang-kadang kekuasaan diberikan ke orang yang tidak beriman, agar pada saat jatuh, jatuhnya sakit. Jika diberikan kekuasaan orang beriman, pasti dia baik.

Umar bin Abdul Aziz, hanya 2.5 tahun memerintah. Namun prestasi pemerintahannya sangat luar baisa hingga tidak ada orang yang mau menerima zakat. Tidak ada korupsi. Tapi apa yang diteebus oleh beliau? Badannya kurus kering. Diakhir usianya, Umar bin Abdul Aziz terserang penyakit TBC dan badannya kurus kering.

Dilain sisi, ImamAbu Hanifah dalam suatu riwayat punya 16 halaqoh dalam sehari.

 

Menjadi Insan Pembelajar

Imam Syafi’i memberikan nasehat kepada kita tentang sikap diri kita kepada Majelis Ilmu. Diantaranya kita membutuhkan:

  • Kecerdasan
  • Semangat
  • Sabar
  • Modal (materi)
  • Ulama yang lurus
  • Waktu

Ilmu itu akan memberikan sedikit jika kita meberikan semua yang kita punya. Maka ada tips dari para Ulama tentang peningkatan ilmu agama kita.

  • Berkumpul dengan orang-orang sholeh
  • Datanglah ke majelis-majelis ilmu..
  • Mendisipiknan diri untuk menjadi orang sholeh

 

*kenapa judulnya “Jangan Memilih Aku”, tapi isinya beragam begini?
**Well, bahkan Al-Baqoroh pun tidak melulu bercerita tentang Sapi Betina, bukan?

semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bisshowab

-srf-

Pacaran sebelum nikah itu boleh kok

muslim_manga_madimar_6Pacaran sebelum nikah itu boleh kok kata Ustadz,

Iya. He’eum. Seriusan. Gak boong. Ini Ustadz Salim A Fillah sendiri yang bilang pas kemarin mabit di Masjid Sunda Kelapa. Karena sebenernya pacaran itu asalnya dari masyarakat melayu. Masyarakat yang menjunjung tinggi norma dan etika yang sangat luhur.

Dulu nih, di daerah Melayu, ketika ada seorang pria melayu yang suka dengan seorang wanita, sang pria memiliki tradisi yang unik.

Sang pria ini datang dan duduk di atas batu di samping rumah sang wanita pujaannya. Lalu ia malantunkan syair keras-keras agar sang ayah dan gadis pujaannya wanita itu mendengar.

Akhirnya sang ayah dari wanita pujaannya itu keluar dari rumah dan mendatangi sang pria itu. Tidak hanya mendatangi, namun langsung memegang tangan sang pria itu dan langsung membawanya masuk ke ruang tamu. Di ruang tamu itulah sang pria diinterogasi tentang keseriusannya kepada anak gadisnya.

Jika sang pria serius dan anak gadisnya setuju, maka akhirnya dipasangkanlah daun pacar di jari sang pria dan di jari anak gadisnya dan ditandai jari-jari mereka dengan tanda dari daun pacar itu. Ketika sudah ditandai di jari-jari mereka dengan daun pacar, saat itulah yang disebut mereka telah “berpacaran”.

sang pria diberikan waktu hingga bekas daun pacar di jarinya hilang (estimasi 3 bulan, tapi Ustadz Salim bilang 40 hari) untuk mempersiapkan segalanya yang berkaitan dengan perkawinannya. Sedangkan sang gadis,selama waktu itu dipingit di rumah dan ditraining oleh ibunya tentang bagaimana caranya untuk menjadi istri yang baik.

Syar’i bukan? sebenarnya ini adalah makna sebenarnya dari pacaran.

Apakah mereka jalan-jalan sambil gandengan tangan? Ndak kan? ketemu aja nggak.

 

Well, meski dari diri kita pernah atau mungkin sedang dalam proses pacaran dalam makna dangkal kekinian ini, tidak salah jika kita mulai bermuhasabah. #ntms

Semoga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang selalu memperbaiki diri. Aamiin

““Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” QS. Yusuf (12): 87

So, pada udah siap nikah nih? yuk pacaran.

