Talkshow with Alfito Deannova & Maman Suherman


RISKA-MYNIGHT-LETS-SPEAK-GRAB-YOUR-AUDIENCE

 

Tentang Fito

Alfito Deannova Gintings lahir di Jakarta, 17 September 1976. Beliau sekolah di SMP 3 Depok dan SMA 1 Bogor. Kuliah pada jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sejak 1996, menjadi penyiar radio humor SK 101,4 FM, hingga 1999. Pertengahan 2000 bergabung dengan Liputan 6 SCTV. Mengikuti sejumlah pelatihan, salah satunya di ABC Sydney, Australia tahun 2003. Jabatan terakhir di SCTV adalah anchor dan produser sejumlah acara seperti Liputan 6 Petang, Dari Titik Nadir untuk Tsunami Aceh dan program Pilpres 2004, Selangkah ke Istana. Mei 2007, bergabung dengan Lativi. Salah satu pionir tvOne dengan kreasi program – program berita dan Talk Show. Saat ini, menjadi pembaca berita, dan Current Affairs Manager disana. Mengajar di Universitas Paramadina, Universitas Al Azhar Indonesia dan Universitas Pancasila. Lulusan pasca sarjana Ilmu Komunikasi UI tahun 2007 ini, kini tinggal di Kawasan Bekasi bersama Istri, Rencany Indra Martani dan ketiga putri , Laqisya Phillianova Gintings, Lavere Fallenova Gintings dan Lajema Tresnanova Gintings.

Bang Fito lebih banyak bicara tentang perjalanan beliau menjadi jurnalis dan bagaimana menghadapi audiens.

 

Tentang Maman

Maman Suherman, kelahiran Makassar 10 November 1965, adalah alumni Jurusan Kriminologi FISIP-UI. Meniti karier sebagai jurnalis hingga menjadi redaktur pelaksana/pemimpin redaksi di Kelompok Kompas-Gramedia (1988- 2003). Setelah itu, dia menjadi kreator/penulis skrip/produser hingga managing director di Rumah Produksi Avicom (2003-2011) dan menghasilkan lebih dari 50 judul berbagai program TV dengan lebih dari 1.000 episode.

Salah seorang penggagas Panasonic Gobel Awards ini juga menjadi editor buku Asal-Usul Wimar Witoelar: Menuju Partai Orang Biasa pada 1990-an, kemudian menulis buku Matahati, dan serial Bokis. Buku pertama Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb, buku kedua Bokis 2: Potret Para Pesohor, Dari Yang Getir Sampai Yang Kotor’. Maman, yang kini sedang menyiapkan sebuah novel, juga menjadi pemandu talkshow “Matahati”, kreator semi-dokumenter “Sebuah Nama Sebuah Cerita”, dan mentor “Stand Up Comedy Indonesia” di Kompas TV. (sumber:penerbitpkg)

 

***


Jurnalis itu tugasnya seperti Nabi Muhammad

Nabi memberi kabar, kami pun memberi kabar. Tujuan kita untuk kebaikan. Bangsa indonesia dibilang sebagai bangsa yang tidak dapat melucu dengan verbal. Padahal dengan wayang, dengan dongeng, sebenarnya Indonesia dibuktikan bisa berkomunikasi verbal daripada dengan harus memukul dengan gabus dan lempar-lemparan tepung. (maman)

 

Jangan selalu berpeatokan dengan survey dan angka

Misalnya ada survey bahwa 1 dari 2 remaja putri SMA sudah tidak perawan. Sedangkan kita tidak tahu dari mana mereka mendapatkan data dan samplingnya berapa banyak. Bisa jadi hanya ada 2 responden, 1 remaja putri tidak perawan dan 1 nya lagi masih perawan.

Jurnalistik sekarang ini lebih mengutamakan kecepatan daripada ketepatan. Inilah yang mnenjadi tantangan kita, para jurnalis.

Umat islam selyaknya tidak memberikan berita tidak sesuai dengan fakta. Nurani kita sedang diuji ketika bekerja di ranah jurnalis.

 

Ada suatu kisah, dimana di serambi mekah, ada seseorang wanita yang dia malam itu melihat organ tunggal di suatu tempat. Karena sudah malam, maka ia tidak dapat pulang, sehingga ia memutuskan untuk pulang esok paginya. Kebetulan malam itu ada razia polisi untuk para (maaf) pelacur. Dimana ia juga ikut terjaring razia dan didata disana. Sedangkan para jurnalis yang merekam kejadian itu tidak menanyai kepada sang wanita ini lebih lanjut. Sang wanita ini lalu pulang pada esok harinya. Hanya saja berita sudah menyebar di kalangan masyarakat tentang wanita yang diberitakan tertangkap ketika melacurkan dirinya tempo hari. Sang orangtua dari wanita ini kaget dan syok. Berita ini kemudian  menjadi aib keluarganya. Akhir cerita, si wanita ini menulis surat permintaan maaf kepada keluarganya dan akhirnya bunuh diri. Oiya-ini cerita nyata. (maman)

 

Kode etik.

Tentang media yang seharusnya berimbang. Dalam kode etik media cyber, berita dapat diposting meskipun hanya dari satu sumber saja dan belum dikonfirmasi. Namun perlu diberikan keterangan bahwa artikel tersebut hanya didapati dari satu narasumber dan akan diberitakan kembali updatenya pada berita selanjutnya.

