«

»

Nov 21

Menghitung Nilai Proyek

Bagi kalian yang pernah freelance ngerjain proyek, pasti pernah menghadapi situasi dimana kalian ditanya harga atas proyek yang kalian kerjakan. Apalagi jika kalian menjadi team leader atau setidaknya bekerja sendiri dalam proyek tersebut.

Berikut adalah cara menghitung nilai proyek agar kita tidak salah dalam menentukan harga. Dari dasar ini pula kita akan memiliki justifikasi atas harga yang kita ajukan.

Mungkin ketika kita masih mahasiswa dan bekerja freelance, kita “seenaknya” memberi harga:
“Berapa Rif, kira-kira fee-nya?”
“Yah, standar lah Pak… kira-kira 2 juta selesai 1 bulan”
“Woow, mahal banget…. kamu kan masih mahasiswa, kasih harga mahasiswa donk. Gimana kalo 1 juta aja?
“Hmm, tambahin dikit lah, Pak.”
“Yawdah, penawaran final nih! 1 juta plus suplai mie instan selama 3 bulan. gimana?”
“Deal.”

Kenapa saya dulunya bisa mengalah atau nego? Mungkin karena dulu saya masih di-supply oleh uang kiriman orangtua ketika mahasiswa, jadi tidak peduli betul dgn harga yg client berikan. Tapi saya juga butuh uang extra untuk ditabung, atau untuk membeli sesuatu (mac book air, Ninja 250R, dan persiapan nikahan plus mas kawinnya *uhuk*)

Namun, sikap seperti ini tidak bisa lagi diterapkan jika kita menjalankan bisnis software development.

 

Sebagai Pimpinan perusahaan, kita akan dituntut untuk:

  • mendapatkan untung dari bisnis, bukan “tekor” atau loss yg menyebabkan awal keruntuhan bisnis kita. Kalau tidak ada untung (terlalu sering memberikan diskon), lebih baik kita menjadi karyawan saja, karena buat apa berbisnis jika tidak ada untungnya?
  • menghidupi diri sendiri (mengambil gaji untuk sendiri) dan menghidupi orang lain (menggaji karyawan).

Formula Nilai Proyek pada umumnya adalah:
Project Fee = Cost + Profit + Tax

Contoh:
Kita mendapatkan proyek yang harus selesai dalam waktu 3 bulan. Karena 3 bulan deadline inilah,kita butuh:

  • 2 orang Programmer (coding, coding, coding);
  • 1 orang Supervisor Developer (give instruction, code inspection, code);
  • 1 orang Lead Developer (kita sendiri, translate bisnis process menjadi software flow, high-level architecture) dan
  • 1 orang Designer (create button images, Expression Blend artist).

Menghitung cost per orang secara lebih detail akan dibahas di post lainnya. Untuk saat ini, asumsinya adalah orang-orang diatas adalah dedicated resources, sehingga mereka hanya mengerjakan proyek ini, sehingga tiap bulan gaji mereka adalah gaji dari proyek ini.

Pertama-tama, buatlah tabel cost salary untuk orang-orang diatas:

Sebagai warga negara yg baik, kita harus taat pajak. Untuk kasus diatas, ini diambil dari model freelance. Untuk “Pegawai Honorarium atau Imbalan Lainnya” (Freelancer), tarif PPh 21 nya adalah Pasal 17, UU No. 17 (http://pajak.go.id/index.php?option=…gkp=oyes&idp=2) , yaitu untuk penghasilan sampai dengan 25jt, tarifnya adalah 5%.

Sehingga dgn memasukkan unsur pajak ke cost, kita memberikan “gaji bersih” kepada developer/designer.

Diatas juga ada item Electricity dan Internet. Lima (5) Komputer/laptop akan menyala selama 3 bulan, dari jam 09.00 - 17.00, bahkan terkadang sampai malam. Apakah kita akan membayar listrik dari gaji sendiri? Ya, jika kita masih dalam mindset karyawan. Tapi ini bisnis, pisahkan antara uang perusahaan, cost perusahaan dan uang pribadi/keluarga kitadan cost pribadi/keluarga.

Jangan gunakan uang perusahaan dari Profit untuk membeli susu anak, membayar listrik rumah, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Untuk semua itu, gunakan uang kita dari gaji yg diterima perusahaan (gaji Lead Developer dalam contoh diatas).

  • Ok, sekarang menghitung Profit dan Total Cost+Profit untuk 3 bulan (lamanya estimasi proyek ini):

Cost per month diambil dari kolom Subtotal + Tax, karena kita ingin karyawan kita menerima gaji bersih bukan?

 

Profit… ini masalah sangat personal, karena tergantung kita ingin berapa besar mengambil untung. Menurut filosofi saya:
- 30% adalah angka ideal (client mampu dan besar).
- 25% adalah angka tengah (client minta harga diturunkan).
- 20% adalah angka minimum (client adalah teman/keluarga, jangan turun dibawah ini, ingat bisnis kita harus untung).

