Muhasabah Memantaskan Diri


Kali ini aku mencoba mengerti hakikat memantaskan diri, kaitannya dengan menjadi imam dalam keluarga. Memperbaiki apa-apa yang salah, mereduksi apa-apa yang sia-sia, dan menambah apa-apa yang baik dan membawa manfaat.

Memperbaiki amalan yaumiyah memang mutlak diperlukan, tapi tidak hanya itu faktor yang harus ditingkatkan, melainkan perbaikan sikap dan sifat dalam keseharian kita. Pada masa-masa pemantasan diri, perubahan perilaku dan sikap adalah suatu hal yang sangat perlu diperhatikan. Terlebih jika sikap dan sifat itu berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain. Satu saja hal bodoh dilakukan yang ber-impact kepada lingkungan kita, maka itu kembali menjadi suatu pertanyaan terhadap komitmen perbaikan diri kita pada awalnya.

Begitu juga tentang kebiasaan. Kebiasaan yang dahulu hingga sekarang kita pikir biasa saja dan lumrah kita lakukan ternyata sudah tidak layak untuk kita lakukan kembali. Misalnya saja keluar malam untuk nonton dan karaoke dengan teman-teman, main game online hingga pagi, kopdar di kedai hingga tengah malam, menghabiskan uang untuk main-main dan jalan-jalan, akses sosial media yang berlebihan, hingga terlalu akrab dengan kawan lain jenis meski itu sahabat sekalipun. Masa-masa itu telah selesai, sudah patutnya untuk diakhiri dan ditaubati.

“Nak, mulai batasi pergaulanmu dengan yang lain.”

“Kenapa, Bu?”

“Sedikit kelakuanmu yang mungkin kamu pikir itu wajar, bisa menimbulkan fitnah nantinya.”

Ada sikap-sikap yang sudah mulai ditinggalkan selayaknya semenjak kita mengazamkan diri untuk mempersiapkan diri menjadi imam. Segala ego pun harus ditekan hingga serendah-rendahnya. Sifat ingin menang sendiri, merasa paling benar, dan otoriter juga harus ditinggalkan. Amarah pun juga ada manajemennya. Bagaimana kita tetap santun, meski emosi sedang naik turun. Tidak mudah memang pada prakteknya, tapi insyaaAllah bisa.

Mengutamakan perdamaian daripada memulai konflik mesti itu membuat kita terlihat benar juga bukan merupakan hal yang patut dilakukan. Jika pun ada konflik, maka berdiskusi untuk solusi dan mengalah untuk kebaikan adalah yang terbaik. Untuk hal ini insyaAllah akan saya bahas lebih lanjut di tulisan mendatang tentang Manajemen Konflik.

Dalam proses pemantasan dan perbaikan diri ini mengerucut pada satu sifat yang bernama sabar. Sabar dalam menahan ego, sabar dalam menyelesaikan konflik, sabar dalam penantian, hingga sabar dalam menerima takdir.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.“ Al Baqarah : 153

-srf-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">