«

»

May 05

Itu Punyaku

Sore itu, anak kecil itu masih duduk di tepian pagar tanah lapang yang biasa ia tempati. Terduduk dia disana dengan memeluk lututnya sambil menangis sesenggukan. Teman-temannya sudah meninggalkannya sejak maghrib tadi.

Sebelum hari itu, setiap harinya ia sepulang sekolah ia memiliki kegemaran khusus. Bermain bola dengan teman-teman sebayanya di kampung. Bel sekolah berbunyi, mungkin dia yang pertama kali berlari keluar sekolah, mengayuh sepeda tua milik ayahnya hingga sampai di rumah. Baju seragam biru putihnya dan celana pendeknya kadang begitu lusuh ketika pulang. Penuh dengan peluh keringat karena harus mengayuh sepeda yang ukurannya besar dibanding dengan ukuran badannnya yang kecil. Tapi lihat semangatnya, tawa lebarnya ketika mengetahui sore ini dia bisa bermain bola dengan teman-temannya. Tidak ada yang bisa meletihkan dia.

Tibalah ia di rumah. Disandarkan sepeda tua ayahnya itu di ruang kecil dekat dapur. Nafasnya masih terengah-engah. Badannya sudah penuh dengan keringat. “Nak, gantilah baju dulu. Makan. Lalu bantu ibu nyapu halaman.” Kata ibunya dari dapur dengan suara rendah.

“Habis itu boleh main bola ya, Bu?” bujuk anak itu.

“Iya. Jangan sampai maghrib ya.” Kata ibunya.

Seketika itu dia melemparkan tas ranselnya ke kasur. Langsung makan ia di meja makan bundar sederhana. Nasinya dingin, lauknya hanya tempe goreng dan sambal kecap. Ada daun singkong disebelahnya, namun tidak ia ambil untuk makan. Lahapnya dia makan dengan ujung-ujung jarinya. Setelah makan, masih ada bekas kecap di mulutnya. Lalu dibawanya piring kotornya ke dapur dan mencucinya, mengeringkannya dengan lap, dan menaruhnya kembali ke rak.

Dia masih ingat pesan ibunya untuk menyapu halaman. Disapunya halaman secepat yang ia bisa, sebersih yang ia bisa. Jika tidak bersih, ibunya tak akan memperbolehkannya keluar rumah.

“Bu’, aku main dulu ya!”

“Jangan sampai maghrib, Nak!” kata ibunya.

Di halaman tidak jauh dari rumahnya, sudah berkumpul teman-temannya yang sedang bermain bola. Dia begitu bersemangat untuk bermain bola bersama teman-temannya. Dilepasnya sandalnya dan segera terjun ke lapangan rumput bersama kambing-kambing yang numpang makan di pinggir lapangan.

Matahari seperti hari-hari sebelumnya, terik. Tak padam semangat anak-anak ini untuk tetap bermain. Bahkan bukan hanya saat matahari terik, saat hujan deras pun kadang mereka masih bermain bola. Mereka menyerah ketika lapangan sudah tergenang air.

Begitulah kehidupan anak itu setiap harinya. Bermain bola dengan teman-temannya. Kadang, jika memang tidak ada yang bermain bola pada hari itu, dia sempatkan untuk datang ke lapangan. Entah untuk bermain dengan kambing-kambing disana. Berlarian sambil menggiring bola di lapangan sendirian. Atau apapun yang bisa dia lakukan di lapangan itu. Sering juga ketika malam tiba, dia keluar rumah setelah makan malam. Pergi ke lapangan itu hanya untuk melihat bulan dan bintang yang berpendar disana. Kadang pula ketika dia disuruh membuat karangan oleh guru bahasa nya, dia melakukannya di lapangan saat malam. Dibawanya lampu petromaks yang terang untuk membantunya menulis karangannya. Suasana itu yang ia senangi. Dimana tanah lapang, pendar cahaya bulan dan bintang, suara jangkrik kecil, empuknya rerumputan, dan angin sepoi malam.

Kadang ia juga menghabiskan waktu minggunya dengan mencabut rumput liar yang sudah tinggi di lapangan itu. Sempat juga ia menanam cabai, tomat, jeruk purut, dan jambu biji disana. Beberapa dari tanaman itu sudah tinggi dan mulai bisa dipetik. Kadang ibu ibu yang melewatinya memetik jeruk purut dan daun jambu biji disana. Tidak hanya itu, ketika musim kering tiba, dia menggendong jurigen air dari sumur rumahnya dan menyirami tanaman-tanaman itu hingga tetap bertahan di musim kering.

 

Hingga tibalah hari itu. Hari itu dia mengayuh sepedanya dari sekolah seperti biasanya, kencang. Tak sabar dia bermain bola di lapangan itu. Hari ini dia akan mengenakan jersey yang ayahnya belikan untuknya kemarin. Liverpool.

