MTXL Leadership Camp 1 – Sebuah Catatan


Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

-doa rabithah-

Jumat, 7 Maret 2014, ba’da maghrib kami telah berkumpul di kantin. Peserta sepertinya begitu bersemangat untuk segera berangkat. Begitupun saya.

Mobil saya yang bernomor 9 itu berangkat terlebih dahulu daripada yang lain. Saya bersama Mas Adit, Mas Kuru dan Kang Djati. Sayangnya Kang Djati tidak bisa ikut ke lokasi karena ada agenda esok harinya yang tidak dapat diwakilkan. Tidak hanya Kang Djati, Cang Irvan Azmi, Mas Beka, Kang Redi, Ustadz Kemas, dan petinggi-petinggi MTXL lainnya tidak dapat bergabung bersama di acara kami karena ada agenda pada hari tersebut. Sedih karena guru-guru MTXL tersebut tidak hadir, but the show must go on, right? Bismillah!

Sesampainya disana, ternyata tempatnya bagus. Cottage ny nyama. Kamar mandinya banyak dan bersih. Pertama kali datang kesana, saya berpikir tidak mau pulang cepat-cepat. Rasa lelah hilang dalam sekejap.  Hal yang pertama kami lakukan adalah memasang backdrop dan spanduk selamat datang.

Selang 45 menit kemudian teman-teman datang berombongan. Tampak wajah kelelahan dari mereka. Keluar dari mobil sambil membawa tas besar dan membopongnya ke saung. Alhamdulillah, ada welcome drink dari pihak Selaras Adventure malam itu. Sambil kelelahan, merek a duduk di kursi-kursi plastik.

_MG_5414

_MG_5415

Tidak berlama-lama, panitia segera membagi kamar akhwat dan ikhwannya, masing-masing mereka mendapatkan 2 unit cottage. Satu cottagenya dapat menampung 14 orang, sedangkan peserta hanya 22 akhwat dan 17 ikhwan.

Akhwat sepertinya lebih cepat terlelap daripada kami, para ikhwan yang sedari tadi mengincar ikan bakar. Ya, ada donatur ikan laut yang memberikan 10 ekor ikan laut untuk kami bakar. Hmm, jadilah ikhwan-ikhwannya terjaga lebih larut untuk membakar ikan.

Ikhwan-ikhwan polos ini langsung saja membakar ikan-ikannya, bahkan mungkin mereka belum membersihkan jeroan ikannya, dan bahkan bumbunya pun belum ada. #duh. Inilah kenapa di dunia perlu adanya wanita. -_-“

Beruntunglah kami, membawa seorang akhwat senior yang bernama Inna Fitria. Mungkin beliau paling berjasa untuk para ikhwan yang perutnya kelaparan malam itu. (Jazakillah Ukhtiii). Betapa tidak, beliau sedang sakit namun dipaksa untuk ikut untuk turut membantu panitia untuk mempersiapkan konsumsi sore sebelum pemberangkatan. Belum selesai ia sehat malam itu, sudah kami silakan untuk meracik bumbu, membersihkan jeroan ikan, hingga menyajikannya hingga siap untuk disantap. Beliau dan para ikhwan yang lain baru tidur sekitar pukul 2 lebih setelah acara pesta bakar-bakar itu. Yup, 2 jam lagi mereka harus bangun kembali untuk sholat subuh di mushola saung belakang cottage ikhwan, padahal belum habis lelah mereka setelah 5 jam perjalanan di jalan berliku yang buat mual perut dan mabuk darat.

_MG_5470

_MG_5489

Esok paginya, setelah sholat subuh berjamaah, kami berkumpul kembali di aula untuk olahraga pagi dipimpin oleh pihak Selaras, Kang Luqman dan Teh Ratna.

_MG_5548

Setelah itu, kami sarapan pagi bersama-sama. Ah, betapa indahnya ukhuwah yang terjalin, semalam bersama saja rasanya sudah seperti saudara.

