temukan aku di istikharahmu


#inspired by Kajian Kamis Siang oleh habiburrahman el shirazy di GrahaXL

Masih begitu pagi di pantai Aegean, Turki. Pasir-pasir seakan berbisik kepada tepian laut yang membawa mereka, angin pagi menyibakkan batang batang pohon palem di sekitarnya. Udara pagi ini begitu hangat ketika sinar mentari mulai mengintip dari horizon laut. Terduduk disana seorang perempuan berhijab duduk di tepian pantai beralaskan batu pipih. Kakinya terbalut kain panjang yang menjuntai ujungnya sehingga diterpa air laut sesekali. Perempuan itu masih menatap ujung laut itu dengan menyipitkan mata, mencoba menolok matahari disana. Matahari, janganlah kau tampakkan dulu dirimu, biarkan diriku dalam sendiriku ini. Sesekali dia tersenyum, menggigit-gigit manis bibirnya, dan menyeka air matanya dengan telapaknya. Sementara itu air laut masih membilas kakinya yang terbalut kain panjang.

Dia terlempar ke mesin waktu dimana ia dulu berada. Hangatnya mentari pagi ini, sendunya ombak kecil dan desiran pasir ini membawanya cukup jauh, jauh, jauh.

***

Suatu sore, di suatu sekolah tingkat atas. Matahari sedang teriknya di atas atap gedung. Terlihat sibuk dan berlalu lalang anak-anak sekolah disana. Sekarang waktu jam pulang, tentu saja. Beberapa dari mereka sedang berlari-lari menuju lahan parkir, mengambil motor kemudian pulang. Beberapa masih di kantin, berdiskusi, bercanda tawa, atau memadu kasih. Lapangan pun menjadi ramai siswa yang bermain basket dan futsal.

Sore itu sarah masih di kelas, ia mulai berkemas memasukkan seluruh buku-bukunya ke ranselnya. Hanya ada dia dan teman perempuannya disana. “Sarah, aku boleh pinjem buku catatan?” tukas seorang laki-laki dari balik pintu kepada Sarah yang sedang memasukkan buku-buku literatur ke tasnya.

Laki laki itu bernama Adit, teman Sarah semenjak SMP dan satu komplek. Adit sedari dulu memendam rasa kepada Sarah. Tentu, dia juga mencatat tiap pertemuan, tapi dia meminjam catatan Sarah hanya untuk menunggu waktu untuk mengembalikannya.

Adit berjalan keluar setelah berterimakasih kepada Sarah dan pamit kepada Sarah dan temannya. Dia berjalan menuju musholla sebelum beranjak pulang. Ashar baru saja berkumandang, masih sempat masbuk baginya sebelum membentuk shaf baru di musholla. Setelah ashar, biasanya Adit masih berkumpul dengan teman-temannya di lapangan untuk bermain futsal hingga maghrib dan diusir oleh satpam sekolah. Moment yang ditungguinya adalah melihat Sarah berjalan keluar sekolah. Disaat itu, sebisa mungkin dia mengambil alih bola dan berharap Sarah melihat bagaimana hebatnya dia bermain futsal. Yah, hal ini sudah berlangsung setidaknya dua tahun terakhir dan selama dua tahun pula ia meminjam catatan di jumat sore.

Sore itu di musholla, Adit menambahkan dua rakaat tambahan untuk masbuknya, setelah itu dia bergegas mengambil tasnya dan bersiap bergabung futsal dengan teman-temannya. “Dit!” panggil Bejo, teman sekelas Adit. “Apa Jo?” tanya Adit sambil menoleh ke arah Bejo. “Kowe iso main drum ora?” tanya Bejo, “iso, lumayan, ngopo to, Jo?” tanya Adit penasaran. “Pas acara isra’ mi’raj nanti, sekolah mau bikin acara perpisahan. Nah, dari DKM mau isi nge-band, lagunya sing islami-islami gitu. Nah, mung kurang drummer e thok. Piye? Kowe iso ra?” tanya Bejo. “Hmm, iso sih, pemimpin ‘rombongan’ e sapa?” tanya Adit. “Temenmu sendiri, si Fardhani.” Jawab Bejo singkat.

