September 2012
Seorang gadis masih berada di atas rooftop SMA tempat dia biasa berada malam itu. Di depannya seorang anak muda yang masih memandanginya dengan pandangan sendu.
“Jika aku diberi pilihan untuk mengganti apa yang hilang dari tubuhku. Jika bisa…aku tidak meminta ini kembali…aku lebih memintamu untuk menemaniku.” kata anak laki-laki itu kepada gadis itu.
Gadis itu masih menunduk, hingga ia memalingkan wajahnya dan mendongakkan wajahnya ke atas, ke bintang-bintang dan bulan yang masih ada disana malam itu. “aku akan menemanimu.” Kata gadis itu.
“Tidak, kau tidak akan menemaniku.” Kata anak laki-laki itu.
April 2007
Gadis itu bernama Sarah, kelas XI IPA 2 di salah satu SMA di Jogja. Hari ini dia mengenakan baju bebas untuk ke sekolah. Selain karena hari ini adalah hari minggu, juga hari ini adalah hari Bazaar di sekolah dalam rangka ulang tahun sekolahnya.
“Wow, cantik sekali anak ayah hari ini. Itu baju baru ya?” Kata ayah Sarah ketika melihat Sarah turun dari tangga dan menuju ruang makan.
“Ini baju lama, pa…cuman akunya aja yang gak pernah kemana-mana, jadi gak pernah dipake’” kata Sarah sambil duduk dan langsung menyantap telur mata sapi dan steak sapi lada hitam di piringnya dengan garpu dan pisau.
“Nanti kamu selesai acara dijemput ayah aja ya, Nduk.” Kata ibunya dari dapur sambil melepas celemeknya dan ikut melingkar di meja makan.
“Emmm, nggak deh, Ma. Belum tahu juga selesainya jam berapa. Mungkin mending Sarah naik taksi aja.” Kata Sarah sambil memakan potongan-potongan kecil steaknya.
“Ada acara apa toh di sekolah? Kok gak biasanya kamu ngeyel minta ijin mau keluar kaya kemaren.” tanya ayahnya.
“Ada bazaar di sekolah. Mau kumpul sama teman-teman juga.” kata Sarah sambil melirik ayahnya sambil tersenyum.
“Inget ya, daripada kamu kumpul sama temen-temen gak jelas, mending kamu belajar yang tekun biar bisa lulus dan masuk PT negeri.” Belum selesai ibunya bicara.
“Pa, Ma…please allow me… I’m not a little girl anymore.” kata Sarah menimpali sambil tetap menyantap makanannya dengan santai, “and someday, you will let me go.” Kata Sarah sambil nyengir kepada bundanya. Bundanya semakin cemas.
Di sekolah, pukul 08.00
Bazaar kali ini tiap-tiap perwakilan kelas diberi satu petak untuk berjualan di lapangan futsal dan lapangan basket. Begitu ramai suasana bazaar, tiap-tiap kelas membawa pernak-pernik untuk mempercantik stand jualan mereka. Ada yang mengambil tema “Sapi Onyoe” dimana segala jualan mereka adalah olahan susu, yaitu yogurt, susu segar, dan mayonaise. Ada juga stand yang mengambil tema “Sushi Teuing” dimana mereka menjual aneka Sushi yang di pack secara lucu di sterofoam kecil. Bahkan ada satu stand yang bergaya minimalis, sangat sederhana, tapi cukup ramai, stand itu dibuat oleh anak-anak kelas XII-IPA-1, standnya hanya bertuliskan, “Sedia soal-soal ujian nasional beserta jawaban”. Mungkin hanya stand itu yang merusak mood siswa kelas XII yang datang, tapi disisi lain mereka akan datang dan membeli soal di stand tersebut. Tidak ada keceriaan di wajah mereka yang datang. Lebih parah lagi, ada yang mengerjakan soal di stand tersebut, dan yang terparah adalah ketika ada seorang senior jenius yang memprotes kepada kasir bahwa pembahasan di ujian matematika di fotokopian soal UNAS tahun lalu salah dengan memberikan bukti kertas jawaban yang dia bikin dan dia kerjakan di stand itu juga. Stand ini sudah gila, yang beli pun juga sudah gila.
“Kampret nih yang bikin stand.” Kata seorang senior yang raut mukanya langsung berubah ketika melihat stand tersebut ketika masuk area lapangan. Akhirnya dia memasuki stand tersebut dan dia membuka buka fotokopian soal ujian nasional tahun lalu. Akhir cerita dia membeli soal fotokopian tersebut….3 ekspemplar. Keluar dari stand itu, dia melongok di stand sebelahnya yang berjudul, “Prediksi Soal SNMPTN dan UM UGM – by XII-IPA2.” Dia menghela napas, dan berkata satu kata bermakna, “kampret.” Dan akhirnya dia masuk stand tersebut dan membeli 5 eksemplar soal.
Sarah menuju stand kelasnya, XI-IPA-2. Kelasnya mengusung tema. “To cool”, dibacanya Tukul. Standnya sungguh lucu, dibuat seperti rumah igloo yang di dalamnya ada AC sehingga ada nuansa dingin. Mereka berjualan segala macam es krim. Ada banana split, es-krim goreng, ada es krim batangan, ada es krim vanila berbalut coklat yang bisa diberi toping dan almond secara custom.
“Hei sarah! Tumben kamu dateng!” kata Ira, teman sarah yang ada di dalam igloo. “Hei, ada yang bisa dibantu?” kata Sarah.
“Oh, nggak usah. Ni udah selesai semua kok. Hehe…kamu udah dateng aja kami udah seneng.” kata Ira sambil merapikan meja dan menu.
“Haha, baru kali ini aku diijinin keluar. Beneran nih gak mau dibantu? Yawdah, aku keliling dulu ya, Ra.” Kata Sarah sambil lalu.
