Seminar Parenting
Surat Cinta Untuk Calon Anakku.
By: M Reza Adianto & Nini Herlina

Seminar ini diadakan oleh organisasi Man Jadda Wajada (MJWJ) Jakarta, 9 Februari lalu. Meski tentang parenting, mungkin sekitar 90% pesertanya masih bujang, termasuk saya. Alhamdulillah seminar ini gratis! Many thanks for the committee, special for my great friend, Miskam –ketua MJWJ Jakarta dan partner saya di Aliansi Pemuda Muslim Indonesia (APII).
Materi pertama diisi oleh M Reza Adianto dan Istrinya, Nini Herlina dimana keduanya adalah trainer sukses mulia yang dikembangkan oleh Motivator Sukses Mulia Kakek Jamil Azzaini.
Pada sesi parenting ini, Mas Reza menjelaskan, yang sebenarnya lebih sulit adalah ketika sudah menikah dan mempunyai amanah berupa anak. Calon pasangan harus siap dgn kompleksitas keluarga.Banyak masalah yang tercipta ketika berkeluarga.
Dalam kompleksitas itu, setiap keluarga memiliki cara tersendiri untuk mendidik anak, termasuk metode apa yang mereka gunakan. Diamana metode itu nantinya akan menentukan bagaimana perkembangan anak kedepannya.
Adapun beberapa metode parenting yang ada di dunia menurut Mas Reza, berikut list dan penjelasannya:
- Otoriter
Sistem otoriter adalah apa yang dibilang oleh orang tua harus dilaksanakan. Segala keinginan orangtua senantiasa dipaksakan kepada anak,sehingga anak tidak mendapat kesempatan lain selain harus menurut kepada kehendak orang tua.
Sistem ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihannya adalah sang orang tua selayaknya lebih mengetahui mana yang lebih baik untuk anaknya dan mana yang bukan. Kekurangannya, anak menjadi tidak cukup kreatif dan ben - Liberal:
Dalam sistem liberal, orang tua membebaskan anaknya untuk berpendapat, melakukan apapun yang mereka mau, dan tentu saja membiarkan mereka menerima konsekuensi dari apa yang telah mereka ambil. Orang tua memberi kepercayaan penuh pada anak.
Sayangnya, dengan sistem ini anak-anak dapat saja mendapatkan nilai-nilai negatif dari lingkungan sekitar mereka, tanpa adanya kontrol dari orang tua. Karena menurut sistem ini, orang tua tidak berhak untuk melarang anak, bahkan dalam pergaulan keseharian mereka. - Demokrasi
Dalam sistem demokrasi, anak tetap mendapat kesempatan untuk berpendapat. Hanya saja bedanya disini ada sistem musyawarah yang dikedepankan. Pendapat orang tua dan anak dipadukan dalam suatu bentuk musyawarah. Jika tidak terpenuhi mufakat, maka dapat ditentukan dengan pengambilan suara terbanyak.
Sayangnya, apabila orang tua yang mengisyaratkan kebaikan harus beradu argumen dengan tiga atau empat anaknya yang menginkan kebebeasan sebebas-bebasnya, suara orang tua juga tidak akan berpengaruh banyak dengan sistem ini. Karena tetap, demokrasi tidak mengijinkan perintah orang tua adalah suatu perintah yang dapat dipenuhi sepenuhnya, meski bisa dibicarakan. - Islami
Dalam sistem parenting islami, seluruhnya mengacu kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Sistem ini memiliki nilai kebaikan yang tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Sistem dimana Allah adalah pusat dari segala pengambilan keputusan. Meski dengan musyawarah pun, harus ditujukan untuk menggapai ridho-Nya. Tidak boleh ada hasil musyawarah yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah. Anak-anak pun diperintahkan secara jelas untuk menghormati orang tua bagaimanapun mereka.

*ini pas saya lagi tanya ke narasumber #NarsisModeOn
Ada beberapa tips dari Mas Reza dan Teh Nini pada hari itu kepada peserta agar tepat sistem parenting yang dilakukan di tiap keluarga. Berikut tips nya:
REACTIVATE YOUR KID
Ada mindset yang harus dirubah, yaitu anak adalah sebenarnya titipan dari Allah, bukan milik kita. Anak yang notabene adalah titipan dari Allah itu adalah tanggung jawab kita untuk kita didik dan kita kader untuk menjadi generasi muslim yang tangguh yang dapat melanjutkan visi dakwah kita.
