«

»

Nov 16

Cafe Corner #shortstory #part3 #Hujan

Dari luar kedai kopi, hujan deras mengguyur petang itu. Terlihat dari dalam kedai, orang-orang berteduh di kanopi depan kedai. Beberapa ada yang berlari menerobos hujan bersama kawan-kawannya mengenakan kemeja putih dan dasi. Momen ini unik karena jalanan sepi akan kendaraan bermotor. Hanya ramai orang berteduh dan beberapa taksi yang berhenti dan pejalan kaki berebut untuk mendapatkan taksi itu.

Suasana tenang dan hangat dalam kedai itu, suara gemericik air tak begitu terdengar dari dalam sini. Pelayan di balik meja bar itu sedang mengelap gelas-gelas tak berkaki yang kemudian disusun rapi di tempat gelas-gelas di belakang, menunggu untuk dituang kopi.

Pintu kedai terbuka, seorang sosok wanita masuk sambil menutup payungnya. Lengan panjang dan bagian bawah rok nya yang panjang basah karena hujan di luar.

“Hai nona, apa kabarmu sore ini?” sapa pelayan itu dengan senyum lebarnya seperti biasa.

“baik.” Senyum nona itu sambil menaruh payungnya terbuka di bagian samping kedai yang kosong.

“Green Tea float?” pelayan itu menunggu nona itu menjawab.

“Nope, muffin dan lemon tea hangat.” Kata nona itu dengan wajah polos ditaruhnya tas nya di kursi tinggi di sebelahnya. Sementara ia duduk di kursi bar dan menaruh handphone dan dompetnya di atas meja bar.

“Great choice.” Kata pelayan itu tersenyum lebar kembali. Disiapkannya gelas tinggi berkaki dan diraciknya lemon tea hangat pesanan nona itu, dipercantik dengan irisan jeruk di tepian gelas. Muffin coklat terlihat lezat dan terasa aromanya begitu lembut dan menggoda untuk disantap. “Silakan, Nona.” Kata pelayan itu sambil menyuguhkan muffin hangat di cawan beserta dengan lemon tea hangat yang harum.

“Thanks.” Kata nona itu tersenyum manis melihat muffin dan lemon tea hangatnya. Dipegangnya gelas kaca lemon tea itu dengan kedua tangan mungilnya. Dipejamkan matanya, seolah menikmati kehangatan gelasnya. Diangkatnya gelasnya dan diminumnya sedikit lemon tea itu di ujung bibirnya. Dia mengernyitkan dahinya, terlalu asam mungkin.

“Terlalu banyak lemon nya, Nona?” tanya pelayan itu penasaran melihat air muka nona itu.

“Tidak, pas kok, Mas.” Kata Nona itu sambil menangkan tetes-tetes air di penghujung bibirnya. Kemudian diletakannya gelasnya kembali ke atas meja kayu itu.

“masih kedinginan, Nona?” tanya pelayan itu.

Nona itu tersenyum dan ditatapnya mata pelayan itu. “tidak.” Katanya singkat. Seperti ada banyak hal yang ingin nona itu katakan, tapi hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.

Tidak lama kemudian, dari speaker kedai itu mengalun suara instrumen musik, jazz. Khas suara saxophone dan denting pianonya nya begitu merdu dan lembut untuk di dengar.

“Fly Me to the Moon.” Sahut Nona itu.

Pelayan itu tersenyum memandang Nona itu berucap sambil kemudian menggigit kecil-kecil muffin coklatnya. “my favorite love song by the way.” kata Nona itu.

“Haha, kau memiliki selera musik yang bagus, Nona.” Kata pelayan itu.

Nona itu tersenyum lebar. Dilihatnya keluar jendela, hujan makin deras. Beberapa dari mereka mengenakan payung dan menerobos hujan. Ada beberapa pasang lelaki-wanita yang mengenakan payung dan berhenti di depan kedai menunggu hujan berkurang derasnya.

“Lemon tea hangat, muffin coklat, love song, dan hujan. Sepertinya komposisi yang sempurna.” Kata Nona itu sambil masih melihat ke arah jendela.

Pelayan itu hanya diam, melihat ke arah yang nona itu lihat.

“Ya kan?” dilihatnya pelayan itu oleh si Nona.

“Betul, Nona.” Kata pelayan itu tersenyum kembali.

“Hangatnya seperti mimpi indah dan selimut yang hangat. Yang apabila kau kemudian terjaga, kau menyadari ada yang hilang seusai kau membuka mata. Mimpi itu tidak nyata.”

“Tapi setidaknya selimutnya masih ada ketika kau terjaga, Nona.” Kata si pelayan.

