bapak, apa yang kau sembunyikan?


“aku tulis atas nama kangen keluarga di rumah”

-syarif-

Malam itu, aku masih berpikir, aku membolak-balikkan bantal dan masih menatap langit yang cerah malam itu. Jendela kamar masih kubuka lebar –lebar karena malam ini terasa panas. Angin sepoi sesekali masuk melalui jendela dan menyibakkan selambu di kanan kiri jendela kamarku.

Hari ini adalah hari ketiga aku di rumah dan hari terakhir aku di rumah. Besok pagi-pagi benar aku harus ke Juanda untuk  ke Malaysia, dan sekarang aku bahkan tidak bisa tidur. Pikiranku mulai liar ditemani dengan dadaku yang bergemuruh teringat akan kejadian tiga hari lalu.

***

Tiga hari lalu aku baru datang dari Jogjakarta, aku menempuh sekolah SMP dan SMA disana. Saat SMP, aku,bapak, dan ibu tinggal di rumah sewaan di Jogja. Saat itu ibu masih berprofesi sebagai penjaga toko di pasar Beringharjo. Sedangkan bapak…ah, bapak hanyalah penulis lepas. Beliau menulis kolom di beberapa koran di Jogja. Beliau mendapatkan upah ketika tulisannya dimuat.

Saat SMP aku hidup seperti anak sebayaku yang lainnya, menghabiskan waktu untuk belajar, berkumpul, kecuali ke warnet. Aku hampir selalu menolak jika diajak ke warnet, bukan karena apa, tapi karena aku selalu diajarkan untuk tidak menghamburkan uang demi hanya untuk satu dua jam berdiam di depan komputer dan memainkan game online yang tidak memberi guna. Itu kata ibuku yang masih selalu ada di kepalaku. Tak berani aku membantah ibu, terakhir aku membantahnya untuk tidak ikut pendakian ke Semeru. Ibuku tak mengijinkan, tapi aku tetap bersikeras, dan alhasil, baru 300 meter keluar alias kabur dari rumah, aku ditabrak pengendara mobil yang mabuk dan harus dirawat 18 hari di klinik. Ketika aku selesai dirawat di klinik, aku sadar bahwa motor bapakku dan tv di rumah sudah tidak ada. Ibukku bilang bahwa tv dan motor bapakku dipinjam oleh temennya bapak. Tapi lambat laun aku tahu bahwa tv dan motor itu digadaikan untuk pengobatanku di klinik selama 18 hari itu. Semenjak saat itu, aku selalu menuruti apa kata ibukku. Beliau tak pernah marah, mungkin itulah yang membuat aku selalu merasa bersalah ketika membangkang.

Ketika pelulusan SMP, ibu dan bapak harus berpikir lagi, uang mana yang bisa diputar untuk membayar biaya gedung ketika masuk SMA nanti. DANEM ku termasuk baik dan bisa masuk ke SMA favorit di Jogja. Bersamaan dengan itu, ada berita baik dari keluargaku, bahwa bapak diterima menjadi wartawan tetap di suatu media di Surabaya. Berangkat dari itu, aku dengan ke-ego-an ku saat itu, memilih untuk tetap tinggal di Jogja. Aku akan ngekos dan mencari sedikit penghasilan untuk bayar kos-kosan. Bapak dan Ibuk gak bisa menahanku, mereka pun hijrah dari Jogja ke Surabaya dan ngontrak disana. Sedangkan aku memperoleh kosan yang murah di belakang kontrakan kami dulu. Aku memperoleh kerjaan untuk menjaga warnet di malam hari sampai pagi hari. Keuntungannya, aku bisa mengerjakan PR di warnet dan mengambil literatur untuk bahan makalah tugas dari sekolah. Beruntung sekali aku mendapatkan pekerjaan itu. Yah, meskipun bayarannya hanya cukup untuk bayar kos-kosan bulan itu.

Aku sesekali ke Surabaya, ketika hari libur tiba. Setidaknya aku tinggal 3 hari hingga 1 minggu di rumah kontrakan Surabaya. Sekarang ibu menjadi kasir di suatu rumah makan sederhana yang jaraknya satu kilo dari rumah. Kalau bapak, hmmm….di Surabaya, aku jarang bertemu dengannya. Dia berada di rumah pada waktu tak tentu, kadang pagi dia masih tidur di rumah, kadang malam disempatkannya makan malam di rumah, kadang tidak di rumah sama sekali.