Ada juga mindset yang harus dirubah dari orang tua yang bekerja. Anda pasti sering mendengar ini,”Saya bekerja demi keluarga saya di rumah.” Pernah kan? Sayangnya yang sebetulnya “demi” nya adalah bukan demi keluarga, melainkan demi kemauan perusahaan, dan demi tuntutan karir di perusahaan tersebut.
Ada sebuah cerita tentang ayah dan anaknya.Suatu kali seorang anak yang masih kelas satu SD bertanya pada ayahnya pada saat sarapan di pagi hari sebelum ayahnya beranjak bekerja.
“Ayah, ayah,,,”
“Iya adek, kenapa?” tanya ayahnya sambil mengoleskan roti dengan selai kacang di meja makan. Tidak dilihatnya anaknya yang bertanya padanya saat itu.
“Ayah gajinya berapa sih ayah?” tanya si adek ini sambil terus melihat si ayahnya yang sedang makan.
“Kenapa adek tanya gaji ayah?” Ayahnya tersenyum dan memandang sang anak yang sepertinya antusias sekali bertanya.
“Kalo satu jam ayah digajinya berapa?” kata sang anak masih fokus dengan pertanyaannya.
“Kenapa adek? Mau minta dibeli’in mainan lagi sama ayah?”
anaknya menggeleng berulang-ulang, “Adek mau tanya aja.”
“Emm, berapa ya,,,,” kata ayahnya sambil tersenyum dan berpikir. “Lima puluh ribu, adek satu jamnya,” kata ayahnya sambil tersenyum dan mengelus kepala anaknya itu. Kemudian melanjutkan makannya.
“Ayah, ayah. Adek Boleh pinjem uang dua puluh ribu, Yah?”tanya anaknya kepada ayahnya yang mulai makan.
“Adeek, mau buat apa? Gak boleh jajan di luar loh ya.”
anak tersebut kembali menggeleng lagi berulang-ulang.
“Lalu mau buat beli apa?” tanya ayahnya
Sang anak lalu turun dari kursi makannya dengan terburu-buru lalu berlari ke kamarnya. Sang ayah melihat kebingungan anaknya tiba-tiba berlari ke kamarnya.
Sang anak kemudian keluar dari kamar dengan membawa celengan ayamnya dan segenggam uang di tangan lainnya. Terlihat kesulitan dia membawa celengannya. Kecil-kecil langkahnya menuju samping kaki ayahnya.
sekarang sang anak sudah tepat di samping kaki ayahnya. Sang anak lalu mendongak ke arah ayahnya, “Yah, aku kemarin dikasih uang sama nenek dua puluh ribu,” kata sang anak yang lalu uang itu diletakkan ke telapak tangan ayahnya. “Celengannya adek gak tau berapa isinya tapi…”
“Terus kenapa adek masih mau pinjem uang ayah?” tanya ayahnya.
“Ini celengannya adek buat ayah juga.” Kata sang anak membopong celengan ayamnya ke paha ayahnya.
“Itu kayaknya masih kurang, Yah. Jadi adek mau pinjem lagi dari ayah.” Kata si anak.
“Ini mau dibuat apa, Adek?”
“Adek boleh beli waktu ayah? Satu jaaam aja. Boleh ya?”
Ayahnya masih menatap anaknya dengan seksama.
“Ayah sibuk kerja terus. Jadi adek mau beli waktunya ayah boleh? Satu jaaaam aja. Adek kangen mau maen sama ayah.” Kata anak ini polos.
Ditaruhnya celengan ayam yang diberikan anaknya padanya di meja, dan dipeluknya erat-erat anaknya itu, “Maafkan ayah, Nak”
Mas Reza berpesan kepada kita bahwa jika benar kerja orang tua adalah untuk keluarga, mengapa sering tak ada waktu bagi mereka? Mari luruskan niat hanya karena Allah, karena anak –anak memiliki kebutuhan kasih sayang dari orang tuanya dan adalah tanggung jawab orang tua dalam membesarkan anak, mengasihinya, dan mengkadernya menjadi generasi muslim yang kuat, agamis, dan mampu berkompetensi di bidang professional.
