Hater


SCENE 1

Terlihat dari kejauhan, seseorang lelaki di dalam kegelapan sedang membuka laptop di cubicle kecil dan mengetik tombol-tombol keyboardnya dengan cepat. Wajahnya tak terlihat jelas, hanya terbias oleh cahaya dari layar. Screen laptopnya sedang memperlihatkan website youtube yang ia buka.

Ia sedang memainkan satu video pendek yang memperlihatkan seseorang sedang berdakwah. Video itu belum selesai terputar. Bahkan belum setengah dari video itu terputar. Ia mengacu pada halaman komentar, terlihat belum ada komentar disana. Mulailah ia membuat komentar. Sayup-sayup suara dari video itu masih jelas terdengar, namun itu bukan menjadi pusat perhatiannya lagi. Sepertinya ia sudah mendapatkan inti dari video itu.

“Jangan sok suci. Urusin diri lo sendiri.”

Enter.

Tidak berapa lama, muncul balasan atas komentar yang ia berikan. Video bahkan belum selesai terputar.
scene-1

Ia tersenyum, dalam kegelapan yang terbias oleh screen laptopnya. Sepertinya ia cukup puas.

Ia tutup channel youtube yang ia buka. Ia biarkan komentarnya yang telah terbalas. Ia tidak peduli. Ia membuka lagi video kedua. Sama—video dakwah juga. Kali ini ia membiarkan sepuluh detik videonya terlintas untuk ia pelajari.

Sepuluh detik telah selesai. Ia berpindah ke kolom komentar.

“Gak usah sok nasehatin, Mas. Kaya dirinya udah bener aja.”

Enter.

scene-1-2

Ini adalah senyumnya yang kedua. Ia cukup puas dengan apa yang telah ia perbuat. Diseruputnya secangkir kopi yang sedari tadi menemaninya di cubicle gelapnya.

 

SCENE 2

Seorang wanita berjilbab berada dalam kamar kosnya. Ia sedang membaca buku-buku motivasi islami. Ada dua buku yang tergeletak di meja belajarnya yang sepertinya telah ia baca. Buku terakhir yang ia genggam adalah tentang hijab. Tentang hijrahnya wanita yang belum berhijab menjadi berhijab dan cerita-cerita menarik dan menginspirasi tentangnya.

Ia menghela napas panjang dan melemaskan persendiannya. Rupanya ia telah lama duduk dan membaca buku-buku tersebut. Ia sudah tidak sabar untuk menyebarkan ke seluruh dunia tentang ide-ide dan kebaikan yang ia dapatkan dari buku-buku yang ia pelajari. Euphoria sudah terlihat jelas di matanya.

Betul saja, tak lama setelah itu ia membuka laptop yang berada di pojok meja belajarnya. Dibukanya browser di desktop laptopnya dan mulai mengetikkan alamat yang ia tuju—yaitu blog nya.

Blog nya masih belum terdapat artikel apapun. Ini adalah kesempatan pertamanya untuk menulis dan menginspirasi orang lain. Di dalam pikirannya, ia sudah tidak sabar untuk mengajak sebanyak-banyaknya wanita muslim untuk menjadi akhwat yang berhijab syar’i dan berperilaku layaknya muslimah sejati.

Tibalah ia di lembar posting. Wajahnya tetiba berubah dari tersenyum menjadi agak kebingungan. Sepuluh jarinya sudah berada di atas keyboard laptopnya. Ia menarik napas panjang lagi, mencoba meyakinkan dirinya untuk memulai menulis postingan pertamanya.

“Yuk Berhijab!” ia menuliskan judul terlebih dahulu.

Tangannya terlihat bergetar setelah itu. Ia tidak tahu bagaimana memulai artikelnya. Sesekali dilihat tumpukan-tumpukan bukunya, mencoba menggali informasi dari apa yang telah ia baca.

Akhirnya ia mencoba mengetik pembuka artikelnya.

scene-2

Hingga lambat laun artikel itu terpenuhi oleh tulisan-tulisannya. Ia bercerita juga tentang pengalaman pertamanya berhijab, bagaimana reaksi keluarga dan sekelilingnya, dan support yang ia dapatkan yang membuat ia makin mantap untuk berhijab. Tak lupa ia selipkan beberapa dalil untuk meyakinkan pembacanya akan pentingnya behijab.