*nyiapin syair

 

Wallahu a’lam bisshowab

-srf-

Cintai Saudaramu

by: Ustadz Salim A Fillah

Kajian Malam Ahad -Public Speaking - by @MyNightRiska.

salim

Dalam kajian ini seharusnya bertema tentang public speaker, namun yang dikaitkan dengan Ustadz Salim kali ini adalah pentingnya public speaker ini dalam dakwah,dalam menyampaikan kebaikan kepada ummat. Mari disimak.

Diantara dua hal yang penting di dalam kehidupan adalah berdiri tegak untuk menujnjukan sikap dan bicara untuk menunukkan kebenaran.

Pemuda Kahfi

Pemuda Kahfi

Di Al-Qur’an diceritakan tentang pemuda Kahfi. “Mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Rabbnya, maka Kami tambahkan kepada mereka petunjuk dan Kami himpunkan hati mereka.”

  1. Mereka adalah anak-anak muda yang beriman kepada Rabb mereka
  2. Dan Allah tambahkan untuk mereka bimbingan untuk menghadapi kehidupan.
  3. Allah himpunkan hati merekea dalam satu kesatuan.
  4. Mereka menyampaikan kebenaran dan kebaikan.

Kita selayaknya menjadi pemuda yang berimana kepada Allah.

Kita harus mempunyai iman yang kuat. Karena dengan iman itulah kita memohon kepada Allah agar kemudian Dia memberikan kepada kita anugerah, petunjuk, dan bimbingan berupa kemampuan untuk tegak berdiri dan menyampaikan keberanan. Iman itu landasan kesemuanya dan harus senantiasa diperbaiki dengan taddabbur kita atas ayat-ayat Al-Qur’an.

Di dalam dunia yang remang-remang itu, kebaikan dan keburukan tersamar-samar. Sesuatu yang terpuji atau tercela kadang-kadang hanya diikat oleh konteks apa yang dibicarakan. Kita harus memohon kepada Allah agar diberikan bimbingan. Supaya hati kita diberikan “Furqan” untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk. “Huudan”—petunjuk untuk mampu menjauhi kebatilan dan menjalani kebaikan.

Sebelum kamu berdiri dan bersikap, Kami ikatkan hati mereka dan kami himpunkan mereka dalam satu himpunan.

Sudah selayaknya kita memiliki satu komunitas yang Allah himpunkan kebaikan atas kita. Yang saling nasehat-menasehati dan saling mengintakna ketika salah satu dari kita dalam titik-titik kritis.

Yang terbaik

Kita harus menyeleksi apa yang kita dengar dan memilih mana yang terbaik dari yang kita dengar.

Tulis hal terbaik yang kau dengar
Hafalkan yang terbaik dari yang kau tuilis
Bicarakanlah dari hal terbaik dari yang kau hafal itu.

Ikatan hati adalah hal tepenting

Betapa banyak orang yang mendapati kemasykuran, namun tidak dapat mencontohkan yang haq. Hanya karena ia tidak punya lingkungan yang baik yang saling menasehati yang haq.

Tidak ada pembicaraan yang lebih penting daripada mengingatkan manusia bahwa Rabb kita adalah pemilik kita, juga tentang hakikat hidup, dan tujuan hidup.

Yang selayaknya kita lakukan sebagai pemuda

  • Memupuk iman
  • Meminta petunjuk
  • Mendapatkan sebuah lingkungan yang kita terikat oleh iman yang Allah himpunkan atas ketaatan.
  • Tetap tegak berdiri agar orang tergerak untuk melakukan kebaikan.

Dalam Surah Yasin. Ketika Allah mengutus Rasul Allah. Allah mengisahkan tentang seorang public speaker, seorang yang bersahaja, dan sangat sederhana. Bahkan dalam riwayat, pekerjaannya hanya tukang kayu. Dia bukan ustadz dan tidak berilmu tinggi, dan tidak menguasai khazanah. Dia hanya tau siapa orang yang layak di ikuti. Yang dia tahu dia hanya menyerukan tentang kebaikan.

