Cafe hari ini cukup sepi, hanya ada 5 orang yang berada di meja-meja tengah. Sementara di ruang panggung, kali ini sedang disiapkan layar untuk nonton bareng. Biasanya untuk hari kamis sore dari pukul 4 sore hingga 6 sore, akan ditayangkan film-film lawas untuk ditonton di Cafe tersebut. Barulah setelah pukul 6 sore, akan ada perform dari musisi cafe tersebut.
“Hey.” Kata seorang gadis yang baru masuk cafe mendatangi meja bar sambil duduk di kursi bar tersebut sambil menaruh tasnya di atas meja.
“Oh, hey, Nona! Tumben datang sekarang?” tanya pelayan sambil dengan alis sediit mengernyit penuh tanya.
“Emang kenapa? Aku lagi pengen dateng aja, gak boleh?”
“ya gak papa. Cuman ya gak biasanya aja. Hari ini senin, dan kita semua tahu bahwa senin itu bukan rabu. Dan sekarang baru jam 4, jam pulang kantor masih 1 jam lagi.” Kata pelayan itu sambil mengelap meja.
“Haha, entahlah, aku lagi bosan di kantor, jadi kabur sebelum jam pulang.”
“Owh, I see then.”
Kata pelayan itu sambil mengangguk.
“Oh iya, Mas. Green tea float nya satu ya.” Kata Nona itu.
Tidak lama kemudian pelayan itu meletakkan satu gelas sedang green tea float di depan nona itu.
“Ada yang mau Mbak ceritakan? Nggak biasanya pulang jam segini dan dateng ke cafe hari ini.”
“Haha…gak tau deh, Mas.” Kata Nona itu kemudian menunduk.
“Haha, selow aja sih, Mbak. Kalo’ nggak mau cerita juga gak papa. Cuman saya disini udah biasa jadi tempat curhat orang-orang yang datang kesini, bahkan sering yang mengaku dosa ke saya. Hehehe….” kata pelayan itu sambil tersenyum lebar.
“Emm, aku lagi berantem sama Mama aku di kampung.” Kata nona itu sambil masih menundukkan wajahnya.
“Nah, kenapa?”
“Lha abisnya, si Mama selalu nelpon pas aku lagi di kantor, pas lagi sibuk, atau pas lagi lembur, atau bahkan lagi meeting dengan client di luar. Sekalinya aku telpon balik, biasanya mama gak ada di rumah, alasannya pengajian. Akhirnya yang disalahkan juga aku. Dibilang terlalu sibuk lah, harus cari pekerjaan deket rumah sana lah, atau apa lah.”
“cari kerjaan deket rumah di kampung sana kan gak masalah to, Mbak?” tanya pelayan itu. “Gaji disana gak segede disini, Mas. Lagian nggak ada perusahaan yang cocok dengan bidang saya disana. Yang ada cuman kebun sama sawah.” Kata Mbak itu sambil meminum green tea floatnya dengan sedotan.
“Mbak kapan terakhir pulang kampung?” tanya pelayan itu.
“Emm, mungkin sekitar 6 atau 7 bulan lalu sih, Mas.” Kata nona itu sambil meminum green tea floatnya.
Tidak lama, film mulai diputar. Suara nya terdengar jelas seisi cafe tersebut. Film untuk hari ini adalah “UP”, film animasi dari Pixar yang mengkisahkan tentang petualangan anak pramuka dan kakek yang ingin merealisasikan mimpinya. Film ini mengajarkan banyak tentang persahabatan dan cinta.
“Wow, aku baru tahu disini juga ada acara nonton bareng pake’ layar tancep gini. Hehe…” kata Nona itu tersenyum melihat ke arah layar.
“Emm, Mbak…saya mau kasih tau sesuatu.” Kata pelayan itu.
“Apa?”
“Coba lihat di meja ketiga dari kanan. Yup, deket jendela.” Kata pelayan itu sambil mengisyaratkan ke arah meja tersebut.
“Oh yang itu.” Kata Nona itu sambil menunjuk dengan telunjuknya.
“Ssshhhh! Jangan tunjuk-tunjuk!” kata pelayan itu.
“Eh, emang kenapa?” tanya Nona itu.
“Coba lihat mereka.” Kata pelayan itu.
