Jangan Menghina, Mari Bersinergi!


nopol

Banyak pandangan buruk tentang islam yang berpolitik di parleman. Dasarnya jelas, karena parlemen bukanlah sistem islam. Yang digunakan adalah sistem kufur bentukan manusia yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islam.

Namun di lain pihak, politik parlemen dalam islam dirasa perlu. Islam perlu masuk dalam sistem itu untuk memastikan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh parlemen adalah kebijakan yang baik. Karena kebijakan tersebut berdampak jelas kepada umat muslim. Ketika kekuatan parlemen sudah dimiliki oleh islam, maka mudah bagi umat muslim untuk syiar agama mereka dan menegakkan syariat di muka bumi.

Adapun pesan dari Ustadz Bachtiar Nasir tempo hari:

“Jangan menghina dan memaksa orang untuk tidak berpolitik, tidak berparlemen.” Kata Ustadz Bachtiar Nasir sore itu.

Kita perlu infiltrator, yaitu orang-orang yang ditempatkan di suatu sistem tertentu yang bukan merupakan sistem islam untuk mengambil alih kendali dari sistem itu. Orang-orang yang berpolitik di parlemen-lah yang akan memberikan kabar dari kalangan parlemen dan menyebarkan kebaikan disana. Mereka juga berfungsi sebagai pengatur kebijakan sehingga sebisa mungkin kebijakan yang dikeluarkan oleh parlemen tidak merugikan islam. Hingga suatu saat nanti di parlemen akan terisi oleh ilmu Islam, seluruh lini nya dikuasai oleh islam, hingga puncaknya terjadi pergantian sistem menjadi sistem Islam yang kaffah.

Disamping itu, harus ada yang tetap lurus berada di jalannya dan tidak masuk ke sistem yang ada selain sistem islam yang menyokong gerakan itu. Disinilah tugas mereka yang tidak mau terlibat dalam politik. Termasuk alim ulama dan guru ngaji, yang sebaiknya memang tidak masuk dalam politik, karena tugas mereka tidak lain adalah menyokong ruhiyah umat.

“Setiap orang memiliki tempat tersendiri di sisi dakwah. Ambil salah satu lalu berjuanglah di situ.”

Dengan mengedepankan sinergi dibandingkan dengan perdebatan golongan, akan membuat pertolongan Allah semakin cepat datang, dan kemenangan islam akan semakin dekat.

“Aku harap agama sampai ke hati para politisi. Namun jangan sampai agamawan menjadi politisi.”

 

Ada suatu kisah menarik tentang pentingnya delegasi islam dalam suatu golongan. Ada suatu ketika saat Nabi SAW hijrah ke Madinah, ada penyusup dari suku Quraisy di Mekah yang ingin ikut berhijrah bersama beliau. Dia pun menemui Nabi saat itu dan mengutarakan keinginannya untuk bergabung dengan Nabi SAW. Namun Nabi menyuruhnya untuk tetap berada di Mekah dan tidak mengelompok bersama beliau di Madinah. Mengapa demikian? Agar Nabi tetap mendapatkan informasi dari Mekah terhadap perkembangan islam disana. Inilah sebuah strategi yang ternyata dibutuhkan untuk kemenangan islam.

Jika saja Nabi menuruti apa kata Umar tentang pembasmian suku Quraisy di Mekah, maka bisa jadi semua suku Quraisy termasuk yang ingin bergabung menjadi muslim disana akan habis dibunuh. Sedangkan, dengan cara Nabi mengutus delegasi disana untuk meng-infiltrasi–dimana mereka juga akan menyebarkan islam disana, membuat suatu pencapaian besar islam saat itu, yaitu Fathul Mekah, penguasaan Mekah secara menyeluruh. Sila membaca sirah terkait hal ini.

“Jika anda tidak mengambil kepentingan dalam politik, maka politik yang akan mengambil kepentingan Anda”—Bachtiar Nasir

Tidak perlu kita berdebat tentang manhaj. Yang disebut manhaj adalah Qalallah wa Qalarrasulullah. Jadi siapapun yang membaca, apapun golongannya wajib untuk kita menerima.

Lalu setelah bersinergi, sekarang bagaimana memulai pergerakan islam?
Gerakan islam ini bermula dari ilmu. Bahkan ayat pertama kali yang diturunkan untuk memulai semua perubahan di dunia ini adalah “Iqro’!” maka awali sebuah pergerakan dari ilmu. Jika semakin kuat ilmunya, semakin cepat pergerakannya.

“Tintanya ulama jika ditimbang, lebih berat dari darahnya syuhada tanpa ilmu. Manhaj kita apa? Al-Qur’an, tadabburi, belajar dari ustadz dan pahami.” –Ustadz Bachtiar Nasir

Adapun dalam perilaku sehari-hari sering kita dapati perbedaan tentang menjalankan sunnah. Contohnya berjilbab, ada jilbab yang rapat dan membentuk lekuk leher dan berpunuk unta hingga jilbab “raksasa” yang menutupi seluruh badan dan mengenakan cadar. Tak perlu berdebat soal itu, setiap orang memiliki tingkat kesiapan masing-masing. :)

“Yang sudah sanggup menjalankan sunnah, bagus. Namun tidak perlu menghina golongan yang belum mampu. Bahkan materi tarbiyah juga perlu di update, materi di tabligh perlu ditambahkan hadist, FPI pun perlu menimba ilmu juga, bahkan juga selevel Majelis Mujahidin. Hingga sebenarnya yang harus dibentuk adalah kembali kepada “Al ulama wa rodhatul anbiya”.

 

-srf-

@saungkertas


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">