«

»

Dec 14

Amalan Terbaik

Tulisan ini saya tulis karena terinspirasi oleh tausiyah dari Ustadz Herry Nurdi saat mengisi kajian mabit kemarin (Jumat ke 13 di bulan Desember) di Masjid As-Salam Grha XL.

Sahabatku, tahukah kau apa yang dimaksud dengan amalan terbaik? Amal yang besar kah atau justru amalan yang kecil yang kontinyu? Bagaimana amalan tersebut membuat sahabat Nabi menjadi ahli surga? Berikut saya kisahkan amalan terbaik dari sahabat Nabi SAW.

Kisah pertama, kisah ini terjadi ketika rasul dan sahabat sedang duduk-duduk menunggu waktu sholat di masjid. Rasul berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Sebentar lagi, akan ada datang salah satu ahli surga.” Kata beliau. Tidak lama kemudian, seorang arab badui masuk masjid. Keesokan harinya, Nabi berkata dengan perkataan yang sama kepada para sahabatnya, “Sebentar lagi, akan ada datang salah satu ahli surga” dan kemudian sang arab badui kemarin masuk ke masjid. Hingga hari esoknya lagi, untuk ketiga kalinya, Nabi berkata yang sama kepada sahabat. Dengan rasa penasarannya, seorang sahabat nabi sangat ingin mengetahui amalan unggulan apa yang dilakukan oleh si Fulan itu.

Dikisahkan, sahabat meminta ijin menginap di rumah si Fulan dengan alasan sedang ada masalah dengan keluarganya. Akhirnya diijinkanlah sahabat tersebut menginap di rumah si Fulan. Hari pertama menginap, tak ditemuinya amalan yang mencolok dari si Fulan. Semua amalannya adalah amalan yang biasa dilakukan oleh sahabat. Hari kedua hingga hari ketiga sahabat tersebut tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya, mengapa Nabi menyebutnya sebagai ahli surga.

Di hari ketiga, sahabat berpamitan kepada si Fulan seraya bertanya, “Rasul berkata bahwa kau adalah ahli surga hingga tiga kali. Apa sebenarnya amalan yang kau kerjakan?” si Fulan menjawab, “Saya memiliki kebiasaan sebelum tidur.Saya berdoa kepada Allah semoga orang-orang yang pernah menyakiti dan mendzalimi saya, diampuni dosanya oleh Allah.” Subhanallah

Kisah kedua ini terjadi pada pagi hari saat Rasul baru saja mengalami peristiwa isra’ mi’raj malam harinya. Dipanggilnya Bilal kepadanya, “Wahai Bilal, Sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu ketika aku ke surga saat Isra’ Mi’raj tadi malam.” Bilal kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku adzan, melainkan sebelumya aku melaksanakan shalat dua rokaat dan berwudhu sebelumnya. Tidaklah aku berhadast, melainkan aku berwudhu sesudahnya.”

Kisah ketiga adalah tentang Uwais Al Qarni, kisah yang mampu membuat saya memberi jeda untuk menulis karena haru. Uwais adalah seorang yang berbakti kepada ibunya. Dia bertinggal di Yaman, dimana ia mengabdikan hidupnya untuk tinggal bersama ibunya yang sudah tua renta, lumpuh, dan buta. Uwais selalu merawat ibunya dengan tulus dan kasih sayang. Uwais juga seorang muslim yang sangat rindu kepada Nabi SAW, saat itu belum pernah ia bertemu sekalipun dengan Rasul. Ia selalu merasa bersedih hati jika mendengar orang-orang bercerita tentang pertemuan mereka dengan Baginda Rasul SAW. Uwais begitu ingin bertemu dengan Rasul SAW, namun ia tidak tega untuk meninggalkan ibunya untuk bertemu dengan Nabi.

Hingga suatu hari, ibunya yang mengerti betul bagaimana Uwais merindu Nabi, berkata kepada anandanya, “Anakku, Uwais, Pergilah engkau menemui Rasulullah. Setelah berjumpa, segeralah kembali.”