“Iya, seperti aku saat ini. Beruntung bisa berteduh di tempat hangat ini.” Kata si Nona sambil memegang kembali lemon tea hangatnya.

“Secara tidak langsung, Nona mengisyaratkan ada yang hilang dari Nona.” Kata pelayan itu.

Nona itu menghirup aroma lemon tea itu, dan menyeruputnya sedikit-sedikit dengan ujung bibirnya. “Sekarang aku bertanya padamu, bolehkah?” tanya Nona itu menatap si pelayan. “Setiap kali aku kesini, selalu aku yang kau tanyai dengan pertanyaan anehmu, kali ini, bolehkah?” tanya si Nona.

“boleh, Nona. Silakan.” Kata pelayan itu mengangguk pelan.

“Pernahkah kau mengejar hati hingga kau menyerah pada akhirnya?” tanya si Nona.

Pelayan itu tersenyum. Dilihatnya kanan dan kirinya, kedai itu cukup sepi petang itu. Hanya ada sekitar 5 pelanggan di meja samping dan hanya ada si Nona itu di meja bar. Beberpa pelayan standby di dekat meja-meja yang terisi. “Pernah Nona.” Kata pelayan itu dengan suara pelan hampir berbisik.

“Bagaimana rasanya berhenti?” Kata Nona itu. Disanggahnya dagunya di atas kedua telapak tangannya sembari sikunya ditaruhnya di atas meja.

“melegakan, Nona.” Kata pelayan itu.

Nona itu penasaran, dilihatnya seksama pelayan itu.

“disaat kau mengetahui langkahmu sudah terlampau jauh. Sejauh langkahmu berjalan setapak-demi setapak, tapi tak jua ada titik akhir yang terlihat untuk kau pijak. Kadang seperti melihat ombak air di padang pasir, kau harus memastikan apa itu air atau tidak dengan kembali berjalan tanpa kau sadari kau menambah langkahmu menjadi lebih jauh.” Kata pelayan itu sambil menunduk melihat meja kayu di depannya. Dibungkukannya badannya hingga diletakkan lengan dan sikunya di atas meja untuk menahan tubuhnya mendekat ke arah si Nona.

“Tidak bisakah kau memaksanya? Atau mencobanya lebih keras? “ tanya si Nona menatap si pelayan.

“Aku termasuk orang yang mempercayai bahwa cinta itu seharusnya mudah dan tidak banyak drama.” Kata pelayan itu. “Hati bukan seperti pasak yang semakin kau pukul keras, semakin kuat ia menancap.”

“Tidakkah kau merasa kehilangan?” tanya Nona itu.

“Ada tulisan yang pernah kubaca tentang kehilangan itu. Layaknya kau ke dokter gigi karena geraham mu telah rusak dan membuat gusimu bengkak. Tidak ada cara lain selain mencabutnya. Kau tahu? Setelah dicabut, maka kau akan merasa ada yang hilang, hingga ujung lidahmu hampir setiap saat menyentuh gusi yang tak lagi ada geraham itu disana. Akan lama kau menyadari hingga suatu saat kau tidak lagi menyentuh-nyentuh gusi itu lagi dengan lidahmu.” Kata pelayan itu kemudian tersenyum, “Nah, sama halnya dengan pergi dari suatu hati yang kau tahu bahwa bertahan dengan hati itu akan membuatmu membusuk. Selayaknya kau cabut. Akan membutuhkan waktu hingga kau benar-benar merasa baik-baik saja tanpanya.”

Nona itu terdiam, hingga kemudian diteguknya lemon tea nya yang sudah agak dingin. “Hai pelayan, mengapa tak kau jadikan dirimu sebagai konsultan hati saja? Haha,,, kau punya kemampuan untuk itu kurasa.”

“Haha, jika aku tidak bekerja sebagai pelayan disini dan berdiri di belakang meja bar ini, lalu siapa yang menerima tumpahan cerita dari pelanggan-pelanggan sepertimu, Nona?” kata pelayan itu sambil menegakkan kembali badannya. “Tanpa cerita, kedai ini akan menjadi kedai biasa, Nona.”

“haha, kau tidak dibayar lebih untuk mendengarkan ocehan-ocehan, kan?” tanya si Nona.

Pelayan itu tersenyum, “Tahukah Nona, bahwa harga lemon tea disini tiga ribu rupiah lebih mahal dan harga muffin disini dua ribu lima ratus lebih mahal daripada coffee shop di pojok jalan ini?”

Nona itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Waktu mengantarnya hingga malam tiba dan hujan mulai mereda.

 

-srf-

 

*another cafe corner story:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">