Alhamdulilah ketika aku kesana, rumah sewaan kami terasa lebih bagus daripada yang di Jogja, aku pun mendapati ada televisi dan motor Supra X di rumah. Aku tersenyum ketika menyadari keadaan ekonomi keluarga kami membaik. Bapak masih sama, masih jarang bicara denganku. Adapun pesan yang biasa disampaikan bapak kepadaku, itu hampir pasti melalui ibuk. Suatu kali kami makan bersama sekeluarga di rumah Surabaya, seperti biasa, cuman ibuk yang bertanya, “Nak, gimana sekolah ndek sana? Kerasan ndak?” sedangkan Bapak hanya makan, sesekali melihatku dan ibu dan melepaskan senyum di wajahnya yang lusuh dan kantung matanya yang menghitam. Setelah makan, bapak pamit duluan, kemudian mencium kening ibu, dan mengelus kepalaku seakan aku masih bocah SD.

“Bapak jarang pulang ya, Bu?” tanyaku sambil membantu ibu beres-beres rumah minggu pagi, ibuk kebagian shift sore, sehingga masih bisa beres-beres rumah minggu pagi. “Hmm, iya Nak, semenjak bapakmu jadi wartawan, ada aja kesibukannya. Ibuk kasian sama bapakmu.” Kata ibuk sambil nyapu kolong meja.  “Emm, Bapak ndak pernah cerita apa-apa tentang kerjaannya dia jadi wartawan?” tanyaku sambil menata sofa di ruang tengah. “Ya cerita, kerja’annya ya jadi kuli berita, ngeliput berita, ketemu orang penting sampe’ narapidana, wawancara, sampe’ kadang gak tidur karena deadline berita. Hmm, namanya wartawan ya gitu itu, Nak…”kata ibu sambil menghela nafas. “Oh,” kataku sambil melihat ibu yang masih nyapu.

***

Waktu cepat berlalu, saat itu aku sudah masuk ke kelas 3 SMA. Aku sekarang fokus untuk lulus dan mendapatkan perguruan tinggi. Ya, aku ingin masuk perguruan tinggi, kalau bisa beasiswa. Sudah satu tahun aku tidak lagi menjaga warnet, karena bapak mengirim uang yang berlebih dan bahkan bisa aku gunakan untuk nabung. Alhamdulillah. Ibuk masih sering nelpon untuk tanya bagaimana kabarku dan kabar sekolah, dan akhir-akhir ini ibuk bilang kalau beliau pindah posisi di bagian pembukuan restoran.

Tiga bulan sebelum Ujian Nasional, aku memasukkan lamaran beasiswa ke Universitas Kebangsaan Malaysia, aku hanya mencoba saja memasukkan kesana, tidak ada harapan untuk benar-benar kuliah disana. PMDK juga aku ikuti, diantaranya PMDK Teknik Elektro Universitas Brawijaya Malang dan Teknik Perkapalan ITS Surabaya. Aku menaruh harapan untuk yang ITS, karena aku bisa hidup bersama orang tuaku lagi dan tanpa mengeluarkan biaya untuk ngekos.

Dengan doa orang tuaku, akhirnya UAN berjalan dengan lancar dan sekolah kami dinyatakan lulus 100%. Bukan main senangnya aku waktu itu. Namun dibalik kesenangan, ada suatu perasaan keraguan dimana mulai sekarang aku harus menentukan langkah mau kemana. Bahkan PMDK untuk kedua jurusan yang aku lamar kandas sudah. Nilai kumulatif kelas 2 SMA ku masih terlalu buruk untuk lolos PMDK, aku juga tak punya keterampilan apapun dan prestasi apapun. Aku makin ragu mau kuliah dimaana. Aku bahkan belum jelas apa passionku, apa jurusan yang harus aku ambil di universitas nanti, lalu bagaimana jika aku tidak masuk univ negeri, lalu bagaimana orang tuaku harus membayar uang gedung dan perkuliahanku. Kata-kata itu selalu ada di pikiranku waktu itu, kata-kata itu seperti memiliki jadwal sendiri untuk keluar di kepalaku, seperti iklan di tv. Berulang kali bapak menyampaikan kepadaku, tentunya melalui perantara ibuk, bahwa aku tak perlu khawatir tentang biaya kuliah, tapi tetap saja aku masih memikirkannya.