Akhirnya Uwais berangkat dari Yaman ke Madinah untuk berjumpa kepada Rasul. Sepeninggalnya ke Madinah, orang-orang terdekatnya lah yang diamanahi olehnya untuk menjenguk ibunya.

Setelah perjalanan dari Yaman ke Madinah, Uwais pun menuju rumah Rasulullah SAW. Namun yang ia temui adalah sayyidatina Aisyah RA, sedangkan saat itu Rasul sedang melakukan peperangan. Terbayang bagaimana kecewanya Uwais saat itu. Akhirnya ia pun pulang kembali ke ibunya di Yaman. Tak lupa sebelum itu, ia titipkan pesan untuk Nabi melalui Aisyah RA.

Sepulang Rasulullah SAW dari perang, Rasul langsung menanyakan kepada Aisyah tentang kedatangan seseorang yang mencarinya. Hingga Nabi bersabda kepada Aisyah dan para sahabat bahwa Uwais adalah penghuni langit, “Kalau kalian ingin berjumpa dengannya, perhatikanlah, ia memiliki tanda putih di telapak tangan kanannya. Suatu saat jika kalian berjumpa dengannya, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan penghuni bumi.”

Waktu terus berjalan hingga Nabi Muhammad SAW wafat dan berganti ke kepemimpinan sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq r.a dan akhirnya berganti ke kepemimpinan sayyidina Umar r.a. Teringat dengan pesan Nabi akan Uwais, sang penghuni langit, ia bersama Ali mulai mencari keberadaan Uwais. Sejak saat itu, setiap kafilah yang datang dari Yaman, Ali dan Umar selalu bertanya apakah Uwais bersama mereka. Namun Uwais tidak kunjung muncul di dalam kafilah-kafilah itu.

Suatu ketika, Uwais turut bersama kafilah ke kota Madinah. Ali dan Umar kembali bertanya kepada rombongan tersebut, adakah Uwais disana. Rombongan itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka. Ia sedang menjaga unta-unta di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Ali dan Umar bergegas menemui Uwais.

Sesampainya di perbatasan kota, mereka memberi salam kepada Uwais. Namun Uwais saat itu sedang sholat, dijawabnya salam ketika ia selesai melaksanakan sholat dan kemudian berjabat tangan dengan kedua tamu agung tersebut. Sewaktu berjabat tangan, Umar langsung membalik tangan Uwais, dan benar bahwa ada tanda putih di telapak tangan kanan Uwais seperti yang disabdakan Baginda Rasul SAW. “Siapa namamu?” tanya sahabat kepada Uwais. “Abdullah” jawab Uwais. “Kami juga Abdullah, siapa namamu sebenarnya?” tanya sahabat. “Uwais Al Qorni.” Dari pembicaraan tersebut, diketahui bahwa Ibu Uwais telah meninggal dunia, oleh karena itu dia dapat turut serta bersama kafilah Yaman ke Madinah. Segera sahabat meminta istighfar dan doa dari Uwais. Seperti yang diduga, Uwais menolak, “sayalah yang harus meminta doa kepada kalian.” Namun dengan desakan Ali dan Umar, maka Uwais mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah.

Khalifah Umar berjanji kepada Uwais akan menyumbangkan uang dari Baitul Mal untuknya. Lalu apa kata uwais? Dia menolaknya dengan halus sambil berkata, “Hamba mohon agar hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, mohon agar hamba yang fakir ini kembali tidak diketahui orang lagi.”

Sahabatku yang dirahmati Allah, maaf sebelumnya, untuk cerita yang ketiga cukup panjang saya paparkan karena sangat menginspirasi dan sayang untuk tidak tertuliskan di saungkertas ini.

Berkenaan dengan amalan-amalan terbaik, apa amalan terbaik kita? Sudahkah ada pembeda antara kita dengan muslim-muslim yang lain? Apakah yang sudah kita istiqomahkan? Atau mungkin yang wajib saja belum dapat dengan baik kita laksanakan sedangkan maksiat selalu kita kerjakan. Naudzubillah.

Fastabiqul khairat, sahabat. Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Kerjakan kebaikan itu walau kecil di mata kita, namun kita istiqomah menjalankannya, insyaAllah nilainya besar di mata Allah SWT.

 

-srf-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">