Mabit dan Ukhuwah


5 Nopember 2013 / 1 Muharram 1435 H

 

Entah apa yang merasukiku tadi malam. Entah ada panggilan apa hingga aku terjebak disini.

Kemarin siang, seorang sahabat mengajak untuk bersama datang mabit (*dalam bahasa arab berarti menginap, yang kemudian diartikan sebagai kegiatan peningkatan iman dan takwa saat bermalam di masjid). Terserah mau mabit dimana, ceunah. Yang penting mabit. Karena petang kemarin adalah momen pergantian tahun hijriah. 1434 H menuju 1435 H.

Lelah hari ini. Kaki masih terasa berat untuk berjalan jauh rasanya. Mungkin terlalu mengada-ada jika ini masih efek dari anestesi minggu lalu. Kuletakkan badanku di kasur setelah jamaah isya malam kemarin. Doa awal tahun sudah terpanjat. Aku akan tidur cepat, pikirku. Namun apa disangka, keriuhan masjid-masjid di samping tinggalku ini membuat sulit untuk lekas tidur. Ada lomba-lomba yang mereka adakan. Lomba adzan, membaca al-qur’an, mencari ayat al-qur’an, dan sebagainya yang diperuntukkan untuk anak-anak. Sungguh meriah malam kemarin.

Hingga aku terduduk, berpikir acak atas apa yang akan aku lakukan. Sepertinya tidur cepat atau menghabiskan waktu dengan melihat watch list serial drama & anime di di malam yang meriah ini bukan ide yang baik. Meski besoknya aku tidak ada kewajiban untuk datang ke kantor.

Entah bagaimana ceritanya hingga aku memutuskan untuk mengenakan baju koko, mengambil kunci motor, memakai helm, mengenakan jaket, lalu pergi untuk mencari tempat mabit. Hingga sampailah aku ke Masjid Baitul Ihsan – Bank Indonesia. Tadi malam adalah kali pertama aku datang ke Masjid BI. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam itu.

mabit_bi2

 

 

Meriah kawan. Ramai. Bahkan sebelum aku masuk ke area masjid pun, para ikhwan dan para akhwat masih ada yang mengurus sesuatu di luar. Beberapa masih berbincang, standby di stand infaq, dan lain sebagainya. Saking ramainya, aku ragu untuk duduk di dalam, apakah masih ada celah untuk aku duduk, karena sepertinya terlihat penuh. Peserta mabitnya subhanallah, pemuda pemudi semua. Mungkin bisa aku katakan rentang umur 18-30 tahun. Ketika aku masuk, Ust. DR Musyafa Ahmad Rahim bercerita tentang sirah sahabat. Tentang hijrah, tentang pemuda, dan tentang perubahan. Aku masuk dan mencari tempat kosong disana hingga aku duduk di tempat tersebut, dan menyadari ada wajah yang kukenal di depanku ini. Benar saja, ini dulu mentor ngajiku ketika masih kuliah. Disebelahnya adalah teman halaqoh sekelompokku dulu. Subhanallah, sangat bisa Allah menjalinkan ukhuwah dengan cara seperti ini.

Kajian demi kajian aku dapatkan disana malam itu, hingga akhirnya MC mempersilakan kami untuk berkenalan dengan yang berada di samping-samping kami.

Mulailah berkenalan aku dengan seorang anak muda ini lulusan UI Teknik Mesin 2009 ini jika aku tak salah mengingat. MC mempersilakan kami dan seluruh yang lainnya berhadapan. Disuruhnya kami memejamkan mata dan mendekatkan hingga helaan napas dan bisikan kami terdengar oleh lawan bicara kami. Lalu salah satu dari kami bergantian mengikuti apa yang dikatakan MC yang kurang lebih seperti ini:

Ya Allah,

Ini sahabatku
yang aku mencintainya karenaMu

 

Ya Allah,
ini sahabatku
ampunkanlah dosa-dosanya
mudahkanlah rizkinya
berikanlah ia jodoh yang terbaik (*ini aamiin nya kenceng banget
)
berikanlah ia anak-anak yang sholeh sholihah (*ini juga kenceng)

Ya Allah,
ini sahabatku,
muliakanlah ia

Kurang lebih seperti itu. Karena suasananya syahdu, jadi sempet “mbeler” juga. Padahal belum saatnya sesi muahasabah. Akhirnya kami berpelukan dan saling mendoakan. Bukankah doa dari orang lain adalah doa yang mustajab, kawan?

Setelah sesi kajian dan dialog selesai, aku bersama kawanku keluar sebentar dari masjid untuk sekedar menghilangkan dahaga. Ketika kami keluar, suasana menjadi ramai di luar. Para ikhwan berkumpul di tepi lalu berdiskusi kecil. Begitupun bidadari-bidadari berhijab lebar yang berhalaqoh dengan kelompok-kelompok kecil di tepi-tepi.

Melihat seperti ini seperti terasa begitu hina diriku, kawan. J

Waktu qiyamul lail dimulai pukul 02.30 dengan imam Ust Muhammad Suhud Al Hafidz. Aku begitu senang surah yang dibaca adalah yang biasa aku baca dan aku dengar. Dua rokaat pertama surah Yasin, Dua rokaat kedua surah Ar-Rahman, dua rokaat ketiga surah Al Waqiah, dan dua rokaat yang terakhir adalah surah Al Mulk. Hingga dilanjut sholat witir dan kemudian muhasabah.

 

Muhasabah kawan,
atas kelalaian kita dalam menghadirkan Allah di keseharian kita
dimana kita terang-terangan melakukan maksiat di depan pandanganNya

Tidak ada pandangan hina dari mata kita yang tidak dipandang oleh Allah,
tidak ada bisikan keburukan kita bahkan bisikan hati yang terbersit yang tak didengar oleh Allah,
tak ada sesuatu yang terdengar yang sia-sia yang tak terdengar oleh Allah.

-

Tidakkah kamu perhatikan,
bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi?
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya.
Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya.
Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak,
melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.
Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Al Mujadilah:7

Subuh hari ini tenang kawan, khusyuk. Karpet dan dinding masjid ini sudah menjadi saksi bisu tumpahnya air mata kami, kawan dan saksi bisu ukhuwah, kawan.

Wallahu a’lam bishowab.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">