Ketika Sarah berbalik, di depannya sudah ada sosok pria yang tinggi, putih, mata jernih, dengan rambut gelombang, plus lesung pipit saat dia tersenyum. Definisi ini lebih sering disebut dengan “ganteng”. Namanya Rizwan, anak kelas XI-IPA-1. Dia mengenakan kaos berwarna merah maroon bertuliskan, “Say with Cake!” dimana kelasnya menjual berbagai jenis Cake seperti red velvet, cheese cake, blackforest, dan lain sebagainya.
Rizwan adalah teman sekolah Sarah dari SMP. Saat SMP mereka satu kelas dari kelas 1-3 SMP, namun baru akhir-akhir ini mereka begitu akrab.
Sarah kaget melihat Rizwan tiba-tiba muncul. “Kamu tuh bisa gak munculnya gak tiba-tiba?” kata Sarah sambil memukul-mukul manja si Rizwan. “Haha, aku tadi udah dari sini sejak kamu masuk stand.” Kata Rizwan dengan suaranya yang sedikit ngebas sambil menahan pukulan dari Sarah.
“Haha, awas kamu ya! Emm, kamu jaga stand by the way?” tanya Sarah sambil tangannya sendekap.
“No, I just wearing this shirt because my class captain said we have to wear it.” Kata Rizwan.
“So..?”
“apakah Anda keberatan untuk mencicipi makanan-makanan di stand-stand, Nona?”
“ih, apa’an sih.” Kata Sarah sambil nyengir. Rizwan dan Sarah mengajak teman-teman lain untuk ikut serta ngicip-ngicip makanan di stand-stand. Fungsinya mengajak yang lain tidak lain tidak bukan adalah biar irit, satu orang beli satu tipe makanan dan di share buat icip bareng-bareng.
Akhirnya mereka berjalan diantara ramai siswa yang hadir untuk meramaikan stand dan atau sekedar mencicipi hidangan di stand-stand.
Di ujung tempat stand di lapangan basket, disediakan stage untuk band, dancer, tarian daerah, atau persembahan dari kelas-kelas. Tepat pukul 9, acara yang ditunggu-tunggu oleh semua siswa adalah pembukaan bazaar oleh kepala sekolah. Kepala Sekolah membuka acara dengan memberi sambutan di stage tersebut. Siswa-siswi begitu antusias, hingga menit ke 15, kepala sekolah belum menunjukkan niat untuk mengakhiri pidatonya. Masuk menit ke 30, tiba-tiba beberapa stand menyalakan musik sebagai background stand mereka, hingga akhirnya suara sambutan kepala sekolah tidak terdengar. Selain itu, dibelakang stage, seorang penanggung jawab perlengkapan sengaja mematikan microphone kepala sekolah. “Yak, itulah tadi sambutan dari kepala sekolah!” kata MC dan disambut sorak sorai oleh siswa dan pesta kembang api.
Rizwan, Sarah dan 5 orang lainnya telah membeli segala macam makanan minuman dari stand-stand yang ada. Mereka membawa itu semua untuk dimakan di bangku lingkar di sebelah kelas X di lantai tiga. Meja di antara bangku lingkar itu telah terisi oleh beragam makanan dari hasil pembelian di stand-stand. Ada red velvet cake, bakso, nasi goreng, tempura goreng, banana split, sosis goreng raksasa, burger cheese daging kerbau, yogurt, dan satu eksemplar ujian nasional. Kampret.
Akhirnya satu persatu dari mereka saling mengicip. Sarah mengicip red velvet dari kelas si Rizwan, Andi (teman Sarah) mengicip bakso dan nasi goreng, Miko sedang asyik dengan banana splitnya, Laras sedang kesulitan memakan burger daging kerbau, Lisa dan Aris sedang suap-suapan tempura, sedang Rizwan sedang mengerjakan soal ujian nasional. Antiklimaks.
Terdengar keras suara musik dari band-band penampilan kelas dan suara teriakan histeris cewek-cewek. Beberapa saat kemudian, musiknya berubah, ternyata ada penampilan dancer dari kelas X-5. Segera terdengar keras teriakan cowok-cowok senior. Miris.
Akhirnya mereka ngobrol kesana kemari, ngobrol tentang guru-guru mereka yang ‘lucu’ dan tentang peliharaan mereka yang gak kalah lucu dengan guru mereka.
“Eh, Rizwan mana?” tanya Laras sambil membetulkan behelnya karena daging kerbau masuk sela-sela behelnya.
“Eh? Iya ding, mana tuh bocah?” tanya Aris. Sarah melongok kanan-kiri.
“Yak, ada penampilan request dari seseorang dari kelas XI-IPA-1!” Kata MC di stage.
“Terimakasih, emm, lagu ini saya persembahkan untuk someone special.” Suara ngebas itu sepertinya tidak asing.
Seketika pupil mata Sarah membesar, dan dia berdiri dari bangkunya, lalu melongok ke stage dari lantai 3 tempat ia berpijak. Teman-temannya pun ikut melongok ke stage.
Ternyata benar, yang diatas stage itu adalah Rizwan. Dia kabur saat teman-temannya sedang autis dengan makanan masing-masing.
Teman-temannya serempak menggeleng-gelengkan kepalanya. Rizwan memang sering berbuat konyol seperti ini.
MC dari stage berkata, “Ciee, siapa itu someone spesialnya Rizwan?”
“Emm, someone nya adalah dari XI – IPA-2.” Kata Rizwan.
“Cieee…”sorak sorai penonton.
“namanya Miko, dia temen se kos saya.” Kata Rizwan.
Tiba-tiba ada hening yang panjang. Sebelum akhirnya terdengar tawa dari penonton.
