satu persatu dari mereka mengajakku pulang
ke tempat dimana aku dapat merebah kepala dan merendam luka
koridor sudah gelap,
dan aku masih disini hingga waktu tidur menyeretku paksa untuk kembali
secangkir kopi menemaniku malam ini,
juga malam-malam sebelum ini,
seraya menyibukkan diri dengan apa yang aku buat sendiri,
menggelitikkan jari di layar hitam putih
sayangnya,
masih ada celah bagi bayangmu di tiap jeda karakter yang kurajut
kadang itulah yang yang membuatku tersenyum kemudian tertunduk
kulihat benda yang tidak lagi berdering menerima pesan darimu,
dimana dahulu selalu dapat memaksaku untuk cepat pulang dan mengingatkanku makan malam
ingin kuputar balik waktu,
hingga aku mendapati hatimu sehangat dahulu
-srf-
Recent Comments