Dua Lembar Kertas


Seorang remaja pemuda berjalan gontai keluar dari madrasahnya malam itu. Habis peluhnya mengering pada siang harinya karena sinar mentari begitu teriknya hingga tak mempersilakan keringatnya menetes, namun langsung menguap. Siang itu ia begitu sibuk bersama sahabatnya melakukan bakti sosial di luar madrasah. Saking lelahnya setelah beraktifitas, ia berteduh hingga tertidur di mushola madrasahnya sampai maghrib tiba.

Malam itu dilangkahkan kakinya hingga depan kios fotokopi depan madrasahnya.

“Beli apa, Dek?”

“HVS dua lembar, sama amplop dua.” Pemuda itu sambil merogoh kantung celananya mengeluarkan uang tiga ribu rupiah.

Berjalan kembali ia hingga sampai di rumah makan. Tidak begitu ramai rumah makan itu pada malam harinya. Ia lalu mengambil tempat pojok dengan meja yang cukup lebar. Pemuda itu kemudian memesan satu porsi soto ayam dengan satu teh manis panas. Mungkin baginya ini adalah pembalasan yang fair atas kelelahannya hari ini.

Sembari menunggu, ia mengeluarkan kertas dengan dua amplop yang ia gunakan sebagai alas untuknya menulis. Teringatnya semua hal yang terjadi hari ini. Tentang nasehat sahabatnya, tentang idealismenya yang sudah luntur, tentang visi misinya, dan tentang cinta.

envelop2

Pikirannya malam itu sudah penuh. Hatinya sedang tercabik. Tidak bisa ia ringankan beban itu barang sebentar. Sehingga ia memutuskan membeli obat. Ya, obat itu adalah dua lembar kertas kosong.

Seketika mulai ditorehkannya pulpen hitamnya di atas kertas putih itu,

 

Sahabat,

Sejak saat pembicaraan kita sepanjang perjalanan, aku tak bisa tersenyum. Tidakkah kau perhatikan betapa aku melewatkan beberapa pertanyaanmu. Bukan karena aku tidak mendengar, tapi karena aku sedang mencoba bernapas dari sesaknya dadaku yang terhimpit dari dosa yang aku lakukan. Aku tak mempedulikannya sebelumnya, hingga kau menceritakan bagaimana indahnya mahligai cintamu yang terukir diatas jalan-Nya dengan cara-Nya dan dengan ridho-Nya.

Takjub aku kawan mendengar bagaimana suci petak petak jalan yang kau lalui hingga kini. Semoga Allah senantiasa menjagamu hingga sampai pada hari bahagiamu sebentar lagi.

Kau bercerita bahwa jodoh itu akan mudah jalannya. Tidak berliku, tidak penuh drama, dan pintu-pintu jalan menuju pernikahan terbuka semua secara berturut-turut.Sebenarnya aku sudah mendengar hal seperti ini sebelumnya, dari pasangan-pasangan sebelummu. Bagaimana mereka menemukan calon yang salah terlebih dahulu, hingga Allah mempertemukan mereka dengan pasangan yang tertulis di lauhul mahfudz dengan cara yang ma’ruf. Tidak semua calon akan berakhir di pelaminan, bukan? ada beberapa diantara yang gugur itu adalah menjadi pembelajaran bagi kita untuk memperbaiki diri. Aku percaya itu, kawan. -Karena aku mengalaminya.

 

 

“Aku percaya karena kita dalam komunitas dakwah yang sama,
sehingga aku tak perlu repot-repot memastikan kau adalah pilihan yang baik.” Tukasmu,

 

Kawan, melihatmu yang bahkan tak mampu berada lama di dekatnya hanya untuk menjaga kesucian hubungan kalian dari fitnah sebelum halal, membuatku malu. Semalu malunya. Hina sehina hinanya. Jika ada pisau buah yang ditaruh di dapur rumah kecil tadi, sungguh ingin kutikam diriku dengan pisau itu.

 

 

“Mengapa tidak kau tunggu saja dia? Agar jalan bersama-sama” tanyaku. “Tidak, Akhi. Nanti aku khawatirkan akan timbul fitnah diantara kami.”

“Bahkan aku membawa abangku untuk mendatangi rumahnya, karena seyogyanya tidak baik seorang diri bersilaturahmi kesana.”