“Bocah geblek.” Kata Sarah sambil nyengir dan geleng-geleng. Lesung pipitnya begitu manis diantara pipinya yang makin merona.
“Kampret tuh bocah.” Kata Miko sambil geleng-geleng.
“Haha, just kidding guys. Ini buat lagu buat kalian semua yang hadir.” Kata Rizwan mulai memetik gitarnya.
Dan terlantun dari petikan gitar Rizwan dari stage. “Cruising when the sun goes down. Across the sea. Searching for, something inside of me. I would find all the lost pieces. Hardly feel, deep and real, I was blind and now I see… hey hey hey you’re the one… hey hey hey you’re the one …hey hey hey… I can’t live without you”
Dan semua keramaian menjadi teduh nyaman, dan sebagian bernyanyi lirih, “Take me to your place, where our hearts belong together. I will follow you. You’re the reason that I breath.” Lama-lama semakin banyak yang ikut bernyanyi.
Sarah, dari lantai 3, bibirnya entah sadar atau tidak, ikut bernyanyi meski hanya berbisik. “I’ll come running to you. Fill me with your love forever. I’ll promise you one thing. That I would never let you go. Cause you are my everything….” bisik Sarah pelan dengan background suara Rizwan.
“Hey, kamu tadi nyanyi tuh buat siapa?” tanya Sarah sambil berjalan berdua di koridor bersama Rizwan. Suara riuh di lapngan sudah hilang. Sekarang sudah pukul 2 siang. Waktu bazaar telah selesai.
“Buat someone spesial.” Kata Rizwan.
“Ya iya, Nyong…tapi buat siapa? Your crush, ha? You never told me you have a crush…haha…” kata Sarah sambil ketawa.
“haha, kenapa harus kasih tau kamu?” kata Rizwan sambil lalu.
“dasar. Haha…aku bisa mulai cerita tentang masa laluku ke kamu akhir-akhir ini. Kenapa kamu gak mulai terbuka ke aku?”
“Should I?” tanya Rizwan,
“Ya, I don’t know. But, you can tell me if you need a place to share.” Kata Sarah.
“I have no stories to tell….don’t worry.” Kata Rizwan. “Come, let me drive you home.”kata Rizwan.
“Oh ya? Gak usah deh, aku pake’ taksi aja.” Kata Sarah.
“aku pengen tahu rumah kamu.” Kata Rizwan.
“Jangan, nanti orang rumah mikirnya macem-macem.” Kata Sarah.
Tibalah di lahan parkir motor, Rizwan mengendarai CBR-150 warna putih. Badannya yang tinggi dengan CBR terlihat keren. “nih” kata Rizwan menyerahkan helm ke Sarah. “emm, ini kali pertama aku dibonceng motor.” Kata Sarah. “What?” kata Rizwan. “Yup, bawa motornya pelan-pelan aja ya…”
Sampainya di depan rumah Sarah, Sarah turun dari motor dengan pelan-pelan. Jantungnya masih berdetak kencang karena ini kali pertama dia naik motor.
“Pa, Ma, aku pulang…” kata Sarah sambil masuk ke rumah dan menaruh tasnya di ruang tamu depan.
“Oh, udah pulang, sayang…? naik taksi kah?” tanya ibunya.
“Ndak ma, dibonceng temen naik motor.” Kata Sarah.
“APA? MOTOR?” pekik ayah Sarah. “Motor itu bahaya, sarah!” kata Ayah Sarah.
“Gak apa-apa, Pa… pake’ helm kok.” Kata Sarah menenangkan ayahnya.
“dianter sama siapa kamu pulang?” tanya ayahnya yang tiba-tiba raut mukanya berubah menjadi serius.
“Sama temen. Itu di luar, bentar ya, Pa…” kata Sarah sambil keluar rumah dan menemui Rizwan yang masih ada depan bersama motornya.
“Eh, Riz…makasih ya…” kata Sarah sambil tersenyum.
Ayah Sarah lalu keluar dan berdiri di belakang Sarah. “Siapa ini, Sar?” tanya ayahnya dengan tatapan dingin kepada Rizwan.
“Oh, Pa, ini kenalin…Rizwan…teman aku. Dia yang nganter aku pulang.” Kata Sarah kepada ayahnya.
“Rizwan Om.” Kata Rizwan sambil menjulurkan tangan ke ayah Sarah. Cukup lama tangan itu tidak dibalas jabatan. Hingga, “Pa…” Sarah mengisyaratkan kepada ayahnya agar menjabat tangan Rizwan. Akhirnya mereka berjabat tangan juga.
“Nduk, kamu masuk gih… Papa mau kenalan dulu sama Rizwan.” Kata Ayah Sarah.
“Emm, oke, kalian baik-baik ya. Hehe…” kata Sarah sambil masuk ke rumah.
Setelah Sarah masuk ke rumah, Ayah Sarah mulai melemparkan pandangan ke Rizwan.
“Kamu yang namanya Rizwan?” tanya Ayah sarah
“Iya Om, saya Rizwan.” Kata Rizwan sambil tersenyum.
“Emm, gimana ya ngomongnya… Emm, kamu sudah tahu belum kalau Sarah tidak boleh naik motor?” kata Ayah Sarah.
“Oh ya? Saya nggak tau tuh, Om. Memang kenapa, om?” tanya Rizwan.
“Saya gak mengizinkan Sarah naik motor. Dengan siapapun, bahkan saudara sekalipun.” Kata Ayah sarah dengan serius.
“Maaf Om saya…”
“Loh, jangan minta maaf dulu. Dengar saya dulu. Sarah itu anak saya satu-satunya. Jika terjadi apa-apa saat kalian naik motor gimana? Mau kamu tanggung jawab?”