Saya percaya masih ada orang yang punya naluri jurnalistik. Saya percaya bahwa teman-teman jurnalis itu berperang dalam dirinya di suatu media yang dia naungi. Sebagai contoh, channel Fox di Amerika itu membela partai Republik. Itulah mengapa FOX kontra dengan Obama. Sedangan CNN mendukung Partai Demokrat  di Amerika. Media di Amerika secara terang-terangan memihak dalam politik. Namun mereka menggunakan frekuensi sendiri, bukan frekuensi publik. Sedangkan di inggris, media tidak diperbolehkan berpihak. Sedangkan di Indonesia, KPI itu abu-abu. Tidak ada aturan yang jelas disana. Sehingga sekarang media digunakan untuk kampanye dan kepentingan pribadi padahal ada peraturan dan pelarangan media untuk dijadikan media kampanye. (maman)

 

Biarkan masyarakat yang menilai. Biarkan media berpihak.

Di luar, sebelum dikeluarkan tentang pelarangan seven dirty words, acara di Amerika sering mengeluarkan kata-kata sumpah serapah. Hal ini membuat para ibu rumah tangga resah. Acara tersebut dikonsumsi bulat-bulat oleh anaknya. Akhirnya perkumpulan ibu-ibu rumah tangga di Amerika mendatangi channel televisi tersebut dan meminta agar acara tersebut ditutup. Namun channel TV tersebut berkata bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan karena tidak ada peraturan yang melarangnya. Mereka legal untuk mempublikasikan acara tersebut.

Lalu apa yang terjadi? Akhirnya ibu-ibu tadi mendeklerasikan pemboikotan terhadap produk-produk yang diiklankan di channel tersebut. Mereka mendeklarasikan tidak akan membeli produk apapun yang dipromosikan oleh channel tersebut.

Dengan kekuatan publik tadi, akhirnya acara tersebut dihentikan. Kekuatan publik sanggup mematikan acara di televisi.

Sedangkan di indonesia, publik tenang-tenang saja. Menghina dan menjadikan itu sebagai hiburan. (maman)

 

Media dan Kepentingan

Buat kami jurnalis, kita bersama beberap televisi lain, metro, mnc group, dan lainnya, mengerti bahwa televisi tersebut melekat dengan satu orang. Personifikasi nya jelas. Metro TV dengan Surya Paloh. TV One dengan ARB. MNC dengan HT. seberapa besar ini menguasai acara mereka? Sampai 50% pun tidak.

Kita hidup di dunia tidak sempurna 100%. Saya belum bisa seperti itu. Saya punya keinginan untuk melakukan sesuatu yang bisa mengaktualisasi passion saya sebagai jurnalis.

Social media begitu luar biasa. Socmed Itu menjadi suatu penyeimbang dari berita-berita yang ada di televisi dan media lainnya.

MK dan KPK tidak pernah dikritik oleh media. Karena akan membayakan media tersebut. Begitupun dengan pemerintah. Tetap ada kepentingan disana, pemerintah juga dapat menekan media. Media harus berpikir  dua tiga kali terhadap issue pemerintah. (fito)

 

Social Media

Breaking news sekarang tidak lagi ada di televisi—melainkan di twitter. Kedepannya, tv akan ditinggalkan ketika masyarakat sudah sadar bahwa televisi itu bias dan memihak. (fito)

 

 

Media itu jadi industri

TV one itu memiliki acara Satu Hati Untuk Indonesia, itupun tidak banyak peminatnya. Media membuat program edukatif bagi masyarakat, tetapi tiak ada yang menonton. Acara Dangdut lebih bagus dan lebih digemari masyarakat.

Dulu sempat berdiri televisi pendidikan indonesia. Namun gak ada yang nonton dan tutup. Kita juga bingung atas kredibilitas kita sebagai bangsa. TV One dan Metro TV (yang lebih banyak tentang berita) hanya 7%-10% (dari total pemirsa). (fito)

 

Peristiwa

Saat melihat peristiwa seorang jurnalis selayaknya menjadi skeptis.

“Ketika saya duduk dengan narasumber. Saya skeptis. Sisi jurnais yang benar memang selalu skeptis. Selalu bertanya terus menerus dan tidak pernah puas” Alfito Deannova

Jurnalis yang baik melakukan klarifikasi. Namun Jurnlais juga tidak dapat merubah kata2 dari penegak hukum yang berkata (dalam peristiwa penembakan oleh Densus 88) bahwa “mereka adalah teroris.” Maka itulah yang ditulis dan disebarkan di media massa. (fito)

 

Dunia Jurnalis itu ada akibatnya

Apakah akibatnya buat saya? Saya bersembunyi di mekah 2 tahun saat dikejar-kejar oleh pemerintahan orde baru. Ketika Soeharto turun, barulah saya kembali ke Indonesia. (maman)

 

Naluri kita sudah mati

Maman di malam itu sering bercerita tentang fakta-fakta mencengangkan lagi menjijikkan yang ada di masyarakat. Saya tidak tuliskan disini karena saya pun tidak cukup tega untuk kembali mengingatnya. Maman berkata bahwa bisa jadi Nalurinnya sudah mati. Kekejaman krminal, rusaknya pemerintahan, dan lain sebagainya yang notabene merupakan dunia gelap dari kehidupan membuat ia melihat fenomena-fenomena terkini menjadi suatu hal yang biasa. (maman)

 

Anda adalah jurnalis

Sekarang ini Anda yang menyebarkan di social media.Tentang kepentingan dan konspirasi yang ada dalam benak Anda, lawanlah. Lawan kecurigaan dengan sikap. Lahirnya islam adalah untuk mengungkap kebenaran.

Dulu ada muslim televisi hingga sekarang media tersebut berubah menjadi Global TV, sedang audiens diam saja. Tidak ada kontra ke sana. Lalu salah siapa?

Akhir kata, marilah kita mencerdsakan masyarakat dengan berita yang akurat. (maman)

 

Wallahu a’lam bisshowab

-srf-

*untuk kajian Salim A Fillah saya post di artikel yang berbeda.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">