«

»

Jan 10

Amalku, hanya untuk Tuhanku

Sahabat, sudah yakinkah kita akan amal kita? Mungkinkah masih ada ketidak ikhlasan dalam amal kita kepada Allah SWT? Adakah setitik rasa ingin agar amal itu tertampak di mata makhluk?

Izinkanlah penulis, melukiskan kekhawatiran ini—amalku, hanya untuk Tuhanku.

Teringat akan sabda Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda,

“Maukah kuberitahu tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap fitnah Dajjal?” Para sahabat berkata, “Tentu saja Ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seorang berdiri mengerjakan sholat, ia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR Ahmad)

Mengapa bisa sekhawatir itu Rasulullah terhadap “syirik yang tersembunyi” atau yang lebih kita ketahui dengan riya tersebut? Tentu saja karena niat yang bukan karena Allah. Karena “syirik yang tersembunyi” tersebut mencerminkan tidak ada tauhid dalam hati orang yang melakukannya. Karena Tauhid adalah ilmu yang pertama dan utama bagi umat muslim. Ilmu yang seharusnya digenggam kuat-kuat. Masih teringatkah kita akan kisah Bilal yang disiksa di padang pasir oleh majikannya karena mempercayai ada Tuhan yang Esa? “Ahad…ahad…ahad.” Hanya itu ilmu yang dia tahu saat itu. Belumlah ia tahu masalah fiqih dan ibadah-ibadah yang lain, dan dengan ilmu Tauhid itu sampai-sampai hampir mati ia memperjuangkannya.

Jauh berbeda dengan orang munafik. Telah sampai pengetahuan kepadanya tentang sholat, puasa, dan zakat, namun tak ada Tauhid dalam hatinya. Dahaganya akan penghargaan akan eksistensinya hanya cukup terpuaskan dari pengakuan orang disekitarnya.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’:142).

Bagaimana dengan kita? Masihkah ada amalan kita yang bercampur dengan “syirik yang tersembunyi”? Masihkah kita menceritakan kebaikan dan amalan kita kepada orang lain (sum’ah)?

Kadang tak sadar kita melakukannya, Kawan. Kadang bahkan sangat sulit untuk dibedakan amalan yang ikhlas dan yang bercampur riya. Keduanya tampak sama. Namun yang berbeda adalah niat yang mendasarinya. Niat jua lah yang membedakan tingkatan takwa. Jika masih ada rasa ingin dipuji oleh makhluk, bisa jadi amalan itu menjadi syirik asghar, syirik kecil. HIngga tak ada lagi Allah dalam niatnya, jangan-jangan amalan itu sudah menjadi syirik akbar. Naudzubillah.

“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR Bukhari Muslim)

Begitu pentingnya meluruskan niat saat beribadah dan beramal salih. Seperti hitam dan putih perbedaannya, satu amalan dengan ikhlas dan mengharap ridho dari Allah berbalas kebaikan yang berlipat, sedangkan satu amalan dengan mengharap penghargaan dari makhluk berbalas murka dari Allah.

Sahabat, semoga kita tergolong hamba yang selalu mensucikan hati, meluruskan niat, dan mengharap hanya pada ridho Allah SWT.

 

-srf-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">