Bergegas-gegas dia kepada kaumnya dan dia berkata, “Wahai kaumku! ikutilah utusan-utusan (Allah) itu.” –surah Yasin:20

Menurut mufasir, laki-laki tersbut bernama Habib An-Najjar, orang yang tidak terkenal di sisi manusia, tapi terkenal di sisi Allah SWT.

 

Resiko menyampaikan kebaikan bisa sangat fatal

Hal ini sebaiknya disadari oleh setiap diri kita. Seperti Habib An-Najjar ini yang dianggap berbahaya di kalangan pemimpin jahiliyah saat itu. Maka para pemuka disana menyuruh orang-orang untuk membunuhnya.

Dan para Rasul begitu cemburu akan Habib An-Najjar. Dimana dakwahnya mudah diterima dalam mengajak manusiakepada kebaikan. Hingga Allah menuliskan kisahnya dalam Al-Qur’an.

Mencintai kaumnya seperti mencintai dirinya sendiri

“Aku beriman kepada Rabb kalian dan ikutilah aku.”

Dia mengharapkan kaumnya apa yang dia harapkan untuk dirinya sendiri. Dia menginginkan kaumnya untuk mencintai Allah. Dia takut adzab Allah dan dia takut adzab itu menimpa kaumnya.

“Tidak beriman salah seorang kalian sampai dia mencintai saudaranya, seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ilmu tidak pernah ada habisnya

Orang yang berhenti belajar maka ia sedang memulai kebodohannya. 79 al imron,

Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudaian dia berkata kepada manusia, “jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya.” (Ali Imran 79)

Maka jadilah kalian masyarakat robbani yang ingin mendekat kepada Allah SWT.

“Orang yang mengajar, akan tertuntut untuk selalu belajar terus menerus tanpa henti. Saat kita mengajar, sebenarnya kita sedang belajar.”
-Ustd Salim A Fillah-

Jangan soleh sendirian

Kesadaran dan kebersamaan itu perlu ditumbuhkan. Kita harus memperingatkan orang-orang yang kesalehannya untuk dirinya sendiri. Kita diibaratkan dalam sebuah kapal—kapal besar bernama Indonesia.

Jika ada pihak yang melubangi kapal, dan itu adalah orang lain, yang celaka adalah kita semua yang berada di atas kapal tersebut

Manusia dalam kaitan ini dibagi menjadi tiga golongan

  1. Manusia yang bermaksiat
  2. Manusia soleh yang mengingatkan manusia yang lainnya
  3. Manusia yang sholeh, namun tidak mau menasehati. Malah cenderung memperingatkan kepada orang yang mengingatkan pada kebaikan. “Jika Allah mau, Allah akan memberikan keputusan.”

“Mereka tau kebenaran, tapi tidak mau menyampaikan. Maka tunggulah mereka dibinasakan bersama dengan kaum-kaum yang berkhianat”

Talkshow with Alfito Deannova & Maman Suherman

RISKA-MYNIGHT-LETS-SPEAK-GRAB-YOUR-AUDIENCE

Tentang Fito

Alfito Deannova Gintings lahir di Jakarta, 17 September 1976. Beliau sekolah di SMP 3 Depok dan SMA 1 Bogor. Kuliah pada jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sejak 1996, menjadi penyiar radio humor SK 101,4 FM, hingga 1999. Pertengahan 2000 bergabung dengan Liputan 6 SCTV. Mengikuti sejumlah pelatihan, salah satunya di ABC Sydney, Australia tahun 2003. Jabatan terakhir di SCTV adalah anchor dan produser sejumlah acara seperti Liputan 6 Petang, Dari Titik Nadir untuk Tsunami Aceh dan program Pilpres 2004, Selangkah ke Istana. Mei 2007, bergabung dengan Lativi. Salah satu pionir tvOne dengan kreasi program – program berita dan Talk Show. Saat ini, menjadi pembaca berita, dan Current Affairs Manager disana. Mengajar di Universitas Paramadina, Universitas Al Azhar Indonesia dan Universitas Pancasila. Lulusan pasca sarjana Ilmu Komunikasi UI tahun 2007 ini, kini tinggal di Kawasan Bekasi bersama Istri, Rencany Indra Martani dan ketiga putri , Laqisya Phillianova Gintings, Lavere Fallenova Gintings dan Lajema Tresnanova Gintings.