Lihatlah wajah-wajah cerah mereka ketika menyantap sarapan pagi

_MG_5572

Setelah makan, ada games dari Selaras untuk kami. Games nya cukup lucu. Akhwat dan Ikhwan masing-masing dibagi menjadi 2 kelompok. Sehingga totalnya adalah 4 kelompok. Kelompok tersebut adalah:

  • Kancil (ikhwan)
  • Lumba-lumba (ikhwan)
  • Semut (akhwat)
  • Kupu-kupu (akhwat)

Tiap kelompok diberikan satu tali tampar yang ditalikan melingkar, dimana seluruh anggota harus masuk ke dalamnya. Tiap-tiap anggota kelompok memegang tali tersebut dan diangkatnya setinggi pinggang mereka. Permainannya mudah, tiap kelompok setelah masuk ke lingkaran tersebut dan memegang tali tamparnya, harus mencari kertas berisi nama-nama anggota kelompoknya yang disebar di taman dekat kami berpijak. Kelompok yang menang adalah kelompok yang pertama mendapatkan seluruh nama-nama kelompoknya. Bagi kelompok yang mendapati bukan nama anggota kelompoknya, harus menaruhnya kembali.

Pertama kali dimulai perlombaan, terlihat bagaimana paciweuh nya antar kelompok yag berlomba-lomba menjadi yang pertama mengambil kertas nama-nama itu. Nakalnya saya, jika menemukan yang bukan merupakan kelompok kami, saya menuruti instruksi dari selaras, yaitu menaruhnya kembali. Di tempat yang agak jauh. Di dalam semak.

Masing-masing kelompok diberikan tugas untuk membuat suatu lagu (yel-yel) dan jargon. Ternyata kreatifitas peserta sangat tinggi, mereka dapat membuat yel-yel yang meskipun geje, namun bermakna. #apasih

Seperti kelompok kancil misalnya (ceilah), yang mengadopsi lagu si kancil anak nakal menjadi “si kancil anak sholeh yang suka mencari ilmu.” Yo’I banget lah itu. “Josh!” adalah jargon kami. Karena, kecuali mas Vibi, lainnya adalah jomblo. JOSH means JOmblo Sampai Halal.

Lalu kelompok lumba-lumba yang dipimpin oleh Mas Aulian, sang konsultan keluarga sakinah yang yel-yelnya mengadopsi lagu si lumba-lumbanya Bondan Prakoso pas masih unyu. Yah, not bad lah, masih mending kancil tapi. #teteup.

Kelompok Semut yang saya lupa bagaimana yel-yelnya, pokoknya jargonnya, “smoooth” gitu ceunah.

Kelompok Kupu-kupu, dengan anggotanya akhwat-akhwat bersayap namun tak terlihat—kata Mbak Tita. Mereka menggunakan yel-yel “belalang kupu-kupu” yang diremix sedemikian rupa untuk jadi yel-yel.

_MG_5682

_MG_5672

Setiap kelompok yang perform yel-yelnya , akan dinilai oleh kelompok lain, apakah dapat jempol atau tidak. Kelompok kancil paling banyak jempolnya loh.

Setelah puas kami bermain di lapangan, kami kembali lagi ke aula untuk bersiap mendapatkan materi. Di sesi awal dimulai dengan ta’aruf. Berkenalan satu peserta dengan yang lain. Dimulai dari barisan akhwat, kemudian berturut-turut hingga ke ikhwan. Lucunya dari perkenalan ikhwan, adalah tidak hanya memperkenalkan nama, namun juga detil lain yang mencakup divisi, hobi, kegemaran, dan kontribusi yang bisa diberikan kepada rekan-rekan peserta yang lain. Wah, ternyata ta’aruf dengan cara ini kita bisa melihat kelebihan teman-teman kita di bidangnya masing-masing. Unik-unik, ada yang gemar bersepeda, traveling, badminton, ngoprek, dan sebagainya. Tapi yang bikin bertanya-tanya adalah Mas Aulian sih, entah bagaimana ceritanya beliau bisa masuk ke XL bagian Customer Experience Helpdesk dari latar belakang kuliah jurusan Al Ahwal Syakhshiyah, yang lebih fokus dalam hukum-hukum keluarga islam. Alhamdulillahnya, beliau dapat memberikan banyak ilmu bagi kami untuk memprsiapkan sebelum berkeluarga. #ecie. Eh, bahkan dari teman-teman ini ada yang sudah mulai berwirausaha. Subhanallah.

