Cafe Story – Marah


“Pernahkah kau berada di kondisi dimana semua hal tidak sesuai dengan yang kau pikirkan?” seorang pria berumur 30 dengan muka yang lusuh dan jaket semi jas yang ia kenakan, bertanya pada pelayan di kafe kecil.

“Ya.” Kata pelayan tersebut tersenyum sambil menuangkan air putih ke gelas di depannya dan menghidangkannya ke pria tersebut.

“Aku merasa seolah dunia memusuhiku. Hal ini membuatku benci akan segala hal, akan semua orang. Aku benci semua orang. I hate people equally.” Kata pria itu menggebu-gebu.

“Oh…” pelayan itu tidak berkata banyak.

“Sehari tadi aku memarahi karyawanku karena tidak becus bekerja. Sorenya, aku memarahi sopir angkot yang menerobos antrian jalan. Ah, dunia ini sempit sekali rasanya. Waktu sabtu-minggu seperti tidak cukup untuk berlindung dan mengobati rasa sakit hati dari orang-orang seperti itu.” Pria itu menenggak satu gelas air putih lagi. Dihelanya napas panjang hingga seketika kafe itu hening.

“Tuan mau kopi?” tanya pelayan itu dengan tunduk.

“Teh. Aku mau teh. Kopi akan meningkatkan kerja jantungku, membuatku makin berdebar dan makin tidak sabar akan orang-orang aneh di sekitarku.” Jelas Pria itu. Rahangnya yang kekar menandakan betapa emosinya tertahan begitu lama. Wajahnya yang lusuh seperti hampa akan kebahagiaan.

“Ini teh-nya Tuan. Saya berikan extra chamomile untuk merilekskan Anda.”

“Hmm. Harum tehnya, begitu lembut.” Kata pria itu sambil menyeruput tehnya di tepian.

“Hei Pelayan, pernahkah kau di posisi sepertiku?”

“Ya?”

“Ya, di posisi sepertiku, dimana sepertinya dunia penuh dengan orang-orang yang menjengkelkan.” Kata pria itu.

“Mungkin pernah, Tuan.”

“Lalu, apa yang kau lakukan?” kata Pria itu.

“Saya duduk dan menyeduh kopi untuk saya minum sendiri.” Kata pelayan itu.

“Mengapa begitu?”

“Dengan begitu saya lebih tenang dan mulai dapat berpikir dengan jernih.”

“Begini, jika orang berbuat buruk kepadamu, apa kau lantas diam saja? Misal saja ada pelayan baru yang baru dipekerjakan minggu depan, memiliki umur yang lebih muda darimu dan mendapat gaji yang dua kali lebih besar daripadamu, lalu bertindak tidak adil padamu dan menganggap remeh dirimu. Apa kau akan diam saja?” kata Pria itu, sedikit mencoba memprovokasi.

“Saya orang yang percaya bahwa hidup ini anugrah, dan hidup ini juga ujian, Tuan.”

“Maksudnya?”

“Hidup ini anugrah. Saya menyediakan teh untuk Tuan, adalah anugrah. Saya hidup hari ini dan bisa melakukan pekerjaan saya, itu juga anugrah. Namun, hidup juga ujian, sebagaimana skenario yang Tuan peparkan tadi, itu adalah ujian. Jika ada pelayan yang umurnya dibawah saya, dan bertindak tidak adil terhadap saya. Saya harus meng-instropeksi diri, Tuan. Mungkin memang saya sedang layak diperlakukan seperti itu, sehingga saya harus meng-upgrade diri saya. Atau memang Tuhan sedang menguji kesabaran saya, sehingga saya harus bersabar. Karena, saya percaya bahwa Tuhan akan mendatangkan kemudahan bagi saya setelah kesulitan.” Kata Pelayan tersebut menjelaskan.

“Tak maukah kau melawannya, bukankah itu lebih baik? Karena dia pantas mendapatkannya?” pria itu mencoba memprovokasi.

“Tidak Tuan, yang patut dilawan adalah diri saya sendiri. Saya adalah orang yang percaya bahwa Tuhan akan memberikan reward untuk saya jika saya bisa melewati cobaan hanya dengan perbuatan yang baik. Jika tidak, mungkin masalah akan berlalu, namun saya tidak akan mendapatkan rewaard yang dijanjikan oleh Tuhan saya.”

“Aku masih tidak mengerti. Itu seolah-olah menyerahkan dirimu untuk dipukuli. Dunia ini kejam, sebelum kau dipukuli, kau harus memukuli.” Kata pria itu.

“Kita berdua tahu rasanya dipukuli, namun…meskipun seolah orang yang berbuat tidak adil kepada kita, kita anggap layak untuk dibalas. Itu belum berakhir.”

“Maksudnya?” pria itu mulai bingung.

“Tuan yang sedang marah, melampiaskan kemarahan kepada orang yang dituju. Masalah tentu tidak selesai. Tapi saya yakin, amarah Tuan masih berada di dalam diri Tuan, dan sedang menumpuk sedikit demi sedikit. Saya yakin, dengan marah, kita menumpuk dendam. Meski sudah disalurkan, residu akan dendam tersebut masih akan bertumpuk. Itulah mengapa orang pemarah, akan cenderung marah pula dengan anggota keluarganya yang bahkan tidak bersalah.”

“Kau pikir begitu?”

“Ya…”


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">