“Emm, iya, Om, maaf…”
“Dasar anak muda. Lagipula motormu ini tidak dirancang baik untuk dipakai boncengan.” Kata ayah Sarah sambil melongok ke motor Rizwan.
“Sekali lagi saya mohon maaf, om…” kata Rizwan dengan menunduk.
“Emm, saya harap ini terakhir kalinya Sarah dibonceng pake’ motor. Oh ya, satu lagi, kamu juga yang belakangan ini menelpon Sarah malam-malam?” tanya ayah Sarah.
“Kadang sih, Om. Kenapa Om?”
“Dengar Nak, berhentilah bertingkah yang keterlaluan. Waktu tidur Sarah tidak pernah sampai larut seperti akhir-akhir ini. Dan dia tidak pernah memohon dengan sangat untuk keluar rumah diluar jam sekolah seperti ini. Saya curiga kamu ….”
“Oh, tidak Om…saya tidak bermaksud untuk berbuat macam-macam kepada Sarah, Om. Maaf kalau saya bertindak menurut Om berlebihan”
“yasudah, jangan diulangi lagi ya, nak! Sudah, pulang sana…” kata ayah Sarah.
Pukul 22.00
Hey, thanks for today btw. – from Sarah
Okay, Emm, I’m sorry for the stupid thing that I’ve done. –from Rizwan
Eh, kenapa tiba2 minta maaf? –from Sarah
Emm, ayahmu bilang kalau kau dilarang naik motor. Terlebih lagi, kau jadi tidur lebih malam setelah aku telepon. Why you didn’t tell me? –from Rizwan
Tell you what?” –from Sarah
Yaa, tentang semuanya. Tentang dirimu yang tak pernah tidur larut, dirimu yang tidak boleh naik motor. Lalu apalagi yang aku tidak tahu? – from Rizwan
Seharusnya aku tidak meninggalkan kalian berdua di depan tadi. Itukah alasan kau tak menelponku malam ini? –from Sarah
Honestly, yes. –from Rizwan
You know what? –from Sarah
What? – from Rizwan
Di dalam kamar, Sarah berada di atas ranjangnya. Satu menit, dua menit, tiga menit, sms itu belum terbalaskan. Dia mulai mengetik, lalu menghapusnya kembali dan berulang hinggabeberapa kali.
“Ah, Damn! Riz…aku hanya cukup bahagia ketika aku menukarkan waktu tidurku untuk mendengar suaramu. Aku cukup bahagia untuk menegosiasi papa untuk keluar diluar jam sekolah untuk hanya bertemu denganmu. Did you notice?” Gumam Sarah.
Emm, nevermind. Aku akan bilang ke papa agar beliau tidak terlalu khawatir. –from Sarah
Are you sure? –from Rizwan
Yeah, i’m not little girl any longer –from Sarah
Mulai saat itu, Rizwan mencoba menggali lebih banyak tentang Sarah. Sarah pun juga bercerita tentang banyak hal kepada Rizwan. Tentang dia sebagai anak tunggal, tentang bagaimana ayah dan ibunya menjaganya dengan amat sangat. Dengan rencana pendidikan yang sudah di ‘set’ oleh orang tuanya. Hingga tentang konflik ketika teman-temannya diusir secara halus dari rumah Sarah ketika mereka sedang menjenguk Sarah yang sedang sakit. Akhir cerita, Rizwan mulai mengetahui Sarah adalah putri dalam benteng kerajaan yang dibangun oleh orang tuanya.
JUNI 2008
Hari ini adalah hari pelulusan SMA. Sekolah –sekolah di Jogja sudah ramai dipenuhi anak-anak kelas XII yang merayakan kelulusan. Diantara mereka ada yang sangat bersemangat ke sekolah pagi ini dengan membawa pilox, spidol warna warni, dan lipstik. Semuanya bersemangat, hingga akhirnya surat nilai UAN dibagikan. Akhirnya siswa-siswi terbagi menjadi tiga kelompok. Yang sangat bahagia karena lulus dan piloxnya langsung digunakan untuk mencoret-coret baju seragam, kelompok yang tiba-tiba nangis gara-gara gak lulus, dan kelompok yang histeris karena lulus tapi gak bawa pilox, spidol, bahkan lipstik untuk coret-coret.
Sarah pun disana, berbeda dengan yang lain, dia sekarang berada di ruang guru. Menerima penghargaan karena menjadi 10 besar nilai UNAS tertinggi se propinsi.
“Congrats mbaknya.” Kata Rizwan ketika Sarah keluar dari ruang guru. Di tangan kanan Sarah memegang sertifikat.
“Eh, haha… it’s just … well, lagi ngapain?” kata Sarah agak salah tingkah.
“Aku? lagi menunggumu keluar.” Kata Rizwan tersenyum.
“seriously… nunggu aku keluar ato main coret-coretan dan kebetulan lewat sini pas aku keluar?” tanya Sarah.
Benar saja, baju seragam Rizwan abu-abu putih sudah dipenuhi tanda tangan menggunakan spidol dan lipstik. Di pipi Rizwan pun ada bekas bibir lipstick di kanan dan kiri pipinya, juga di leher.
“Haha…” Rizwan hanya tersenyum.
“Eh, itu siapa aja yang nyiumin kamu?” tanya Sarah sambil mengernyit dan menahan tawa.
“Oh, yang pipi kiri si Andi, pipi kanan Si Miko. Yang leher si Laras…”
“HEH!? LARAS! WHAT THE…”
“Hehe, gotcha….! just kidding, ini si Bejo yang nyium. Ni jigong nya masih kerasa di leher” Kata Rizwan.
“dasar bocah!” kata Sarah sambil geleng-geleng.
“Emm, may I?” tanya Rizwan sambil membuka tutup spidol.