Bang Fito lebih banyak bicara tentang perjalanan beliau menjadi jurnalis dan bagaimana menghadapi audiens.

 

Tentang Maman

Maman Suherman, kelahiran Makassar 10 November 1965, adalah alumni Jurusan Kriminologi FISIP-UI. Meniti karier sebagai jurnalis hingga menjadi redaktur pelaksana/pemimpin redaksi di Kelompok Kompas-Gramedia (1988- 2003). Setelah itu, dia menjadi kreator/penulis skrip/produser hingga managing director di Rumah Produksi Avicom (2003-2011) dan menghasilkan lebih dari 50 judul berbagai program TV dengan lebih dari 1.000 episode.

Salah seorang penggagas Panasonic Gobel Awards ini juga menjadi editor buku Asal-Usul Wimar Witoelar: Menuju Partai Orang Biasa pada 1990-an, kemudian menulis buku Matahati, dan serial Bokis. Buku pertama Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb, buku kedua Bokis 2: Potret Para Pesohor, Dari Yang Getir Sampai Yang Kotor’. Maman, yang kini sedang menyiapkan sebuah novel, juga menjadi pemandu talkshow “Matahati”, kreator semi-dokumenter “Sebuah Nama Sebuah Cerita”, dan mentor “Stand Up Comedy Indonesia” di Kompas TV. (sumber:penerbitpkg)

 

***


Jurnalis itu tugasnya seperti Nabi Muhammad

Nabi memberi kabar, kami pun memberi kabar. Tujuan kita untuk kebaikan. Bangsa indonesia dibilang sebagai bangsa yang tidak dapat melucu dengan verbal. Padahal dengan wayang, dengan dongeng, sebenarnya Indonesia dibuktikan bisa berkomunikasi verbal daripada dengan harus memukul dengan gabus dan lempar-lemparan tepung. (maman)

 

Jangan selalu berpeatokan dengan survey dan angka

Misalnya ada survey bahwa 1 dari 2 remaja putri SMA sudah tidak perawan. Sedangkan kita tidak tahu dari mana mereka mendapatkan data dan samplingnya berapa banyak. Bisa jadi hanya ada 2 responden, 1 remaja putri tidak perawan dan 1 nya lagi masih perawan.

Jurnalistik sekarang ini lebih mengutamakan kecepatan daripada ketepatan. Inilah yang mnenjadi tantangan kita, para jurnalis.

Umat islam selyaknya tidak memberikan berita tidak sesuai dengan fakta. Nurani kita sedang diuji ketika bekerja di ranah jurnalis.

 

Ada suatu kisah, dimana di serambi mekah, ada seseorang wanita yang dia malam itu melihat organ tunggal di suatu tempat. Karena sudah malam, maka ia tidak dapat pulang, sehingga ia memutuskan untuk pulang esok paginya. Kebetulan malam itu ada razia polisi untuk para (maaf) pelacur. Dimana ia juga ikut terjaring razia dan didata disana. Sedangkan para jurnalis yang merekam kejadian itu tidak menanyai kepada sang wanita ini lebih lanjut. Sang wanita ini lalu pulang pada esok harinya. Hanya saja berita sudah menyebar di kalangan masyarakat tentang wanita yang diberitakan tertangkap ketika melacurkan dirinya tempo hari. Sang orangtua dari wanita ini kaget dan syok. Berita ini kemudian menjadi aib keluarganya. Akhir cerita, si wanita ini menulis surat permintaan maaf kepada keluarganya dan akhirnya bunuh diri. Oiya-ini cerita nyata. (maman)

 

Kode etik.

Tentang media yang seharusnya berimbang. Dalam kode etik media cyber, berita dapat diposting meskipun hanya dari satu sumber saja dan belum dikonfirmasi. Namun perlu diberikan keterangan bahwa artikel tersebut hanya didapati dari satu narasumber dan akan diberitakan kembali updatenya pada berita selanjutnya.