Sabtu sore, anak-anak yang dipilih untuk mewakili perform DKM di sesi sekolah. Adit sebagai anggota outsource sedang berkumpul di masjid sekolah untuk diskusi. Diskusi dibuka oleh Fardhani. “Jadi gini, Masbro sekalian… acara tinggal satu minggu lagi. InsyaAllah minggu besok kita latihan di studio sebelah,sudah di booking,mohon kerjasamanya biar band kita bisa perform dengan baik. Hitung-hitung jadi amal kalo’ lagu-lagunya menghibur.” Kata Fardhani sambil sesekali tersenyum. Diskusi kemudian dilanjutkan untuk memilih lagu yang akan dibawakan. Atas usulan dari Adit, maka diambillah lagu Gigi-Pintu Sorga dan Ungu- Para PencariMu. Fardhani bertugas pada bass dan vokal, Bejo ditugaskan untuk gitar rythm, Alfian, anak kelas XI IPA2 ditugaskan untuk gitar melodi. “Yawis, jazakallah buat kehadiran teman-teman disini, besok jangan lupa jam 9 ditunggu di studio.” Fardhani menutup diskusinya.

Hari sudah menjelang petang, mereka sholat maghrib terlebih dahulu sebelum pulang. Maghrib ini Fardhani yang menjadi imam, setidaknya dia sudah hafal juz amma dan bacaannya lumayan fasih, sehingga dia yang biasa ‘didorong’ teman-temannya untuk jadi imam.

Fardhani adalah teman dekat Adit mulai SMP, meski mereka jarang satu kelas, mereka sering bermain futsal dan travelling bareng. Fardhani sepintas hanyalah siswa biasa, namun prestasinya begitu baik. Peringkat paralel di selama 3 tahun berturut-turut, ketua DKM, dan beberapa keanggotaan di beberapa kepanitiaan.

Selesai sholat, mereka bubar kecuali Fardhani dan Adit, mereka berbincang-bincang sambil jalan ke parkiran motor sekolah. “Dit, makasih ya sudah mau jadi drummer cabutan. Hehe…” kata Fardhani dengan ramah. “Oh, ndak papa, Far… Eh,Far, arah pulangnya ke selatan toh?” tanya Adit tiba-tiba. “Iya, napa Dit? Mau nebeng?” “Iya, Far…tapi mau ke rumahnya si Sarah dulu, balikin buku.” Kata Adit. “Sarah temen sekelasmu? IPA 3?” tanya Fardhani. “Iya, Far. Hehe…” “Kamu kalo’ di sekolah nggak pernah nyatet po?” tanya Fardhani. “Ya nyatet Far, tapi … ya gitu lah. Hehe… Eh, Far, mampir ke warung Martabak dulu ya.” Kata Adit. “Mau beli buat orang rumah, Dit?” tanya fardhani. “Hehe… ndak, Far… beli buat Sarah.” Kata Adit malu-malu. “walah-walah, yen tiap minggu kamu pinjem catetan e Sarah, tiap minggu juga ngasih martabak?” tanya fardhani sambil mengenakan helm dan memberikan satu helm lagi untuk Adit. “Hehe, ya ndak, Far. Kadang-kadang kue pukis, roti bakar, atau apa gitu. Hehe…” tukas Adit. Fardhani tersenyum dan memandang Adit sejenak dan memegang pundak Adit sejenak. Fardhani tersenyum kepada Adit sebelum mereka akhirnya keluar dari sekolah.

Setelah membeli martabak manis, fardhani dan Adit berhenti di salah satu rumah berdinding hijau dengan banyak tanaman di pekarangannya. Adit tersenyum ketika sudah sampai di rumah itu. Itu adalah rumah Sarah. “Far, makasih yo udah dianterin.” Kata Adit sambil turun dari motor. “Iya, sama-sama Mas.” Kata Fardhani sambil tersenyum. Adit merapikan rambutnya dan bergerak menuju pagar rumah itu. Adit mengucap salam dan mengetuk pintu pagar.