Setelah berkenalan, Mas Fery memberikan materi tentang seluk beluk isu di XL. Tidak akan saya terangkan disini, karena sebagian besar isu yang disampaikan adalah rahasia perusahaan. Intinya adalah, penyamarataan informasi dari manajemen hingga ke staf, sehingga staf mengetahui betul kondisi perusahaan terkininya seperti apa. Apa kontribusi yang dapat mereka lakukan, dan bagaimana melewati kondisi-kondisi terkini di perusahaan tersebut.

Pada pukul 11.00, Mas Udin (Nashrudin Ismail—GM HCD) telah datang setelah perjalanan panjangnya dari jakarta menuju lokasi. Mas Udin ini ternyata lulusan ITS Elektro dan akhirnya berlabuh karirnya di People Development, dan sekarang menjabat GM HCD di XL. Beliau memulai karirnya di LintasArta dari tahun 1997 hingga 2004, dan melanjutkan ke Ericsson selama satu tahun, kemudian di tahun 2005, beliau hijrah ke XL hingga sekarang. Beliau memiliki banyak sertifikasi berkenaan dengan People Development, diantaranya: Certified Human Resources Professional,Psichometric Course Workshop, Thomas DISC certified, Thomas GIA Learning Abilitycertified Via EDGE Learning Agility Certified,Certified HCSM (in progress).

_MG_5700

Mas Udin di awalnya menerangkan tentang company goal. Apa sebenarnya tujuan dari perusahaan ini, bagaimana isu-isu terkini bisa terjadi dan bagaimana caranya untuk menuju ke arah visi tersebut dari pijakan keadaan sekarang.

Menarik, ketika beliau mulai membahas tentang people development. Bagaimana cara pandang atasan kepada bawahannya sesuai dengan kompetensi perusahaan. Bagaimana atasan bersikap dalam pendelegasiannya kepada bawahannya dan segala hal yang berkenaan tentang itu.

Lebih menarik lagi ketika beliau bercerita tentang kriteria bawahan. Manager diharapkan dapat mengkategorikan bawahannya menjadi 4 tipe:

  • Mau dan bisa
    bawahan dengan kriteria “mau dan bisa” ini dapat langsung di delegasikan dan mengambil sebagian pekerjaan manager tanpa perlu manager tersebut mengingatkan dan memberi penjelasan detail terhadap pekerjaaan tersebut.
  • Mau tapi tidak bisa
    Bawahan dengan tipe seperti ini, dapat didevelop dengan memberikan training hard skill dan pengajaran-pengajarn. Once bawahan tersebut mendapatkan ilmu, maka selayaknya ia sudah dapat melakukan tugasnya secara baik.
  • Tidak mau tapi bisa
    Bawahan seperti ini harus diberikan pengertian bahwa dia harus berpartisipasi karena sebenarnya ia memiliki kemampuan itu.
  • Tidak mau dan tidak bisa
    Bawahan seperti ini harus diberikan pengertian bahwa dia memiliki potensi hebat jika  dia mau berkontribusi dan belajar, namun jika tidak, maka sebaiknya tidak mengambilnya menjadi karyawan.

Mas Udin berpesan pada kami semua

“…be a helpful person and build good relationship!”