“what? Sign my uniform? No… my dad will kill me.”
“oh ya? Here, I give you sign.” Kata Rizwan memaksa.
“If you write your name in my uniform. I will be killed. Twice!” kata Sarah sambil tersenyum dan memperlihatkan giginya yang rapi dan lesung pipinya yang cantik.
Akhirnya mereka kembali menyusuri koridor-koridor kelas. Menunjuk tempat-tempat seru dimana mereka menghabiskan waktu SMA bersama dengan kekonyolan-kekonyolan mereka. Melewati kantin, melewati kebun sekolah, melewati UKS dimana disana banyak anak-anak terbaring ketika guru mengadakan kuis dadakan, dan tempat-tempat lain yang penuh kenangan.
“Mau kemana kau setelah ini?” tanya Rizwan sambil jalan.
“Pulang lah..” kata Sarah.
“I mean, kamu mau lanjut kuliah dimana?” tanya Rizwan.
“Oh, rencanaku ke ITB.”
“rencanamu atau rencana orang tuamu?” goda Rizwan.
“Haha…itu hasil negoisasi. aku ngincer arsitektur disana.” Kata sarah. “How bout you?”
“Me? Well, I’m not really sure… aku mungkin balik ke kotaku, surabaya.. ke ITS atau Unair. Liat ntar deh.” Kata Rizwan.
Sarah menghela napas panjang, dia terduduk dan tersandar di dinding depan kelas X.
Rizwan duduk di samping sarah. Hening beberapa lama hingga satu diantara mereka bersuara.
“aku tahu hari ini akan datang, Riz.”
“Eh?”
“hari dimana kita dan temen-temen bakal pisah.”
“Haha, nanti kita masih bisa berkirim pesan.” Kata Rizwan.
“Ya, tentu…suatu waktu kita akan reuni. Kita bincangkan lagi semuanya.kamu dengan ceritamu, dan aku dengan ceritaku” kata Sarah.
Rizwan hanya tersenyum. “Hei, kau jangan lupakan aku ya saat kau di ITB nanti.” Kata Rizwan.
“Aku tak bisa tahan bahkan sehari tanpa leluconmu. Aku pikir aku akan menderita tiap harinya disana bila tidak bertemu denganmu.” Tukas Sarah.
“Haha…mungkin kamu disana akan menemukan sosok yang jauh lebih menyenangkan daripada aku, yang bawa mobil, bukan motor sepertiku.” Kata Rizwan.
Kemudian hening panjang, hingga akhirnya Sarah berkata, “Riz…”
“Ya?”
“apa selama ini kamu suka sama aku?”
Rizwan kaget ditanya demikian, dipalingkan sedikit wajahnya dengan mendongak ke langit-langit. “entahlah…” kata Rizwan.
Sarah menunduk dan melipat lututnya. Di dekap lututnya itu dengan kedua lengannya dan ditaruhnya dagunya di atas lututnya.
“sepertinya iya.” Kata Rizwan. Sarah pun tersenyum.
“Lalu…kau sebut apa hubungan kita ini?” Rizwan balik bertanya.
“Emm…sahabat… how?” tanya Sarah sambil melirik Rizwan.
“Emm, sahabat? Emm, not bad…” kata Rizwan sambil tersenyum.
“Ya, thanks for being me in everything, Riz…” kata Sarah dengan suara lembut.
Akhir kisah, Sarah diterima di Arsitektur ITB, sedang Rizwan diterimadi teknik Informatika ITS. Mereka saling berkirim pesan setidaknya pada saat weekend. Ketika reuni tiba, mereka sempatkan untuk bertemu dan bertukar cerita. Kadang Sarah mengirimkan oleh-oleh dari Bandung kepada Rizwan melalui paket POS. Mulai dari miniatur angklung, makanan khas pasundan, T-Shirt, bahkan boneka.
Rizwan tidak demikian, dia memilih untuk menyanyikan lagu –lagu romantis yang dia rekam dan dia upload ke youtube dan dia berikan linknya untuk Sarah. Kadang lagu, kadang puisi, kadang hanya bunyi rintik hujan dan ombak. Karena mereka sepakat bahwa bunyi hujan dan ombak adalah bunyi termerdu di dunia yang dicipta Tuhan.
22 AGUSTUS 2012
Besok kita akan bertemu. – by Sarah
Sebentar lagi aku sampai di Jogja. –by Rizwan
Hati-hati di jalan – by Sarah
Aku akan telpon ketika sampai di Jogja. –by Rizwan
Besok adalah hari reuni di SMA Sarah. Sarah sudah jauh-jauh hari berada di Jogja bersama keluarganya ketika bulan puasa tiba. Sedang Rizwan menempuh perjalanan yang panjang karena mengendarai motornya dari surabaya menuju Jogja. Dia singgah di beberapa tempat sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Sore ini seharusnya dia sudah datang di Jogja dan sudah masuk kosan. Dia menginap di kosan adik kelasnya di Jogja untuk satu dua hari kedepan.
Sementara itu, di rumah Sarah sore itu. Sarah dan keluarganya sedang berkumpul di ruang tengah dengan beberapa saudara jauhnya. Suasana hangat kekeluargaan itu sangat terasa ketika lebaran seperti ini tiba.
Sarah sesekali melihat ponselnya, dia takut melewatkan telpon dari Rizwan.
Ibunya yang penasaran, bertanya, “kamu kok gelisah gitu, Nak? Ada apa?” kata ibundanya.
“Oh, gak papa, Ma…” kata sarah…
Drrrt…
Ponsel Sarah bergetar. Namun nomor tersebut bukan nomor Rizwan, nomor itu pun tidak ada dalam contact list. Sarah pun mengangkat telponnya.
“Ya, halo?”
