Sudah sampai saat ini, lalu apa?


Berjalan cepat bukan merupakan suatu prestasi, hingga aku berhenti di suatu titik dimana ada kemungkinan yang tidak terbatas. Hingga membuatku berpikir, aku sudah pada titik ini. Dimana aku bisa lurus, berbelok, bahkan berputar. Tidak ada batasan atas segala langkah yang bisa kuambil pada titik ini. Mengambil kesempatan, membuang kesempatan, hingga mencuri kesempatan,akan memiliki efek domino pada linear dimensi waktu.

Mereka yang dulunya berjalan beriringan kini semuanya sudah mengambil destinasi berbeda. Mungkin aku hanya berjalan lurus lebih cepat dari mereka, namun yang lain mengambil jalan menikung, mendaki, menurun, berbalik, dan masih ada yang masih enggan untuk berjalan. Masih gontai dalam mengambil keputusan, atau masih menyeret untuk hanya berjalan selangkah dari titik dia terpaku sekarang.

Ada beberapa destinasi yang sudah tertutup meski masih ada kemungkinan destinasi yang tidak berbatas. Pernahkah terpikir menjadi dokter bedah? Atau menjadi pemain violin? Atau menjadi pemain sayap Timnas? destinasi ini sudah tertutup sejak aku melangkahkan kaki terjun ke dunia teknik. Mungkin ada jalan memutar untuk aku dapat membuka kembali destinasi ini, namun alangkah bodohnya. Karena bagaimanapun, sumbu waktu sudah terbakar sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku tak kan menyadari waktuku habis hanya untuk kembali ke peraduan dimana titik balik itu bisa dimunculkan.

Sudah sampai saat ini, lalu apa?

Menjawabnya seperti menabrakkan antara otak kiri, kanan, hati, dan pendapat lingkungan. Sehingga jawaban termudah adalah “aku tidak tahu”.

Kita semua menuju gerbang yang sama setelah kehidupan ini. Namun cara kita menghabiskannya yang membedakan kita semua. Ada pos –pos yang kita diami disana. Dimana pos - pos itu kita jaga sebagai amanah kita. Hingga sebuah pepatah berkata, “ dan jangan sampai kehancuran, adalah akibat kau tidak menjaga tempat (pos)mu dengan benar.”

Sudah sampai saat ini, lalu apa?

Aku akan membaca dunia lebih teliti. Mencari kecenderungan baik dari tabrakan nafsu dan hati. Mencari titik dimana aku bisa menjadi gelombang, bukan menjadi buih. Menjadi yang menggantikan, bukan yang tergantikan.

-bismillah-

 

-@syarifID-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">