Saya percaya masih ada orang yang punya naluri jurnalistik. Saya percaya bahwa teman-teman jurnalis itu berperang dalam dirinya di suatu media yang dia naungi. Sebagai contoh, channel Fox di Amerika itu membela partai Republik. Itulah mengapa FOX kontra dengan Obama. Sedangan CNN mendukung Partai Demokrat di Amerika. Media di Amerika secara terang-terangan memihak dalam politik. Namun mereka menggunakan frekuensi sendiri, bukan frekuensi publik. Sedangkan di inggris, media tidak diperbolehkan berpihak. Sedangkan di Indonesia, KPI itu abu-abu. Tidak ada aturan yang jelas disana. Sehingga sekarang media digunakan untuk kampanye dan kepentingan pribadi padahal ada peraturan dan pelarangan media untuk dijadikan media kampanye. (maman)

Biarkan masyarakat yang menilai. Biarkan media berpihak.

Di luar, sebelum dikeluarkan tentang pelarangan seven dirty words, acara di Amerika sering mengeluarkan kata-kata sumpah serapah. Hal ini membuat para ibu rumah tangga resah. Acara tersebut dikonsumsi bulat-bulat oleh anaknya. Akhirnya perkumpulan ibu-ibu rumah tangga di Amerika mendatangi channel televisi tersebut dan meminta agar acara tersebut ditutup. Namun channel TV tersebut berkata bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan karena tidak ada peraturan yang melarangnya. Mereka legal untuk mempublikasikan acara tersebut.

Lalu apa yang terjadi? Akhirnya ibu-ibu tadi mendeklerasikan pemboikotan terhadap produk-produk yang diiklankan di channel tersebut. Mereka mendeklarasikan tidak akan membeli produk apapun yang dipromosikan oleh channel tersebut.

Dengan kekuatan publik tadi, akhirnya acara tersebut dihentikan. Kekuatan publik sanggup mematikan acara di televisi.

Sedangkan di indonesia, publik tenang-tenang saja. Menghina dan menjadikan itu sebagai hiburan. (maman)

 

Media dan Kepentingan

Buat kami jurnalis, kita bersama beberap televisi lain, metro, mnc group, dan lainnya, mengerti bahwa televisi tersebut melekat dengan satu orang. Personifikasi nya jelas. Metro TV dengan Surya Paloh. TV One dengan ARB. MNC dengan HT. seberapa besar ini menguasai acara mereka? Sampai 50% pun tidak.

Kita hidup di dunia tidak sempurna 100%. Saya belum bisa seperti itu. Saya punya keinginan untuk melakukan sesuatu yang bisa mengaktualisasi passion saya sebagai jurnalis.

Social media begitu luar biasa. Socmed Itu menjadi suatu penyeimbang dari berita-berita yang ada di televisi dan media lainnya.

MK dan KPK tidak pernah dikritik oleh media. Karena akan membayakan media tersebut. Begitupun dengan pemerintah. Tetap ada kepentingan disana, pemerintah juga dapat menekan media. Media harus berpikir dua tiga kali terhadap issue pemerintah. (fito)

Social Media

Breaking news sekarang tidak lagi ada di televisi—melainkan di twitter. Kedepannya, tv akan ditinggalkan ketika masyarakat sudah sadar bahwa televisi itu bias dan memihak. (fito)

 

Media itu jadi industri

TV one itu memiliki acara Satu Hati Untuk Indonesia, itupun tidak banyak peminatnya. Media membuat program edukatif bagi masyarakat, tetapi tiak ada yang menonton. Acara Dangdut lebih bagus dan lebih digemari masyarakat.

Dulu sempat berdiri televisi pendidikan indonesia. Namun gak ada yang nonton dan tutup. Kita juga bingung atas kredibilitas kita sebagai bangsa. TV One dan Metro TV (yang lebih banyak tentang berita) hanya 7%-10% (dari total pemirsa). (fito)

Peristiwa

Saat melihat peristiwa seorang jurnalis selayaknya menjadi skeptis.