“Mbak, maaf, kenal dengan yang namanya Rizwan Hendriyanto?” kata lelaki dengan suara berat dari telepon.
“Iya, Pak… ada apa, Pak?” tanya Sarah.
“Dia kecelakaan di daerah Kaliurang.”
“INNALILLAHI!” Pekik Sarah sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tangan kananya.
Kerabat-kerabatnya pun seketika diam dan bingung apa yang terjadi.
“Sekarang dia di RS Dr.Sardjito. Maaf Ya, Mbak…saya menghubungi Mbak karena dari ponselnya last call nya nomer nya Mbak.” Kata lelaki dalam telpon itu.
“baik, Pak…terimakasih.” kata Sarah sambil terisak menangis.
Seketika Sarah terduduk di ruangan tersebut, dia memandang ibunya dan ayahnya yang mencoba menenangkannya, “Rizwan kecelakaan, Pa, Ma…”
Ibunya merangkul anaknya itu dan mengelus punggung anaknya itu.
Sementara itu, di rumah sakit, Rizwan sudah masuk ruangan ICU. Lukanya cukup parah pada lengan kirinya. Tangan kirinya sudah remuk dan berlumuran darah, sedang bahunya dan punggunya luka-luka.
Keesokan harinya, Rizwan membuka matanya. Terasa berat olehnya matanya terbuka. Seorang dokter mendekatinya. “Jangan bergerak dulu.”
“Dok…” kata Rizwan dengan suara serak kecil dan terkesan memaksa.
“Ya?” kata dokter mendekatinya dan duduk di sebelah kasurnya.
“Badanku sakit semua…..dan aku tidak bisa merasakan jari tanganku.” Kata Rizwan.
“Riz!” seorang gadis memasuki ruangan tersebut dengan perlahan. Matanya sungguh sembab, bekas air mata mengalir masih tampak jelas di pipi mungilnya. Perlahan dia maju dan mendekati kasur Rizwan.
Di belakang Sarah, ada ayah dan ibu sarah yang menunggu di depan pintu ruangan tersebut. Aroma obat dan aroma sesuatu yang sedikit sangit membuat ruangan itu tidak nyaman untuk disinggahi lama-lama.
“Sarah? Om? Tante?” Rizwan menyipitkan matanya, mencoba menelaah sosok-sosok di depannya.
“Riz…” Sarah hanya bisa berkata satu suku kata tersebut. Didekatinya Haris selangkah demi selangkah hingga berada di samping tempat tidur.
“Sarah…ngapain…disini?” kata Rizwan dengan suara lemahnya.
Sarah hanya diam dan menutup mulut dan hidungnya.
“Seharusnya kamu gak kesini naik motor. Motor itu bahaya!” kata Sarah sambil sesenggukan.
“Sudahlah, gak usah nangis lagi ya…” kata Rizwan sambil membuka selimut yang menutupinya. Diangkatnya tangan kanan Rizwan dan menyibakkan rambut sarah yang ada di sampingnya.
“Aku … khawatir… kamu kenapa-kenapa, dan sekarang kejadian.” Sarah masih sesenggukan.
“Sudahlah, gak usah khawatir.”
“GAK KHAWATIR GIMANA! DON’T YOU KNOW THAT I WAS ALMOST DYING WHEN I GOT A CALL THAT YOU’D GOT AN ACCIDENT!” Sarah berkata keras memecah keheningan ruangan itu. Dokter yang ada di pojok ruangan itu mulai mendekat. Namun ayah sarah memberi isyarat seperti ‘its’ fine’ kepada dokter.
Rizwan hanya tersenyum, “Sebegitu berartikah aku untukmu?”
“Sangat…sangat berarti…”kata Sarah. “Aku gak mau kehilangan kamu. Lihat kamu begini….jika bisa…biar aku yang berbaring disini dengan luka yang kau alami.”
Hening panjang hingga Rizwan membuka mulutnya untuk bicara.
“Aku bukan sosok yang sempurna, Sarah.” Rizwan menutupkan kembali selimut tipisnya ke dadanya.
“aku tidak peduli tidak sesempurna apa dirimu. All the things that we’ve done, itu sudah menjadi kesempurnaan bagiku.” Kata Sarah.
“Meski harus seperti ini?” Rizwan membuka selimutnya dengan keras. Disibakkanya selimut itu hingga terlempar ke lantai.
Rizwan memaksakan diri untuk duduk. Alat infus di tubuhnya terguncang karena gerakannay yang keras dan tiba-tiba. Rizwan kemudian menunduk.
“Meski harus seperti ini, Sar?” kata Rizwan sambil menunduk. Sarah menutupkan kedua tangannya ke hidung dan mulutnya. Terlihat olehnya tangan kiri RIzwan terbebat oleh perban besar hingga ke lengannya. Tak tampak olehnya telapak tangan kiri Rizwan.
“Tangan kiriku diamputasi.” Kata Rizwan sambil tertunduk.
Hening panjang ketika Sarah dan keluarganya melihat kondisi Rizwan.
Ibu sarah menahan tangis dari balik bahu ayah sarah. Ayah Sarah memandang nanar Rizwan dengan pandangan iba.
Sarah masih menutupkan hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya. Masih sesenggukan dan air matanya masih mengalir di jemari-jemarinya dan menetes di sprei kasur.
“Dok…” kata Rizwan melongok ke arah dokter, mengisyaratkan agar Sarah dibawa keluar.
Dokter mendekati Sarah. Di genggamnya lengan sarah dan dituntunnya keluar dari ruangan. Ayah Sarah kemudian bercakap-cakap dengan dokter dengan suara lirih yang hanya mereka berdua yang mendengar.
Kemudian Ayah Sarah masuk ke ruangan, sedangkan dokter, ibu Sarah dan Sarah berada di luar ruangan. Mereka masih menenangkan Sarah.