Selebihnya, beliau menjelaskan tentang pengaplikasian 8DX (8 Discipline Excelence) yang pernah disampaikan oleh Pak Hasnul di Pra Leadership Camp beberapa waktu lalu. Bagi yang ingin menyimak detil materinya, dapat dilihat disini: http://saungkertas.com/wp/everyone-can-lead/

Di akhir, beliau bertanya, siapakah yang mau menjadi CEO? Lalu banyak dari kami yang mengacungkan tangan, bersemangat untuk menjadi Future Leader. Setelah itu, beliau barulah menekankan bahwa dunia dan seisinya itu sebenarnya adalah remeh. Menjadi SEO bukanlah tujuan, memiliki rumah, memiliki perniagaan bukanlah tujuan. Semua hal tersebut adalah hanya tools. Tools untuk kita beribadah dan berdakwah di jalan Allah SWT.

Setelah materi tersebut, kami diberikan waktu untuk break terlebih dahulu untuk sholat dhuhur dan makan siang. Lihat, betapa semangatnya wajah-wajah polos yang kelaparan ini.

_MG_5745

Setelah makan dan sholat dhuhur jamaah, kami pun melanjutkan agenda dengan Mas Fery Firman (GM Touchpoints) untuk share tentang pengalaman karirnya selama ini.

_MG_5718

Ada yang unik dalam beliau sharing tentang pengalaman hidupnya. Beliau lebih menceritakan bagaimana seharusnya karir ini dapat ditempuh dalam waktu yang selayaknya lebih singkat. Beliau bercerita  tentang pengalaman karirnya, pembelajarannya dari waktu ke waktu, dan bagaimana ia sampai di posisi ini,. Dengan cara tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang beliau lakukan. Memilih dengan baik posisi, jabatan, dan lingkungan pekerjaan itu sendiri. Terpampang jelas oleh kami beliau menjelaskan bagaimana perlahan-lahan beliau hijrah dari jaman jahilnya beliau dahulu hingga sekarang insyaAllah sudah tidak jahil lagi, dan diamanahi menjadi CEO MTXL.

Yang saya pribadi dapatkan dari cerita beliau adalah semangat untuk selalu berkontribusi dalam dakwah.

Sembari Mas Fery sharing dan menjawab pertanyaan dari para leader muda yang lain, hujan turun cukup deras. Padahal setelah sesi ini, ada sesi treking—tadabbur alam. Selaku panitia, kami ingin agar acara treking tetap diadakan. Setelah berbincang dengan tim selaras, mereka menyiapkan jaz hujan (ponco) untuk dikenakan saat hujan nanti. Pikir saya, “toh ini hanya hujan air, seorang leader, bahkan seorang mujahid tidak selayaknya menyerah karena guyuran air ini.”

Allahumma shoyyibannafi’aa

Ya Allah, berikanlah hujan yang bermanfaat

 

Kami memulai treking pukul setengah lima sore. Alhamdulillah hujan telah reda. Bahkan, udara pun menjadi lebih sejuk dari sebelumnya. Meski treking akan sedikit lebih sulit karena jalannya akan lebih becek dan licin dari sebelumnya.

Tim selaras mengisyaratkan kami untuk mentadabburi alam, mengagumi ciptaan-Nya, berpikir tentang penciptaan alam semesta, dan lain sebagainya. Sebagai tambahan, Mas Luqman menyuruh kami untuk mengambil satu benda, beliau menamakannya “Hot Object” yang dimana benda tersebut bukan hak milik orang lain, yang dapat ditemukan di sepanjang jalan treking nanti—yang mengingatkan tentang masa lalu dan berpengaruh terhadap pencapaian yang kami dapati selama ini.

Setelah berfoto bersama, barisan leader akhwat bergerak terlebih dahulu di depan, dengan dipandu oleh tim selaras. Lalu menyusul kami—para ikhwan di belakang. Kami memasuki area perkampungan yang berdampingan dengan sawah dan hutan. Kami berjalan beriringan, berbaris satu-satu dengan rapi, sementara Mas Adam bergerilya memfoto kami yang sedang treking sambil sesekali berbincang dan berkelakar.