Pintu terbuka, dan yang membuka adalah ibundanya Sarah. “Oh, Adit, balikin catatan nya Sarah lagi ya?” kata ibundanya Adit sambil tersenyum. “Iya, tante… Eh, ini, tante… saya bawa martabak buat tante.” Kata Adit. “Waaah, kamu itu mesti repot-repot kalo’ main kemari. Eh, siapa itu di depan?” tanya ibundanya Adit melongok kepada fardhani yang masih berada di luar pagar dan belum pergi. “Oh, itu Fardhani, Bu…teman sekolah saya.” Kata Adit. “Disuruh masuk sekalian, Dit… sambil tante buatkan teh buat kalian.” Kata ibunda Sarah sambil masuk dan memanggil sarah….

Fardhani dan Adit masuk ruang tamu. Disuguhkan oleh Sarah dan ibunya kue buatan rumah dan teh manis. Obrolan santai pun terurai. “Wah, ada Mas Fardhani juga …” kata sarah sambil menunduk. “Oh, iya, tadi habis main-main dulu sama Adit sekalian nganterin dia balikin buku kesini.” Kata Fardhani sambil menunduk. “Oh, kalian udah akrab toh.” Kata Adit. “Oiya, dulu pas tahun-tahun awal di sekolah, aku satu kepanitiaan terus sama Mas Fardhani. Hehe…” kata Sarah. Obrolan santai berlanjut hingga waktu mereka harus pamit.

Fardhani mengantar Adit ke rumah, karena memang sejalur dengan rumahnya. “Kamu sering ke rumah Sarah, Dit?” tanya Fardhani sambil menyetir melewati blok-blok komplek. “Hampir tiap minggu, mas. Hehe…. kenapa Far?” tanya Adit dari jok belakang. Hening beberapa waktu, “ya gak papa, tanya aja.”

***

Hari sabtu, tepat peringatan isra’ mi’raj di sekolah. Tak disangka bahwa pembawa acara pada hari itu adalah Sarah. Ia mengenakan baju warna hijau lembayung dan hijab hijau tua. Begitu anggun dan tegas ia ketika membawakan acara.  Acara mulai dari sambutan bapak kepala sekolah, pembimbing DKM, dan tausiyah spesial dari Ustadz, penulis dan pengusaha, Jamil Azzaini. Aula menjadi begitu padat hari itu. Betapa tidak, para siswa banyak yang mengidolakan Jamil Azzaini, apalagi beliau akan memberikan buku gratis bagi yang bertanya dan tanda tangan.

Ustadz Jamil Azzaini terkenal sibuk, datang ke Klaten adalah suatu anugrah, karena beliau sering pergi keluar negeri dan kesibukannya begitu padat. Beliau bahkan baru datang tepat ketika akan naik panggung dan seketika selesai, beliau akan langsung ke Jakarta karena malamnya akan mengisi seminar.

Sesi tanya jawab dipandu oleh Sarah bagi para siswa-siswi yang mau bertanya kepada Ustadz, akhirnya Ustadz membagikan sejumlah buku beserta tanda tangan kepada para siswa dan siswi yang bertanya. Sarah sendiri yang bertindak sebagai moderator sekaligus MC dan juga penggemar dari Ustadz Jamil Azzaini tidak berkesempatan untuk mendapatkan buku dan tanda tangan pak Ustadz.

Setelah itu, Adit, Fardhani, Bejo, dan Alvian mulai dipersilakan perform di atas panggung. Mereka mengenakan dresscode baju koko putih dan peci warna hitam. Lagu Pintu Sorga dan Para PencariMu dilantunkan dengan sorak sorai dari siswa. Sesekali Adit melemparkan pandangan ke belakang panggung untuk melihat Sarah. Sarah pun sibuk sendiri dengan rundown acara dan pengarahan dari PJ acara.