“Ketika saya duduk dengan narasumber. Saya skeptis. Sisi jurnais yang benar memang selalu skeptis. Selalu bertanya terus menerus dan tidak pernah puas” Alfito Deannova

Jurnalis yang baik melakukan klarifikasi. Namun Jurnlais juga tidak dapat merubah kata2 dari penegak hukum yang berkata (dalam peristiwa penembakan oleh Densus 88) bahwa “mereka adalah teroris.” Maka itulah yang ditulis dan disebarkan di media massa. (fito)

 

Dunia Jurnalis itu ada akibatnya

Apakah akibatnya buat saya? Saya bersembunyi di mekah 2 tahun saat dikejar-kejar oleh pemerintahan orde baru. Ketika Soeharto turun, barulah saya kembali ke Indonesia. (maman)

 

Naluri kita sudah mati

Maman di malam itu sering bercerita tentang fakta-fakta mencengangkan lagi menjijikkan yang ada di masyarakat. Saya tidak tuliskan disini karena saya pun tidak cukup tega untuk kembali mengingatnya. Maman berkata bahwa bisa jadi Nalurinnya sudah mati. Kekejaman krminal, rusaknya pemerintahan, dan lain sebagainya yang notabene merupakan dunia gelap dari kehidupan membuat ia melihat fenomena-fenomena terkini menjadi suatu hal yang biasa. (maman)

Anda adalah jurnalis

Sekarang ini Anda yang menyebarkan di social media.Tentang kepentingan dan konspirasi yang ada dalam benak Anda, lawanlah. Lawan kecurigaan dengan sikap. Lahirnya islam adalah untuk mengungkap kebenaran.

Dulu ada muslim televisi hingga sekarang media tersebut berubah menjadi Global TV, sedang audiens diam saja. Tidak ada kontra ke sana. Lalu salah siapa?

Akhir kata, marilah kita mencerdsakan masyarakat dengan berita yang akurat. (maman)

 

Wallahu a’lam bisshowab

-srf-

*untuk kajian Salim A Fillah saya post di artikel yang berbeda.

Penguat dan Perintang Doa

Oleh: Ust. Syarif Baraja

RISKA-PARIS-PENGUAT-PERINTANG-DOA1

 

Kehendak Allah

  • Allah adalah Rabbul Alamin
  • Apa makna Rabb? salah satu makna Rabb adalah Yang Mengatur alam semesta
  • Kehendak Allah adalah berlaku, tidak ada yang bisa menentang
  • Termasuk jodoh terbaik buat kita
  • Apa yang terjadi jika Allah berkehendak?

 

Jika Allah berkehendak

  • Jika Allah berkehendak, smeua bisa terjadi
  • Kun Fayakun

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.
(QS. 36:82)

Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
(QS. 36:83)

Tentang Ibrahim dan doa

Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Rabbku”.

(QS. 19:48)

Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.

(QS. 19:49)

Wujud penyembahan kita kepada Allah adalah dengan berdoa.

 

Doa, memohon pada yang Kuasa

  • Allah Yang Mahakuasa, satu-satunya yang berkuasa menentukan segalanya di langit dan bumi
  • Dilarang keras untuk berdoa kepada yang selain Allah
  • Berdoa selain kepada Allah adalah zhalim

 

Sholat adalah bentuk doa

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan 658 dan mensucikan 659 mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. 9:103)

Sholat, doa kepada Allah

  • Shalat adalah doa ibadah
  • Doa dibagi menjadi dua: Doa permintaan dan dalah doa ibadah
    • Doa ibadah adalah doa yang mengharap pahala Allah dan takut pada adzab-Nya. Ini adalah doa permohonan yang termasuk memohonkan agar amalnya diterima.
    • Doa permohonan adalah ketika kita memohon sesuatu. Misalnya, memohon jodoh terbaik untuk kita.

 

Hubungan antara sholat dan doa

  • Ada hubungan erat antara sholat dan doa, ada beberapa isyarat dalam Al-Qur’an.
  • Di dalam Al-Quran, dijelaskan tentang kisah hubungan antara doa dan shalat yang dilakukan oleh Nabi Zakariya.

