Muhasabah Hati di Ladang Basah


Dunia politik merupakan dunia yang abu-abu. Nyemplung di dalamnya hanya dua pilihan, menjadikannya jihad atau menjadikannya maksiat. Bukan hanya di politik praktis yang kita nyemplung benar-benar, tapi juga di media, dan di pergerakan yang juga menjadi titik balik perubahan politik.

Saya ingin bercerita tentang kegundahan saya. Menjadi media, secara langsung juga menjadi pengamat dari berita-berita itu sendiri. Dari segala berita, baik yang terbukti kebenarannya, hingga yang direkayasa, membuat suatu opini pribadi. Disinilah saya menjadi merasa ada suatu hal yang ditegakkan, semua orang harus tahu mana yang benar, dan bersama-sama kita membelanya, demi kemaslahatan umat. Namun sayangnya, tidak demikian yang terjadi pada prosesnya. Pada prosesnya, seringkali kita tidak menyadari adanya sisipan penyakit hati yang malah mengotori dan menghabiskan pahala jihad politik dan jihad media menjadi malah berdosa. Na’udzubillah.

Mendapati banyak berita, mengolahnya, kroscek kebenarannya, dan menyampaikannnya kembali—itu fungsi media—membentuk opini publik. Apalagi di masa pemilihan umum seperti ini. Bagi suatu pergerakan, ada yang ditokohkan, baik itu berbentuk orang, partai, hingga ormas. Masalahnya, dengan menganggap bahwa apa yang ditokohkan itulah yang benar, kita jadi lupa bahwa bisa jadi kita lah yang salah. Bahkan sebelum itu, kita sudah mendapati hati kita dipenuhi rasa dengki, ujub, hingga bahkan fitnah.

Pagi ini saya mendengar ceramah di mqfm. AA Gym seperti biasa menerangkan lebih kepada Tauhid kita kepada Allah. Bagaimana kita memurnikan amalan kita menjadi amalan yang tulus dan dicintai Allah. Beliau membahas tentang penyakit hati manusia—Dengki. Beliau menjelaskan, tiap-tiap orang punya kebaikan dan punya keburukan masing-masing. Hanya saja kita dengan mudah (stereotype) untuk menganggap seseorang sama dengan apa yang kita pikir dan terlihat darinya. Ada sebuah cerita tentang seorang penjahat di lembaga pemasyarakatan. Suatu hari Aa Gym berdakwah di lapas, ditemuinya seseorang dengan badannya penuh tato. Namun lucunya, di ranjangnya didapati ada dua boneka.

Ditanya kepada orang tersebut oleh Aa Gym, “Pak, ini boneka milik Bapak?”

Orang yang bertato itu pun menjawab, “Iya, saya sering ingat sama dua anak perempuan saya di Indonesia Timur. Dengan dua boneka ini, sebagai obat kalo saya kangen sama mereka.”

“Lalu bagaimana perasaan bapak terhadap putri bapak yang disana?” Aa Gym melanjutkan bertanya kembali.

“Saya hanya berharap semoga anak-anak perempuan saya tidak menjadi orang jahat seperti bapaknya ini.”

MasyaaAllah. Bagaimana seseorang narapidana yang sudah berbuat kejahatan, tubuhnya penuh tato, tapi ia masih memiliki nilai-nilai kebaikan. Tapi sebagian dari kita tidak demikian bukan? yang kita ingat adalah kejahatannya. Sedangkan boleh jadi Allah sudah memaafkan kesalahannya, menerima tobatnya, menjadikan hari-harinya di penjara menjadi amalan baginya. Sedangkan kita yang dengki kepadanya, menambah dosa setiap harinya, dan jangan-jangan kita lupa bertaubat atas hal yang “halus” ini hingga akhirnya kita dipanggil oleh Allah. Na’udzubillah.

Kembali dengan kaitannya kepada politik. Sifat dengki di politik itu terlihat secara langsung. Buka saja facebook, atau mungkin grup whatsapp komunitas kalian. Betapa orang-orang menyanjungkan pilihannya dan menafikkan lawan-lawannya. Begitu senang ketika ada tokoh besar yang mendeklarasikan dukungan kepada calon presiden yang sama. Begitu dengki dan merasa tak senang ketika tokoh besar lain yang memberikan dukungan bukan kepada capres yang mereka usung. Dengki itu penyakit perasaan. Tidak dikatakan dan dinyatakan pun tetap saja sebagai penyakit, dan penyakit dengki itu menghilangkan pahala-pahala yang kita buat, dan menambah dosa seiring waktu kita merasa selalu benar.

Satu lagi penyakit hati adalah Ujub. Mengingat-ingat dan mengungkit-ungkit jasa kebaikan kita. Padahal tidak ada suatu kebaikan pun kecuali kebaikan itu adalah datangnya dari Allah. Kita adalah sebagai perantara datangnya kebaaikan itu, dan menurut AA Gym, itu adalah sebuah ujian bagi kita. Kita diuji, apakah kita tetap tawadhu’, kita tetap sabar, atau kita malah bangga. Jika kita sabar dan rendah hati, maka pahala mengalir untuk kita, jika kita sedikit banyak merasa bangga, itu dosa bagi kita. Ibaratnya membangun masjid. Kita memiliki harta lebih untuk menyumbang dua per tiga dari pembangunan masjid. Bahkan masjid itu adalah pembebasan tanah yang memperjuangkan juga kita sendiri. Jika kita melihat dari sudut pandang tauhid, maka masjid yang berdiri sekarang ini adalah sudah ketentuan dari Allah—telah ditulis di lauhul mahfuz. Masalah pahala itu urusan Allah. Jika kita tidak membicarakan, bahkan tidak merasa bahwa itu adalah hasil perjuangan kita, maka insyaAllah pahala akan terus mengalir kepada kita. Namun sebaliknya, jika kita merasa bahwa semua orang harus tahu bahwa kita yang mendirikannya, maka sebenarnya hati ini sudah tidak lurus lagi. Tanpa kita pun masjid ini akan berdiri jika sudah ditentukan di Lauhul Mahfuz oleh Allah, kita kebetulan adalah orang yang diserahi sebagai perantara.

Karenanya, Aa Gym memberikan resep yang dirumuskan dalam 2B 2L.

  • B yang pertama adalah Bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain
  • B berikutnya Berani mengakui jasa dan kelebihan orang lain
  • L yang pertama yakni Lupakan jasa dan kebaikan diri sendiri
  • L selanjutnya adalah Lihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri

Semoga dengan yang sedikit ini meluruskan kembali niat kita dalam beramal dan berjihad, terlebih lagi yang berjihad di ladang basah—politik dan media.

Wallahu A’lam bisshowab.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">