Perbincangan Singkat dengan Ibu Dosen


Hari ini aku menyempatkan diri untuk berada seharian di bandung. Ada suatu urusan akademik yang aku harus selesaikan hari ini. Alhamdulillah masih ada sahabat-sahabatku yang mau ditumpangi kosanku barang satu malam. Berkah silaturahmi. Alhamdulillah.

Udara bangun yang segar selalu membuatku rindu akan tempat ini. Wisata kuiner dan wisata alamnya selalu mengesankan dan tak terlupakan. Belum lagi distro dan industri kreatif lainnya. Ah, Bandung—you really know how to please me. Bandung, dan setiap sudutnya adalah seperti sebuah peta kenangan masa kuliah dulu. I miss this town so bad.

Pagi tadi tampak kampus begitu sepi. Hanya menemui beberapa adik-adik kelas yang masih “betah” ngampus. Baru aku sadar bahwa hari ini adalah jadwal UTS.  “Pantas saja,” pikirku. Aku menyempatkan diri masuk ke ruangan dosen. Hanya sekedar mampir untuk bercengkrama dengan dosen wali dan dosen-dosen yang lain jika ada.

Saat masuk, ternyata dosen wali, dosen pembimbing, dan bahkan penguji tugas akhirku juga tidak ada. Yang ada di ruangan itu adalah ibu dosen Sistem Operasi. Aku tidak begitu akrab dengan beliau. Aku pun agak lupa nama beliau pada awalnya.

Dimulai dengan sapaan, aku mulai terlibat obrolan dengan ibu dosen ini. Aku tahu bahwa beliau ini adalah salah satu ikhwah di kampus. Beliau adalah murabbiyah dari akhwat-akhwat kampus. Low profile. Tidak begitu terlihat, namun memiliki wawasan yang sangat luas. Beliau dulu mengajar mata kuliah yang terus terang aku kesulitan untuk mengikutinya. Sehingga, kadang aku numpang tidur di kelas ketika beliau menjelaskan. Beliau juga pastinya memiliki wawasan yang luas juga tentang islam dan perkembangan dakwah. masyaAllah. Aku terlibat banyak sekali obrolan dengan beliau. Tentang dakwah kampus, karir, politik, hingga tentang pernikahan. #uhuk

Aku paparkan kepada beliau tentang realita dakwah di lapangan. Aku ceritakan bahwa  kami sedang membutuhkan murabbiyah yang mumpuni untuk membina akhwat-akhwat yang ingin bergabung. Beliau juga terlihat senang ketika aku bilang bahwa tarbiyah ditempat yang aku naungi sekarang mendapatkan respon yang baik. Aku ceritakan pula bagaimana lingkaran ini sedang diperbesar dan diperkuat.

Selebihnya, kami terlibat obrolan tentang pernikahan. Yah, apalagi yang dibicarakan selain bab ini. Ketika kuliah telah selesai, pekerjaan dan pendapatan tetap telah didapat, lalu pernikahan ini adalah milestone selanjutnya. Bukankah begitu mindset para orang tua?

Karena dosen-dosen yang lain belum pada datang, maka aku melanjutkan untuk berdiskusi dengan Bu Dosen ini. Kali ini tentang Akhwat. Tentang apapun yang meliputi mereka.

Akhwat itu hebat. Sungguh hebat. Dalam banyak kajian, seminar, bahkan kegiatan sosial, jumlah mereka jauh lebih banyak dibanding ikhwan. Bahkan seminar kepemimpinan tempo hari yang aku datangi, peserta akhwat dua kali lipat dari peserta ikhwan. Padahal fitrahnya, ikhwan adalah pemimpin akhwat. Yang membutuhkan seminar ini layaknya adalah ikhwannya. Hingga di hati ada pertanyaan, “kemana kalian yaa ikhwan?”

Beliau mengakui bahwa akhwat itu cenderung menggunakan perasaannya. Hal ini kemudian yang menjadikan beliau berpendapat bahwa pada suatu proses ta’aruf sebaiknya ada perbedaan waktu dalam penukaran proposal nikah antara ikhwan dan akhwat.

Beliau berpendapat, sebaiknya ikhwan diberikan proposal nikah terlebih dahulu dibandingkan dengan akhwat. Jika ikhwan sudah mantap akan proposal akhwat yang diberikan, maka proposal ikhwan itulah yang akan diberikan kepada si akhwat. Lalu si akhwat kemudian bisa menentukan mau melanjutkan atau tidak. Dengan demikian, maka sudah ada kemantapan dari si ikhwan, barulah diberikan kepada si akhwat.

