Andai Aku Tidak Menikah Dengannya


10894997_833479150047430_1125424754_n

 

Dialog Rasulllah dengan ‘Ukaf ibn Wida’ah Al Hilali

“ Apakah engkau telah beristri hai ‘Ukaf?”

“Belum Yaa Rasulullah “

“Bukankah engkau memiliki budak wanita ?”

“Tidak Ya Rasulullah.”

“Bukankah engkau pemuda sehat dan mampu hai ‘Ukaf?”

“Benar Ya Rasulullah.”

“Kalau demikian engkau termasuk teman syaithan. Atau engkau termasuk pendeta Nasrani. Lantaran itu bearti engkau termasuk golongan mereka. Atau mungkin engkau termasuk golongan kami, maka hendaklah engkau berbuat seperti apa yang kami lakukan. Karena sunnah kami adalah beristri. Orang yang paling buruk diantara kami adalah orang yang membujang. Dan yang paling hina diantara kami adalah para bujangan… “

Sepotong cerita yang didapat dari buku yang sedang dibaca. Helai demi helai lembaran yang saya baca semakin membuat tertunduk,merasa semakin malu dihadapanNya. Dan bukankah malu sebagian daripada iman ?

Yaa, satu hal lagi yang semakin terpatri, sungguh janganlah kita beputus asa dari rahmat Allah :”)

***

Andai aku tidak menikah dengannya

Apa yang kalian pikirkan ketika membacanya? Mungkin kebanyakan berpikir seperti ini

“Akan seperti apa jadinya jika saya tidak menikah dengannya, jadi siapakah penggantinya? “

“Siapakah jodoh saya sebenarnya yang telah Allah tuliskan dan tetapkan dalam Lauful Mahfuzh sejak ruh ini ditiupkan? “

“Jikalau saya tidak menikah dengannya, jadi hal apa yang harus saya lakukan?”

Menikah adalah ibadah dan merupakan sunnah Rasul. Seperti dari percakapan singkat diatas, dikatakan bahwa bukan golongan kami, jika tidak mengikuti sunnah kami. Namun percakapan itu dimulai dengan pertanyaan Rosul kepada ‘Ukaf, “Bukankah engkau pemuda yang sehat lagi mampu hai ‘Ukaf?”. Ditekankan akan sehat dan mampu oleh Rosul. Mampu disini juga punya beberapa kondisinya, tetapi saya tidak akan membahasnya dalam tulisan saya kali ini. Jika demikian artinya ada ketentuan-ketentuan tertentu dimana keberadaan hukum seseorang atasnya menikah. Bisa jadi wajib, sunnah, makruh atau bahkan bisa jadi haram. Namun Islam telah mengatur sedemikian baiknya, bagi mereka, siapa saja yang memiliki keinginan namun belum mampu, maka jadikanlah puasa sebagai perisai.

Allah menjanjikan bagi siapa saja yang belum mampu, maka akan dimampukan. Ini sungguh janji Allah, dan tujuan pernikahan sendiri dalam surat yang sering kali kita baca dalam undangan pernikahan yang kita terima, yaitu Ar Rum: 21. Disana Allah mengatakan, tujuan pernikahan adalah memberikan ketenangan bagi oang yang melakukannya,memberikan kebahagiaan dan menjadikan kasih sayang diantara keduanya.

Jika diibaratkan bahwa rumah tangga adalah suatu bahtera yang sedang berlayar di lautan, maka satu hal yang perlu disadari adalah air laut tidak selamanya tenang. Dan ada masa dimana ombak begitu kuat menghantam dan angin begitu kencang mendera hingga awak merasa bahwa bahtera yang sedang ditumpanginya sudah tidak layak lagi untuk berlayar. Sehingga muncullah perandai-andaian “Andai saya tidak menikah dengannya”

Yaa, jadi jelas disini saya sendiri tertipu oleh judulnya. Dalam kajian ini bukan membahas seseorang yang tidak jadi menikah dengan orang lain lantaran suatu hal, tetapi lebih kepada ilmu dalam berumah tangga itu sendiri ketika ijab qabul telah terjadi. Materi dari Ustad Syafiq Basalamah lebih ke arah pembinaan dan tips bagi pasangan dalam membina rumah tangga, terlebih tentang nasehat kepada para suami dan tentunya dengan bercermin dari rumah tangga Rasulullah. Ketika ada satu dua ombak menerjang yang ditemui selama perjalanan mengarungi lautan. Ketika itu pula timbul keraguan akan ketetapanNya. Namun disampaikan dalam kajian kala itu bahwa kita dianjurkan untuk menghindari “berandai-andai” karena sesungguhnya itu akan membuka peluang pintu syetan terbuka, maka janganlah beranda-andai.

