Assalamu’alaikum,
Tadi malam alhamdulillah saya berkempatan untuk hadir di mabit Sunda Kelapa untuk menjelang pergantian tahun 2013-2014. Subhanallah, ditengah gegap gempitanya ibukota akan event ini, masih ada perkumpulan yang lebih manfaat dan minus mudhorot seperti ini. Semoga panitia dan segenap yang hadir mendapat rahmat Allah SWT dan tetap terjaga dari fitnah akhir zaman. Aamiin.
Tema mabit tadi malam adalah Resolusi Hidup Bersama Al-Qur’an Menuju Kejayaan Islam. Ada cerita menarik dari talkshow tadi malam dimana talkshow tersebut menghadirkan Dra.Wirianingsih, M.Si –sebut saja beliau Ibu Wiwi, begitu panggilan akrab beliau.
Ibu Wiwi sendiri adalah aktivis islam dan satu kalimat yang menjadikan ikrarnya yang saya betul-betul ingat adalah, “Saya telah mewakafkan diri saya di jalan dakwah semenjak umur 13 tahun”.
Lalu apa yang spesial dari beliau? Beliau memiliki pencapaian yang luar biasa besar dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai pendamping hidup keluarga. Beliau memiliki 10 anak hafidz hafidzah, yang diantara mereka hafal 30 juz Al-Qur’an di usia sangat belia (10-16 tahun).
Mendengar cerita beliau malam tadi adalah lebih ke arah parenting—mendidik anak menjadi generasi qur’ani. Beliau bercerita tentang pentingnya golden age di masa tumbuh kembang anak. Golden Age pada anak adalah saat anak berumur 0-7 tahun. Di masa-masa itu anak dapat menyerap segala informasi dengan sangat cepat dan dimasa itulah terjadi pembentukan karakter pada anak. Ibu Wiwi mengatakan, dimasa itu, anak kita bentuk apa saja insyaAllah jadi. Karena mengetahui hal tersebut, Ibu Wiwi tidak ingin kehilangan satu detik pun dari masa-masa itu. “Kita akan kehilangan banyak darah jika kita melewatkan masa-masa itu” tuturnya. Karena masa setelah itu adalah masa baligh, masa yang paling sulit bagi orang tua untuk mendidik. Masa dimana anak memiliki pemikiran atas kebutuhannya sendiri.
Lalu bagaimana dengan mendidik anak? “Kunci mendidik anak itu adalah 3S” kata beliau. Apa itu? “Sabar-Sabar-Sabar” jelas beliau. Satu hal yang sangat penting adalah visi. Ibu Wiwi berkata bahwa kita harus memiliki visi atas anak-anak kita pada 30 tahun mendatang. Mau menjadi apa dia? Menjadi problem solver kah atau malah menjadi trouble maker?
Lalu bagaimana kiatnya menjadikan anak-anaknya hafidz hafidzah? Beliau ternyata membuat kurikulum sendiri di keluarganya. Sejak anak-anaknya berumur 2 tahun, beliau menargetkan ba’da subuh dan ba’da maghrib hapalan qur’an. Pada umur 5 tahun sudah harus hapal ksiah 25 nabi dan rasul. Mengapa? Karena sebagaian besar isi Al-Qur’an adalah tentang sejarah nabi dan rasul—sehingga anak bisa memahami tentang Al-Qur’an dan mengimani Al-Qur’an dengan hatinya ketika mereka mendapati kisah nabi dan rasul mereka di tafsir qur’an. Agar juga pada saat sekeluarga umrah, anak-anak akan melihat bukti-bukti dari napak tilas nabi dan rasul yang diceritakan olehnya di masa kecil dan ditemuinya di Al-Qur’an, sehinggga dia yakin bahwa Al-Qur’an benar-benar haq.
“Saya tidak mengijinkan ada libur untuk Al-Qur’an.” Kata beliau. Di dalam kurikulum dan pengajaran yang dibuatnya di rumah, ada masa jeda (istirahat) bagi anak untuk belajar matematika, belajar bahasa, dan sebagainya, namun tidak untuk Al-Qur’an. Tidak ada hari tanpa diputarkan olehnya murottal. Bahkan anaknya yang bernama Rosyad, saat ini sedang belajar dan menghafalkan Al-Qur’an bersama anak-anak di Gaza, Palestina.
Hingga tiba saatnya salah satu anaknya yang bernama Muh Saihul Basyir mendapat giliran berbicara. Melihatnya, mengingatkan saya dengan adik saya di rumah karena usianya masih 18 tahun, sama dengan usia adik saya sekarang. Dia bercerita tentang bagaimana awal mulanya dia belajar Al-Qur’an. Dia disekolahkan di suatu madrasah di Kudus, Jawa Tengah pada usia 7 tahun. Karena usia yang sangat belia dan sudah disuruh untuk merantau di Kudus, Basyir pun masih rewel minta pulang ke rumah dan pindah sekolah. Hingga akhirnya pada saat dia kelas 3SD, ibunya pun berujar, “Kamu boleh pindah sekolah kalau sudah hafal 30 juz.” Inilah yang menjadi pemicunya untuk menghafal Al-Qur’an. “Dan alhamdulillahnya saya sampai kelas 3 belum hapal juga 30 juz. Saya hanya berhasil hingga hapal 21 juz” Katanya sambil tersenyum. Akhirnya setelah berbincang, dipindahkanlah si Basyir ini kembali bersekolah di daerah Mampang, Jakarta Selatan. Sementara itu, ibunya tetap memberikan kurikulum dan kewajiban menghafal Al-Qur’an di rumah. Alhamdulillah di kelas 6SD dia sudah hafal 30 juz.
Lalu, sahabat, apakah yang dilakukan Basyir setelah pencapainnya hafal 30 juz di kelas 6SD? “Saya menghapalkan lagi Al-Qur’an dari awal-juz 1 lagi pada umur 12 tahun untuk melancarkan hapalan saya” tuturnya.
Satu hal yang masih saya ingat dan membuat saya kagum sekaligus luar biasa iri akan Basyir, ketika dia berkata, kurang lebih demikian “Saya umur 7 tahun tidak tahu sama sekali mengapa saya disuruh belajar Al-Qur’an dan disuruh merantau untuk menghapal Al-Qur’an. Namun saya sekarang jadi tahu, saya sebagai penerus bapak ibu saya untuk menjadi pejuang dakwah.”
Allahuakbar, semoga Allah memberi karunia kepada Ibu Wiwik, Basyir, dan segenap keluarganya. Hmm, mendengar cerita mereka, hati siapa yang tak iri, kawan. Melihat hapalan kita mungkin masih jauh dari anak-anak hafidz itu. Bahkan mungkin bagi yang berniat berkeluarga, belum ada visi terbayang dengan menjadikan keluarganya sebagai penerus generasi Qur’ani.
Saya teringat akan 3 amalan yang tidak akan berhenti walau kita sudah meninggal dunia. Amal Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh sholehah. Terbayang kawan, bagaimana pahala yang tak akan habis diterima oleh orang tua yang memiliki anak-anak sholeh sholehah penghafal Qur’an, dimana dari ilmu yang ia dapatkan itu ia ajarkan lagi untuk dakwah dan untuk penerus keluarganya hingga akhir zaman. Subhanallah.
Semoga dari tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita. Mohon kritik dan sarannya bila ada kesalahan di artikel ini. Wallahu a’lam bisshowab.
-srf-
Recent Comments