«

»

Oct 20

Sehangat Dahulu

satu persatu dari mereka mengajakku pulang
ke tempat dimana aku dapat merebah kepala dan merendam luka

koridor sudah gelap,
dan aku masih disini hingga waktu tidur menyeretku paksa untuk kembali

secangkir kopi menemaniku malam ini,
juga malam-malam sebelum ini,
seraya menyibukkan diri dengan apa yang aku buat sendiri,
menggelitikkan jari di layar hitam putih

sayangnya,
masih ada celah bagi bayangmu di tiap jeda karakter yang kurajut
kadang itulah yang yang membuatku tersenyum kemudian tertunduk

kulihat benda yang tidak lagi berdering menerima pesan darimu,
dimana dahulu selalu dapat memaksaku untuk cepat pulang dan mengingatkanku makan malam

ingin kuputar balik waktu,
hingga aku mendapati hatimu sehangat dahulu

 

-srf-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">