Memantaskan Diri


flashdisk

Dalam setiap penantian, apalagi yang paling hakiki selain kesabaran dan keikhlasan. Namun, apakah sejatinya tentang arti menunggu? Tidak lain adalah memantaskan diri kita.

Terutama jika kita sebagai ikhwan, persiapannya tentu sangat banyak untuk mencapai kepantasan, karena tuntutan pada saat tiba nanti sungguh sangat besar.

Adapun poin-poin yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut.

  • Iman
    Inilah poin pertama dan utama yang wajib dimiliki oleh ikhwan. Semua poin setelah ini akan runtuh jika tidak dikokohkan oleh iman. Seorang ikhwan akan dimintai pertanggung jawaban atas dirinya terhadap apa yang dia lakukan. Apakah ibadahnya lebih banyak dari maksiatnya ataukah sebaliknya. Terlebih lagi saat ia menjadi suami, terlebih lagi saat ia menjadi ayah. Beban dosa keluarganya sudah berada di punggungnya. Jika istri melakukan dosa, maka suaminya yang menanggungnya. Jika anak berdosa, ayah juga yang menanggungnya. Sungguh berat jika iman tidak ada bahkan pada diri seorang ikhwan. Belum lagi ia harus mendakwahkan kepada keluarga kecilnya sebelum ia dihisab nanti di akhirat. 
  • Sabar
    Sabar adalah kunci dari segala problematika. Ilmu manajemen konflik rumah tangga hingga ilmu parenting memiliki ujung tombak sikap sabar. Begitu pentingnya sikap sabar ini, hingga dalam Al-Quran Allah berfirman:
     

     “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
    [Surat al-Baqarah ayat 153] 

  • Tegas
    Ikhwan menggunakan pikirannya lebih dari perasaannya. Atas dasar inilah ia dijadikan pemimpin wanita. Ikhwan yang tegas menentukan solusi dari problematika secara yakin dan tidak plin-plan. Tegas tidak berarti otoriter. Karena tegas adalah melakukan atau menyatakan suatu perkara disertai dengan pertimbangan yang matang. Jika hanya berdasar kepentingan pribadi dan mengabaikan yang lain, maka itu termasuk sikap egois. 
  • Tangguh
    Ikhwan hebat adalah ikhwan yang tidak mudah menyerah, tidak banyak mengeluh, dan berpatokan kepada visi yang ia buat. Tiap-tiap ikhwan memiliki kapasitas diri yang berbeda. Namun yang menjadi pemenang diantara mereka adalah yang bekerja keras dan bekerja cerdas. Itulah mengapa porsi mencari nafkah keluarga dibebankan kepada suami. 
  • Bertanggung Jawab
    Bertanggung jawab artinya mampu menerima konsekuensi atas apa yang diperbuat dan  dinyatakan. Ikhwan yang bertanggung jawab mengerjakan apa yang sudah diamanahkan kepadanya. Pantang baginya untuk melanggar amanah atas alasan yang tidak syar’i. Ikhwan bertanggung jawab juga tidak melimpahkan kesalahan ke orang lain. Ia bersedia mengakui bahwa dirinya salah jika memang salah dan bersedia menerima konsekuensi.

Nah, Ikhwan, sebelum berbincang mengenai pernikahan dan mem-propose akhwat yang kita harapkan untuk menjadi pendamping kita, sudahkah kita benar-benar pantas untuk menjadi imam bagi keluarga kita nanti? Mari kita menuntut diri sendiri lebih daripada menuntuk orang lain.

Wallahu a’lam bisshowab.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">