Terlalu jauh jika aku iri pada Ali dan Aisyah, dimana setan pun tak tahu mereka saling mencinta. Dimana doa-doa merekalah yang bertaut. Merajut harap dimana syariat adalah landasannya. Hingga mudah bagi Allah menyatukan mereka dalam suatu skenario indah pernikahan dengan mahar baju perang. Terlalu jauh. Aku sudah cukup terhinakan dengan mendengarkan kisahmu, kawan.

“Aku mengininkan istriku nanti menjaga pandangan, tidakkah aku harus memantaskan diriku untuk menjaga pandangan, Akhi?”

“Aku dengannya tidak saling berkirim pesan. Kusampaikan pesan itu pada penengah diantara kami. Antum tentu tidak mau kan jika nanti istri Antum nanti japri-japrian dengan pria selain Antum? Antum pasti cemburu. Pantaskan diri, Akhi.”

Sungguh kawan, jika kau tidak mengatakan kearah mana kita harus pulang dari perjalanan tadi di tiap lampu merah, kita pasti sudah tersasar. Karena aku bahkan sudah tak bisa berpikir, hanya dapat merepresentasikan kanan, kiri, dan lurus berdasar yang kau ucapkan dari jok belakang.

“Aku ingin memiliki keluarga yang sakinah mawadah warahmah, aku ingin anak-anakku hafidz qur’an. Aku ingin agar kami sekeluarga bisa tahajjud sepanjang malam setiap hari. Tapi apakah bisa jika diawali dengan cara yang bukan cara-Nya?”

Jika saja kau tidak menguatkanku akan betapa besar maghfirah-Nya, mungkin sudah habis aku larut dalam penyesalan ini, Akhi. Mungkin pisau buah itu sudah berkali-kali aku hujamkan di jantungku ini.

 

Kawan,

Mungkin hadirmu sekarang adalah alarm terkencang, yang dimana alarm-alarm sebelumnya hanya aku respon dengan menekan tombol “snooze” lalu kemudian kembali terlelap.

Jazakallah khairan katsir,

 

Pemuda itu mengelap air matanya yang sudah hampir keluar dari kelopak matanya. Ia harus tampak tegar. Tak lucu ia terlihat menangis di depan pemilik rumah makan, bukan?

Lalu ia masukkan kertas itu ke salah satu amplop yang ia beli tadi.

Akhirnya pelayan rumah makan itu membawakan soto ayam panas, ditambah dengan satu gelas besar teh panas. Sungguh, begitu menggoda bagi pemuda yang kelelahan hari itu.

Belum ia sempat makan, dilihatnya ada satu lagi kertas yang masih belum terisi. Karena sotonya masih terlalu panas pikirnya, maka dilanjutlah ia menorehkan penanya ke kertas yang kosong itu. Kali ini ia menulis tentang cinta. Teringatnya seseorang dalam benaknya yang kemudian bayangannya muncul begitu saja di kertas kosong itu. Tersenyumlah pemuda itu. Walau kecil, walau sebentar.

write

Dinda,

Sepertinya—maksudku, pastinya! Pastinya akulah yang patut dipersalahkan atas semua ini. Seharusnya semua ini hanya ada aku, dirimu, dan Dia, juga penengah di antara kita. Namun dasar kebodohanku, membuat ini menjadi peluang banyak fitnah tentang kita. Dimana diantaranya membersitkan keraguan cukup dalam di hati masing-masing. Kau tahu sifat burukku, dan begitupun diriku. Dengan ditambahnya omongan-omongan di belakang kita menjadikan niat kita tak selurus saat awal dulu kita berazzam. Kuakui dengan sebenar-benarnya bahwa aku terlalu banyak bicara. Padahal kau sudah berulang kali mengingatkan. Tapi dasar bebalku, membuatnya menjadi bahan gunjingan bagi sebagian orang.

Kau pasti ingat bagaimana teman-temanmu dan teman-temanku yang selalu merusuh saat kita bersama. Ternyata mereka memang orang yang baik. Yang mau dengan sangat baik memisahkan kita agar tidak ada fitnah diantara kita. Tapi aku—ah, sudahlah, kau tahu bagaimana aku.

“I share my dreams and all my strories. I don’t think I need my diaries.” – Me and My Boyfriend (Mocca)

 

Ketahuilah, aku memberitahukanmu semua agendaku, semua aktifitasku, semua kegundahan dan kesenenanganku. Yang sesungguhnya engkau belum halal bagiku untuk berbagi cerita ini. Tuhan kita bisa saja cemburu karena bukan Dia tempat kita mengadu. Maaf, maksudku, bukan “kita”, tapi “aku”. Karena akulah yang salah, kau hanya menjadi korban atas segala kebodohanku. Maafkan aku, Dinda.