Setelah perform, entah kenapa Fardhani langsung berpisah dari grup nya dan menuju Ustadz Jamil Azzaini. “Eh, si Far mana?” tanya Adit kepada Bejo. “Mbuh, neng toilet paling…”sahut Bejo.

Fardhani menemui Ustadz Jamil yang ketika itu bersiap masuk ke mobil. Fardhani memanggil Ustadz Jamil dan berlari mendekatinya. “Apa, Le?” tanya Ustadz yang sedang didampingi asistennya.

“Saya…lupa…mau minta tanda tangan, tadz..” kata Fardhani sambil ngos-ngosan. Sang Ustadz tertawa dan akhirnya menyuruh asistennya mengambil salah satu buku dari mobil dan menandatanganinya di depan Fardhani. “Ini, Le…tak kasih yang hardcover sekalian.” Kata Ustadz. “Matursembahnuwun, tadz..” kata Fardhani. Ustadz kemudian melenggang masuk mobil.

***

“Sar,” kata Adit, “Iya?” tanya Sarah sambil berjalan menuju rumah. “Kamu bener besok langsung ke Semarang?” tanya Adit. “Iya, Dit. Ada saudaraku disana, sekalian ngurus PMDK ku disana. Aku kesini lagi nanti kalo sudah mau ujian nasional.” Kata Sarah sambil tersenyum dan berjalan perlahan di samping Adit. “Jam berapa?” tanya Adit dengan lebih pelan lagi jalannya. “Habis subuh berangkat, Dit.” Kata Sarah. Adit tiba-tiba berhenti. Sarah kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, “Adit kenapa?” tanya Sarah khawatir.
Adit terdiam, hanya menunduk. Udara malam sudah mulai mendingin, tidak ada lagi mobil atau motor yang lewat di sisi jalan. “Sar, Adit sebenernya udah lama suka sama Sarah.” Adit berkata sambil menunduk. Suaranya lirih namun jelas dalam sepinya jalanan. Hening beberapa waktu, Sarah berbalik menghadap Adit dengan tidak mendekat. Adit mendongak dan melihat Sarah di depannya. Sarah hanya diam, kemudian tersenyum, “Sar..” kata Adit. “Hmm?” Sarah hanya tersenyum sambil bersendekap. Hening cukup lama hingga akhirnya Sarah membuka mulutnya, “Empat tahun lagi, Dit. kembalilah kemari.”

“Hmm, baiklah. Eh, Sar…dapat salam dari Fardhani.” Kata Adit. “Wa’alaikumsalam.” Jawab sarah. “Sekalian dia nitip ini buat dikasih ke kamu.” Kata Adit sambil memberikan buku “Keajaiban Rezeki” yang sudah ditandatangani oleh Ustadz Jamil Azzaini tempo hari. “Katanya Fardhani kemaren kamu ndak sempet buat minta tanda-tangan ke Ustadz Jamil.” Kata Adit sambil menyerahkan ke tangan Sarah. “Bilangin makasih buat Mas Far.” Kata Sarah.

***

Empat tahun, waktu yang dijanjikan sekiranya telah tiba. Sarah telah menempuh kuliah di Ekonomi UNDIP. Adit telah bekerja di konsultan IT di klaten, sebelumnya ia menempuh kuliah di Informatika ITB. Sedangkan Fardhani, kuliah di ITS teknik mesin yang bekerja di perusahaan manufaktur di klaten.

Suatu hari di klaten, di rumah Sarah setelah Sarah merampungkan kuliahnya. Ada suatu masalah dan keraguan yang dia tempuh saat ini.

