Bersyukur dalam niqmah & bersabar dalam ni’mah.


Ni’mah dan niqmah mirip dalam pengucapannya, namun dalam artinya sangat berbeda. Ni’mah adalah anugerah yang Allah berikan kepada kita. Sedangkan niqmah adalah bencana.

Baik ni’mah dan niqmah selayaknya keduanya memberikan hikmah kepada kita bila kita menyikapinya dan melihatnya dari sudut pandang sabar dan syukur.

Bersyukur dalam ni’mah adalah hal yang maklum bahkan wajib kita lakukan. Namun bersabar dalam ni’mah adalah sesuatu yang berat untuk dilaksanakan. Nabi Sulaiman AS berdasar riwayat memiliki kekuasaan yang tak pernah diberikan oleh nabi-nabi dan orang lain setelahnya. Beliau memiliki kerajaan yang terbesar, dimana pasukannya juga terdiri dari bangsa jin dan binatang. Nabi Sulaiman juga memiliki kemampuan untuk berbicara dalam bahasa binatang. Dalam segala bentuk kuasa yang diberikan oleh Allah kepadanya, adakah dia khianat dalam ni’mah-Nya? Bahkan dalam ni’mah yang luar biasa besar itu tetap membuatnya istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT.

Sahabat, mungkin diantara kalian pernah mendengar kisah Tha’labah bin Hatib, sahabat nabi yang konon dulunya miskin. Tak pernah lewat dia sholat berjamaah, selalu berkumpul di masjid bersama Nabi dan sahabat-sahabatnya yang lain. HIngga suatu saat, dia meminta nabi untuk mendoakan dia supaya kaya. Atas kehendak Allah SWT, dia pun menjadi seorang yang kaya. Namun ketika dia kaya, tak pernah dia hadir di majelis dan berkumpul dengan Nabi dan sahabat, sholat jamaah bersama Nabi pun terlewat olehnya, bahkan zakat pun tidak ia tunaikan.

Namun, saya selaku penulis tidak berani untuk mengkategorikan Tha’labah sebagai seorang yang munafik, karena bagaimanapun Ibn Hajar al-`Asqalani menyebut di dalam al-Isabah Tha’labah adalah ahli perang Badar, dan ahli perang Badar telah dijamin oleh Allah syurga.

Allah melihat kepada ahli Perang Badar dan berfirman ” buatlah apa yang kamu suka sesungguhnya telah pasti untuk kamu syurga atau Aku telah ampuni kamu semua” (al-Bukhari dan Muslim)

 

Begitupun bersabar dalam niqmah, adalah hal yang maklum yang dilakukan manusia dalam menyikapi ketidakberuntungannya. Namun bagaimana dengan bersyukur dalam niqmah? Bersukur atas bencana yang ia hadapi.

Saya akan bercerita sedikit tentang tokoh inspiratif dari jepang. Ia adalah Hirotada Ototake—panggil saja dia Oto. Oto lahir dengan tidak memiliki lengan dan kaki. Namun yang luar biasa adalah ibunya memutuskan agar Oto hidup normal, yang artinya dia tidak mendapatkan perlakuan khusus di rumah. Dia pun masuk ke universitas favorit di Jepang—Waseda University. Suatu kali dia ditawarkan untuk memilih salah satu cabang olahraga yang ia minati, seketika ia memilih basket. Sang pelatih melihat kekurangan Oto merasa Oto tidak cukup layak untuk masuk club basket. Namun Oto berkata meminta dua minggu berlatih basket oleh pelatihnya, setelah itu pelatihnya dapat menentukan apakah Oto bisa bergabung dalam club basket atau tidak. Selang dua minggu latihan percobaannya, sang pelatih tertegun melihat Oto yang sanggup bermain basket dengan bahkan tanpa lengan dan kaki. Sehingga Oto pun masuk dalam club basket. Luar biasanya adalah Oto bersama tim basket Waseda University menjadi tim basket terbaik waktu itu. Pada Bulan April 2007, Oto mendapat kepercayaan untuk menjadi guru SD full time. Oto mendapatkan kepercayaan dari dinas Pendidikan Tokyo untuk mengajar olahraga dan kesehatan. Oto juga sering menulis artikel dan buku. Hingga ia akhirnya menjadi motivator hebat yang membagikan inspirasi kepada banyak orang bahwa kekuranganmu adalah kelebihanmu.

Di Mesir, anak yang bernama Mu’adz yang lahir ke dunia tanpa bisa melihat. Namun dari kebutaan yang ia derita, ia mampu untuk menghafal 30 juz Al Qur’an—Mu’adz Al Hafidz. Satu hal lagi dari Mu’adz yang membuat saya pribadi merasa begitu haru. Dalam sebuah acara TV yang dipandu oleh seorang imam masjid, Syaikh Fahd Al-Kandari. Syaikh bertanya kepada Mu’adz tentang apa yang ia panjatkan kepada Allah SWT dalam doanya, dan inilah jawaban Mu’adz:

“Dalam sholatku, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku….”

Lalu sang Syeikh bertanya lagi, mengapa Mu’adz tidak ingin agar penglihatannya dikembalikan oleh Allah? Berikut jawaban Mu’adz:

“Semoga menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan, sehingga Allah meringankan hisabku pada hari tersebut. Allah akan menanyakan nikmat penglihatan, apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu? Saya tidak malu dengan cacat yang saya alami. Saya hanya berdoa agar Allah meringankan hisab-Nya untuk saya pada hari kiamat kelak.”

Subhanallah, MasyaAllah. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita untuk senantiasa muhasabah atas ni’mah dan niqmah yang Allah berikan kepada kita. Bagaimana kita menyikapinya dan bagaimana kita bersyukur dan bersabar diantaranya. Wallahu A’lam bisshowab.

-srf-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">