wahai Zainuddin,
terlepaskah iman oleh engkau?
Wahai pencari ilmu Allah, apakah tak ada lagi tauhid di dadamu?
sampai engkau nyaris hilang akal dalam palung dendam kebinasaan cinta tak berbalas.
engkau berselimut namun seakan lupa bahwa Allah adalah sungguh cinta sejatimu.
Wahai Hayati,
Rangkayo minang nan elok rupa juga tuturnya,
jangan kau ucap janji suci di depan makhluk yang dapat kau taklukan hatinya tapi tak dapat kau kuasai takdirnya,
Sedang engkau tak dapat menolak pernikahan yang hanya sedangkal perkawinan harta dan kecantikan
Zainuddin,
mengapa kau simpan kemalangan dan rindu dendam di ruang kerjamu,
sedang dalam kemalangan itu kau tulis hikayat dirimu dalam cerita masyhur
hampir hampir seperti tak mampu kau menulis tanpa kau ratapi lukisan gadis bangsawan Batipuh itu
Wahai Datuk,
cinta bukan hanya khayal dongeng dalam kitab,
tak elok Datuk mengataskan suku diatas agama,
dan haram Datuk menikahkan kemenakan Datuk atas pria pendusta dan penjudi,
dimana hari-harinya adalah khianat dari janji suci yang ia lantunkan
Tak ada cinta terakui sebelum akad dan tak ada janji bersama sebelum itu yang patut disucikan,
sementara dalam penantian itu hanyalah rindu dalam diam,
menitipkan doa dalam semilir angin dan desir pasir,
hingga saatnya waktu bertemu dengan azam beradu dengan takdir,
apakah menjadi awal bersama atau layu harapan membaur bersama rintik hujan
-srf-
Recent Comments