Arrijalu kowammuna ‘alannisa – Laki-laki ialah pemimpin wanita.

Tetapi pemimpin seperti apakah? Ustad Syafiq menyampaikan beberapa point tentang peran laki-laki sebagai seorang pemimpin wanita, yakni suami yang melakukan pengarahan kepada istrinya. Dalam hal ini, suami tidak hanya sekedar menuntut terpenuhi semua keinginannya oleh istrinya. Tetapi suami juga harus bisa mengarahkan, mengayomi dan melindungi istrinya. Allah memang mengutamakan lelaki atas wanita, karena lelaki lah yang memberi nafkah kepada wanita. Jika wanita yang mencari dan memberi nafkah maka keluarga tersebut akan pincang.

Wanita tidak diciptakan dari baja, karenanya ia akan meleleh. Tidak pula diciptakan dari batu, karena lama kelamaan bisa pecah menjadi kerikil. Tetapi wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, untuk mendampingi dan untuk disayangi. Ia diciptakan dari tulang yang bengkok, maka sayangilah dan bersikap lemah lembutlah. Ketika merasa kesal dengan wanita, ingatlah segala perjuangan keras wanita. Ia mengandung, menjaga dan mendidik anak-anak, menyiapkan semua kebutuhan keluarga.

Ustad Syafiq juga menyampaikan tipikal seorang wanita. Dikatakan, tidak akan mungkin bisa bersenang-senang dengan wanita, kecuali dengan satu syarat, yaitu SABAR. Sifat wanita adalah pencemburu, ia akan merasa cemburu dengan ibu mertua juga kepada saudara wanita suami. Salah satu kisah Aisyah yang merasa cemburu ketika datang Shafiah membawakan makanan dan Rasul memuji makanannya. Karena merasa cemburu, Aisyah menampik makanan yang dibawa hingga terjatuh. Lalu Baginda Rasul hanya mengatakan “Ibu kalian sedang marah”. Rasul tidak marah kepada Aisyah, karena Rasul tahu, itu hanya marah sesaat.

Selain pencemburu, wanita juga sangat perasa dan mudah marah. Rasulullah juga sangat mengenal bagaimana kondisi istri-istrinya. Misalnya saja, Rasul bisa membedakan ketika Aisyah sedang marah kepadanya atau tidak dengan melihat cara Aisyah memanggilnya. Biasanya Aisyah memanggil dengan ”Yaa Rasulullah” dan ketika marah Aisyah akan memanggilnya “Yaa Muhammad”.

Wanita juga menyukai perhiasan atau menyenangi hal yang indah-indah. Selain itu wanita diciptakan kurang akal dan kurang agama. Kalau dari kajian muslimah yang sempat saya ikuti waku itu, lemah akal disini tentang persaksian. Karena jumlah saksi wanita adalah dua kali dari jumlah saksi lelaki. Dan untuk lemah agama dalam perihal shalat dan puasa, dimana saat wanita mengalami haid, ia sama sekali tidak bisa menjalaninya. Disinilah makna lemah akal dan lemah agama, dalam kondisi lain bisa saja wanita yang menjadi lebih unggul dibandingkan lelaki.

“ Saat kapal yang ditumpanginya berada pada titik akan karam dan istri serasa ingin loncat dari kapal tersebut maka bersabarlah kalian, ingatlah anak-anak kalian…”

Ustad Syafiq berulang kali mengucapkan nasihat, “Bersabarlah, Bersabarlah, Bersabarlah “ di setiap pertanyaan yang terkait dengan guncangan dalam rumah tangga yang diajukan kepadanya. Yaa memang, bahkan ucapan ini merupakan nasihat langsung dari Al Quran bukan ?