Setelah dia membantu ibunya menyapu halaman, dia mengganti bajunya dengan jersey liverpoolnya. Berkaca ia di cermin lemarinya sambil tersenyum lebar. Diambilnya bola sepak dari atas lemari dan bergegaslah ia ke lapangan.

Ada keramaian yang tidak biasa disana. Di lapangan itu. Ada orang-orang dengan seragam coklat dengan helm proyek dan beberapa orang-orang desa lainnya. Beberapa orang disana sedang memagari lapangan itu dengan kayu dan seng yang tinggi.

Anak itu mendekat ke arah lapangan itu. Lalu ada pria desa yang menghampirinya. “Dek, sana sana! Mainnya jangan disini.” Sambil dengan muka lelah dan mengusir anak itu.

“pak, saya biasa main disini.” Kata anak itu dengan polosnya.

“Ini lapangannya mau dibangun pabrik sama yang punya tanah. Udah, kamu main di lapangan lain sana.”

“Pak, disini cuma ini lapangan yang biasa kami buat main bola.”

“HEH! Sana!” kata bapak itu mengusir anak itu.

Anak itu pun melangkah mundur dan mulai memperhatikan sekitarnya. Pria pria desa mulai memagari lapangan itu. Pria pria berseragam coklat memberi arahan kepada beberapa pria desa untuk mulai bekerja. Di samping-sampingnya ada tiga truk dengan angkutan kayu, seng, dan batu besar. Tidak didapatinya satu pun temannya disana. Dilihatnya lebih jauh ke arah dalam lapangan. Tidak ada kambing yang biasa merumput disana lagi.

Anak itu kemudian berjalan gontai. Dilihatnya ada pohon petai yang tinggi dekat situ, dia pun duduk di bawahnya untuk berteduh. Ditundukannya kepalanya sambil menangis. Dimana dia harus bermain bola lagi? dimana dia bisa membuat karangan lagi? dimana disa bisa melihat bintang dan bulan sambil tidur di empuknya rumput lapangan lagi?

Tak sadar dia menangis cukup lama hingga ia tertidur di bawah pohon itu.

Masuk dalam mimpinya tentang kenangan lapangan itu. Tentang kambing kambingnya, tentang bola dan teman temannya, tentang inspirasi yang ia dapat disana, tentang suara jangkrik yang merdu, dan juga angin sepoi malamnya.

Terbangun ia hingga menyadari sudah maghrib. Waktunya ia pulang.

Namun tidak langsung pulang ia, melainkan datang kembali ke lapangan. Dilihatnya sebagian tepi lapangannya telah terpagari. Tiga truk tadi masih ada disana. Namun sudah sepi baik kuli dan mandornya. Diputarinya lapangan itu, seakan masih tak percaya bahwa beberapa waktu lagi lapangan itu akan menjadi pabrik.

Akhirnya dia duduk di tepian lapangan. Dipeluknya kakinya dan didekapnya lebih erat. Jerseynya masih bagus, hanya sedikit kotor karena terkena tanah saat ia tertidur di bawah pohon tadi.

Langit sudah mulai gelap. Dia masih memandangi lapangan itu dengan pandangan tidak senang. HIngga tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundaknya ringan. “Nak, ayo pulang. Sudah maghrib.” Kata ibunya. Anak itu hanya diam saja. Air matanya mulai menggenang dan akhirnya meleleh di pipinya yang lusuh.

“Hmm, ayo pulang. Ada ikan asin kesukaanmu untuk makan malam.” Kata ibunya. Anak itu masih tidak bergerak.

Ibunya lalu duduk di sebelahnya dan memeluk lutut persis seperti apa yang dilakukan anaknya.

“Nak, kamu tahu apa yang begitu menyakitkan?” kata ibunya sambil memandang lapangan yang dipandang anaknya itu. “Yaitu dimana kau mulai bermain dengannya, melakukan apapun dengannya, hingga kau merasa memilikinya.” Kata ibunya. “Hingga tiba waktunya, kamu harus merelakannya karena kamu bukan pemiliknya, dan kamu tidak bisa memilikinya.” Kata ibunya.

“Tapi aku juga punya tanaman disitu. Ibu juga biasanya mengambil jeruk purut dan cabe disana.” Kata anak itu.

“Kau sudah berbuat banyak, Nak. Ibu tahu. Tapi kamu juga harus tahu, kamu bukan pemiliknya.”

“Aku mau beli lapangan itu, Bu!” kata anak itu sambil terisak. “Ingat, aku menabung uang jajanku ke ibu dari kelas 3 SD! Aku mau beli lapangan itu.” Kata anak itu sambil menunjuk lapangan itu dengan ujung jari kanannya yang menggetar.

Diusap-usap kepala anaknya itu dengan lembut oleh ibunya. Tersenyum ibunya mendengar kata kata anaknya itu. “Nak, andaikata kau jual rumah kita dan seisinya, pun juga belum bisa membelinya.” Kata ibunya sambil mendekap anaknya lebih erat.

-@syarifid-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>