laki - laki itu pun mulai menggesek senar biolanya. kali ini instrumen “Endless Love”.
nona itu masih berada di meja bar menyimak alunan musik dari biola laki-laki di panggung cafe itu.
sesekali nona itu terpaku dan menelusuri wajah dan gerakan lengan laki-laki pemain biola itu.
hingga akhirnya laki-laki itu melenmpar pandangannya ke nona itu.
seketika nona itu melongok ke arah gelas greeen tea floatnya dan langsung meminumnya seteguk.
lagu itupun selesai.
“terimakasih.” kata pemain biola itu dan meletakkan biolanya ke kursi dan segera kru panggung membereskan dan mengatur sound system disana untuk performance berikutnya.
laki-laki itu datang dan mendekati si nona. nona itu hanya duduk terdiam dan memainkan ponselnya sambil meminum green tea floatnya melalui sedotan.
“Hei.” sapa laki-laki itu.
nona itu menoleh terpatah-patah, “Oh, hei…” nona itu tersenyunm.
“sendirian, Lyn? yang lain mana?” tanya laki-laki itu.
“Emm, masih di kantor kayaknya, katanya tadi mau nyusul, tapi sampe’ sekarang gak ada.”
“Oh, gitu. Emm, yawdah d, aku ke belakang stage dulu ya.” kata laki-laki pemain biola tadi sambil lalu.
“okay.” kata nona itu.
setelah laki-laki itu menghilang dari pandangan, sang nona mulai berkemas.
“Udah pulang aja, Mbak?” kata pelayan yang sedari tadi mengamatinya.
“Eh? emm, iya, mas…saya ada meeting stengah jam lagi dikantor.”
“Mbak nya suka ya sama mas yang tadi?”
“Maksudnya?” nona tersebut meletakkan kembali ponselnya ke meja dan memandang sang pelayan.
“ini udah bulan ketiga mbak datang kesini tiap malam rabu. datang sekitar 20 menit sebelum mas tadi main. memesan green tea float cup kecil. Dan meski nggak bareng temen-temen, Mbak tetep dateng kesini. iya kan?”
“Haha, nggak lah…”
“kenapa nggak bilang aja ke mas nya, Mbak?
“Maksudnya?”
“Ya kalo’ mbak suka ya setidaknya nanya kabar dia kek, atau mempersilakan mas nya duduk di samping mbak sambil nyeruput green tea kek atau sekedar muji performnya yang tadi.”
“Apasih!?”
“apa aja boleee.” kata pelayan tersebut sambil terkekeh kecil.
lalu ada diam lama hingga sang nona angkat bicara.
“keliatan banget ya?”
“Emmm, kalo’ dari sisi saya yang ngeliatin, keliatan banget. tapi kalo’ dari sisi mas nya tadi, nggak.”
“Oh ya?”
“he’em….mas nya kan gak tau kalo’ mbak emang sengaja dateng buat liat dia.”
“apasih!”
“udah sih, jujur aja…susah amat.”
nona tersebut menunduk malu.
“lha terus aku bisa apa, Mas?”
“ya tadi, paling gak persilakan duduk di sebelah mbak, tawarin mau minum apa, atau tanyain kabar gimana kerjaan dia, ato puji dia kalo’ performnya bagus. rempong amat!”
“Ogah!”
kemudian hening.
“mau sampe’ kapan, Mbak?”
“Eh?”
“iya, mo sampe’ kapan kaya gini? mbak nya mendem perasaan terus, mas nya gak bakal tau, dan ini udah bulan ketiga. bulan depan diambil orang tuh.” kata si pelayan.
“sumpah, bawel amat kamu!”
“haha…”
hening sebentar hingga sang pelayan kembali bertanya.
“Mbak, kenapa sih suka sama orang kaya mas nya tadi? mukanya aja sengak, sok cool, ganteng sih, tapi kaya kurang humoris gitu.”
“saya itu biasa aja mas sama yang tadi.”
“udah, jawab aja…”
“emm, gini, cewek itu, suka sama yang tipe-tipe kaya’ gitu mas.”
“tipe kaya gimana?”
“ya cool, punya talent, senyumnya mahal, tapi care. hihi…” kata nona tersebut.
“kalo’ saya gini juga punya talent lho mbak jadi stand up comedian, mbak nya ndak tertarik sama saya?”
“Dih! beda kasta mas….haha…”
“azzzz.”
“becanda, Mas. hehe…”
“yeee….padahal dipikir-pikir si mas nya itu gak berbuat apa-apa buat mbak, sedangkan saya kan tiap rabu malem mbuatin green tea float buat mbak, ngajakin mbak ngobrol, bantuin ngelap in minuman temen-temen mbak yang tumpah-tumpah.”
“yee, itu kan tugas nya situ.”
“hahaha, kalo’ dianalogikan di kehidupan nyata, posisi kaya saya ini dimata mbak kaya gak penting pasti ya?”
“Maksudnya?”
“orang yang udah berbuat banyak, juga gak bakal ngaruh ke mbak, soalnya mbak lagi terpaku sama mas yang cool yang tadi.”
“Mas! udah deh! Mas tuh gak tau saya, jadi gak usah sok tau!”
“Mbak, setidaknya saya tau kalo’ mbak itu suka green tea float, suka benda-benda warna pink karena tas, phone case, sama laptopnya warna pink, terus kerja sebagai staf planning management di perusahaan seberang cafe ini. emm, itu nguping sih. Daaan, saya gak yakin kalo’ mas yang main biola tadi tuh tau sebanyak saya. tsaaah.” kata pelayan itu tersenyum lebar.
“Dih! kepo banget sih jadi orang!”
“yeee biarin. tapi setidaknya saya berhasil.”
“berhasil apa’an?”
“ya berhasil bikin mbak stay disini 30 menit. hahaha….katanya meeting.”
“ini karena kamu ngajak ngobrol terus.”
“ndak juga, karena mbak juga sebenernya tertarik sama obrolan ini.”
“Apasih!”
“Mbak, lain kali kalau mbak mau tips dari saya biar hubungan kalian gak gini-gini terus, bilang ya…ntar saya bantuin.”
“Mas! bawel amat sih….lempar sendal nih.”
“hahaaha, yaudah deh klo’ gak mau dibantuin, saya ngelayanin yang lain dulu, thanks for coming, Mbak. see you next week.” kata pelayan itu sambil lalu dan melempar senyum lebar.

waaaaaaaaaahhhh bahan pemikiran mah ini