“Nduk, dengerin Bunda ngomong.” Kata seorang ibu kepada anak perempuannya. “Iya Bunda…” kata anak perempuan itu dibalik hijabnya sambil tertunduk. “Ndak baik menunda-nunda memberi jawaban. Sudah ada empat orang melamar kamu. Kasihan mereka yang menunggu jawaban, Nduk..” kata ibundanya sembari duduk di sofa samping anaknya. Dibelainya jilbab anaknya dan diciumi kepala anaknya dengan lembut. “Sarah bingung, Bunda… Sarah gak sampai hati untuk menolak.” Kata Sarah sambil sesekali terisak dan meneteskan air mata yang jatuh di punggung tangannya. “Nduk, kamu yang teguh, ya, Nduk. Sini, dengerin Bunda…” kata ibunya sambil memegang kedua bahu anaknya dan dihadapkannya dirinya pada wajah ibundanya. Sarah akhirnya menatap wajah ibundanya dan terlihat sudah bekas lelehan air mata di pipi Sarah. “Malam ini istikharah ya, Nduk… besok pagi bilang ke Bunda siapa yang kamu pilih.” Kata ibundanya sambil mengusap air mata anaknya.

Malam itu jam menunjukkan pukul 2.30 pagi, di serambi kamar, Sarah masih bersujud. Mukenanya seakan-akan basah dengan air mata dan doa yang dipanjatkan.

Ya Rabb, hamba lemah dalam ketetapan yang Engkau tetapkan. Wahai Dzat yang membolak balik hati, tunjukkanlah padaku imam terbaik yang mampu menuntun hamba dalam cinta-Mu dan rasul-Mu.

Di balik pintu kamar, Ibunya menahan air matanya ketika doa demi doa dipanjatkan oleh anaknya dengan terisak-isak. Desis bisikan “amin” dari ibunya keluar tiap kali jeda dalam doa anaknya terdengar. “amin…amin….amin…”

Keesokan paginya, Sarah menghadap ibunya di ruang tengah rumahnya. Masih menunduk dan duduk berhadapan dengan ibundanya. “Gimana, nduk? Sudah ada jawaban?” tanya ibundanya. Sarah tidak menjawab. “Nduk?” tanya ibundanya sekali lagi. “Bunda, Sarah minta waktu setengah hari lagi. Sarah mau ke tempat Mbak Vivi dulu pagi ini. Mau konsultasi.” Kata Sarah memohon kepada ibundanya. “Hmmm, yasudah, Bunda gak bisa memaksa kamu.” Kata bundanya sambil menghela nafas panjang dan membelai kepala putrinya dengan lembut.

