Tentang: “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”


Alhamdulillah satu buku selesai dengan waktu baca akumulasi sekitar 4 jam. Awalnya hanya ingin membaca santai saja, menikmati setiap kata dan majas Tere Liye ini, tapi seorang kawan menyuruhku membaca lebih cepat karena dia ingin membicarakan novel ini bersama.

“Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”, sebuah novel non politis, non agamis yang dikarang oleh Tere-Liye. Bersyukur dia tidak membawa pandangan politiknya di buku ini.

daun_Jatuh_cover

Benar kata orang, ending novel ini menyebalkan. Tapi at least aku tidak membantingnya. Penulisnya hanya memberikan efek penghapusan informasi. That’s all. Seperti layaknya kau menonton film lalu tiba-tiba listrik mati, dan begitu nyala sudah kau dapati filmnya sudah selesai.

Haha, padahal aku berpikir endingnya akan begitu pilu untuk Tania (pemeran utama di novel ini) dan dari awal membacanya aku sudah tak sabar membaca bagian dimana hatinya akan hancur.

Novel ini jika tidak dikiaskan dengan perasaan hati Tania, maka mungkin hanya cukup 3 lembar untuk menuliskannya. Novel ini berkisah tentang seorang gadis (Tania) yang hidup miskin bersama adiknya (Dede) dan bersama ibunya di rumah kardus dekat bantaran kali. Ibunya bekerja serabutan, sedangkan Tania dan adiknya mengamen di jalan. Setidaknya mereka berprofesi seperti ini dalam kurun waktu 3 tahun. Hingga suatu kali, Tania yang tidak mengenakan alas kaki sedang mengamen di bis kota terluka kakinya karena paku payung di bis itu, dimana itu menjadi titik balik dari penderitaannya selama ini. Seorang lelaki 25 tahun (Adi) menolongnya waktu itu, lalu keesokan harinya memberikan dua pasang snicker dan kaos kaki untuk Tania dan adiknya. Hingga beberapa waktu kemudian Adi datang ke rumah kardus mereka dan memberikan bantuan, hampir semua bantuan yang berkenaan dengan Tania dan adiknya. Hingga akhirnya Tani bersekolah kembali dan mengejar ketertinggalannya selama 3 tahun, begitu juga adiknya yang mulai bersekolah dan belajar alfabet. Lambat laun mereka tidak mengamen lagi. Suatu saat Tania dan adiknya bermain ke kontrakan Kak Adi, disana ia membuka program mendongeng untuk anak-anak di sekitar situ. Tania ikut serta hingga ia bisa menggantikan Adi untuk bercerita. Di waktu itu, Tania diperkenalkan dengan Kak Ratna, pacar Kak Adi saat itu. Dari pucuk memori itulah Tania mengenal kata cemburu. Inilah permasalahannya, dia jatuh cinta kepada malaikat yang dipilih Tuhan untuk mengubah nasibnya seratus delapan puluh derajat. Karena itu juga lah Tania sangat tidak suka dengan Kak Ratna. Mulai dari sini akan terlihat perubahan cara pandang Tania atas segala sesuatu, tentang perasaannya yang berparadox, tentang pikirannya yang liar dan bebal, tentang janji yang ia jaga dan yang ia ingkari, dan segala reaksinya atas itu.

Tibalah masa Tania mengajukan beasiswa SMP di Singapura, namun sayang sekali nasib teramat malang menimpanya sebelum keberangkatannya karena ibunya meninggal akibat sakit yang dideritanya selama ini. AKhirnya Tania ke SIngapura dan melanjutkan hingga SMA nya kesana. HIngga berita buruk kedua, yaitu Kak Adi akan menikah dengan Kak Ratna. Karena tidak kuasa ia ikhlas akan pernikahan ini, dia tidak datang dalam pernikahan mereka, meski Kak Ratna datang ke Singapura demi hanya untuk membujuknya. Selama disana, ia menyibukkan dirinya dengan membuat toko kue, mengambil matrikulasi, membuat kelompok mendongeng, mengambil apprenticeship dan sebagainya untuk membunuh perasaannya terhadap sang Kakak.

Masalah kemudian datang dari keluarga Kak Adi dan Kak Ratna. Kak Adi semakin menjadi pendiam dan pulang larut malam, sedangkan Kak Ratna semakin khawatir hingga ia mencurahkan semua perasaannya dan penderitaannya kepada Tania. Dede, adik Tania adalah kunci dari semua kisah ini. Ia yang mengumpulkan puzzle kehidupan-kehidupan itu, merangkainya dan menyimpannya. Kemudian mencari cara termudah dan terkecil efek sakitnya untuk diceritakan.

Terlihat cerita ini akan berakhir adalah ketika Dede bercerita tentang makna dibalik semua tindakan dari Kak Adi. Novel  yang tak pernah selesai tu, liontin itu, tanah bekas rumah kardus itu, pohon linden itu, bahkan diam itu.  Puncaknya, adalah pelampiasan Tania yang mencurahkan semua isi hatinya yang dapat kau baca dari halaman 246-254.

Endingnya adalah sang Kakak membisikkan sesuatu kepada Tania. Lalu “blop!” lampu mati. Kemudian menyala lagi ketika Tania pergi kembali ke Singapura.

“Ini gini doang endingnya?” Well, gimana lagi, ini kebijakan si penulis yang merobek halaman penting dari novel itu.

***

Di sisi lain, bagi seseorang, novel ini memunculkan kembali memori yang seharusnya sudah terkubur. Tentangnya. Tania mirip sekali dengannya. Sangat mirip. Aku pikir tidak ada orang se-nyinyir dia di muka bumi. Hingga aku menemukan yang lainnya menjadi aktor utama di novel ini.

Dia tidak lahir dan tumbuh untuk mengerti, dia tumbuh untuk dimengerti.

Tak bisa kau berargumen dengannya selain kekalahan yang kau dapatkan. Dia akan selalu menang, karena itu dia bersikukuh diatas pemikirannya yang liar dan hatinya yang berparadox akut dan rapuh.

Benci dan cinta baginya bisa berubah dalam hitungan sepersekian detik. Dari sepersekian detik itulah pikiran rumitnya, perasaannya, hingga strategi apalah yang ia rencanakan berkumpul dan berperang satu dengan lainnya hingga akhirnya mendapati suatu kesimpulan atas respon apa yang akan dia tampakkan. Respon itu lebih sering terdeteksi sebagai senyuman.

Kau tak akan pernah tau betapa kejam dirinya, karena dia selalu menyimpannya di tumpukan hati yang tersegel oleh batasan yang ia bangun di atas pondasi norma. Kau juga tak akan tahu betapa ia mencinta karena begitu dinginnya dia ketika berbicara.

Berbuat baik untuknya bukan serta merta dia tulus berbaik hati untukmu. Itu hanya perasaanmu saja. Bahkan jika dia membalas dengan kebaikan yang setimpal, kau hanya bisa meraba, karena hatinya bisa saja membenci dirimu yang bahkan tak akan kau terima alasannya. Tidak logis? Perasaan bukan masalah logis atau tidaknya dalam pikirannya. Masa bodoh? Iya. Itu hak prerogatif manusia yang ada di dalam dada. Selama itu tak tertampakkan, selama itu pula semua akan baik-baik saja.

Kau tak akan pernah rugi bersahabat dengannya, sungguh. Jangan tanya mengapa, bersahabat sajalah. Itu baik untukmu. Jangan berharap lebih—kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.

 

“Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”  -Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin-

 

-srf-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">