Jika Rasul Hadir di Hadapanku


Saya beberapa kali dengar dari Ustadz-dalam khutbah atau kajian lain,

“Andaikata Rasulullah ada di depan kita, belum tentu juga kita benar-benar mengikutinya. Yang mengaku cinta Rasul pun belum tentu dia akan membelanya jika andaikata Rasul benar-benar ada di hadapannya.”

Dalam pikirku, aku tak percaya dengan perkataan Ustadz tadi. Jelas-jelas orang yang mengaku cinta Rasul, bersholawat padanya, mereka itulah yang akan mengikutinya dan membelanya. Yang pada akhirnya pandanganku tentang ini bertahan hanya sebentar saja.

Suatu malam aku sudah bersiap-siap akan tidur. Selimut sudah aku tutupkan diatas badanku dan sedikit waktu lagi aku yakin pasti aku sudah terlelap. Hingga ada whatsapp dari seorang sahabat yang meminta tolong suatu hal, yang dimana aku harus hadir seketika itu juga ke Islamic Center.

photolibrary_rf_photo_of_man_checking_cellphone_in_bed

Subhanallah! yang benar saja, pikirku. Ini sudah pukul setengah sebelas malam. Sudah waktunya untuk tidur. Apalah pula disuruh datang ke IC, padahal aku esok masih harus kerja pagi-pagi benar. Tak bisakah menunggu besok saja?

Aku pun menolak halus-halus tugas itu, berjanji untuk mengerjakan tugas itu esok hari, dan kembali melanjutkan tidurku.

Esoknya dalam pikiran yang lebih jernih, aku memikirkan tentang hal itu. Jika hanya disuruh datang malam-malam untuk kepentingan dakwah dan itupun aku tidak memiliki alasan syar’i, seharusnya aku tidak pantas untuk menolaknya. Jika hanya perkara remeh ini saja aku menolaknya, bagaimana dengan perkara yang lebih besar—jihad fii sabilillah. Bisa jadi benar jika andaikata Rasulullah datang ke hadapanku, apakah aku benar akan mengikutinya—atau malah (na’udzubillah) menolaknya.

Esok harinya aku berazam untuk bermalam di IC untuk menyelesaikan apa yang ditugaskan untukku. Sudah cukup malu aku meminta izin kembali untuk menolak pekerjaan dakwah.

Benar kawan, tiap sholat pasti kita bersholawat atas Nabi Muhammad SAW. Tapi akankah kita benar-benar kuat dan dikuatkan untuk mengikuti jalannya? Benar ternyata, perkataan kita akan diuji dan tiap-tiap dari itu akan ada pertanggungjawabannya.

 

Wallahu a’lam bisshowab.

-srf-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">