Tangannya bergetak kembali ketika mengarahkan kursornya ke arah “Publish”. Ia menghela napas panjang lagi dan terlihat bibirnya berkata, “Bismillah…” di kliknya kursornya dan ia telah mempublish artikelnya. Terlihat senyum lega dari bibirnya.

Tidak cukup disitu, ia memposting link artikelnya di media sosial—facebook. Tujuannya agar teman-teman dalam feed nya tertarik untuk masuk dan membaca postingan blog pertamanya.  Senyum keduanya merekah. Terbayang olehnya blog nya akan ramai dan dalam harapnya banyaka yang akan terinspirasi dan berhijrah dengan mantap setelah membacanya.

 

SCENE 3

Di sebuah café, seorang laki-laki yang terlihat agak lusuh dan wajah seperti orang yang baru saja bangun tidur terduduk di pojok ruangan. Ia duduk di sofa dimana tidak ada orang yang bersamanya. Pelayan café menghampirinya dan memberikan satu cangkir capuccino panas di meja kayu yang berada di depannya. Sang lelaki itu mengangguk kepada pelayan tersebut. Pelayan pun berlalu.

Lelaki tersebut merogoh kantung celananya, dikeluarkannya smartphonenya dan diletakkan di atas meja—bersandingan dengan kopi yang dipesannya. Diseruputnya kopi itu sambil diambilnya smartphonenya dan dibuka newsfeed yang berada di halaman depan handphonenya.

Wajahnya terlihat santai men-scroll newsfeed. Dibacanya sepintas-sepintas berandanya. Hingga ia berhenti pada suatu artikel “Yuk Berhijab!”. Wajahnya mengernyit, ia penasaran apa isi artikel itu. Di kliknya tautan tersebut hingga layar handphonenya mengarahkannya ke suatu blog baru dimana hanya ada artikel tersebut di dalamnya.

Berbeda dengan apa yang ia lakukan sebelumnya, kali ini ia membaca dengan seksama artikel tersebut. Seesekali dia mengangguk-angguk dan tersenyum tulus ketika membacanya.

Sampai di baris terakhir, ia menuju kolom komentar.

“Artikelnya Bagus! Ijin share ya Mbak!”

scene-3

Ia meletakkan smartphonenya dan mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya sedikit.

Tidak berapa lama, handphonenya bergetar. Dengan santai diambilnya lagi smartphone yang baru saja ia letakkan, dan dilihat ada notifikasi di handphonenya. Notifikasi dari blog yang ia baru saja kunjungi.

Terlihat ada balasan dari komentar yang ia berikan sebelumnya. Sang penulis artikel menyampaikan kesyukurannya karena ia telah berkomentar dan bersedia untuk menyebarkannya.

Tetiba handphone bergetar kembali. Kali ini ada komentar lagi yang menanggapi. Namun kali ini berbeda. Bukan support yang ia dapati—namun hinaan dan cercaan.

scene-3-2

Sang lelaki itu mememandang tajam ke komentar yang menyudutkan itu. Dilihatnya dengan seksama kata demi kata hinaan yang ‘Anonim’ itu berikan kepada postingan blog itu. Lelaki itu menaruh handhpone nya dan membuka tas ransel yang ada di sampingnya.

Ia mengeluarkan laptop dan membukanya di atas mejanya. Terlihat layar hitam dengan huruf-huruf script putih berjalan cepat di laptopnya. Dari jauh, terlihat ia mengetikkan jari-jarinya dengan sangat cepat ke layar hitam itu.

Sekitar lima belas menit ia masih berkutat pada layar hitam itu. Hingga akhirnya jari-jarinya berhenti mengetik, ia membuka lagi smartphone nya, dan membuat komentar baru dengan nama samaran “Hacker”.

scene-3-3

Setelah ia memposting komentar “Mas Anonim, hati-hati Mas kalo komen. Setuju gak setuju, bahasanya yang santun. Saya akan cari Anda”, ia menutup laptopnya dan segera bergegas.