***

Tiba di rumah Vivi, sepupu Sarah yang baru 3 bulan menikah. Mereka bersalaman, berbincang ringan sambil minum teh di ruang tamu. Suasana desa yang masih asri membuat suasana menjadi begitu nyaman untuk berbincang. “Sar, gimana kabar pinangannya? Sudah ditentukan kah?” tanya Vivi kepada Sarah sambil tersenyum. Sarah terdiam, menghela nafas panjang, dan berkata, “Mbak, Sarah mau tanya ke Mbak boleh?” tanya Sarah sambil mendekatkan duduknya ke Vivi. “Iya Boleh, napa, Dek?” tanya Vivi. “Apa yang membuat Mbak yakin bahwa suami mbak yang sekarang adalah orangnya?” tanya Sarah. Vivi tersenyum dan menggenggam tangan kanan Sarah. “Mbak selalu berdoa di tiap malam tentang Imam yang Mbak mau. Imam yang mampu mengajarkan kebaikan, yang mampu meredakan ego –nya Mbak, yang umurnya lebih muda dari Mbak, yang bekerja domisili di klaten sini. Itu yang mbak doakan, sekiranya Allah mengijabahi ya alhamdulillah, jika tidak pasti Allah punya yang terbaik.” Kata Vivi sambil tersenyum kembali. “Mas Rifky kan memang umurnya lebih muda dari Mbak, beliau juga lebih muda dua tahun dari Mbak, dan….” belum selesai Sarah bicara, “itulah mengapa Allah begitu baik, Sarah… bagaimana Allah mengijabahi doa Mbak tiap malam yang mbak ulang-ulang. Allah itu baik, Sar….” kata Vivi. “Ceritanya Mbak bisa bertemu dengan Mas Rifky gimana, Mbak?” tanya Sarah. Vivi kembali tersenyum, “Mas Rifky adalah kenalan Pakdhe Ghulam di Kuala Lumpur, beliau muridnya Pakdhe di UM Malaysia.  Berhubung sama-sama orang Klaten, mereka saling keluar dan berbincang bersama. Suatu ketika, Pakdhe Ghulam menanyai Mas Rifky, kapan mau nikah. Mas Rifky bilang kalau sudah ada calonnya. Pakdhe Ghulam bertanya lagi, mau orang mana calonnya. Mas Rifky bilang kalau bisa orang klaten juga, karena setelah ini Mas Rifky berencana untuk mengerjakan proyek dan mengajar di klaten. Dari sana, Pakdhe memberikan informasi tentang Mbak ke Mas Rifky, dari mulai keluarga Mbak, pendidikan Mbak, sampai kegiatan Mbak diluar kampus.” Kata Vivi. “Terus tanggapan Mas Rifky gimana, Mbak?” tanya Sarah. “Kata Pakdhe Ghulam, Mas Rifky cuman berkata Subhanallah dan bismillah…” kata Vivi. “Maksudnya Mbak?” tanya Sarah. “Mbak juga baru tahu akhir-akhir ini setelah bertanya langsung kepada Mas Rifky. Beliau berkata Subhanallah karena Mbak sesuai dengan kriteria yang didambakan sama beliau. Yang hidup di klaten, profesi sebagai dosen, dan Mas Rifky tidak mau istri yang lebih muda darinya. Dan beliau berkata bismillah, karena besoknya…dan benar-benar besoknya, beliau terbang ditemani Pakdhe Ghulam ke Indonesia lalu ke klaten demi untuk melamar Mbak. Malam itu juga keluarga Mbak dan Mbak menerima lamaran Mas Rifky.” Kata Vivi sambil kembali tersenyum. Kemudian Sarah kembali menunduk, “Mbak, Sarah bingung dengan lamaran yang datang. Sarah gak bisa memutuskan.” Kata Sarah. “Kenapa to, Dik?” tanya Vivi. “Ada satu nama yang keluar yang seolah-olah saya dibuat yakin bahwa dialah orangnya.” Kata Sarah. “Subhanallah, yasudah, tinggal diterima saja to, Dik….” kata Vivi. “Nama itu bukanlah dari 4 pelamar itu, Mbak…” kata Sarah sambil memeluk Vivi.

***

Setibanya di rumah, Sarah mantab dengan jawaban yang ia akan sampaikan kepada ibunya. Dia sudah membuat keputusan untuk memilih satu dari keempatnya. “Nduk, kamu sudah pulang, tadi Bunda telpon kok ndak diangkat-angkat.” Kata Ibunda Sarah menjemput sarah dari pekarangan depan. “Oh, maaf Bunda, handphone Sarah ketinggalan di kamar atas. Lagi silent juga sepertinya.” Kata Sarah. “Duh, kamu ini….” kata Ibunda Sarah sambil menarik anak gadisnya masuk ke rumah. “Bunda, Sarah udah memutuskan pinangan yang akan diterima.” Kata Sarah sambil berjalan digandeng oleh ibunya ke ruang tamu. Ibunya kemudian duduk berhadapan dengan Sarah. “Jadi, kamu sudah mantap, Nduk?” tanya Ibundanya. “Sebenarnya masih ada keraguan, Bunda. Tapi mungkin keputusan ini harus diambil.” Kata Sarah. “Nduk, kamu tahu kenapa tadi Bunda nelpon kamu?” tanya Ibundanya. “Kenapa, Bunda?” tanya Sarah. “Ada satu calon lagi, barusan aja pulang bareng keluarganya.” Kata Ibunda Sarah. “Hah? Siapa Bunda?” tanya Sarah. “Teman lama kamu juga.” Kata Ibunda Sarah.