***

Tiga minggu, tepat tiga minggu semenjak pengumuman kelulusan, ada surat datang dari Pak Pos ke kosanku. Aku tak pernah menerima surat sebelumya. Setelah menandatangani tanda terima, Pak Pos pun mengucapkan terimakasih dan langsung pergi untuk mengantar surat yang lainnya. Aku lihat surat yang ada di genggamanku itu, sontak tanganku bergetar, ketika aku lihat amplop putih itu terdapat tulisan “For: Anggara Hidayat Kurniawan.” “From: UniversityKebangsaan Malaysia”.

Langsung aku terduduk di pintu kosan, aku buka amplop itu dengan menyobek pinggiran amplopnya. Aku baca isi suratnya yang isinya berlembar lembar itu. “Dear Anggara Hidayat Kurniawan, Congratulation, you’ve chosen to get a full scholarship from UKM…” aku hanya membaca baris atas dari surat itu dan.. “ALLAHUAKBAR.” Aku langsung sujud syukur di depan pintu dengan menghadap kiblat dengan penuh khusyuk, sampai aku lupa bahwa aku masih menggunakan celana pendek.

***

Aku langsung berlari ke wartel terdekat. Berita ini langsung membuat ibuku mengucap tasbih dan takbir berkali kali di telepon. Sesekali beliau terisak dan mengucapkan selamat kepadaku, berkali kali, aku ulangi , berkali kali. Untuk kali ini, aku memberanikan diri untuk menelpon cubicle bapak di kantor. Aku harap beliau sedang ada di kantor mengetik berita. “Halo,” tak kusangka telpon itu segera diangkat. Suara berat disana sangat aku kenal, terbersit kerinduan mendalam mendengar suara ini, suara yang jarang aku dengar meski aku bertemu dengan beliau. “Pak, ini Anggara.” Kataku pelan. “OH, iya, Ang…ada apa, nak?” tanya bapak dengan suara beratnya. Di belakang suara itu terdengar suatu keributan, sangat ribut, suara orang yang sedang marah-marah, suara orang menggebrak meja, suaru dering telepon yang bersahut-sahutan. Seolah-olah aku menelpon di saat yang tak tepat, atau setiap saat menelpon adalah saat yang tak tepat. “Pak, aku diterima kuliah di Malaysia. Bulan depan berangkat.” Kataku singkat dan lirih. “ALHAMDULILLAH YA RABB…” kata bapakku. Kemudian hening sejenak, hanya terdengar keributan dan keriuhan suara di belakang. “Nak, sempatkan pulang ya, Nak.” Kata bapak setelah agak lama suaranya tidak terdengar. “Iya, Pak.” Kataku yang setelah itu pamit dan mengucap salam.

 

***

 

satu bulan setelahnya aku beranjak menuju Surabaya, malam hari itu aku sampai di Gubeng, Surabaya. Aku cepat cepat menuju rumah dengan naik angkot. Sesampainya di rumah, aku ketuk pintu rumah. Sontak ketika pintu rumah terbuka, ibuku menyambut dengan pelukan segera. “Alhamdulillah nak…alhamdulillah.” itu yang beliau katakan berkali kali kepadaku, sedangkan aku masih di luar pintu dan masih memeluk erat ibuku yang tak kalah eratnya memelukku. Akhirnya ibukku membantuku memasukkan tas ke dalam rumah.

“Bapak mana, Buk?” tanyaku. “Di kantor, Nak…”kata ibuk sambil menyiapkan makanan untukku. “Sini, nak, duduk makan dulu, kamu belum makan malem toh?” kata ibuk sambil mengambilkan nasi hangat untukku.

