Kemarin ada kejadian yang membuat saya takjub, kawan.
setelah sholat jumat kemarin, saya masih berada di barisan belakang pengurus sholat jumat lainnya. setelah khotib
selesai, biasanya kami duduk-duduk dulu bersama beliau di depan mimbar. duduk duduk melingkar untuk saling
mengingatkan, saling menjalin silaturahmi dan ukhuwah islam.
Tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang spesial hari ini. Akan ada mualaf baru hari ini disini.
Wah, sampai sekarang saya belum pernah melihat proses orang masuk islam secara live. Dengan begitu semangat saya
mengikuti beliau-beliau untuk masuk ke sekretariat kami yang cukup sempit itu.
Disana saya melihat dua orang yang sedang duduk, satu orang mengenakan baju koko dan seorang lagi yang kurus
mengenakan baju kerja. Yang mengenakan baju koko disitu juga mualaf, beliau baru masuk islam terhitung 3 bulan.
yang disampingnya, adalah yang berkenan masuk islam siang ini.
mulailah sang ustadz berkenalan dengan pria kurus itu. sebut saja namanya Charles. ditanyakan oleh sang Ustadz
apakah beliau masuk islam secara terpaksa atau tidak. Subhanallah, ternyata Charles menyatakan tidak ada
keterpaksaan dan dia masuk islam karena ingin.
Bismillahirrahmanirrahim, ustadz pun menuntun si Charles ini untuk membacakan kalimat syahadat.
“Asyhadu” kemudian ditirukannya “Alla’ilaa” kemudian ditirukannya, “Ha’ilallah.” kemudian ditirukannya, “wa’asyhadu”
kemudian ditirukannya, “anna muhammadrrasulullah.” kemudian ditirukannya.
dijabat tangannya oleh ustadz, dan memberikan nama baru untuknya, untuk memberi tanda hijrah baginya, namanya
sekarang “Muhammad Sholeh.”
ada kata-kata yang diucapk ustadz kepada kami yang menonton, “Dari kita semua disini, ya dia ini yang paling bersih.
Gak ada dosa. Sedangkan saya sudah banyak dosa.”
betul saja, ketika dia menjadi mualaf, masuk islam, maka dosa lampaunya akan diampuni, seperti bayi yang baru lahir,
seperti kertas putih yang belum tercoreng tinta. Subhanallah,
Ada di pikiranku merasa iri akan diri si mualaf ini. Belum lah bisa dia melaksanakan sholat, menghafal ayat suci,
membacanya pun belum bisa, namun lihatlah, betapa dia lebih suci daripada saya. Maha Suci Allah, tidaka ada yang
bisa menjadi penghalang hidayah kepada hamba yang Dia kehendaki.
Recent Comments