Mana Ada Kamu Di Rumahku


Ku kira pertemuan kita berakhir di rumah.
Sebuah rumah dengan genting merah dan lantai kayu.
Dengan teriakan-teriakan kecil dari kaki-kaki kecil yang melangkah penuh tenaga.
Berteriak menyebutmu mama dan memanggilku ayah.

Mana ada kamu di rumahku.
Kamu hanya ada di pikiranku.
Bahkan rumah itu pun hanya ada di pikiranku.
Memang bahaya berangan-angan, tapi aku seperti kecanduan.
Menikmati pikiranku yang penuh bayang-bayang
nyatanya, mana ada kamu di rumahku.
Suaramu seperti angin yang melewati dedaunan pohon.
Melewati celah-celah dinding rumah-rumah.
Dibawa angin kemanapun kaki melangkah.
Membisikan dan mengatakan sesuatu bahwa kamu sedang menungguku di rumah.
Nyatanya, mana ada kamu di rumahku.

Orang-orang sepertiku perlu di selamatkan.
Dibangunkan dari tidurnya logika.
Disadarkan bahwa kehidupan nyata menanti pembuktian kata-kata.
Karena untuk membawamu ke rumahku membutuhkan banyak pembuktian.
Bahwa aku tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati
dan aku bisa menunjukkan bahwa kata-kata laki-laki ini tidak berhenti sebagai angan-angan.

Kamu…suka diperjuangkan, kan?

 

karya: Kurniawan Gunadi


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">