Yang duduk di meja itu adalah seorang ibu-ibu dengan umur sekitar 45-an, dan anak laki-lakinya yang umur sekitar 17-18an. Di meja mereka, ada semangkuk pasta dan segelas susu segar. Sesekali ibu itu menyuapkan pasta ke anaknya itu, setelah itu mengelap sisa makanan yang ada di mulut anaknya itu. Setiap kali makanan itu ditelan oleh si anak, sang ibu tersenyum dan membelai kepala sang anak dan dari gerakan bibir ibu tersebut, ibu tersebut sambil berkata, “pinteer, lagi ya?” lalu kemudian sang anak mengangguk dan kemudian ibu itu menyuapkan lagi satu sendok pasta lagi dan setelah itu mengelap sisa makanan di mulut anaknya itu dan kemudian membelai kepala anaknya itu lagi dan berkata “pinteer, lagi ya?” dan itu dilakukan berulang-ulang.
“Emmm, I don’t get…..”
“anak ibu itu keterbelakangan mental.”
“Eh?” sang Nona terperanjat kaget, dilongoknya sang pelayan itu. Sang pelayan itu masih memandang lurus ke arah ibu dan anak itu. “Mereka tidak tentu kesini, yang saya tau, Ibu itu membawa anaknya kesini jika anaknya rewel tidak mau makan. Jadi biasanya, dia membawa anaknya kesini saat sore gini. Kebetulan kalo’ sore disini ada sesi pemutaran film seperti ini. Ibu itu membawa anakna kesini biar anaknya tidak rewel dan ibunya dapat menyuapinya.”
Nona itu mulai melihat dengan lebih dalam. Sang ibu masih menyuapkan, mengelap sisa makanan di mulut anaknya itu, dan membelai kepala anaknya, dan tetap dengan senyuman. Anak itu terlihat sehat, agak gemuk, dan kulitnya bersih terawat, dan meski dengan keterbelakangan, wajahnya terlihat berbinar dengan penuh kesenangan. Pandangannya terus tertuju pada layar dimana film diputar.
Pasta di mangkuk itu mungkin tinggal 3 suapan lagi. Namun anak itu sudah menggeleng ketika ditawarkan untuk disuapi. Ditampiknya sendok ibunya itu hingga sendoknya jatuh ke lantai. Ibunya berdiri dari duduknya, mengambil sendok, mengelap ceceran pasta di lantai dengan tissue yang ada. Seorang pelayan lain membantunya untuk membersihkan ceceran pasta di lantai dan memberikannya satu sendok yang baru. Ibu itu kemudian duduk kembali dan mengelus kepala anaknya itu lagi. anak itu masih menatap layar di panggung dan sesekali tertawa dan bertepuk tangan layaknya anak umur 5 tahun.
“Mbak, aku yakin ibu Mbak juga melakukan hal yang sama pas Mbak kecil dulu ya.” Kata pelayan di bar itu.
Nona itu tetap diam, masih dilihatnya ibu dan anak itu.
Pelayan itu pun berucap kembali, “Nggak ada ibu di dunia ini menghendaki anaknya keterbelakangan mental, nggak ada. Tapi lihat, apa ibu itu mengeluh? Bahkan dia rela membawa anaknya kesini sekedar untuk membujuknya makan. Meski ya….dia melakukan itu seumur hidupnya dia.”
Nona itu mengedipkan matanya, hingga air mata kecil menetes cepat melintasi pipinya dan terjun bebas jatuh ke pangkuannya. Diusapnya air matanya dengan sikunya.
Disodorkan satu lembar tissue dari pelayan untuk si Nona. “makasih.” Kata nona itu mengambil tissue dan menyeka air matanya.
“Hehe, kalau sudah melihat ibu dan anak itu disini, saya biasanya sih langsung telpon rumah, Mbak. Gak tau deh kalo’ Mbak.” Kata pelayan itu kepada si Nona.
“Haha, emm, jadi merasa anak durhaka gini akunya.” Kata si nona.
“hehe, yasudah, sana telpon ibunya Mbak.” Kata pelayan itu sambil tersenyum.
Nona itu mengambil telepon genggamnya dari dalam tas dan pergi ke toilet. “saya nitip tas ya, mas.” Kata Nona itu.
“Siap!” kata pelayan itu sambil tersenyum.
Hingga tiba di toilet, suara dari luar sudah tidak terdengar lagi. Di depan cermin besar dan wastafel, si nona menekan tombol telepon genggamnya, tertera di layar ponselnya ‘Mama’ dan ditekannya tombol panggil.
Tidak lama kemudian, dia berbicara, “Halo, Ma, ini Alyn….”
Beberapa lama dia bercakap dengan ibunya, meminta maaf atas perlakuannya, bertanya kabar tentang ayahnya, tentang kebun dan sawahnya disana, tentang cuaca dan segala yang berhubungan dengan keluarganya. Hingga penghujung percakapan, si Nona itu berucap kepada ibunya, “Ma, Alyn mau pulang kampung sabtu ini. Alyn kangen sama mama. Tunggu Alyn ya di rumah.”
-syarif-
Recent Comments