“Hai orang-orang beriman, jadikanlah Sabar dan Shalat menjadi penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. “ (AlBaqarah:153)

Selain Allah, yang mengetahui hakikat suami adalah istrinya. Hakikat seseorang akan lebih nampak ketika di rumahnya. Bagaimana keras dan lembutnya ia berperangai dan bagaimana sesungguhya akhlaknya. Ustad Syafiq menasehati kepada para suami untuk bisa mengoreksi diri masing-masing dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Wanita itu diciptakan dari tulang yang bengkok, tetapi jangan lihat bengkoknya. Jangan membenci istri yang beriman, ingat setiap kebaikan-kebaikan dan kelebihan yang dimiliki istri. Pergauilah isri dengan cara yang ma’ruf dan keluarkanlah kata-kata yang bijak. Jangan sampai, berlaku baik kepada orang lain namun tidak demikian kepada istri.

Wanita memerlukan sanjungan dan pujian. Sempatkanlah untuk bisa berbincang dengannya meskipun dalam lelah setelah kamu bekerja. Sediakan waktu untuk berbincang dengannya, karena dia juga memerlukan tempat untuk berbagi cerita setelah seharian mengurus anak dan urusan rumah tangga. Rasul pun demikian, deceritakan oleh Ibnu Abbas, bibinya, Maimunah yang merupakan istri Rasul, sebelum tidur mereka berbincang terlebih dahulu. Istri itu seperti wadah, bukan hanya sekedar tanah liat biasa yang ditiupkan ruh oleh Allah. Ia butuh disirami, jika tidak disirami ia akan mencari tempat bernaung yang lain. Hargai setiap pendapatnya, ajak untuk bermusyawarah dan jangan merendahkan istri. Karena sesungguhnya wanita itu adalah pecahan dari lelaki.

Ketika telah memasuki rumah, lupakan semua jabatan di luar. Ingat, Anda adalah suami dan juga ayah dari anak-anak. Begitupun Rasul saat di rumah, beliau membantu keluarganya, memperbaiki sandalnya yang rusak sendiri dan bahkan Ia menjahit bajunya sendiri. Rasul tidak pernah mencela makanan, beliaupun bahkan pernah minum di bekas Aisyah minum, menjilati tangan aisyah setelah makan pun pernah dilakukan. Waah, begitu indah bukan cara Rasul memperlakukn istrinya ? :)

Jadilah manusia terbaik, bagaimana?

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”. (HR.Tarmidzi)

Suami adalah surga dan nerakanya bagi istri. Jika ada masalah, maafkanlah, tinggalkan dan lupakan. Karena hati ini seperi kertas. Jikalau sudah remuk tidak akan kembali seperti semula, mungkin akan tetap berbentuk namun banyak guratan yang menyala. Terakhir, Ustad Syafiq menyampaikan satu nasehat Rasulullah dalam mencari menantu untuk anak-anaknya dan bisa juga dijadikan panutan bagi kita dalam mencari pasangan, yakni dengan melihat agama dan akhlaknya. Satu hal yang tersirat, ia juga menyapaikan bahwa lakukan lah dengan cara yang baik untuk memulai hal yang baik. Satu quotes dari beliau yang bisa dijadikan renungan bagi semua.

” Malam pernikahan adalah malam penguburan cinta bagi yang berpacaran, namun bagi yang memulai dengan yang ma’ruf, malam pernikahan adalah malam pembenihan cinta.”

***

Semoga saat telah menikah nanti, andai andai seperti judul dalam tulisan ini tidak pernah muncul dalam benak ini. Saya menyadari diri ini masih fakir ilmu, masih haus mencicipi setiap ilmunya dan juga ternyataaa…..saya masih merindu dalam buaian umi. Tulisan ini mengingatkan diri saya pribadi untuk lebih bisa lebih banyak belajar, nasihat dari Ustad Syafiq diatas juga bisa berlaku bagi para calon istri, termasuk saya.

Dan lagi…siapa yang tidak ingin nantinya bisa menjadi penyejuk bagi suaminya, bukan… ? :)
Wallahu a’lam bish shawab

 

source: http://enhaeneich.blogspot.co.id/2014/03/andai-aku-tidak-menikah-dengannya_20.html


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">