Jika ditukar dengan waktu bersamaan, ada ketakutan bahwa akhwat sudah suka dan mantap dengan profil si ikhwan dan yakin bahwa ikhwan ini akan menjadi pendampingnya, namun ketika ternyata si ikhwan tidak bersedia, maka sang akhwat bisa tersakiti hatinya.

Mengapa demikian? Karena berbeda antara perbedaan pandangan ikhwan dan akhwat. Bagi kami, para ikhwan, kami tidak menggunakan hati lebih besar daripada pikiran. Mudah bagi kami untuk mulai melihat ke depan (move on). Ketika memang tidak mendapatkannya, maka kami bisa mulai mencari yang lain dengan tanpa melibatkan perasaan sakit hati. Sedikit, bahkan tak ada dari bagian hati kami yang sulit untuk disembuhkan dalam proses penolakan itu.

Sedangkan tidak demikian bagi akhwat. Dia dibuat dari tulang rusuk yang bengkok, bukan tulang kering yang keras dan kaku. Bagi akhwat, susah baginya untuk kembali membuka hati dari seseorang yang dia rasa sudah masuk ke dalam hatinya—bahkan yang telah menyakitinya sekalipun.

Itulah mengapa seorang akhwat bisa mati-matian untuk sekedar kembali membuka hati setelah mem-blacklist semua lelaki sama karena dikecewakan oleh perlakuan seseorang di masa lampau. Bagaimana sedikit perlakuan lelaki tersebut bisa merubah moodnya dalam 24 jam kedepan.

la_tahzan

Bu Dosen ini juga bercerita padaku tentang adanya akhwat yang akhirnya menerima pinangan dari lelaki dari luar tarbiyah. Ada juga yang lain dari itu yang tak jemu menunggu. Ada juga yang masih terjebak masa lalu.

“Padahal akhwat itu kriterianya gak macem-macem lho. Paling harus sholeh. Udah. Sedangkan ikhwan itu kriterianya banyak banget. Harus tinggi badan sekian lah, berat badan sekian lah, ini lah itu lah.” Bu Dosen ini menjelaskan.

Dan yak, aku terdiam beberapa saat. #makjleb #nocomment #cumanbisaistighfar.

Aku pribadi baru terbuka pemahamannya akhir-akhir ini, setelah 6 tahun bersama tarbiyah. Hingga aku mengerti mengapa penting mencari pendamping dengan lingkaran yang sama, yang visi misinya sama, dengan proses yang ma’ruf, yang telah terdidik agama dengan baik.

Dear ikhwan,

dimana kalian?

Bidadari-bidadari surga disini begitu banyak. Mereka memiliki kompetisi yang baik untuk dunia dan berkontribusi untuk akhiratnya. Mungkin pakaian mereka yang syar’i tidak menarikmu. Mungkin perangai pemalu mereka tidak cukup meyakinkanmu. Namun, merekalah adalah mutiara-mutiara yang tersimpan.

Sebaik-baiknya perhiasan adalah istri sholehah, Akhi.

Seseorang diantara kalian yang aku tahu dengan pasti sedang mencari calon istri yang baik, cobalah melirik mereka yang  ada di lingkaran ini. Disini mujahidah-mujahidah muda sudah siap untuk menikah. Hanya menanti keberanianmu dan tekadmu saja, Akhi.

 

Dear Akhwat,

Maafkan kami. Yang membuat kriteria terlalu tinggi untuk calon istri. Yang lebih memilih wanita modis daripada akhwat dengan hijab syar’i. Masih ada kecenderungan dunia di mata kami. Kami masih cenderung tergoda oleh tipuan mata dan mengabaikan ilmu agama.

Kami memang tak sempurna. Tapi jika diantara kami ada yang berani menginjakkan kaki ke ruang tamu rumahmu, kami pastikan dia adalah seorang pemberani diantara kami. Tolaklah, atau terimalah. Jika kau terima maka kami akan mengazamkan diri kami untuk menjadi imam bagimu. Jika kau tolak, tenang saja, hati kami insyaAllah akan pulih esok hari.

 

“Disegerakan, Rif” kata beliau sambil tersenyum

“Iya, Bu. InsyaAllah.”

 

 

Wallahu a’lam bisshowab.

Tulisan ini hanya goresan dari sang fakir ilmu yang secara lancang berkata-kata.

 

-srf-

*ditulis di perjalanan dari bandung menuju jakarta

 


One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">