Ayah Sarah menutup pintu ruangan dan berjalan perlahan ke arah Rizwan.
“Saya gak tahu harus bilang apa, selain semoga cepat sembuh, dan tabah atas segala yang menimpamu kemarin.” Kata Ayah Sarah yang berada di ujung kasur Rizwan.
“Makasih Om.” Kata Rizwan.
“Saya mau bertanya satu hal. Boleh?” tanya Ayah Sarah.
“silakan Om.” Kata Rizwan sambil masih menunduk.
“Surabaya ke Jogja bukan perjalanan dekat. Lagipula kamu kuliah di Surabaya, keluargamu juga di Surabaya. Kamu ngapain kesini? Cuman untuk reuni?” tanya Ayah Sarah.
“Kalau saya bilang, hanya untuk ketemu Sarah. Om percaya?”
Ayah Sarah menghela nafas panjang. Ada hening panjang, sehingga detak jarum jam di ruangan itu terdengar jelas.
“Dengar, Nak… beberapa tahun lalu, Saya masih ingat kamu mengantar Sarah ke rumah pakai motor. Yang sekarang motor itu sudah tak berbentuk.” Ayah sarah berucap pelan-pelan.
“Sekarang, kalau kamu jadi saya…apa kamu izinkan anak kamu satu-satunya keluar dengan orang tersebut? Yang bahkan menjaga dirinya saja tidak bisa?” kata ayah sarah dengan nada pelan dan berusaha sebisa mungkin tidak membentak.
“maaf, Om… saya hanya … sangat menyayangi Sarah.” Kata Rizwan. Matanya sudah berkaca-kaca memandang Ayah Sarah.
“menyayangi? Hfft… kau bahkan tidak menyayangi dirimu sendiri dengan apa yang telah terjadi.” Kata Ayah Sarah.
“Nak, sudahlah. Saya tidak melarang kamu untuk berteman. Tapi tidak hingga sejauh ini.” Kata Ayah Sarah.
Ada hening panjang, hingga ada suara ketukan dari pintu ruangan tersebut. Ayah Sarah melongok ke belakang, kemudian kembali menengok ke arah Rizwan.
“Nak, ongkos rumah sakit sudah saya bayar. Ingat kata-kata saya tadi, dan semoga cepat sembuh. Saya juga sudah menghubungi orang tua kamu. Mereka sedang dalam perjalanan kemari.” Itu kata-kata terakhir ayah Sarah. Dia berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut.
Dari balik pintu, tampak ayah dan ibu Rizwan yang seketika itu juga masuk ke ruangan. Pecah sudah tangis ayah dan ibunya. Dirangkulnya itu anaknya dengan sekuat-kuatnya.
Dari koridor rumah sakit, Sarah, ibu dan ayahnya berjalan pulang. Tangis dari ruangan tadi masih terdengar bergaung di koridor rumah sakit. Sarah masih menangsi dan bersandar di pundak ibunya yang juga menuntun anaknya untuk pulang.
Ku ingat, semenjak SMP kau diantar dan dijemput oleh ayahmu atau pamanmu.
Mereka menungguimu bahkan tiga puluh menit sebelum jam pelajaran berakhir.
Ketika istirahat tiba, kau memilih ke perpustakaan.
Sementara aku bermain basket, futsal, dan sesekali bolos kelas untuk main ke studio musik.
Kadang aku bertanya, selain buku-buku dan anak-anak kutubuku siapa lagi temanmu?
Kau begitu ramah kepada semuanya, bahkan kau hampir mengerjakan segala pekerjaan kerja kelompok.
Hingga mulai kapan aku mulai melihatmu menjadi sosok yang menarik.
Itu mengapa aku menjadi sering ke perpustakaan, menanyakan soal matematika, atau bahkan memaksamu untuk sekelompok denganku.
Hingga suatu saat aku mengajakmu ke studio,
Kumainkan untukmu lagu-lagu yang jarang terdengar olehmu.
Sekarang, senar kupetik tak lagi bernada,
Tak ada chord yang bisa kumainkan bahkan untuk lagu sederhana
September 2012
Seorang gadis masih berada di atas rooftop SMA tempat dia biasa berada malam itu. Di depannya seorang anak muda yang masih memandanginya dengan pandangan sendu.
“Jika aku diberi pilihan untuk mengganti apa yang hilang dari tubuhku. Jika bisa…aku tidak meminta ini kembali…aku lebih memintamu untuk menemaniku.” kata anak laki-laki itu kepada gadis itu.
Gadis itu masih menunduk, hingga ia memalingkan wajahnya dan mendongakkan wajahnya ke atas, ke bintang-bintang dan bulan yang masih ada disana malam itu. “aku akan menemanimu.” Kata gadis itu.
“Tidak, kau tidak akan menemaniku.” Kata anak laki-laki itu.
“mengapa tidak?” tanya Sarah.
Rizwan hanya terdiam, dilangkahkan satu kaki olehnya mendekat ke arah Sarah. Kedua tangannya masih dimasukkan ke saku celana.
“Jangan bilang karena tangan …” Sarah berkata sedikit pelan.
“bukan hanya karena ini,” Rizwan memotong. “tapi juga karena orang tuamu. Orang tuamu tak akan membiarkan aku masuk dalam kehidupanmu lagi.” Kata Rizwan sambil tersenyum.
“Kita dulu tak pernah menyerah akan hal ini. Kita selalu menemukan celah dimana kita bisa bersama.” Kata Sarah dengan tersenyum.
“haha…” Rizwan tertawa kecil sebelum dia juga terdiam. “Lalu…mau kau sebut apa hubungan ini?” tanya Rizwan.
“entahlah, terlalu naif jika aku bilang ini adalah sahabat.” Kata Sarah.