Mas Adam, terimakasih kami ucapkan, karena bersedia menjadi fotografer panggilan selama treking dan selama acara berlangsung. Mengapa saya bilang fotografer panggilan. Yah, ketika diantara kami menemukan spot yang oke, lucu, dan kayaknya bagus buat profpict, kami memanggilnya, “Kak Adam Kak Adam, fotoin dong.” dan Mas Adam ini berlari-lari kecil sambil membawa DSLRnya dan memfoto objek yang diminta, dan hal itu berulang terus menerus hingga senja tiba sepanjang perjalanan kami kembali ke Camp.

_MG_5834

???????????????????????????????

Kami menyusuri jalanan mendaki, jalanan menurun yang licin, yang jika tidak berhati-hati, maka kami akan terpeleset dan terjatuh, menyusuri jembatan yang hanya ditopang oleh beberapa bambu, dan menyusuri sungai bagi ikhwan yang anti mainstream.

Perjalanan ini tidak mudah kawan, lihat sepatu dan sandal gunung yang kami pakai, sudah berlumur dengan tanah basah, bahkan beberapa ada sandal dan sepatu yang sobek. Berapa kali kami hampir terpeleset karena medan licin dan basah yang kami pijak. Bahkan, ada seseorang dari kami, yang sangat bersemangat beliau berjalan sambil mentadabburi alam, hingga sepatu yang ia kenakan tidak lagi mampu untuk menemani semangatnya melanjutkan perjalanan hingga akhir. Subhanallah :)

Sesampainya kami di camp kembali, adzan maghrib sudah berkumandang. Sebagian dari kami telah memegang hot object, sebagian lainnya tidak. Bermacam-macam hot object yang kami temui, mulai dari dedaunan, ranting pohon, batu, bahkan sobekan bungkus rokok. *lirik Nuris*

Akhirnya kami pun rehat melepas lelah dan membersihkan diri sebelum melakukan sholat maghrib berjamaah dan melanjutkan agenda malam.

Makan malam ini terasa begitu tenang, mungkin peserta masih kelelahan setelah treking tadi. Kami pun makan dengan khidmat malam itu, sambil sesekali berbincang.

Setelah selesai makan, ada tausiyah dari Mas Aul tentang doa.

Doa yang kita haturkan, tidak akan pernah sia-sia. Bisa jadi Allah mengabulkan semua doa kita dan menjadi kenyataan, boleh jadi Allah tidak mengabulkannya, namun memberikan yang jauh lebih baik kepada kita daripada doa yang kita panjatkan, dan boleh jadi Allah memberikan balasan doa tersebut tidak dunia, namun di akhirat. Jadi, berdoa yuk. Karena berdoa adalah ibadah, dan barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, dialah orang yang sombong. Dan tidak orang tersebut masuk ke surga Allah SWT bila masih ada setitik kesombongan di hatinya. Na’udzubillah.

Materi malam diisi oleh Trainer dari Selaras, Kang Zein kami memanggilnya. Kang Zein menyampaikan materi tentang 5 kecerdasan manusia. Tentang bagaimana luar biasanya otak manusia, dan bagaimana selayaknya kita memanfaatkannya.

otak_1

Juga tentang otak kanan dan otak kiri. Otak kiri lebih ke arah analisis, struktur, logika, sistematis, namun kaku. Sedangkan otak kanan lebih kreatif, imajinatif, mengedapankan intuisi, dan fleksibel. Kang Zein juga berkelakar tentang peran otak dalam posisinya jika suka dengan seseorang,

“Kalau otak kiri, butuh alasan dulu baru suka. Sedangkan otak kanan, suka dulu, baru cari alasan.”

*angguk-angguk sambil senyum

Well, perbedaan dominasi otak tidak menjadi perbedaan insyaAllah. Sebaliknya, perbedaan cara pandang itu akan saling melengkapi dan mengisi dimana kekurangannya satu dengan yang lain. :”)

Beliau juga di akhir materinya memberikan muhasabah bagi kami. Dengan lampu yang dipadamkan, kami dipersilakan untuk berdiri. Saat berdiri itu, kami diperkenankan untuk merasakan denyut jantung kami, merilekskan badan kami, dan membuka pikiran dan hati kami saat kami terpejam. Kang Zein memberikan muhasabah dengan tema yang sulit bagi kami untuk bahkan berhenti meneteskan air mata dan sesenggukan. Temanya tentang ayah dan ibu, dan berkaitan semua itu sebagai pemicu syukur kami kepada Allah SWT.