Aku duduk di meja makan, terlihat olehku tumpukan koran disana. Aku ambil satu dan aku baca sekilas artikel-artikelnya. Sesekali aku lihat redaksi “KUR” yaitu inisial dari bapakku-Kurniawan. Berita yang beliau liput banyak yang bersegmen kriminal dan sosial masyarakat. Pantas saja beliau jarang untuk datang ke rumah, karena setiap hari kriminalitas selalu ada. Aku buka-buka lagi koran lawas yang ada di tumpukan, terlihat ada koran edisi minggu lalu. Ada kolom opini, yaitu tulisan opini masyarakat tentang suatu makna sederhana yang dilontarkan oleh kontributor koran tersebut. Kali ini temanya adalah ‘Keluarga’, “Apa makna keluarga menurutmu?” ditulis sebagai judul di kolom kecil halaman tengah koran itu. Ada banyak tulisan tentang makna keluarga dari masyarakat disana. ‘keluarga adalah tempat kita bertumbuh dan berkembang’ –Sofyan Salim, ‘Keluarga adalah tempat kita belajar pertama kali.’ –Indah Setia, dan banyak lagi. Eh, tapi ada satu nama yang aku kenal disana, ‘Keluarga adalah surga, layaknya surga, dimana harus ditempuh dengan pengorbanan demi suatu kebahagiaan.’ –Kurniawan Syarifuddin- itu bapakku. Beberapa kali kubaca quote itu, lucu juga seorang wartawan masih ikut-ikutan menulis opini di korannya sendiri. Entah kenapa terpikir olehku untuk bertemu dengan bapakku itu.  “Buk, aku mau ke kantor bapak sekarang.” Kataku kepada ibuk yang ada di ruang tengah. “Heh? Kenapa tiba-tiba to, Nak?” tanya ibuku langsung berdiri dan masuk ke ruang makan. “Yo ndak papa, aku gak pernah masuk kantor e, Bapak. Sekalian aku mau ngirim martabak telor. Bapak kan suka martabak telor.” Kataku sambil menyelesaikan makanku. Ibuk menghela napas dan mempersilakan aku untuk pergi ke kantor bapak malam itu.

***

Masih pukul 8 malam, aku membeli satu kotak martabak telor buat bapak di deket rumah. Setelah itu naik angkot sekali dan sampai ke kantor media tempat bapak bekerja. Gedung bapak bekerja lumayan tinggi, sekitar 26 lantai. Aku masuk melewati penjagaan satpam disana. Aku bilang mau mengantar martabak buat Pak Kurniawan di lantai 14. Mereka bilang, masuk saja terus ke lantai 14 dari lift samping lobi utama. Mereka pikir aku orang delivery service yang mengantarkan makanan malam-malam seperti ini. Setelah menyerahkan KTP sebagai jaminan, aku masuk saja ke lobi. Terlihat meski sudah malam, banyak orang berlalu lalang. Beberapa dari mereka membawa kamera SLR, beberapa menggunakan kamera pocket, dan lainnya membawa recorder. Satu kesamaan mereka adalah mereka kucel-kucel, hampir sama dengan kondisi bapakku. Aku masuk ke lift dan menekan angka 14 di sisi panel.

Ketika pintu lift terbuka, pemandangan akan kesibukan kantor media cetak terlihat. Cubicle-cubicle seperti tidak tertata dengan rapi. Komputer-komputer dengan layar tabung ada hampir di setiap cubicle disana. Orang-orang masih memadati lantai itu. Sebagian dari mereka berteriak kepada sebagian yang lain. “Woi, kolom nomer rolas durung mlebu. Ndang deadline iki!” teriak salah seorang kepada orang yang lainnya. Yang lain masih sibuk di depan komputer, ketikan jari mereka begitu cepat dan ketukannya begitu keras sehingga membuat suasana ruangan menjadi cukup berisik. Sekitar ada 20an orang yang mengetik bersamaan saat itu. Di sisi lain, ada yang mondar mandir dari satu cubicle ke cubicle lain. Mereka seolah menjadi koordinasi atas apa yang diketik mereka di cubicle. Sekitar 3 orang yang lain ada di meja yang berbeda, mereka bekerja lebih santai, mengedit foto. Sementara itu, dering telepon selalu terdengar tanpa satu waktu hening.

Aku kesulitan mencari sekretaris lantai ini. Aku bingung kepada siapa aku akan bertanya, karena hampir setiap cubicle bertuliskan, “Lagi nulis, jangan diganggu.” Aku melangkah sedikit maju dari arah pintu lift, memandangi sekeliling. Sesekali orang –orang disana hanya lewat saja di depanku, beberapa kali mereka melewatiku tanpa menghiraukan aku sebagai barang hidup disana. Wajah-wajah mereka begitu serius.