Ia menyelipkan uang 50ribuan di sisi cangkir cappucinonya yang baru setengah ia minum dan melenggang pergi dengan membawa ranselnya.

 

SCENE 4

Akhwat berjilbab sang penulis artikel tersebut masih berada di meja belajarnya. Bibirnya bergetar, tangannya pun ikut bergetar. Ia sedang membaca hinaan dari ‘Anonim’ di dalam kolom komentarnya.

Ia pun menangis. Tak kuat ia mendapati hinaan dari dakwah tulus yang ia sampaikan. Betapa ada orang yang sebegitu bencinya kepada dakwah dan terlebih lagi terhadap tulisan perdananya. Akhwat itu pun mengusap air matanya dan menutup layar laptopnya. Ia menyungkurkan kepalanya di atas dua lengannya. Ia masih menangis sesenggukan.

 

SCENE 5

Terlihat dalam kegelapan, seorang yang sama yang mengirimkan komentar-komentar buruk ke setiap video dan artikel dakwah yang ia temui. Layar laptopnya masih mengacu kepada satu halaman artikel “Yuk berhijab!”

Ia melihat tajam kepada satu komentar terakhir yang dilayangkan untuknya.

scene-5

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tertawa. Ia menutup laptopnya dan pergi dari cubicle gelapnya sambil membawa laptopnya.

Ia melangkah keluar dari gedung. Ia tetap melangkah dan kemudian masuk ke dalam keramaian kantin. Ia duduk di salah satu meja yang kosong dan memesan makanan.

Dibukanya lagi laptop yang ia bawa sedari tadi. Screen masih mengacu pada satu komentar terakhir yang cukup mengusiknya. Komentar yang seolah-olah menantangnya.

 

Ia tersenyum lagi dengan lebih lebar dan kemudian menutup laptopnya. Ia menghampiri warung untuk mengambil pesanannya. Ditinggalkannya laptop di atas meja kosong tadi.

Setibanya ia kembali sambil membawa makanan dari warung yang ia pesan tadi, ia mendapati ada secarik kertas di atas laptopnya. Sambil mendekat ke meja dan menaruh makanannya, ia duduk dan mengambil secarik kertas yang berada di atas laptopnya yang tertutup.

“Tapi Allah Maha Tahu, Mas Anonim”

-hacker-

 

Terlihat laki-laki dengan wajah lusuh berjalan keluar dari kantin dengan sangat santai sambil tersenyum kecil.

Sang anonim kebingungan. Tangannya masih menggenggam secarik kertas itu dan ia melongok ke segala penjuru kantin.

 

SCENE 6 (Additional Punch & Ending)

Sang Akhwat yang masih terlihat di meja belajarnya. namun kali ini ia telah menghapus air matanya. Kali ini ia sedang membuka artikel-artikel dari blog-blog lain dan membaca komentar-komentarnya. Tidak jarang ia menemui haters yang senang mencela artikel dan media dakwah lain. Namun ia melihat bahwa sang penulis-penulis itu mempunyai kemampuan untuk tetap teguh dalam dakwahnya dan tidak merasa gagal ketika orang lain mencercanya.

Lillah–karena tujuannya adalah karena Allah, bukan karena ingin mendapat pujian dan menghindari cercaan.

Sang Akhwat menghela napas panjang, dan memberanikan diri kembali melihat komentar dari artikel perdana yang ia buat.

Diluar ekspektasi, ternyata ia melihat artikelnya mendapatkan respon baik dari teman-temannya. Segala bentuk support datang memenuhi kolom komentarnya.

 “Bikin artikel lagi dong Mbak! Ini bagus.”

“Sangat menginspirasi. InsyaaAllah besok saya siap mengenakan hijab ke kantor.”

“Alhamdulillah, saya jadi lebih mantab berhijab. Makasih Mbak.”

“Mbak ijin share ya! Semoga jadi pintu hidayah teman-teman yang belum berhijab”

-dsb nya.

Sang anonim juga telah menghapus postingan komentar buruknya, sehingga tidak lagi tampil di beranda artikel.

Sang Akhwat merasa bersemangat kembali dan mulai menulis satu artikel baru:

 

scene-6


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">