*bagi yang masih hapal dengan materinya Kang Zein, berkenan untuk menambahkan ya.

***

Menjelang malam, sekitar pukul 10 lebih, pembicara akhwat satu-satunya akhirnya datang. Bu Roro kami memanggilnya. Beliau menjabat Senior Manager di Indosat. Alhamdulillah beliau menyempatkan diri untuk hadir ke tempat ini untuk berbagi dengan leaders tentang pentingnya dakwah dan pentingnya lingkaran tarbiyah untuk menjaga kami dan mendevelop kami menjadi pribadi muslim yang tangguh dan berpengaruh.

Beliau duduk di depan dan di-panel bersama Mas Udin. Bu Roro bercerita tentang bagaimana dahulu ia aktif di BEM di bagian Siasyah, dimana beliau masih belum mengenakan hijab. Beliau mengingatkan kami kembali atas program awal perkuliahan kami yang dulu kami namakan “mentoring”. Beliau dan teman-teman se kosannya selalu bersembunyi ketika murabbi mereka datang ke kosan untuk mengajak mengaji. Karena mindset saat itu adalah kegiatan itu menyeramkan, membosankan, sama sekali tidak ada unsur fun.
Hingga suatu saat beliau mengikuti kembali liqo pekanan—mentoring, sang murabbi beliau saat itu bercerita tentang pejuang-pejuang islam di masa lampau, tentang kontribusi mereka, tentang bagaimana hebatnya mereka membela islam. Karena serunya murabbi beliau bercerita, beliau jadi semakin bersemangat untuk mengikuti liqo pekanan tiap minggunya, tidak sabar mendengar kembali sahabat mana yang luar biasa itu, tokoh mana yang membela agama Allah itu ,dan musuh Allah mana lagi yang perlu dikalahkan. Hal itu berturut-turut mengantarkan Bu Roro berkontribusi di jalan dakwah,hingga Allah memberikan amanah kepada beliau di posisi sekarang.

Ada penyampaian yang serupa antara Bu Roro dengan Mas Udin jika kita jeli mendengarkan. Tentang nilai-nilai dakwah, tentang peranan dakwah kita di perkantoran dan lingkungan, dan tentang bagaimana tarbiyah dapat menjaga kita dan membuat kita berkontribusi di jalan dakwah.

Mengapa tarbiyah? Karena dengan tarbiyah kita memiliki keluarga baru, dimana kita akan saling men-support satu dengan lainnya, ibarat bangungan yang saling mengokokohkan. Bersama-sama kita akan saling mengingatkan untuk tetap menjaga ruhiyah kita, menjaga kita tetap lurus di tengah lingkungan yang buruk, dan menyemangati kita untuk berdakwah demi tegaknya kalimat tauhid.

Bismillah!

“Sesungguhnya, Perumpamaan Teman yang Baik dan Teman yang Buruk, adalah Seperti Penjual Minyak Wangi dan Tukang Pandai Besi. Seorang Penjual Minyak Wangi akan memberi kamu Minyak, atau kamu Membelinya, atau kamu mendapati Bau yang Harum darinya.

Sedangkan Pandai Besi, maka bisa jadi akan Membakar bajumu dan bisa pula engkau mendapati darinya Bau yang Busuk”.

(HR. Muttafaq ‘Alaih).

Yuk bergabung di lingkaran pekanan kami. :)

***

Waktu sudah semakin malam kawan, setelah sesi panel Bu Roro dengan Mas Udin, acara malam ini adalah istirahat, namun istirahat malam ini tidak terlelap di cottage, melainkan di hutan.

“malam ini kita tidak akan tidur di camp, kita semua akan tidur di luar” kata Mas Luqman.