Aku masih mencari dimana cubicle bapakku berada. Aku masih menjinjing martabak telor ini untuk beliau. Aku menyusuri koridor kanan dari lantai itu. Ada suatu ruangan khusus, sepertinya untuk atasan, aku melihat sosok bapakku ada di ruangan itu. Bukan sebagai atasan, tapi masih sebagai wartawan. Bapak duduk di kursi berhadapan dengan laki-laki yang berperawakan agak gemuk, paruh baya, dan berkacamata. Di antara mereka dipisahkan meja kayu besar dan diatasnya ada beberapa lembar kertas. Dari luar sini, tidak terdengar apa yang mereka bicarakan. Hingga akhirnya laki-laki di depan bapakku itu berdiri tiba-tiba dan mengambil lembaran kertas di depan bapakku, menjadikannya satu dan merobeknya di depan bapakku dan melemparkannya ke wajah bapakku. Selanjutnya terlihat laki-laki itu marah-marah, namun tetap saja, suaranya tidak terdengar dari luar. Tanpa kusadari tanganku sudah terkepal saja. Aku tak tahu apa masalahnya. Yang kutahu masalahnya adalah lelaki gemuk paruh baya itu merendahkan bapakku, yang bahkan bapakku tak pernah melakukan tindakan seburuk itu kepadaku. Nafasku menjadi tak teratur, aku berniat untuk masuk ruangan itu sekarang untuk segera memaki lelaki yang entah siapa itu. Berani-beraninya dia melakukan itu kepada bapakku. Aku berjalan perlahan ke samping ruangan itu, disamping ruangan itu, ada satu cubicle tak berpenghuni, hanya ada kursi kosong disana dan banyak pernak-pernik templelan-tempelan di dinding cubiclenya. Aku hanya melihat, hingga akhirnya kuketahui bahwa ada fotoku disana. Ada foto ibuk disana, ada foto keluarga kami disana ketika aku masih SMP. Itu,cubicle bapak. Aku menghentikan langkahku sejenak, dan mendekati cubicle itu. Aku lihat sekeliling dinding cubiclenya, ada belasan foto-foto kecil menghiasi cubicle itu, isinya hanya foto aku dan foto ibuk. Ada beberapa sobekan kertas yang terpajang juga disana, sobekan kertas itu bertuliskan “Anakku lebih berhak sukses daripada aku.” Ditulis dengan spidol merah besar.

Sontak pipiku terasa hangat, ada air mata yang numpang lewat. Seketika aku sudah sesenggukan melihat tulisan itu, melihat foto-foto itu. Aku melihat salah satu foto dimana foto ketika aku masih SD dan ada kedua orang tua ku di kanan dan kiriku.  Ketika itu kami masih di Jogja, ada malioboro di belakangnya sebagai background kami. Aku bahkan sudah lupa kami pernah jalan bersama sekeluarga.

Aku melongok ke ruangan tadi, ternyata bapak sudah berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruangan itu. Sedangkan laki-laki paruh baya itu masih di ruangan itu sambil duduk dan mulai mengetik di komputer layar tabungnya. Ini air mata masih keluar dan aku masih sesenggukan, dan aku tiba-tiba merasa tidak mau menemui bapak dalam kondisi yang seperti ini. Langsung saja aku taruh martabak telor yang masih ada di genggamanku, aku taruh di atas meja kerja bapak, dan aku berlari menuju lift samping sebelum bapakku keluar. Aku melewati orang-orang sibuk yang masih tidak menganggap ada orang asing masuk kantor mereka. Aku mengintip dari sisi lain koridor, bapak melihat mejanya ada sekotak martabak, dan beliau langsung melihat ke sekitar, melongok kanan kiri. Aku segera merapatkan diri ke lift dan seketika lift terbuka aku langsung masuk dan menuju lobi kembali. Seketika lift tertutup, suasana menjadi begitu hening, udara menjadi begitu dingin. Satu-satunya suara disana hanyalah suara sesenggukanku. Aku masih menghapus air mata yang belum mau berhenti ini.

Dalam perjalanan pulang, aku hela napas panjang, terpikir di otakku mengenai bapak.

Pak, sebelumnya kupikir 24 jam yang kau gunakan tiap hari berjalan begitu baik, karena setiap kali aku tanya kabarmu, kau selalu bilang alhamduilllah…

Begitupun ibuk, ketika aku tanya kabar tentangmu, beliau bilang, Alhamdulillah..

Pak, Bu, apa yang kalian coba sembunyikan dari aku?

Aku senang ketika rumah kita sekarang sudah terdapat televisi dan motor untuk bapak pergi ke kantor, bahkan ada kulkas. Aku senang ketika tiap kali aku minta uang untuk praktikum di sekolah, iuran sekolah, bahkan untuk acara hiburan sekolah, kalian selalu memberi. Tapi bagaimana aku bisa tidak tahu kalau semua harus dibayar dengan pengorbanan seperti itu.