Di sanalah Zakariya mendo’a kepada Rabbnya seraya berkata: “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a”.
(QS. 3:38)

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat 193 (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”.
(QS. 3:39)

 

Doa Maryam di mihrab

Maka Rabbnya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini”. Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
(QS. 3:37)

Rizki yang diberikan Allah kepada Maryam

  • Makna rizki dalam ayat diatas adalah pemberian dari Allah, tidak selalu berupa materi.
  • Rizki adalah termasuuk iman dan takqwa, juga termasuk di dalamnya adalah akhlak
  • Teman yang baik, yang membawa kita ke jalan yang benar adalah termasuk rizki. Termasuk teman hidup yang baik, termasuk jodoh yang terbaik.

 

Ikhlas harus ada dalam shalat

  • Adanya anugerah dari Allah adalah buah dari keikhlasan
  • Tanpa keikhlasan, shalat sia-sia—tak berguna
  • Ikhlas, shalat hanya mencari keridhoan Allah semata. Bukan karena mencari jodoh, bukan karena mencari rizki. Karena rizki akan datang sebagai akibat..
  • Kita harus bisa menentukan prioritas. Jika berdasar niat untuk mencari selain ridho Allah, maka kita tergelincir dalam perbuatan tidak ikhlas.

 

Rahasia Sholat

  • Sholat adalah gerakan dan bacaan
  • Bacaan sholat terdiri dari
    • Puji-pujian
    • Al-Qur’an
    • Doa

 

Dampak Pujian dalam sholat

  • Memuji adalah menyebutkan sifat kesempurnaan
  • Allah senang jika hamba-Nya memuji-Nya.
  • Allah mengabulkan dan menjawab bagi yang memuji-Nya
  • Kita menyebutkan kesempurnaan Allah
  • Menanamkan kesempurnaan Allah dalam dada
  • Hati kita makin tertarik kepada Allah
  • Hati kita semakin condong kepada Allah

 

Nikmat Memuji Allah’

Sahabat berkata, “Jika Rasulullah mengangkat kepalanya dari ruku’, beliau berdiri sampai kita mengatakan: Nabi lupa jika sedang shalat.”

Sudahkah kita merasa nikamt dalam memuji Allah?

 

Memuji Allah atas nikmat dan Kesempurnaan-Nya

  • Memuji Allah atas nikmat-Nya yang banyak
  • Memuji Allah atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya
  • Sudah sepantasnya kita memuji Allah dengan doa yang panjang dan lama, karena nikmat yang diberikan Allah begitu banyak dan besar.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita merasakaan manisnya memuji Allah?

Ketika Hati semakin Condong kepada Allah

  • Maka kita makin berharap kepada Allah
  • Kita makin yakin kepada Allah
  • Kita makin bertawakkal dan mengandalkan Allah
  • Kita makin cinta kepada Allah, karena mengingat kesempurnaan-Nya
  • Inilah kondisi hati yang memperkuat doa kita.

 

Sujud, tempat mencurahkan doa

  • Setelah memuji Allah, setelah melakukan amal yang dicintai Allah, kita bersujud
  • Sujud adlah posisi yang tepat untuk berdoa
  • Sujdu adalah posisi yang dicintai Allah
  • Ketika kita merendahkan diri kita ke titik terendah
  • Ketika kepala berada di tanah.

 

Sujud, saatnya bedoa:

  • Saat yang paling dekat dengan Allah
  • Allah mendengar semua pinta kita
  • Allah mendengar doa kita
  • Sujud adalah proses setelah kita memuji Allah
    • Pujian saat doa iftitah
    • Pujian saat ruku’
    • Pujian saat I’tidal

 

Sujud, bagian Penting dalam sholat

  • Dilarang membaca Al-Qur’an saat ruku’ dan sujud
  • Saat ruku’, agungkanlah Rabb-mu
  • Saat sujud, perbanyaklah doa, karena doa saat sujud layak untuk dikabulkan.