Kami diberikan waktu untuk mempersiapkan diri. Beberapa dari kami membawa selimut, jaket tebal, kaos kaki, dan sebagainya. Pihak selaras pun memberikan kami perlengkapan berupa alas untuk kami tidur di hutan nanti, jas hujan (ponco) untuk kami jadikan bivak, tali rafia untuk membuat bivak, lotion anti nyamuk, garam untuk kami taburkan agar serangga dan sejenisnya tidak mengganggu saat kami terlelap, wafer dan permen untuk camilan, amplop dan form yang berisi tentang aktualisasi diri untuk kami tuliskan nanti di hutan sebelum kami terlelap, alat tulis, dan lilin  untuk menerangi kami saat menulis.

Kami tidak diperkenankan untuk berbicara satu dengan yang lain. Begitu sunyi malam itu. Kami digiring oleh tim selaras, masuk ke hutan yang berjarak 300 meter dari tanah kami berpijak. Sesampainya disana, hanya lampu senter seadanya dari tim selaras yang memandu kami. Beberapa dari kami tergelincir karena  salah meletakkan kaki dalam berpijak.

Kami ditempatkan dan disebar di tempat yang telah ditentukan. Semua tempat berdekatan dengan pohon-pohon untuk memudahkan kami membuat bivak. Ada yang beruntung, ada yang tidak. Ada yang mendapati tanahnya landai, tidak ada rumput dan semak, dan dekat dengan pohon kecil, sehingga mudah baginya untuk meletakkan alas. Ada juga yang berada tepat di bawah pohon kelapa, yang alhamdulillah pohon tersebut tidak menjatuhkan kelapa saat malam Solo Camp tersebut. Ada juga yang berada di tempat yang agak miring, berada di ujung dari rombongan, penuh semak dan rumput-rumput, sulit baginya untuk membuat bivak, sedang ia tidak terpikir untuk membawa selimut sebagai penghangat, sehingga malamnya lebih sedikit waktu untuk terlelap.

Karena saya berada di sisi ikhwan, banyak hal kocak terjadi. Saya bersebelahan dengan Pak Nardi—Marbot Masjid As-salam GrhaXL. Beliau membawa spanduk leadership camp untuk dilipat dua dan dijadikan alas sebelum alas sebenarnya dihamparkan. Jadilah beliau memiliki tempat yang lebih lega untuk tidur. *curang bet*

Para ikhwan sepertinya tidak ambil pusing dengan bivak, beberapa dari kami bahkan tidak mengeluarkan ponco dari kantungnya. Beratapkan langit. Kami menyalakan lilin di samping kami dan mulai mengeluarkan amplop dan mengisi lembar aktualisasi diri. Tentang bagaimana pandangan kami tentang kami di 5 tahun mendatang. Tentang bagaimana kesehatan kami, kontribusi terhadap agama kami, keluarga kami, dan karir kami. Di lembar terakhir adalah lembar curhat sebetulnya, dimana kami dapat mencurahkan harapan-harapan kami disana.

Setelah selesai menuliskannya dan memasukkannya ke amplop, kami pun terlelap. Tidak semuanya langsung terlelap, kawan. Ternyata ada yang masih membuka mushaf dan membaca qur’an sebelum ia terlelap, disaat matanya masih bisa dikuatakan untuk terjaga demi membaca kalam Illah.

Setelah itu, saking lelahnya, bahkan diantara kami ada yang keras sekali mendengkurnya, kumbang kelapa pun kalah desing sayapnya.

Menjelang subuh, kami dibangunkan. Mulailah kami membereskan bivak, alas, dan memasukkan seluruhnya ke kantung plastik. Ternyata lelap juga tidur kami, tidak mempedulikan dimana kami tidur, dan bagaimana kacaunya posisi kami saat bangun. Kami digiring oleh tim Selaras dengan lampu senter seadanya, sekenanya. Mata pun masih berkunang-kunang dan belum siap untuk berjalan dan berjalan gontai melewati pohon-pohon dan rumput yang cukup tingi dan bebatuan dan tanah yang licin. Kami pun kembali ke camp dengan agak sempoyongan.