Tentang kekhawatiranmu, lupakanlah. Aku bukan malaikat. Aku hanya manusia hina yang berjalan tertatih menjalani jalan yang diridhoi-Nya. Kau juga tahu, bagaimana dalam 3 detik, ada lompatan transformasi besar yang sangat mungkin terjadi. Aku dalam lompatan itu, dan aku sedang dalam proses melompat, yang dalam prakteknya aku dijaga oleh amanah dan sahabat-sahabat terbaikku yang senantiasa tersenyum bahkan saat menjewerku ketika aku berbuat keanehan.

Kaulah yang lebih baik, masih mau mengaji dan mengkaji. Mencari ilmu dan menerapkannya. Juga mengingatkan kepada sahabat yang lainnya. Itulah dakwah, Dinda.

Kita sama-sama tahu akan visi misi masing-masing. Dari sana kita akan berjuang, demi dakwah, demi agama, agar kita tidak hanya berkumpul di dunia, namun juga di surga. Kau orang baik, sedang aku proses menjadikan diriku menjadi baik.

Aku mungkin akan membuat kembali tembok yang dulu pernah kususun. Tembok yang beberapa waktu lalu kuhancurkan sendiri karena kupikir itu hanya cara konvensional. Namun sekarang, aku ingin membangunnya kembali demi hakikinya cinta ini. Kita akan masih bisa memberi kabar dari mereka yang menjembatani kita. Tanpa kita susah payah saling membaca hati satu dengan yang lain, padahal itu bisa saja salah, dan itu sudah terbukti salah. Sudahlah, tak usah berasumsi, karena diantaranya ada setan yang membisik kepada hati.

Lalu izinkan aku meminta maaf kembali untuk dosaku berikutnya, untuk selama ini, dimana aku memaksamu disaat belum lengkap kesiapanmu. Yang bahkan aku juga ternyata juga belum siap. iya, aku belum siap.

Aku masih ingat ketika kau bilang bahwa jodoh tidak akan tertukar. Ia akan mudah menemukannya. Pintu-pintu kemudahan akan terbuka semuanya.

 

Aku pun masih ingat kata-katamu tentang makna “mengikhlaskan”. Dimana kita hanya berikhtiar dan berdoa, demi seseorang yang namanya tertulis di lauhul mahfudz untuk kita. Selayaknya kita memang tidak layak memaksa Tuhan untuk mengabulkan sebuah nama untuk menjadi pendamping kita. Kita hanya harus berdoa, yang doa itu akan mengantarkan kita pada ridho-Nya, dan mempertemukan kita dengan sebuah nama dengan cara yang ma’ruf, dengan ikatan yang suci.

Selayaknya kita bersama-sama memperbaiki diri, Dinda. Masih banyak ayat yang belum kita hapal, masih banyak fiqih yang belum kita benar paham, masih ada syariat yang belum kita terapkan, dan masih ada potensi dakwah yang mungkin masih hanya hinggap dan mengendap di dada.

 

Afwan Dinda,

Besar harapanku semoga kita disatukan di kemudian hari.

Semoga kau baik-baik saja.

Pemuda itu menggertakkan gerahamnya semata-mata agar air matanya tak keluar. Dia cukup tangguh untuk itu. Lalu dimasukkannya kertas itu ke amplop kedua. Kedua amplopnya kemudian ia masukkan kembali ke tas lusuhnya itu.

Tiba-tiba ada seorang anak dengan alat musik dari tutup botol mencoba mencari peruntungannya di warung makan itu. Satu lagu tentang anak jalanan ia dendangkan, sembari ia berkeliling ke pelanggan sambil mengisyaratkan mereka memberikan uang sisa kepadanya.

Satu lagu telah usai, tibalah anak ini di depan meja pemuda yang telah menulis tadi.

“Om,” katanya sambil menyodorkan bungkus plastik permen.

“Sudah makan?” tanya pemuda itu. Anak pengamen itu menggeleng malu.

“Makanlah ini. Masih hangat,” kata pemuda itu tersenyum. Berdirilah ia dari tempat duduknya, dan berlalu, “aku sedang tidak nafsu makan.” Katanya sambil tersenyum dan menyeka matanya.

Dua surat dalam amplop itu tak akan pernah disampaikan,
Tak akan pernah dilantangkan untuk dibaca,

Ia hanya akan ada di serambi meja kamarnya,
Menunggu untuk kembali menamparnya ketika ia kembali berbelok arah

-srf-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">