***

Di sebuah cafe di tengah kota Klaten. Dua sahabat duduk di meja bundar kecil di balkon atas lantai dua. Adit dan Fardhani. Adit dan Fardhani mengenakan kemeja kantoran. Tidak ada yang berubah dari mereka setelah 4 tahun ini. “Aku dengar kamu melamar Sarah.” Kata Adit. “Iya, dan baru tahu aku bahwa kamu juga melamar Sarah.” Kata Fardhani. Suasana hening di cafe itu mulai terasa. Di bawah mereka keramaian lalu lintas sepertinya tak membuat obrolan mereka menjadi meriah. “Sejak kapan kamu suka sama Sarah?” tanya Adit kepada Fardhani. “Bahkan sebelum kamu bertemu dengannya.” Kata Fardhani lugas, sesekali ia menghirup dan meminum sedikit kopinya. “Mengapa tak kau katakan saja kepadanya? Mengapa aku tak pernah melihatmu bahkan berusaha mendekatinya?” tanya Adit. Fardhani hanya tersenyum,”Kamu tahu, aku sering merasa iri melihatmu sering mencoba menghabiskan waktu dengan Sarah waktu dulu.”

***

Seorang laki-laki mendekati perempuan itu. Laki-laki itu kini adalah muhrimnya. Didekatinya perempuan di pinggir pantai itu, dipegangnya kedua pundaknya.

“Dik, kenapa kamu milih Mas dari lamaran yang banyak datang kepadamu?” tanya Fardhani kepada istrinya. Dipegangnya pundak istrinya dan terduduk ia di sebelah kiri istrinya, kedua kakinya bertabur pasir terbasahkan oleh air laut.

Sarah menolehkan wajahnya ke suaminya. Wajahnya mulai merah dan pipinya masih basah tertorehkan air mata. Fardhani mengusap lembut pipi istrinya dengan sangat lembut dengan tangan kanannya. Dipegangnya tangan kanan Fardhani oleh Sarah dengan erat. Masih terisak dan bergemuruh dada Sarah diantara sesenggukannya. “Karena namamu yang keluar dalam istikharah malamku, Mas.” Kata Sarah menatap dalam mata suaminya. “Jikalau Mas tidak datang hari itu untuk melamarku, mungkin pilihanku sudah jatuh ke lelaki lain, Mas.”

Dalam, sangat dalam hingga Fardhani melelehkan air matanya dan jatuh mengalir ke pipinya. Sarah menghapus air mata suaminya hingga air mata itu mengalir ke pergelangannya dan menetes melewati kelingkingnya dan membasahi pasir di bawahnya. Dikecupnya kening istrinya itu, “Kemarilah, Dik…ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu.” Dipeluknya Sarah yang semakin sesenggukan dan meneteskan air mata di bahu suaminya. “Sarah juga cinta sama Mas.” Kata Sarah berbisik di telinga suaminya. Fardhani memandang jauh ke laut. Matahari sudah mulai terangkat, hangat, sungguh hangat, dipejamkannya mata, dibisikkannya dalam kalbunya lirik cinta untuk istrinya dahulu untuk kini, untuk bulan madu mereka di Turki.

Dik, aku berdoa dalam tiap sepertiga malam terakhirku, bila kau benar yang dikirim Tuhan untuk menemaniku di jalan ini, aku minta Dia condongkan hatimu untukku.

Aku berkata dan menyapa hanya sekedarnya saja kepadamu. Waktu itu kamu bukan hakku, tak pantas aku mencicipi apa yang bukan hakku untuk kunikmati. Dalam bersit pikiran, ketika wajahmu selalu muncul menorehkan kerinduan di tiap malam, aku hanya meminta kepada Tuhan agar dikuatkan hati ini.

Wahai Maha Pembolakbalik hati, engkau yang menguasai hati ini, tunjukkanlah jalan jika memang dia untukku. Bisikkanlah namaku dalam pilihannya, dalam pikiran dan hatinya.

Ya Rabb, jika bukan kehendakmu, maka tutuplah hati ini. Karena hamba begitu lemah dalam merindu dia yang sangat hamba cintai.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">