Kami meletakkan jas hujan (ponco) dan sebagainya di aula dan mempersiapkan diri untuk sholat subuh berjamaah. Setelah membersihkan dan merapikan diri, beberapa dari kami melanjutkan rehat kembali di camp masing-masing, di kasur yang empuk, dan yang lain masih bersemangat berbincang dan sharing tentang banyak hal.

***

Pukul 8 hingga 9 kami berkumpul kembali di aula untuk sarapan pagi. Wajah-wajahnya sudah mulai berseri setelah balas dendam semalam tidur di hutan, yang akhirnya menambahkan waktu tidur di pagi hari. Beberapa peserta yang lainnya begitu seru bercerita tentang bagaimana lucunya pengalamannya tidur di hutan tersebut. Btw yang ngambek juga ada. :p

ciee ngambek. Tapi seru kaaan pengalamannya. Iya kaan? Akuilah. :p

Setelah makan siang, kami membersihkan segala perlengkapan kami, pakaian kotor, alat-alat mandi, gadget dengan segala kabel dan powerbank yang berada di sekitarnya yang berada di cottage dan di pack kembali ke tas bawaan kami dan di drop di aula untuk kemudian dimasukkan kembali ke mobil-mobil yang telah siap untuk pulang.

Terimakasih bapak-bapak driver, yang sudah standby sejak malam kemarin untuk menjemput kami.

 

Pukul 9, kami, panitia dan tim selaras menutup acara, dengan harapan agar acara ini bukanlah akhir, namun awal dari sebuah pengembangan leader-leader muslim muda yang berprestasi.

Pukul 10, kami sudah siap masuk ke mobil masing-masing. Dengan doa “bismillahi tawakkaltu alallah”, kami kembali menuju Jakarta.

***

Ikhwah Fillah, terimakasih atas partisipasi kalian di acara Leadership Camp 2014 ini. Begitu indah ukhuwah yang terjalin di 2 hari 2 malam yang kita jalani. Begitu banyak ilmu dan pesan yang dapat kita ambil untuk dijadikan bekal kehidupan. Begitu banyak kesempatan untuk kita membangun diri untuk menjadi yang lebih baik di lingkaran tarbiyah yang akan selalu menjadi keluarga kita dan mengokohkan kita untuk senantiasa berjuang di jalan dakwah di dunia yang remeh temeh ini.

Akhir kata, saya pribadi menghaturkan mohon maaf sebesar besarnya seluas-luasnya atas segala hal yang tidak berkenan selama acara. Semoga evaluasi yang diberikan menjadi koreksi bagi kami untuk menyelenggarakan acara kedepan dengan jauh lebih baik.

Allahu Akbar!

_MG_5539

Special thanks to Mas Kuru, Kang Djati, Cang Irvan, Mas Fery Firman, Mas Hamzah, Kang Takim, Mbak Roro, dan petinggi-petinggi MTXL yang kami hormati yang menjadi pembina kami,

Pak Nardi, Kang Royan marbot hebat yang mensupport kami,

Mbak Jojo, Mbak Tita, Teh Inna yang udah bantuin pra acara, yang udah mau direpotin untuk ngurusin konsumsi, ngurusin peserta akhwat. Sama Mbak Fitri, bendahara MTXL terbaik, yang . . . . dengan ikhlas atau dengan terpaksa mengeluarkan dana. :D

 Mas Fahni yang udah support untuk pendanaan ,
Dedi & Adam yang bantuin transportasi dan pra-acara,
Mas Vibi, Mbak Sari yang udah bantuin bikin publikasi

buat Mas Adit, thanks for being me in everything, MasBro. Jewer ane ya kalo’ bandel.

At last, thanks for your participation, Guys! See you on the top!

Bagaimana kabarnya hari ini?
Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar!!!

-syarif-
saungkertas


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">