Selanjutnya, apakah dalam proyek ini kita membutuhkan 3rd Party Component? Misal Aspose untuk membaca Word dokumen tanpa menginstall Microsoft Word? Jika ya, masukkan sebagai komponen terakhir dan kalkulasikan totalnya:

Selanjutnya, ini adalah hal terpenting dalam bisnis software development. Client kita sebagai Pengusaha Kena Pajak wajib memotong Tarif Pajak PPh Pasal 23. Lihat http://www.pajak.go.id/lampiran/07PJ_PER70.htm, untuk “Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan” dikenakan tarif 30% x 15% atau 4.5% dari total bruto sebelum PPN.

Tarif pajak ini wajib kita masuki, karena pajak ini dipungut oleh divisi Finance Client kita, jadi pasti dipotong dari total invoice yg kita keluarkan:

Nah, sekarang masukkanlah angka Rp 94.441.875 (Sembilan Puluh Empat Juta Empat Ratus Empat Puluh Satu Delapan Ratus Tujuh Puluh Lima Rupiah) dalam Proposal Proyek kita

Ok, biasanya, Client akan menawar. Maka opsinya adalah:

  • turunkan Profit Margin kita.
  • bilang kepada karyawan kita bahwa gaji “3 juta belum termasuk pajak loh”… jadi kita akan menghitung Total Cost tanpa Pajak PPh 21.

Yang terpenting, jangan pernah mengikuti angka Client kita. Ingat, kita punya formula sendiri untuk menghidupi bisnis kita dan para karyawannya. Mereka pun sama. Jika angkanya tidak ketemu, mungkin scope project harus diturunkan lagi. Atau saatnya kita mundur dari proyek ini dan memberikan kepada mereka yg lebih berani (yg meng-outsource proyek ini ke programmer yg mau digaji dibawah Rp 1 jt)

Jika kita melakukan dealing dgn IT Manager yg merupakan teman kita. teman dekat sampai saling memanggil dgn prefix, “Brother…” atau “Bro.” atau “antum” tafadhol lah, maka kita bisa melakukan konversasi seperti berikut: (tapi jangan kalo kita tidak kenal dekat, nanti malah tersinggung dan nggak dapat proyek lagi hehe)

“Bro… 94 juta mahal banget… gw nggak bisa segitu bro…”
“Bro… look into my eyes. Ane gak tega memberi gaji programmer ane dibawah Rp 3jt. Mereka bukanlah buruh kasar, tapi tenaga professional yang harus dibayar sewajarnya…”

“Bro… ok ane ngerti tentang filosofi gaji programmer ente… tapi tetap aja angkanya ketinggian”
“Bro… ente kan minta 3 bulan kelar… makanya ane ambil 4 developer (termasuk ane) + 1 designer. Kalo angkanya ketinggian, gini aja deh… ane turunin jadi 3 developer (termasuk ane) + 1 designer. Tapi scope projectnya harus diturunin yaa…”

“Bro… walaupun scope-nya diturunin, koq angkanya masih tinggi sih? Perusahaan ane nggak bisa bayar setinggi itu…”
“Bro… ente IT Manager dgn gaji 8jt / bulan. Ente punya 3 anak buah dgn gaji 3jt / bulan. Sebulan, perusahaan ente punya cost 17jt belum termasuk pajak dan biaya reimbursement. Tiga bulan, perusahaan ente rela ngeluarin 51 juta untuk cost tim IT ente. Nah, cost tim ane dgn cost tim ente cuman beda X juta aja. Itu ane ambil pertama buat buffer kalo proyek nya molor lebih dari 3 bulan. Kedua, itu untuk untung/profit bisnis ane. Bedanya ente punya jaminan kerja dan gaji tetap. Bedanya ane, kalo nggak ada proyek ga dapet gaji. Jadi ane harus untung biar ane ga bangkrut di masa-masa sepi order.”
“Hehe… ente bisa aja jelasinnya… ok deh bro, nanti ane bilangin ke user dan atasan kalo ini harga final ente.”

Jika setelah konversasi semacam diatas, nilai proyek kita tetap minta diturunin maka kemungkinannya dua:

  1. Client ingin proyek extravagant yg costly dan harus cepat selesai, tapi minta semurah mungkin. Ini bad business. Walk away from projects like these because the chance of failure is bigger.
  2. Contact kita tidak rela melihat kita mendapatkan transferan 90 juta rupiah tanpa dia tidak mendapat sepeser pun. Ini kembali kepada moral kita, apakah akan memberikan dia bagian dari proyek… ataukah kita akan walk away?

wallahu a’lam bisshowab

sumber :
http://geeks.netindonesia.net/blogs/zeddy/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">