Pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Semuanya menjadi berubah, menjadi hal yang biasa kembali. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Satu bulan sebelum ini aku masih melihat shaf-shaf panjang berjejer di masjid-masjid. Kumandang adzan disambut meriah oleh bapak-bapak hingga anak-anak kecil. Meskipun mereka masih main petasan saat adzan dilantunkan. Kami berbondong-bondong ke masjid saat waktu imsak sudah dilantangkan. Suasana begitu semarak pagi itu. Aku pun tidak ingin melewatkannya barang sesaat.
Satu bulan sebelum ini aku masih melihat kawan-kawan melafalkan ayat-ayat qur’an sebelum dan setelah sholat. Beberapa dari mereka juga menghapal ayat-ayat cinta dari Tuhan mereka itu. Tidak hanya yang lancar, bahkan yang terbata-bata pun berlomba-lomba untuk menyelesaikan dan meluruskan bacaannya. Mereka teringat akan ganjaran pahala bagi hamba-hamba Tuhan yang belajar.
Satu bulan sebelum ini aku sangat sulit meninggalkan masjid sebelum terbenam matahari. Itu saat-saat mustajab berdoa, apalagi bulan itu pahala serba dilipatgandakan. Terlebih lagi setelah matahari terbenam, seolah-olah sangat sayang jika melangkahkan kaki keluar dari masjid.
Satu bulan sebelum ini aku tidur bersama orang-orang yang tidur di masjid. Mengerjakan sholat di malam hari sambil bersama-sama terisak dalam suasana sadar bahwa manusia tidak luput dari dosa. Kami bersama-sama berdiri dan membaca kalam ilahi di malam hari. Meski terasa lelah, tapi hati ini rasanya sangat lapang. Aku ingin mengkristalkan waktu-waktu indah itu.
Namun sekarang, keadaannya berbeda.
Bulan ini aku tidak lagi melihat shaf-shaf berjejer panjang. Hanya orang-orang tua saja yang hadir sambil berjalan pelan menuju masjid. Anak-anak kecil yang dulu ramai sekarang sudah tidak ada. Bunyi petasan pun tidak terdengar lagi.
Bulan ini aku sudah jarang melihat orang-orang yang memegang surat cinta Tuhannya di sela-sela waktunya. Hanya satu dua orang saja yang duduk dan membaca.
Bulan ini aku tidak lagi berdiam di masjid sebelum adzan maghrib berkumandang dan setelahnya. Masjid sudah dikunci setelah isya dilaksanakan. Sehingga acara tidur di masjid pun ditiadakan. Masjid kembali jadi tempat dimana kita sholat lima waktu saja. Itupun jamaahnya tidak seberapa.
Bulan ini sepertinya begitu mudah untuk berbuat melampaui batas. Ibarat binatang buas yang dibelenggu, bulan ini binatang itu dilepaskan. Sayangnya, tidak menjadi jinak—malah menjadi semakin buas. Hal-hal yang dilarang menjadi lumrah kembali untuk dilakukan. Hati yang lapang ini tiba-tiba menjadi sempit dan menghimpit. Pikiran kembali menjadi tak karuan dan kepercayaan diri menjadi anggapan untuk melompati kehendak Ilahi. Diri yang fitri kembali dicelupkan dalam kubangan dosa-dosa yang dilakukan dengan begitu bangga.
Aku rindu satu bulan sebelum ini, aku rindu ramadhanku.
-saungkertas-