 

Bagian Penting Dalam sholat

  • Membaca Al-Qur;an waktu berdiri
  • Dalam Al-Qur’an terkandung pengetahuan tentang Allah
  • Pengetahuan ian pada Allah dan hari akhir
  • Saat ruku’, yaitu saat kita mengagungkan Allah

 

Di Kegelapan Malam

Doa mana yang lebih didengar Allah?

  • Di sepertiga malam terakhir, dan setelah shalat wajib
  • Di ujung akhir shlat wajib, ulama berpendapat sebelum salam.

Sujud di kegelapan malam

Mengumpulkan dua kemuliaan:

  • Kemuliaan waktu dan kemuliaan posisi.
  • Berada di dekat Allah saat waktu mulia

 

Sholat memperkuat doa

Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Rabbnya: “Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri 969 dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik 970.
(QS. 21:89)

Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.
(QS. 21:90)

Amalan Nabi Zakariya

  • Amalan Nabi zakaria adalah mengerjakan amal shaleh disertai takut serta berharap cemas kepada Allah.

 

Shalat, amal shaleh terbaik

Amalan terbaik:

  • Shalat pada waktunya
  • Berbakti kepada orang tua
  • Jihad fii sabilillah

 

Wallahu a’lam bisshowab

-srf-

Tulisan yang Bernyawa

Tulisan yang Bernyawa

By Ifa Avianty

ifa

(penulis lebih dari 60 buku, Kontributor aktif di Majalah Ummi dan Aninda, anggota FLP)

Penulisan kreatif mencakup banyak hal. Bagaimana mebuat tulisan itu hidup. Mungkin kita sering membaca novel fiksi yang mbosenin. Kenapa kira-kira? Karena tulisannya ternyata tidak hidup.

Bagaimana membuat tulisan itu hidup?

Pernah kita baca tokoh yang langsung nyangkut pada suatu cerita dan mungkin tokoh itu mirip dengan kita atau dengan teman-teman kita. Itulah yang dimaksud dengan tulisan itu hidup.

Saya tidak memperbolehkan diri saya mempublish naskah, bila cerita itu belum hidup. Dan pantang bagi saya menerbitkan buku, jika buku itu belum dijiwai oleh penulisnya.

Ketika Anda menulis, jiwai dulu tulisan anda.

Anda tidak boleh nulis, jiika Anda hanya menindahan aksara ke aksara.

Masukan naskah itu ke dalam diri anda dan larutkan itu dalam pembuluh darah anda.

fb

Lalu bagaimana membuat tulisan itu hidup?

  1. Tulis yang anda suka
  2. Tulis yang anda bisa dan kuasai.

 

Tulisan yang bernyawa itu memiliki:

  • Karakter yang kuat

Karakternya harus terbaca, jahat atau baik. Harus jelas dan tegas penokohannya.

  • Alur yang playful

Alur adalah turun naiknya cerita. Di dalam alur, ada konfilk, ada perpaduan dialog, ada deskripsi. Jangan sampai alur ini datar dan tidak menarik. Alur ini penuh permainan, sehingga jika datar, maka akan membosankan.

Selayaknay diberikan letupan-letupan yang dapat membuat pembaca itu penasaran. Kalau Anda tidak dapat membuat satu bab menarik, maka akan dibuang oleh editornya secara langsung.

  • Konflik yang kejutannya spreading

Konflik harus disebar di sepanjang cerita. Tidak hanya ada di bab-bab awal, sehingga tidak ada kelanjutan konflik di bab selanjutnya. Tidak boleh juga hanya ada konflik terus dan tidak boleh tidak ada konflik.

  • Pemilihan diksi yang bernas

Tidak perlu banyak hamburan kata-kata. Pembaca akan bosan jika dari depan hingga belakang cerita diisi dengan penuh diksi dan puisi. Usahaka tidak ada kata yang sia-sia dalam penulisannya.

  • Background yang showing

Background itu menunjukkan, bukan mengatakan. Showing itu menceritakan dari bahasa yang visual. Menganalogikan karakter dengan visualisasi.