“kenapa gitu?” tanya Rizwan.
“Karena sepertinya sahabat tak pernah membuatku semenderita ketika dia tak mengirim pesan walau satu hari.”
“haha…that’s funny.” Kata Rizwan tersenyum.
Mereka terdiam sejenak. Malam ini bulan sabit menyaksikan mereka. Udara sepertinya mulai mendingin di atas rooftop sekolah ini.
“Bagaimana kau sampai disini? Aku tahu orang tuamu tidak mengizinkanmu keluar malam.” Kata Rizwan.
“aku lari dari rumah setelah makan malam tadi.”
“what?”
“Haha…just kidding. Aku izin mau ke Carrefour dan akan kembali paling lambat jam setengah sepuluh.”
“kamu bohong sama orang tuamu? Pernahkah aku mengajarkanmu berbohong?” tanya Rizwan.
“jika aku bilang mau bertemu denganmu? Aku pasti tidak disini, Riz. SUdahlah, jangan membuat moment ini rusak dengan pertengkaran.”
“iya, tapi…ah, sudahlah. MUngkin memang selama ini aku telah mengubahmu menjadi anak yang nakal.” Kata Rizwan sambil menggelengkan kepalanya.
“Hey…jika aku benar-benar kabur dari rumah, untukmu, apakah kau akan menjagaku, Riz?” tanya Sarah.
“Tidak, aku akan mengembalikan dirimu kembali ke rumah orang tuamu.”
“Why?”
“tak sepantasnya kamu keluar dari benteng kerajaan yang mereka buat untuk melindungimu. Apalagi di luar benteng tersebut ada makhluk liar sepertiku.” Kata Rizwan.
“Romeo and Juliet mampu keluar dari benteng mereka masing-masing.”
“As you know, mereka mati konyol.”
“apa salahnya dengan mati karena cinta?”
“Kau tahu, menurutku Romeo dan Juliet adalah cerita terbodoh dalam sejarah”
“how could it be?”
“mereka salah jika mereka akan bertemu di dunia setelah ini dengan cara bunuh diri. Cinta sejati, adalah cinta dimana kau menjalaninya hingga kau keriput tua dan masih cinta hingga satu diantara kalian tutup usia.” Jelas Rizwan.
Sarah terdiam, pandangannya tertunduk.
“ENtahlah, malam ini aku berkhayal kau akan membawaku.”
“sudahlah, aku yang sekarang bahkan tidak bisa bermain gitar untukmu, tidak bisa membalas YM mu dengan cepat, bahkan…”
“cukup! Jika kau tidak bisa bermain gitar karena kau tidak bisa menekan senarnya, biarkan tangan kiriku yang memainkan chordnya, kau petiklah gitarnya. Jika kau tak bisa membalas YM ku karena kesulitanmu untuk mengetik, telpon lah aku. Setidaknya…biarkan aku menjadi pengganti tangan kirimu.” Sarah mulai berbinar, matanya berkaca-kaca hingga satu dua tetes air matanya mengalir melalui pipinya.
“Sarah…dengarkan aku. Kita bukan hidup di buku dongeng yang kita bisa rekayasakan. Romeo Juliet juga mati. Mereka tidak bahagia dalam kubur mereka. Mereka menuhankan cinta diatas cinta Tuhan mereka.”
“Why!?…. Kamu malam ini terasa begitu asing.” Kata Sarah dengan suara lirih
“entahlah…semenjak kejadian itu, aku sadar sudah banyak kebodohan yang kulakukan. Membuatmu menjadi anak nakal juga merupakan salah satunya. Tuhan memperingatkanku dengan sangat keras kali ini.” Kata Rizwan.
Rizwan mendekat ke arah Sarah. Tidak disentuhnya Sarah meski rambut Sarah sudah menutupi wajahnya yang sudah bersimbah air mata.
“pulanglah…seberapa jauh lagi kita melangkah, tidak akan ada hasilnya.”
“Riz…please don’t leave me.” Sarah terduduk lemah.
“Sarah…be strong, big Girl! Kau sudah mau S2 fast-track…cita-cita mu sudah di depan mata. Lanjutkan hidupmu.”
“AKu membutuhkanmu, Riz..”
“kau lebih membutuhkan oksigen daripada aku. Lagipula orang tua mana yang menginginkan putrinya mendapatkan lelaki cacat?” kata RIzwan. “Pulanglah, Sar…ini hampir jam 9 malam. Butuh waktu 15 menit untuk kembali ke rumahmu. AKu pergi dulu. Semakin lama disini, semakin kau akan telat ke rumah.”
Rizwan berbalik arah meninggalkan Sarah yang terduduk dan sesenggukan. Malam itu semakin dingin dan begitu tenang. Percikan air dari atas langit pertanda hujan akan turun sebentar lagi.
Aku…dan bentengku
Dan aku tidak lagi menganggap dunia ini adil
PUkul 21.20 malam itu, Sarah turun dari taksi. Hujan sudah turun dengan cukup deras. Sarah menangis dan berjalan pelan dari taksi dengan pakaian yang kini basah kuyup. Pandangannya kosong. Dia melangkah dengan perlahan. Angin malam itu menambah dingin. Satu-satunya yang hangat adalah air mata Sarah. Kini rambut panjangnya sudah basah dengan air hujan.
Diketuknya pintu rumahnya dengan satu dua ketukan kecil. Seketika ibunya membuka pintu. Orang tuanya sudah menunggunya di ruang depan. Sarah mendongak ke arah ayah dan ibunya. Terlihat oleh ayah dan ibunya mata Sarah yang sembab dan bekas air mata yang masih belum kering di pipinya. Sarah merangkul kedua orang tuanya.
“Welcome Home, Honey….” Kata bundanya….