Mas Reza dala kemudian menyuruh kami untuk mengeluarkan secarik kertas dan pena. Beliau mengisyaratkan kami untuk mengisi 5 harapan kami kepada anak kami, ketika kami memiliki anak nanti. Bagi kalian yang membaca artikel ini pun dapat mulai menuliskan 5 harapan kalian kepada anak-anak kalian nanti. Ingin seperti apa anak-anak kalian nantinya?
Hayo, ditulis dulu, ato at least dipikirkanlah 5 harapan terhadap anak kalian nanti. Jika sudah, bolehlah melanjutkan membaca kembali.
REFIND YOUR POTENTIAL POWER
Mas Reza berkata kepada kami, para peserta bahwa perlu ada Parent Leader di suatu keluarga. Parent Leader adalah yang mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan keluarga kepada anak. Parent Leader tidak harus selalu suami. Bisa saja istri. Tentukan saja siapa Parent Leadernya dari siapa diantara suami/istri yang lebih banyak waktu luangnya untuk keluarga. Seorang ibu dalam masa sekarang ini, berpotensi lebih besar untuk menjadi Parent Leader. Parent Leader harus mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada anak sesuai Grand Design yang disepakati bersama. Apa itu Grand Design? Nanti, akan dibahas setelah poin ini.
Anak memiliki perbedaan dalam melihat suatu hal. Anak memiliki kecenderungan dalam otaknya dalam memandang suatu objek atau persoalan. Anak memiliki salah satu dari kelima kecenderungan bagian otak yang dipakai:
- Analisis (neurokortek kiri)
- Memori (limbrik kiri)
- Kreatif (neuro kanan)
- Emosi (limbik.kanan)
- Naluri (intuitif - midbrain)
Saya tidak akan menjabarkan lebih lanjut tentang hal ini. Jika pembaca berminat, silakan di-search saja di Google tentang “STIFin Parenting”.
RECHANGE YOUR HABIT
Ada hal penting yang perlu dibangun antara orang tua dan anak, yaitu komunikasi hati. Ajarkan dengan kebaikan sesuai dengan tuntunan islami.
Tahukah Anda, bahwa anak lebih mudah mencontoh kita daripada kita menyuruh mereka melakukannya? Seorang ayah yang perokok menyuruh anaknya tidak merokok adalah hal yang konyol, begitupun keluarga yang gersang akan ayat Al-Qur’an di rumah mengisyaratkan anaknya untuk rajin baca Al-Qur’an setiap hari.
Maka orang tua selayaknya menganti kebiasaan mereka sesuai dengan apa yang mereka suruh kepada anak-anaknya. Orang tua selayaknya mulai membiasakan melakukan amalan pembersih jiwa, yakni puasa, dzikir, tahajjud, dan tilawah.
GRAND DESIGN
Grand Design adalah strategi orang tua dalam membesarkan anak. Mengapa butuh strategi? Karena ini bukan hanya masalah membesarkan anak, karena anak akan besar dengan sendirinya. Namun lebih kepada pengkaderan anak itu sendiri. Ada strategi yang perlu dibuat dan disepakati bersama oleh suami-istri. Lalu, tugas Parent Leader lah untuk memastikan bahwa anak telah dididik sesuai dengan Grand Design.
Apa saja yang perlu ada di Grand Design?
- Edukasi
Menentukan lembaga pendidikan pada anak. Apakah anak akan masuk ke SD atau Madrasah, atau mungkin pesantren, dan sebagainya. Menyesuaikan dengan tujuan akhir pengkaderan anak.
Dalam prosesnya, Mas Reza tetap menghimbau agar orang tua tetap mendampingi anak dalam belajar dan memantau bagaimana perkembangannya meski sudah ada lembaga yang orang tua pilih untuk mengajarkan kepada anak-anak. - Agama
Menentukan bagaimana nilai-nilai agama dimasukkan ke pribadi seorang anak. Erat kaitannya dengan Edukasi, namun jika orang tua membagi antara edukasi dan agama, ada baiknya ada lembaga pendidikan agama yang mempu memberikan nilai tambah spiritual kepada anaknya.