***

Malam ini, hari ketiga atau hari terakhir aku di Surabaya. Jendela itu masih terbuka, aku masih belum bisa tertidur, padahal besok pagi harus ke bandara. Ada suara motor dari luar rumah, lalu suara motor itu mati dan berganti dengan suara pagar rumah dibuka, suara ketukan pintu depan, dan suara gesekan pintu terbuka.

Terdengar bapak masuk rumah, suara sepatu dan decitan ban sepeda motornya sudah aku kenal. “Anggara mana, Bu?” tanya bapak kepada ibu. Suara mereka terdengar jelas dari kamar tidurku. “Udah tidur, Pak. Besok pagi kan harus ke bandara.” Kata ibu disertai dengan suara pintu tertutup.

Lalu ada suara langkah mendekat kamarku, aku sontak memejamkan mata dan pura-pura tidur. “Nak..” kata bapak dari luar sambil mengetuk halus pintu kamarku. Aku pura-pura tertidur saja sambil memeluk guling. Terdengar kenop pintu tergeser dan pintu terbuka, cahaya dari ruang tengah masuk ke ruangan tidurku yang gelap.

Bapak perlahan masuk, diam berdiri sejenak seperti melihat aku tidur menghadap dinding. Terasa olehku tiba-tiba kasurku mengendur, bapak duduk di sampingku. Aku memaksa untuk tetap berpura-pura tidur dan memejamkan mata. Dibelainya kepalaku perlahan, sekali, dua kali, hingga tiga kali. Aku masih terpejam dan mencoba tidak melakukan gerakan.

“Nak,bapak kelamaan cari berita di jalan sampe’ ndak tahu kamu udah sebesar ini.” Kata bapakku lirih.

“Nak,…” kata bapak lebih lirik lagi. Seakan suara angin diluar sama lirihnya.

“Kamu baik-baik ya disana. Jadi orang sukses. Jangan jadi kaya bapak.” Kata bapak,

Dibalik itu, perlahan air mata sudah keluar saja dari sela-sela pejaman mataku. Aku menjaga agar tidak sesenggukan.

“Nak, bapak ini bodoh, cuman lulusan pesantren di desa. Tapi impian bapak besar, bikin kamu jadi orang sukses, meski dibayar sedikit tapi alhamdulillah cukup sampe’ kamu selesai SMA.” Kata bapak sambil masih mengelus kepalaku seperti anak TK yang ditimang sebelum tidur.

Hening kemudian, bapak mengecup keningku, kemudian keluar dari kamar dengan sebisa mungkin tidak bersuara. Terdengar kenop pintu bergeser dan pintu tertutup. Kamarku sekarang menjadi gelap kembali.

Sesegera itu pula aku sesenggukan sambil mencengkeram guling lebih kuat.

***

Pagi itu di Juanda International Airport,

Aku salim kepada bapak dan ibu dari luar gate in bandara. Ibuk menciumi pipi kanan dan kiriku. Bapak kembali hanya mengelus kepalaku. Aku sontak melepaskan jinjingan tas di tangan kanan dan kiriku dan memeluk beliau, di pundak beliau aku menangis keras seperti anak kecil yang bertemu orang tuanya setelah hilang di keramaian pasar malam. “Pak, aku pamit.” Kataku sambil sesenggukan. Bapak memelukku dan masih membelai kepalaku. “Iya, nak… baik-baik ya disana.” Cuman itu kata-kata bapak dengan suara parau beliau. Air mataku sudah membasahi punggung kanan bapak.

Aku dengan wajah yang masih bengap karena menangis, masuk gate sambil sesekali menoleh ke belakang. Itu wajah orang tuaku yang mungkin 6,7,8 atau satu tahun lagi baru aku lihat kembali.

Ketika aku masuk gate, aku melihat kembali bapak sudah tertunduk dan ibu mengelus punggung beliau. Beliau ternyata menangis sesenggukan sama sepertiku. Ibu akhirnya menggiring bapak masuk taksi kembali dan tidak kupalingkan mtaku hingga taksi itu melaju meninggalkan bandara.

Pak, Bu, makasih. Aku akan kembali lebih sukses, seperti bapak katakan, seperti bapak tuliskan di cubicle. Pak, bu, aku pergi…sampe’ ketemu lagi … doakan aku cepat kembali.

 

“teruntuk ayah dan calon ayah yang bekerja di pedalaman atau lepas pantai, apresiasiku untuk kalian.”

-syarif-


2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">