Meminta Cinta


falling_in_love-t2

Sejak kecil, kita menjadi sudah anak yang manja. Meminta semaunya. Meminta seenaknya. Pokoknya harus ada. Jika tidak, kita akan menangis sejadi-jadinya hingga apa yang kita minta benar-benar ada. Hinga kita menjadi dewasa muda yang tak ubahnya seperti anak-anak. Menginginkan sesuatu atas apa yang kita kehendaki. Terlebih tentang cinta.

Kita meminta cinta dengan sesempurna-sempurnanya cerita, seindah-indahnya sajak, dan sehalus-halusnya belaian. Kita seolah paling benar dengan menyatakan bahwa kita lebih bisa menikmati cinta daripada orang-orang tua itu. Cinta itu abadi. Cinta itu nyata. Cinta itu indah. Orang –orang tua itu hanya tidak bisa merasakan dan menikmatinya.

Lihat betapa sombongnya kita ini. Merasa sok tahu tentang cinta. Mungkin mereka yang terlalu takut, atau mungkin kita yang terlalu ceroboh. Tapi lagi-lagi, bagaimana mungkin aku ceroboh soal hati. Mereka sepertinya tidak tahu bagaimana sesaknya tidur sambil merindu. Bagaimana rasanya dibayangi di tiap mimpi-mimpi. Mungkin benar mereka tidak tahu. Atau mungkin mereka sudah lupa rasanya.

Namun akuilah bahwa mereka juga pernah melaluinya. Mereka sudah membuat bahtera dan sudah dihantamkan bahtera itu pada gelombang ujian takdir. Padahal pendahulu kita sudah memberikan peringatan untuk berhati-hati dalam membuka hati dan mempersilakan orang lain masuk. Bagi mereka,  bukan untaian kata yang mampu mengeratkan bahtera, tapi kepercayaan. Bagi mereka kebersamaan setelah mereka berpisah di pusara masing-masing, itulah kebersamaan yang hakiki. Melangkah bersama-sama untuk masuk ke Jannah-Nya.

Indah bukan?

 

2 Oktober 14
-saungkertas-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">