Fungsi orang tua adalah memastikan anak-anak selalu istiqomah dalam mengerjakan kebaikan, mengingatkan mereka jika mereka lalai, mensupport mereka dalam melakukan ibadah, dan tetap mencontohkan kepada mereka bagaimana akhlaq yang baik. - Enterpreneur
Mengapa ini perlu? Karena enterpreneur tidak hanya berfokus kepada bagaimana memulai dan mengembangkan usaha. Enterpreneur menurut Mas Reza juga penting untuk mengajarkan anak tentang kemandirian.
Contohnya, memberikan upay berupa hadiah atau tambahan uang jajan jika anak mencuci alat makannya setelah makan.
Ada baiknya jika selama proses pendidikan anak berlangsung, ada saling komunikasi antara suami dan istri. Dari Grand Design yang telah dibuat, jangan sampai ada perilaku atau metode dari satu atau keduanya yang saling mematahkan. Jika berselisih paham, musyawarahkan dan cari solusi bagaimana jalan keluarnya. Apakah perlu ada perubahan program dari Grand Design yang telah dibuat atau tidak.
Lalu bagaimana jika ada pembantu (Mas Reza menyebutnya sebagai asisten keluarga) yang juga mengurus anak? Mas Reza menjelaskan bahwa selayaknya asisten yang dipilih adalah yang baik agamanya. Lebih lanjut seorang asisten juga selayaknya dibekali ilmu agama. Fungsinya tidak lain adalah untuk memastikan perilakunya tetap mengarah kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam prosesnya, apa yang diberikan asisten ini kepada anak harus diselaraskan antara program pendidikan anak kepada asisten keluarga agar apa yang mereka lakukan sesuai dengan tuntunan.
Mas Reza membagi proses komunikasi orang tua kepada anak menjadi 3 fase:
- Fase pertama (anak umur 0-7 tahun)
Komunikasi orang tua kepada anak adalah pengajaran nilai-nilai kebaikan dan agama. Bagaimana mereka bangga akan agama, cinta terhadap Rabb nya, dan cinta terhadap rasulnya. Pada postingan saya yang terdahulu, saya menyebutkan dalam suatu kajian bahwa usia 0-7 tahun adalah masa-masa “Golden Age”, dimana anak dapat dengan mudah menerima apapun yang diajarkan kepadanya. - Fase kedua (anak umur 7-14 tahun)
Komunikasi yang dikedepankan adalah pendisiplinan kepada anak. Pada usia 7 tahun ke atas, anak sudah mengerti mana yang baik dan yang buruk. Tugas orang tua adalah mendisiplinkan anak ketika anak tidak sesuai dengan tuntunan agama. Contohnya adalah mendisiplinkan anak untuk sholat 5 waktu berjamaah di masjid. - Fase ketiga (diatas 14 tahun)
Pada fase ini, anak sudah mempunyai pandangan sendiri akan dirinya. Sudah mampu untuk berjalan sendiri sesuai apa yang dikehendakinya. Mas Reza menyampaikan bahwa orang tua selayaknya mulai menjadikan dirinya sahabat bagi anak-anaknya. Komunikasi yang dibangun adalah komunikasi hati ke hati.
Demikian yang disampaikan oleh Mas Reza kepada kami. Semoga memberikan wawasan baru dalam mendidik anak. Dan bagi yang masih berstatus sebagai bujanghidin, selayakya memulai perencanaan terhadap pendidikan anak.
***
Hei, masih ingat dengan secarik kertas dan pena untuk menuliskan bagaimana harapanmu kepada anak-anakmu kelak?
Sekarang cobalah direnungkan, apakah harapan-harapan tersebut sudah tercipta dalam diri kita sendiri?
Jika kita menginingkan anak kita Hafidz, apakah kita setidaknya berusaha untuk menghafalkan Al-Qur’an? Jika kita menginginkan anak yang berbakti kepada orang tuanya, sejauh apa kita sudah berbakti kepada orang tua kita? Jika kita menginginkan anak yang berjuang di jalan dakwah, sudah sejauh apa kontribusi dakwah kita?
Lalu, berkaca tentang hubungan orang tua kepada anak, jika kita menginginkan hubungan yang baik kepada anak nantinya, sudahkah kita memperbaiki hubungan kita dengan orang tua kita?
Demikian, semoga menginspirasi,
Wallahu a’lam bisshowab,
-srf-
@saungkertas
Recent Comments